Sebanyak 1407 item atau buku ditemukan

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP Staphylococcus epidermidis

No. 543 Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif minyak atsiri, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diameter daya hambat ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi serta kombinasi keduanya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 20% dan 40%. Kemudian hasil terbaiknya dibuat kombinasi dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1 yang selanjutnya di uji aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilnya menunjukan bahwa pada daun sirih hijau dan tanaman serai wangi menunjukan aktivitas terbaiknya pada konsentrasi 40% dengan diameter daya hambat sebesar 18,99 mm dan 15,65 mm yang termasuk kedalam kategori kuat. Selanjutnya dari konsentrasi 40% tersebut dibuat perbandingan, hasil perbandingan terbaik yaitu pada perbandingan 3:1 (daun sirih hijau : tanaman serai wangi) yang memberikan efek sinergis dengan diameter daya hambat sebesar 21,20 mm yang termasuk kategori antibakteri sangat kuat.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% TANAMAN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 542 Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling umun di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri Streptococcus mutans.tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan sirih hijau (Piper betle L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak tunggal etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang akan digunakan untuk membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 7,5 mm, 8,83 mm dan 11,4 mm. dan untuk ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 9,23 mm, 10,4 mm dan 11,8 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,4 mm untuk tanaman sereh wangi dan 11,8 mm untuk ekstrak daun sirih hijau yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri kuat. Dan untuk kombinasi yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3 dengan nilai diameter zona hambat rata-rata 16,38 mm yang berarti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.

AKTIVITAS TABIR SURYA DARI KOMBINASI EKSTRAK TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) SECARA IN VITRO

No. 541 Senyawa Tabir surya merupakan zat yang megandung bahan pelindung kulit terhadap sinar matahari sehingga sinar UV tidak dapat memasuki kulit, tabir surya alami yaitu tanaman yang banyak mengandung senyawa fenolik diantaranya Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung senyawa antioksidan golongan flavonoid yang memiliki aktivitas fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) secara tunggal maupun kombinasi, masing-masing ekstrak dilarutkan dengan etanol 70% dalam 5 konsentrasi dengan metode spektrofotometri. Hasil nilai SPF menunjukkan bahwa ekstrak tanaman serai wangi dengan konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm, Berdasarkan European Comission harga SPF pada ke-5 konsentrasi ekstrak tanaman serai wangi tersebut termasuk ke dalam kategori pelindungan minimal, dan untuk ekstrak daun sirih hijau berdasarkan nilai SPFnya konsentrasi 50 ppm,100 ppm, dan 150 ppm termasuk kedalam kategori perlindungan minimal sedangkan untuk konsentrasi 200 dan 250 ppm dikategorikan mempunyai pelindungan sedang, Dan untuk kombinasi ekstrak dengan perbandingan 1:3 mempunyai aktivitas tabir surya yang paling tinggi dengan nilai SPF sebesar 38,547.

aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (piper crocatum Ruiz & Pav.)

No. 540 Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan daun salam dan daun sirih merah serta kombinasinya menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan DPPH. Ekstrak etanol 96% daun salam, sirih merah serta kombinasi ekstrak daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 dibuat deret konsentrasi 5, 10, 15, 18 dan 20 ppm dilarutkan dengan etanol 96% dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak tunggal daun salam dan daun sirih merah mempunyai nilai IC50 berturut – turut sebesar 12,20 ppm dan 18,63 ppm sedangkan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 mempunyai nilai IC50 sebesar 10,00 ppm, 12,88 ppm dan 8,90 ppm. Kesimpulan penelitian ini bahwa aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun salam dan sirih merah perbandingan 1:1 dan 3:1 memiliki nilai IC50 lebih baik dari masing – masing ekstrak tunggal.

Aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol 70% tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 539 Karies gigi adalah suatu proses patologis berupa interaksi yang terjadi di dalam mulut karena ada faktor yang terlibat yaitu bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis merupakan tanaman obat yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tunggal serta kombinasi ekstrak etanol 70% serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, sedangkan buah jeruk nipis diperas secara manual. Sampel ekstrak kental serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis dilakukan penapisan fitokimia dan sampel tunggal serta kombinasinya diuji aktivitas antibakteri secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar sampel uji. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis masing-masing mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Konsentrasi 60% merupakan konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis tunggal dengan diameter zona hambat sebesar 14,71 mm dan 11,22 mm. Kombinasi ekstrak serai wangi dan air perasan jeruk nipis dengan perbandingan (3:1) adalah kombinasi terbaik dengan diameter zona hambat sebesar 15,77 mm. Maka kombinasi dengan konsentrasi 60% pada perbandingan (3:1) lebih baik dari masing-masing tunggal konsentrasi 60%. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans.