ANALISIS KANDUNGAN GABA (GAMMA-AMINOBUTYRIC ACID) DALAM BERAS YANG DIFERMENTASI OLEH TIGA ISOLAT Monascus purpureus

No: 120 Angkak atau dikenal juga dengan sebutan beras merah merupakan _hasil fermentasi antara beras putih dan kapang Monascus purpureus. Angkak yang semula digunakan sebagai pewarna dan pengawet makanan alami, ternyata memiliki khasiat sebagai obat, antara lain penurun kolesterol, demam berdarah dengue (DBD), dan menurunkan tekanan darah tinggi. Kapang M. purpureus memberikan warna merah pada beras, selain itu metabolit sekunder lain yang dihasilkan antara lain lovastatin, citrinin, dan GABA. GABA dalam angkak bersifat hipotensif, yaitu suatu senyawa aktif yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Untuk mengetahui kandungan GABA dalam angkak, maka perlu dilakukan penelitian ini yang bertujuan menganalisis kandungan GABA dengan menggunakan berbagai macam isolat yang berbeda. Dalam penelitian ini, digunakan tiga macam isolat M. purpureus yaitu AS, TST dan JmbA sedangkan analisis kandungan GABA-nya dilakukan dengan metode KCKT (kromatografi cair kinerja tinggi). M. purpureus AS, TST dan JmbA difermentasikan dengan beras selama 14 hari untuk selanjutnya disebut angkak, masing-masing isolat dibuat dua ulangan, kemudian diekstraksi dengan cara maserasi. Ekstrak GABA yang diperoleh dibuat derivatisasinya yaitu PTC-GABA. Dibuat larutan standar GABA mumi dengan konsentrasi | ppm, 5 ppm, 10 ppm, 50 ppm dan 100 ppm. PTC-GABA dan larutan standar GABA muri dianalisis menggunakan metode KCKT dengan panjang gelombang 254 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat M/ purpureus TST memiliki kadar GABA lebih tinggi disbanding isolat Z purpureus AS dan JmbA dengan kadar sebesar 0,0238% atau 237,744802 g/g. Ini menunjukkan bahwa isolat M. purpureus TST yang memiliki kadar GABA lebih tinggi yang dipilih untuk tahap selanjutnya dalam uji in vitro.