Sebanyak 1427 item atau buku ditemukan

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I. C. Nielsen) dan daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) menggunakan metode BSLT

No. 514 Kombinasi obat herbal adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mengatasi munculnya penyakit. Kulit jengkol atau yang dikenal dengan nama Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen dan daun petai cina atau yang dikenal dengan nama Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina dengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9 (kulit jengkol:Daun Petai Cina) menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. proses ekstraksi kulit jengkol dan daun petai cina meliputi maserasi dan rotary evaporator. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol secara berturut-turut sebesar 80, 95, 135, 171 & 277 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan kombinasi ekstrak kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina pada perbandingan 1:1 dan 1:3 termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan pada perbandingan 1:5, 1:7 & 1:9 termasuk dalam kategori toksik sedang. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi kulit jengkol dan daun petai cina memberikan efek toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Formulasi sediaan lipstik dengan ekstrak kulit buah rambutan (Nephellium lappaceum L) sebagai pewarna

No. 513 Rambutan (Nephallium leppaceum L) merupakan sejenis buah-buahan tropika yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Kulitnya yang berwarna merah masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Adanya warna merah pada kulit buah rambutan disebabkan oleh adanya pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam kulit buah Rambutan. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarut yang mengandung asam sitrat 2%, kemudian pelarut diuapkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kulit buah rambutan. Formulasi lipstik terdiri dari bahan-bahan seperti cera alba, setil alkohol, carnauba wax, adeps lanae, vaselin, minyak jarak, propilenglikol, tween 80, butil hidroksi toluen, nipagin serta penambahan ekstrak kulit buah rambutan dengan konsentrasi 25, 30, dan 35%. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat mudah dioleskan, stabil, berwarna merah, homogen, titik lebur 53-65oC, pH 4,85-5,86 dan intensitas warna dengan perubahan intensitas warna yang cukup stabil.

Toksisitas fermentasi umbi garut (Maranta arundinaceae L) oleh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

No. 512 Pangan fungsional yang berbasis probiotik memiliki potensi sebagai antikanker, karena mengandung asam laktat yang diduga dapat mencegah kanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek toksik dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test. Penentuan uji toksisitas dari hasil fermentasi umbi garut tersebut dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test yang menggunakan larva udang Arthemia salina Leach. Parameter yang diukur adalah LC50. Selain itu, hasil fermentasi umbi garut ditentukan nilai pH, total asam laktat, dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran berpotensi toksik terhadap Arthemia salina dengan kategori sangat toksik. Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran memiliki efek toksik tertinggi dengan nilai LC50 sebesar 28 ppm. Sampel tersebut memiliki karakteristik pH sebesar 4,27, total asam laktat sebesar 0,50% dan total BAL sebesar 1,0 x 1012 CFU/mL.

Aktivitas dan evaluasi sediaan pastagigi ekstrak bonggol dan kulit nanas (ananas comosus (L.) Merr.) terhadap antibakteri Streptococcus mutans penyebab plak gigi

No. 511 Plak gigi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Limbah bonggol dan kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, yaitu terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan pada hal tersebut, bonggol dan kulit nanas diformulasikan ke dalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptocuccus mutans. Penelitian bertujuan mendapatkan formula pasta gigi kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas dan mengetahui konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan dalam sedian pasta gigi dengan konsentrasi 40% b/b perbandingan formula I (1:1), formula II (1:2) dan formula III (2:1) bonggol dan kulit nanas. Formula pasta gigi diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa) dan aktivitas antibakteri. Mutu fisik pasta gigi dianalisis secara deskriptif sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis dengan statistik dengan metode One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan. Berdasarkan pada uji mutu fisik semua formula memenuhi syarat mutu SNI 12-3254-1995 sediaan pasta gigi. Hasil analisis statistik aktivitas antibakteri formula III menujukkan aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 23,5 mm. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa formula III (2:1) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan lotion ekstrak umbi lobak (Raphatus sativus L.) sebagai tabir surya

No. 510 Penggunaan kosmetika tabir surya menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam upaya melindungi dari radiasi matahari. Kosmetika berbahan tanaman lebih sering diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan senyawa kimia. Umbi lobak (Raphatus Sativus L) salah satu tanaman yang kandungan kimianya dapat dijadikan sebagai tabir surya. Kandungan tersebut adalah flavonoid yang mampu mencegah efek berbahaya dari sinar UV atau paling tidak dapat mengurangi kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lotion tabir surya dari ekstrak umbi lobak yang memiliki mutu fisik dan SPF yang stabil. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 96%, dan air. Masingmasing pelarut dibuat menjadi ekstrak kental, dan di uji SPF dengan spektrofotometri selanjutnya hasil SPF terbesar dari ekstrak dibuat sediaan lotion tabir surya dengan konsentrasi 5%, 15% dan 25%. Lotion yang telah dibuat, kemudian dilakukan uji kontrol kualitas meliputi uji organoleptik, uji pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, dan penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF). Berdasarkan pada hasil penelitian ekstrak umbi lobak dengan pelarut n-heksana diperoleh nilai SPF 5,51, ekstrak pelarut etil asetat diperoleh nilai SPF 13,40, ekstrak pelarut etanol 96% diperoleh nilai SPF sebesar 5,40, dan ekstrak pelarut air diperoleh nilai SPF sebesar 21,63. Semua sediaan lotion tabir surya yang dibuat yang memenuhi persyaratan pengujian dan memiliki kestabilan secara fisik. Nilai SPF pada lotion 5% yaitu 4,07, lotion 15% yaitu 6,96 dan lotion 25% yaitu 7,23. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi 25% memenuhi persyaratan mutu fisik lotion dan memiliki nilai SPF tertinggi sebesar 7,23 dengan proteksi ultra. Pada uji stabilitas lotion yang mempunyai stabilitas yang baik adalah lotion yang penyimpanan pada suhu kamar (28±2oC).

