Analisis kebutuhan tenaga kefarmasian terhadap beban kerja di instalasi farmasi rawat jalan RS PMI Bogor

No. 485 Peningkatan jumlah pelayanan resep di Intalasi Farmasi Rawat Jalan RS PMI Bogor mempunyai dampak terhadap beban kerja tenaga kefarmasian baik apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian yang ada di Instalasi Farmasi. Beban kerja yang berlebih memicu kelelahan dan kurangnya konsentrasi petugas dalam pelayanan kefarmasian. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan mutu pelayanan IFRS PMI Bogor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan tenaga kefarmasian di IFRS PMI Bogor berdasarkan beban kerjanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel seluruh aktifitas tenaga kefarmasian. Teknik pengumpulan data dengan observasi menggunakan work sampling dan wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja (ABK Kes). Hasil penelitian untuk tenaga kefarmasian pada apoteker dari perbandingan ratio beban kerja 0.67 membutuhkan tenaga 3 orang. Tenaga teknis kefarmasian menghasilkan ratio beban kerja 0.92 membutuhkan tenaga 13 orang. Jumlah apoteker saat ini terdapat 2 orang dengan kategori tekanan beban kerja tinggi. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini terdapat 12 orang dengan kategori tekanan beban kerja rendah. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini lebih kecil daripada yang dibutuhkan, untuk mengatasi beban kerja yang ada maka dibutuhkan 1 tenaga apoteker dan 1 tenaga teknis kefarmasian.