Sebanyak 214 item atau buku ditemukan

PERBANDINGAN KEBERHASILAN PENATALAKSANAAN KANKER PAYUDARA PADA PASIEN YANG MELAKUKAN DETEKSI DINI DENGAN YANG TIDAK MELAKUKAN DETEKSI DINI DI RS KANKER DHARMAIS

No: 401 Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama diseluruh dunia. Di Indonesia kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker tertinggi yang menjadi perhatian banyak pihak untuk mengantisipasinya agar menekan tingkat kematian dan penderitaan pada penderitanya. Untuk menekan kejadian penyakit kanker payudara diantisipasi dengan deteksi dini Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk perbandingan penerapan deteksi dini dengan yang tidak melakukan deteksi dini terhadap keberhasilan penatalaksanaannya, sehingga tingkat kesembuhan pasien meningkat. Telah dilakukan penelitian pada 96 orang pasien Kanker Payudara dengan usia di atas 26 tahun pada periode Januari 2010 – Desember 2015 dengan tehnik pengumpulan data longitudinal dan penyajian data secara deskriptif. Presentasi kesembuhan yang dicapai pada pasien yang diawali dengan deteksi dini mencapai 100% dengan stadium terberat yaitu stadium 3a sedangkan yang tidak mengawali deteksi dini presentasi kesembuhannya mencapai 4% dengan stadium terendah yaitu stadium 3b.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA FENOL DARI Spirulina platensis DAN Lyngbya sp DALAM SEL DARAH MERAH DOMBA YANG DIBERI STRES OKSIDATIF

No: 400 Pola hidup masyarakat yang tidak sehat seperti polusi dapat meningkatkan terbentuknya radikal bebas didalam tubuh, maka diperlukan antioksidan alami salah satunya senyawa fenol. Spirulina platensis dan Lyngbya sp memiliki kandungan senyawa fenol sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar fenol di dalam mikroalga Spirulina platensis dan Lyngbya sp dan Menentukan aktivitas antioksidan senyawa fenol pada sel darah merah domba yang diberi stres oksidatif oleh tert-butil hidroperoksida (t-BHP) dengan pengukuran kadar malondialdehid (MDA) dan aktivitas superoksida dismutase (SOD). Pengujian kadar total fenol menggunakan metode folin-ciocalteu dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode penentuan kadar MDA dan SOD. Kadar fenol dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp berturut-turut sebesar 1,1526 ± 0,117 dan 1,0698 ± 0,082 mg GAE/g. Kadar malondialdehid dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menurunkan kadar malondialdehid pada konsentrasi (12µg/mL) dengan kadar MDA 4,4777 ± 0,022 dan 4,0611 ± 0,031 nmol/mL semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin rendah kadar MDA yang terbentuk. Aktivitas SOD dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat meningkatkan Aktivitas SOD pada konsentrasi (12µg/mL) dengan nilai 64,27±0,160 dan 42,85±0,202 Unit/mL semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin tinggi pula aktivitas SOD. Kadar malondialdehid menunjukan bahwa pada konsentarsi (12µg/mL) pada Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menghambat terbentuknya malondialdehid dan pada aktivitas superoksida dismutase menunjukan bahwa pada konsentrasi (12µg/mL) pada Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menghambat autooksidasi epineprin adenokrom.

