Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat INAP di RSKD duren sawit menggunakan metode ATC/ DDD dan DU 90% Periode Januari-Desember 2017

No. 522 Resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah, diantaranya pengobatan menjadi lebih mahal, efek samping, resistensi, timbulnya kejadian superinfeksi yang sulit diobati, ketidakpatuhan pada regimen terapi dan swamedikasi antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi. Upaya untuk mengendalikan resistensi antibiotik dengan menggunakan antibiotik dengan bijak serta melakukan evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit dan data penelitian diperoleh dari laporan pemakaian obat pasien rawat inap di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit selama periode Januari- Desember 2017. Penelitian menggunakan metode ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) yang dikombinasi dengan suatu pengukuran DDD (Defined Daily Dose) atau yang dikenal dengan metode ATC/DDD. Perhitungan DDD diperoleh dari obat yang mempunyai kode ATC pada standar WHO yang telah ditetapkan. Hasil penelitian diperoleh 24 data yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan total penggunaan antibiotik.. DDD/ 100 hari rawat dan antibiotik yamg termasuk dalam segmen DU 90% yaitu seftriaxon (5,99 DD/100 hari rawat), levofloksasin (5,39 DDD/100 hari rawat), sefixim (2,28 DDD/100 hari rawat), sefotaksim (1,74 DDD/100 hari rawat), sefadroksil (1,51 DDD/100 hari rawat), ampisillin 1 gram + sulbaktam 0,5 gram (0,99 DDD/100 hari rawat), streptomisin (0,97 DDD/100 hari rawat), amoksiklav (0,87 DDD/100 hari rawat), asam pipidemik dan siprofloksasin (0,47 DDD/100 hari rawat).