uji efek analgesik fraksi air, etil asetata dan n- heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY

No. 509 Tumbuhan ranti (Solanum nigrum L.) biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara tradisional sebagai pereda nyeri. Daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efek analgesik fraksi air, etil asetat dan n-heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (Solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur Deutche Denken Yoken yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode Sigmund (metode geliat) yang diinduksi dengan asam asetat 0,5%. Dosis yang digunakan untuk ketiga fraksi adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan serbuk antalgin 65 mg/kg BB sebagai kontrol positif. Penurunan jumlah geliat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji fitokimia ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, sedangkan pada fraksi n-heksana menunjukkan tidak adanya senyawa flavonoid. Pada efek analgesik daya proteksi yang paling besar terdapat pada fraksi air dosis 200 mg/kg BB (52,55%) yang diikuti oleh fraksi etil asetat dosis 200 mg/kg BB (36,86%), fraksi air dosis 100 mg/kg BB (36,13%), fraksi etil asetat dosis 100 mg/kg BB (29,75%), fraksi n-heksana dosis 200 mg/kg BB (22,99%) dan fraksi n-heksana dosis 100 mg/kg BB (8,21%). Semakin besar dosis yang diberikan maka semakin baik efek analgesiknya.

Formulasi daun uji stabilitas sediaan Lipcream menggunakan bahan pewarna alami dari kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.)

No. 508 Lipcream termasuk pewarna bibir seiring perkembangan jaman. Kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.) dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarana alami sediaan lipcream dan memiliki stabilitas yang baik. Ekstraksi dilakukan dengan dimaserasi air mendidih selama 15 menit kemudian dipekatkan dengan alat mikrowave. Sediaan lipcream dibuat dengan formula yang terdiri dari konsentrasi ekstrak kayu secang 0,2%, 0,4% dan 0,6%. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya oles, uji daya lekat, uji viskositas, uji daya sebar, uji kesukaan, uji cycling test dan uji mekanik (sentrifugasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami pada sediaan lipcream. Sediaan berupa lipcream mempunyai pH sekitaran 4-5, viskositas pada kisaran 16900- 17400 cps, pada uji kesukaan formula dengan 0,6% mempunyai nilai tertinggi, begitupun pada daya lekat, hasil uji cycling test formula dengan ekstrak 0,4% dan 0,6% stabil, pada uji mekanik semua sediaan tidak ada pemisahan fase menandakan sediaan stabil selama 1 tahun penyimpanan suhu kamar.

uji aktivitas antidiabetes ekstrak daun the hijau (Camellia sinensis Linn.), daun kersen (Muntingia calabura Linn.) dan kombinasi keduanya terhadap penghambatan enzim α- glukosidase

No. 507 Diabetes Melitus adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah diatas normal . Salah satu tipe DM adalah DM tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus), salah satu pengobatannya dengan cara menghambat enzim α-glukosidase yang memungkinkan dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase terhadap ekstrak etanol 96% dan larutan infusa daun teh hijau, daun kersen dan kombinasi keduanya serta mengetahui jenis kinetika penghambatan enzim α-glukosidase. Penghambatan enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro dengan menggunakan Microplate reader. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai IC50 dari kombinasi larutan infusa daun kersen dan daun teh hijau dengan kombinasi 1:3 memiliki nilai 1,177 ppm yang lebih besar dibandingkan dengan akarbose dengan nilai IC50 3,15 ppm. Dengan jenis penghambatan campuran sehingga tidak dapat menghambat enzim αglukosidase.

Aktivitas antibakteri dari ekstrak batang biduri (calotropis gigantea[Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 506 Tumbuhan biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan tumbuhan liar. Bagian seperti daun, kulit akar, getah dan bunganya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Akan tetapi, untuk batang kurang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Padahal dalam segi memperoleh bahan baku, batang lebih mudah didapat dari pada kulit akar. Selain itu, bila mengambil kulit akar harus mencabut tumbuhan biduri terlebih dahulu yang artinya tumbuhan biduri akan mati. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak heksana, etil asetat, dan etanol 96% pada batang biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan pengukuran diameter zona hambat. Ekstrak batang biduri diperoleh dengan metode maserasi. Senyawa aktif ekstrak diidentifikasi melalui uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak pada konsentrasi 25 mg/mL, 50 mg/mL, 75 mg/mL, dan 100 mg/mL dilakukan dengan metode difusi cakram. Ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol 96% batang biduri mempunyai aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol 96% batang biduri 100 mg/mL mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi (katagori antibakteri kuat) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai diameter zona hambat masing – masing 17,70 mm dan 12,40 mm. Senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak etanol 96% batang biduri adalah flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan triterpenoid.

Uji Aktivitas pertumbuhan rambut dari sediaan hair tonic ekstrak etanol 96% daun leunca ( Solanum Nigrum L) terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley

No. 505 Daun leunca (Solanum nigrum L) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid dan saponin serta banyak juga mengandung protein, asam amino, mineral, vitamin A dan C. Senyawa-senyawa tersebut memiliki peran penting dalam aktivitas partumbuhan rambut pada tikus putih jantan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas pertumbuhan pada tikus putih jantan galur Sprague dawley yang diberi sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak etanol 96% daun leunca (Solanum nigrum L.). Sediaan hair tonic dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu 10%,15% dan 20% untuk menguji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengukur panjang rambut, bobot rambut dan kelebatan rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan hair tonic pada konsentrasi 20% memiliki aktivitas pertumbuhan panjang, bobot dan kelebatan rambut yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol positif (minoxidil 2%).