SELEKSI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK DARI MAKANAN FERMENTASI ASAL BALI SECARA IN VITRO

No: 399 Probiotik merupakan organisme hidup yang dapat memberikan efek menguntungkan terhadap kesehatan inangnya jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Banyaknya manfaat probiotik untuk kesehatan, telah mendorong pencarian strain BAL dari sumber alami seperti dari makanan fermentasi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan strain Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berpotensi sebagai kandidat probiotik dari makanan fermentasi asal Bali secara in vitro. Sebanyak 31 strain BAL asal makanan fermentasi Bali diuji antimikroba kemudian diuji ketahanannya terhadap garam empedu konsentrasi 0,1%, 0,2%, 0,3% dan 0,4%. Strain yang dapat bertahan terhadap garam empedu konsentrasi 0,3% diuji ketahanannya terhadap pH rendah (2,0 dan 2,5), uji antimikroba, serta uji Simulated Gastric Juice (SGJ) dan Simulated Intestinal Juice (SIJ). Hasil penelitian menunjukkan 8 strain (Su-ls13, Su-ls14, Su-ls15, Su-ls16, Su-ls21, Suls22, Su-ls24 dan Su-ls29) dapat bertahan terhadap garam empedu konsentrasi 0,3% dan pH rendah (pH 2,5). Strain yang memiliki aktivitas antimikroba paling tinggi adalah Su-ls22 dan Su-ls29. Strain Su-ls22 tidak digunakan sebagai kandidat probiotik karena tidak tahan terhadap Simulated Intestinal Juice (SIJ). Strain yang tahan terhadap Simulated Gastric Juice (SGJ) dan Simulated Intestinal Juice (SIJ) adalah Su-ls16 dan Su-ls29. Strain Su-ls16 dan Su-ls29 dipilih dan diperbanyak dalam media produksi. Di dalam media produksi, Su-ls16 mampu tumbuh dengan baik sebanyak 1,4x109 CFU/g sedangkan Su-ls29 sebanyak 2,0x109 CFU/g. Kedua strain tersebut memenuhi kriteria sebagai kandidat probiotik karena mempunyai aktivitas antimikroba, tahan terhadap pH rendah, garam empedu, SGJ dan SIJ.

UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL 96%, FRAKSI AIR, ETIL ASETAT DAN n-HEKSAN DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape Merr.) TERHADAP Trichopyton rubrum

No: 398 Trichophyton rubrum merupakan jamur penyebab penyakit kulit seperti Tinea cruris, Tinea pedis, Tinea corporis, dan Tinea unguium. Daun kecapi dapat digunakan sebagai bahan alami untuk pengobatan secara tradisional untuk penyakit kulit. Pada penelitian ini, ekstrak daun kecapi diekstraksi dengan etanol 96% lalu difraksinasi dengan pelarut air, etil asetat, dan n-heksan kemudian diuji aktivitasnya terhadap jamur Trychopyton rubrum dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 20%, 40%, dan 60%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun kecapi memiliki diameter hambat pada konsentrasi 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 9,85 mm, 10,37 mm dan 11,49 mm. Fraksi n-heksan pada konsentrasi 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 7,03 mm, 7,82 mm dan 8,03 mm. Fraksi etil asetat 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 7,01 mm, 7,53 mm dan 8,38 mm. Fraksi air 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 8,57 mm, 9,79 mm dan 10,07 mm

UJI AKTIVITAS IN VITRO ANTIKANDIDA DARI SEDIAAN GARAM NATRIUM KLORIDA DAN PROBIOTIK Lactobacillus plantarum TERENKAPSULASI

No: 397 Kandidiasis merupakan penyakit infeksi jamur yang penting terutama pada wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas in vitro antikandida dari sediaan garam natrium klorida dan probiotik Lactobacillus plantarum dalam menghambat pertumbuhan Candida utilis. Garam dimurnikan melalui proses kristalisasi, kemudian ditambahkan filtrat probiotik terenkapsulasi. Hasil menunjukkan bahwa sediaan tersebut dapat menghambat pertumbuhan Candida utilis, dimana aktivitas terbaik dicapai oleh sediaan 6% garam mengandung filtrat plantarisin dari 107 sel/mL probiotik dalam waktu kontak aplikasi 1 menit. Diharapkan sediaan tersebut dapat dikembangkan sebagai antiseptik untuk kandidiasis.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 396 Buah nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) merupakan salah satu buah yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Sejauh ini pemanfaatan buah nanas umumnya lebih kepada daging buahnya, sedangkan kulitnya hanya menjadi limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus sanguinis. Kulit nanas diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 30%, 40%, dan 50% dan 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur didapatkan pada konsentrasi 50% dengan nilai rata-rata diameter zona bening berturut-turut sebesar 15,03 mm dan 12,51 mm. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur ekstrak kulit nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap bakteri Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak kulit nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BONGGOL NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 395 Bonggol nanas bersifat buangan dari buah nanas yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Bonggol nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak bonggol nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya. Ekstrak bonggol nanas didapatkan dari hasil ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi yaitu 20%, 30%, dan 40%, serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk dalam kategori kuat diperoleh pada konsentrasi 40% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 12,07 mm pada ekstrak bonggol nanas dan 10,96 mm pada sediaan obat kumur. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur ekstrak bonggol nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak bonggol nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN JAWER KOTOK (Plectranthus scutellarioides (L) R.Br) SEBAGAI LUKA SAYAT TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague Dawley

