Sebanyak 1477 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SAGA (Abrus precatorius L.) DAN KERSEN (Mutingia calabura L.) DENGAN METODE DPPH

No. 547 Kekhawatiran masyarakat terhadap efek samping antioksidan sintetik maka antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih. Ada banyak zat yang terkandung dalam tumbuhan berkhasiat sebagai antioksidan yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi bahaya radikal bebas. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan aktivitas antioksidan kombinasi daun saga dan daun kersen dibandingkan dengan bentuk tunggalnya dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penarikan senyawa aktif daun saga dan daun kersen dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kombinasi ekstrak daun saga dan daun kersen dibuat dengan perbandingan (1:1) (1:2) dan (2:1) dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm dengan vitamin C sebagai kontrolpositif. Hasil uji fitokimia kedua tanaman ekstrak etanol masing-masing menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun saga dan daun kersen dengan perbandingan (1:2) mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 12,88 ppm dan vitamin C sebagai control positif mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 2,89 ppm. Kesimpulan penelitian bahwa ekstrak kombinasi 1:2 memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal.

UJI SITOTOKSIK EKSTRAK AIR DAN ETANOL 96% BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)

No. 546 Buncis merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat dan dimanfaatkan sebagai obat hipolipidemia, hipoglikemia dan diuretik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol dan air buah buncis dan menentukan efek sitotoksik terhadap larva udang menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Buah buncis dimaserasi menggunakan etanol 96% dan diinfudasi sampai diperoleh ekstrak. Kemudian, diuji fitokimia dan dibuat deretan konsentrasi 50,100,200,400,800 dan 1000 ppm untuk diuji sitotoksik menggunakan metode BSLT. Hasil dari fitokimia menyatakan bahwa ekstrak etanol 96% mengandung alkaloid, tanin dan steroid, ekstrak air mengandung alkaloid, saponin dan tannin. Aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol 96% diperoleh nilai LC50 sebesar 81,28 ppm dan ektrak air dengan nilai LC50 139,31 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% dan air memiliki efek sitotoksik dengan kategori kuat.

POTENSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C Nielsen) TERHADAP APOPTOSIS SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 545 Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Uji Double staining digunakan untuk mendeteksi pola kematian sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pola kematian sel dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Perbandingan kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9. Metode penentuan pola kematian sel yang digunakan adalah double staining dengan kultur sel kanker payudara MCF-7. Parameter yang diukur adalah warna yang terbentuk dan bentuk sel . Kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dengan perbandingan 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 menunjukan aktivitas apoptosis terhadap sel MCF-7 dengan warna yg terbentuk jingga hingga hijau terang. Oleh sebab itu, kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP Staphylococcus epidermidis

No. 543 Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif minyak atsiri, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diameter daya hambat ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi serta kombinasi keduanya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 20% dan 40%. Kemudian hasil terbaiknya dibuat kombinasi dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1 yang selanjutnya di uji aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilnya menunjukan bahwa pada daun sirih hijau dan tanaman serai wangi menunjukan aktivitas terbaiknya pada konsentrasi 40% dengan diameter daya hambat sebesar 18,99 mm dan 15,65 mm yang termasuk kedalam kategori kuat. Selanjutnya dari konsentrasi 40% tersebut dibuat perbandingan, hasil perbandingan terbaik yaitu pada perbandingan 3:1 (daun sirih hijau : tanaman serai wangi) yang memberikan efek sinergis dengan diameter daya hambat sebesar 21,20 mm yang termasuk kategori antibakteri sangat kuat.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% TANAMAN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 542 Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling umun di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri Streptococcus mutans.tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan sirih hijau (Piper betle L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak tunggal etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang akan digunakan untuk membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 7,5 mm, 8,83 mm dan 11,4 mm. dan untuk ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 9,23 mm, 10,4 mm dan 11,8 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,4 mm untuk tanaman sereh wangi dan 11,8 mm untuk ekstrak daun sirih hijau yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri kuat. Dan untuk kombinasi yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3 dengan nilai diameter zona hambat rata-rata 16,38 mm yang berarti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.