Sebanyak 838 item atau buku ditemukan

Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol 70% daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) terhadap Staphylococcus aureus

No. 536 Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pada umumnya mikroorganisme penyebab infeksi adalah bakteri Staphylococcus aureus. Oleh karena itu dibutuhkan bahan alami yang dapat mengobati infeksi bakteri tersebut. Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) memilki kandungan antibakteri yang baik, kandungan tersebut meliputi senyawa flavonoid, saponin, tanin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan senyawa dari daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan mengetahui aktivitas terbaik dari ekstrak tunggal maupun kombinasinya. Kedua simplisia diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri dilihat dari besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar area kertas cakram setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 1x24 jam. Konsentrasi ekstrak tunggal yang digunakan adalah 10%, 20%, 40% dan Perbandingan kombinasi yang digunakan adalah 1:1, 1:3, 3:1. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) mengandung senyawa flavonoid, saponin,tanin dan steroid. Hasil diameter zona hambat ekstrak tunggal yang diperoleh dari daun sirih hijau berturut-turut sebesar 12,98 mm, 14,17 mm, dan 15,98 mm yang menunjukkan kategori kuat. Sedangkan tamanan serai wangi berturut-turut sebesar 8,35 mm, 10,29 mm , dan 12,1 mm yang menunjukkan kategori sedang-kuat. Hasil diameter zona hambat ekstrak kombinasi yang diperoleh berturut-turut sebesar 17,39 mm, 13,45 mm dan 21,86 mm yang menunjukkan kategori kuat-sangat kuat. Kombinasi terbaik diperoleh pada perbandingan 3:1 dengan diameter zona hambat sebesar 21,86 mm, hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan kontrol positifnya yang sebesar 21,17.

Penapisan virtual potensi senyawa inhibbitor terhadap reseptor tyrosine kinase A sebagai anti tuberkulosis

No. 535 Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang umumnya disebabkan oleh kuman yang disebut Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dennis et al., 2017 menunjukan bahwa penghapusan protein tyrosine kinase A pada mutan Mycobacterium tuberculosis menyebabkan gangguan kelangsungan hidup mutan tersebut. Protein tyrosine kinase merupakan enzim yang mengkatalisis proses fosforilasi dari residu tyrosine yaitu proses transfer ion fosfat dari ATP ke gugus hidroksil (OH) tyrosine pada protein targetnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis dengan menggunakan senyawa uji dari pangkalan data Zinc15. Metode penelitian ini dilakukan secara insilico dengan melakukan penambatan molekuler untuk mengetahui nilai binding affinity serta perhitungan konstanta inhibisi, yang kemudian divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer 2016 dan Pymol. Potensi senyawa uji dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakokinetik senyawa tersebut. Setelah itu, dilakukan uji toksisitas menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis, yaitu asam salazinic, heliomisin , 3-3’ bijuglone, diaserin dan garsinon c, dengan nilai binding affinity berturu-turut -11,5 kkal/mol, -11,5 kkal/mol, -11,4 kkal/mol, -11,3 kkal/mol dan -11,3 kkal/mol. Semua senyawa tersebut memiliki afinitas ikatan yang lebih kecil daripada gefitinib (-10,6 kkal/mol) sebagai ligan pembanding. Dan dinyatakan tidak toksik secara analisis menggunakan admetSAR dan toxtree dengan uji Kroes TTC Decision Tree, juga tidak berpotensi karsinogenik non-genotoksik berdasarkan uji Benigni and Bossa Rulebase.

