EVALUASI AKTIVITAS ANTIBIOTIK SENYAWA BL-22 PRODUKSI ACTINOMYCETES INDONESIA

No: 122 Kasus penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri semakin meningkat. Pengobatan penyakit infeksi salah satunya dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagai antiinfeksi yang berlebihan dan kurang terarah menyebabkan terjadinya resistensi. Actinomycetes adalah bakteri yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap beberapa mikroorganisme patogen. Telah dilakukan penelitian pada senyawa BL-22 yang diketahui memiliki aktifitas tinggi sebagai antibiotik secara kualitatif. Penelitian ini telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibiotik senyawa BL-22 secara kuantitatif dan prediksi mekanisme kerja dari senyawa murni produksi Actinomycetes selama 6 bulan. Aktivitas antibiotik tersebut ditunjukkan dengan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration), MBC (Minimum Bacterisid Concentration) dan kebocoran sel. Penelitian dilakukan dengan metode mikrodilusi untuk MIC dan MBC pada 10 bakteri uji (Escherichia coli, Salmonella thypi, Staphylococus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella paratyphi, Salmonella enteridis, Streptococcus pneumonia, Klebsiella pneumonia, Bacillus subtilis dan Mycobacterium smegmatis). Pengujian kebocoran protein, RNA, dan DNA menggunakan 3 bakteri uji (Staphylococus aureus, Salmonella paratyphi, dan Mycobacterium smegmatis) menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 260 nm untuk protein dan 280 nm untuk asam nukleat . Nilai MIC berkisar antara 6,25-100 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai terendah 200 ug/mL, sedangkan untuk beberapa bakteri mencapai lebih dari 800 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai rata-rata empat kali lebih tinggi dibandingkan MIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua bakteri telah mengalami resistensi. Hasil penelitian juga menunjukkan telah terjadi kebocoran sel berupa kebocoran protein, RNA dan DNA dari bakteri uji oleh perlakuan senyawa aktif. Perlakuan senyawa BL-22 secara umum menghasilkan tingkat kebocoran sel tertinggi dibanding antibotik komersial (amoksilin, vankomisin, dan rifampisin).