Sebanyak 1479 item atau buku ditemukan

Efektivitas edukasi konsumsi tablet tambah darah terhadap pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin pada remaja putri

No. 524 Indikator pembinaan perbaikan gizi masyarakat salah satunya adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, dimana pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, menetapkan tercapainya target pemberian TTD bagi remaja putri sebesar 30% sampai dengan tahun 2019. Konsumsi TTD secara rutin akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri agar dapat menentukan status anemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti gambaran pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin serta meneliti efektivitas konsumsi TTD. Metode penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu populasi sebanyak 80 siswi dan sampel sebanyak 67 siswi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data diolah dengan menggunakan SPSS versi 20. Analisis data yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Dalam penelitian ini menggunakan data pengetahuan anemia, pengetahuan TTD dan pengetahuan gizi menggunakan uji Mann Whitney dikarenakan data berdistribusi tidak normal sedangkan untuk data kadar hemoglobin menggunakan uji T-test dikarenakan data berdistribusi normal. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan anemia (p-value=0,000), pengetahuan TTD (p-value=0,000) dan pengetahuan gizi (p-value=0,000). Kesimpulannya edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan, kepatuhan, dan kadar hemoglobin pada remaja putri.

Analisis Interaksi Obat Antidiabetik pada pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor

No. 523 Interaksi obat merupakan interaksi antara suatu obat dengan bahan lainnnya yang mencegah obat tersebut memberikan efek seperti yang diharapkan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik jika berakibat meningkatkan toksisitas atau mengurangi efektifitas obat yang berinteraksi, jadi terutama jika menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit. Demikian juga interaksi yang menyangkut obat-obat yang biasa digunakan atau yang sering diberikan bersama tentu lebih penting dari pada obat yang jarang dipakai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran jenis obat antidiabetik yang digunakan, jumlah interaksi obat dan tingkat potensial interaksi obat dalam penggunaan obat antidiabetik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi dengan metode analisis deskriptif dengan mengambil data resep obat antidiabetik secara retrospektif pada bulan Maret 2019. Hasil penelitian menunjukan dari 117 resep, obat antidiabetik yang banyak digunakan yaitu metformin sebesar 56 resep (25,93%), jumlah interaksi obat dalam satu resep paling banyak yaitu 2 kejadian (23,93%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi obat secara potensial sebanyak 203 kejadian interaksi, potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian minor sebanyak 17 (8,37%), moderate 184 (90,64%) dan major 2 (0,99%).

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat INAP di RSKD duren sawit menggunakan metode ATC/ DDD dan DU 90% Periode Januari-Desember 2017

No. 522 Resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah, diantaranya pengobatan menjadi lebih mahal, efek samping, resistensi, timbulnya kejadian superinfeksi yang sulit diobati, ketidakpatuhan pada regimen terapi dan swamedikasi antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi. Upaya untuk mengendalikan resistensi antibiotik dengan menggunakan antibiotik dengan bijak serta melakukan evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit dan data penelitian diperoleh dari laporan pemakaian obat pasien rawat inap di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit selama periode Januari- Desember 2017. Penelitian menggunakan metode ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) yang dikombinasi dengan suatu pengukuran DDD (Defined Daily Dose) atau yang dikenal dengan metode ATC/DDD. Perhitungan DDD diperoleh dari obat yang mempunyai kode ATC pada standar WHO yang telah ditetapkan. Hasil penelitian diperoleh 24 data yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan total penggunaan antibiotik.. DDD/ 100 hari rawat dan antibiotik yamg termasuk dalam segmen DU 90% yaitu seftriaxon (5,99 DD/100 hari rawat), levofloksasin (5,39 DDD/100 hari rawat), sefixim (2,28 DDD/100 hari rawat), sefotaksim (1,74 DDD/100 hari rawat), sefadroksil (1,51 DDD/100 hari rawat), ampisillin 1 gram + sulbaktam 0,5 gram (0,99 DDD/100 hari rawat), streptomisin (0,97 DDD/100 hari rawat), amoksiklav (0,87 DDD/100 hari rawat), asam pipidemik dan siprofloksasin (0,47 DDD/100 hari rawat).

Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L) DC.) dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH

No. 521 Daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) telah diketahui mengandung senyawa vitamin C yang dapat berkhasiat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dibuat dengan deret konsentrasi 10, 15, 20, 25, 30 ppm dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dengan deret konsentrasi 75, 100, 125, 150, 175 ppm keduanya dilarutkan dengan metanol pro analisis dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai 〖IC〗_50 sebesar 22,12 ppm (sangat kuat) dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebesar 167,03 ppm (lemah) serta vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 6,82 ppm (sangat kuat).