Aktivitas antipiretik rebusan simplisia daun matoa (Pametia pinnata) terhadap perubahan suhu tubuh tikus putih jantan (Rattus novergicus)

No. 534 Daun matoa (Pometia pinnata) biasa digunakan oleh masyarakat Papua secara tradisional sebagai penurun demam. Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal yaitu 36-37,2◦C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat parasetamol. Namun, efek samping yang sering terjadi adalah kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antipiretik dari daun matoa (Pometia pinnata) secara in vivo, menggunakan metode rebusan. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,5 g/kg BB, 0,7 g/kg BB dan 1g/kg BB. Hasil rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan metabolit sekunder dengan metode uji fitokimia. Dari hasil uji diketahui bahwa rebusan simplisia daun matoa mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Hewan uji diinduksi demam dengan menggunakan vaksin DPT-Hb sebanyak 0,4 ml secara intramuskular. Pengukuran efek antipiretik pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) dilakukan selama 2 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efek antipiretik dari kontrol positif parasetamol kembali normal pada menit ke-30 dengan rerata suhu yaitu 37◦C dan kelompok yang perubahan suhunya mendekati kontrol positif yaitu kelompok yang diberi rebusan simplisia daun matoa dengan konsentrasi 1g/kg BB dengan rerata suhu 36,97◦C pada menit ke-30.

Potensi antihiperglikemia dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei shirota strain dan lactobacillus plantarum pada tikus putih jantan (rattus novegicus)

No. 533 Hasil fermentasi umbi garut dapat digunakan sebagai terapi hiperglikemia. Salah satu bahan potensial untuk pembuatan hasil fermentasi yaitu Umbi garut (Maranta arundinacea L) yang difermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus plantarum dan bakteri Lactobacillus casei Shirota strain dan campuran keduanya. Tujuan dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus casei Shirota strain yang optimal dan menentukan aktivitas penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus). Hasil fermentasi dievaluasi pH, total asam laktat dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut dilakukan uji penurunan kadar glukosa darah secara in vivo. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran, Lactobacillus plantarum 2%, Lactobacillus casei 2% masing-masing sebesar 71,47%, 43,63% dan 69,76%. Penurunan kadar glukosa darah pada hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran dan Lactobacillus casei 2% tidak berbeda nyata (α<0,05). Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,65, total asam laktat 0,89% dan total bakteri asam laktat 7,6 x 109 CFU/mL. Sedangkan untuk hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei 2% mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,29, total asam laktat 0,95% dan total bakteri asam laktat 1,8 x 108 CFU/mL. Oleh karena itu, fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum, Lactobacillus casei Shirota strain dan kultur campuran dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Uji aktivitas ekstrak etanol daun kersen (Muntingia Calabura L.) sebagai masker jerawat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

No. 532 Daun kersen (Muntingia calabura L.) memiliki aktivitas antibakteri alami karena terdapat kandungan senyawa fenol, sehingga dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, yakni penyebab jerawat meradang. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas ekstrak etanol daun kersen dalam formula sediaan masker peel-off terhadap penghambatan Staphylococcus aureus. Metode dalam penelitian ini meliputi pengujian aktivitas antibakteri dan penetapan kadar total fenol yang dilakukan sebelum dan sesudah cycling test serta evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, uji waktu sediaan mengering, dan uji viskositas yang dilakukan sebelum cycling test, siklus ke-3 pada suhu dingin dan panas, dan sesudah cycling test. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 12,8-15,6 mm. Aktivitas antibakteri sediaan memberikan respon hambatan yang kuat. Kadar total fenol sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 47,475-108,485 mg GAE/g sediaan. Hasil dari evaluasi sediaan menunjukkan bahwa sediaan masker peel-off homogen, tidak berubah bentuk, warna, dan bau, dengan daya sebar 5,3-6,7 cm, pH 5-6, waktu mengering 15,21-19,42 menit, dan viskositas 4000-7250 cps. Semua evaluasi sediaan memenuhi persyaratan yang baik kecuali viskositas, walaupun viskositasnya cenderung lebih tinggi dari standar tetapi sediaan masih mudah diaplikasikan pada kulit dan di tuang ke dalam wadah.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada pasien anak demam Tifoid rawat inap di rumah sakit Sentra Medika Cisalak Depok tahun 2018

No. 531 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien anak demam tifoid rawat inap di RS Sentra Medika Cisalak Depok tahun 2018 . Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif dengan parameter karakteristik dan rasionalitas obat berdasarkan tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis (4T). Dari sampel 176 pasien anak demam tifoid menunjukkan bahwa pasien anak laki-laki sebesar 44,9% dan perempuan sebesar 55,1%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 10-14 tahun sebesar 52,3% dan berat badan tertinggi pada berat 16-20 kg sebesar 36,9%. Parameter tepat pasien sebesar 100%, tepat indikasi sebesar 100%, tepat obat sebesar 100%, serta tepat dosis sebesar 74 %.

Profil Penggunaan dan potensi interaksi obat anti nyeri pada pasien rawat jalan dengan gangguan lambung ( dispepsia) di KPPRJ Annisa Dua Kota Depok

No. 530 Dispepsia merupakan keluhan klinis yang sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Banyak penderita dispepsia yang juga mengalami keluhan nyeri seperti nyeri kepala, nyeri sendi, bahkan nyeri gigi. Maka penggunaan obat-obat lambung pada penderita dispepsia seringkali dibarengi dengan pengunaan obat antinyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan dan potensi interaksi obat anti nyeri pada pasien rawat jalan dengan gangguan lambung (dispepsia) di KPRJ ANNISA DUA Kota Depok. Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian terhadap 100 pasien. Proporsi tertinggi penderita dispepsia adalah kelompok umur 36-45 tahun (29,0%), jenis kelamin perempuan (67,0%), tingkat pendidikan SMA (66,0%), pekerjaan ibu rumah tangga (54,0%), klasifikasi interaksi potensial (75,0%) dan interaksi aktual (25%), tingkat keparahan interaksi minor pada ranitidin + natrium diklofenak (64.16%).

Formulasi dan uji stabilitas sediaan masker Peel-off ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) sebagai antioksidan

No. 529 Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah fenol. Fenol merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antioksidan, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi efek radikal bebas pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan golongan senyawa kimia, kadar total fenol dan uji antioksidan dari ekstrak etanol 96% daun salam, dan dibuat formulasi sediaan masker peel-off dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII) serta di uji mutu fisik (organoleptis, viskositas, homogenitas, pH, waktu sediaan mengering, daya sebar), uji antioksidan dan stabilitas. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan masker peel-off menggunakan ekstrak etanol daun salam. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun salam mengandung flavonoid, saponin, tanin, polifenol, kadar total fenol pada ekstrak etanol 96% daun salam sebesar 1,487 mg GAE/g dan memiliki aktivitas antioksidan 86,921 ppm. Formulasi dan evaDiameteri terhadap sedian masker peel-off ekstrak etanol daun salam dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII). Masker peel-off FII memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi yaitu (92,395 ppm), dibandingkan FI (123,966 ppm). Stabilitas sediaan masker pada empat minggu yang dilakukan pada FII menunjukan hasil yang stabil secara fisik.

Gambaran Penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif pada pasien bedah sesar di RS salak Bogor

No. 528 Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah antibotik. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien, gambaran penggunaan antibiotik dan ketepatan penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif pada pasien bedah sesar di Rumah Sakit Salak Bogor. Penelitian dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien bedah sesar periode Juli-Desember 2018. Profil pasien bedah sesar di Rumah Sakit salak periode Juli-Desember 2018 berdasarkan karakteristik umur, data terbanyak kategori remaja akhir (17-25 tahun) dan dewasa awal (26-35 tahun) masing-masing 40%. Indikasi medis terbanyak ketuban pecah dini (KPD) 17,5% dan lamanya perawatan terbanyak 3-4 hari sebesar 91,25%. Penggunaan antibiotik terbanyak adalah seftriakson (93,75%). Hasil evaluasi secara kualitatif dengan metode Gyssens, jumlah peresepan yang masuk kategori 0 (penggunaan antibiotik tepat) sebesar 0%. Hasil evaluasi secara kuantitatif diperoleh data kuantitas antibiotik terbesar adalah seftriakson dengan total 53,07 DDD/100 patient days.