No: 394 Daun Jawer Kotok (Plectranthus scutellarioides (L) R.Br) telah dikenal sejak lama sebagai obat herbal yang berkhasiat untuk berbagai penyakit karena mengandung antiinflamasi, antiseptik, antimikroba, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembuatan gel ekstrak daun Jawer Kotok pada luka sayattikus putih jantan. Ekstrak daun Jawer Kotok diperoleh dengan metode maserasi bentuk simplisia daun jawer kotok dalam etanol 96% yang kemudian dikeringkan dengan evaporator. Kelompok senyawa kimia ekstrak ditentukan dengan uji fitokimia. Pembuatan gel ekstrak dibuat pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dan diuji efektivitasnya pada 25 tikus dibagi menjadi 5 kelompok yang kemudian mengalami luka-luka dengan perlakuan selama 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak secara positif mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Kemudian, setelah 8 hari pengobatan, semua konsentrasi memiliki efek positif pada penyembuhan luka (≥ 77%), dan penyembuhan terbaik ditunjukkan dengan preparasi gel dengan konsentrasi ekstrak 30%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa semua konsentrasi sediaanjawer kotok berpengaruh signifikan terhadap penyembuhan luka pada tikus putih jantan sparague dawley.

AKTIVITAS EKSTRAK AIR DAN ETANOL DAUN SIMPUR (Dillenia suffruticosa (Griff.) Martelli) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 393 Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Mekanisme obat hipoglikemik oral antara lain melalui perangsangan sekresi insulin, sensitiser insulin dan penghambatan aktivitas enzim α-glukosidase. Dillenia suffruticosa (Griff.) Martelli yang dikenal dengan nama daun simpur adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak air dan etanol dari daun simpur terhadap aktivitas inhibisi enzim α-glukosidase dengan glucobay (akarbosa) 1% sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari kedua ekstrak tersebut. Daun simpur diekstraksi menggunakan pelarut air dan etanol 70% dengan metode maserasi. Selanjutnya dilakukan uji inhibisi aktivitas enzim α-glukosidase. Masing-masing ekstrak air dan etanol daun simpur dibuat dalam konsentrasi 1%, 1,5% dan 2%. Hasil penelitian menunjukkan senyawa aktif yang teridentifikasi dalam ekstrak air dan etanol adalah flavonoid, saponin dan tanin. Ekstrak air pada konsentrasi 1%, 1,5% dan 2% memiliki daya inhibisi berturutturut sebesar 1,49%, 2,76% dan 3,91%. Ekstrak etanol pada konsentrasi 1%, 1,5% dan 2% memiliki daya inhibisi berturut-turut sebesar 92,1%, 98,1% dan 118,3%. Sedangkan daya inhibisi enzim α-glukosidase dari glucobay (akarbosa) 1% adalah sebesar 99,5%. Daya inhibisi enzim α-glukosidase optimum berada pada ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 1,5% yang tidak berbeda nyata dengan daya inhibisi glucobay (akarbosa) 1%.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN FAKTOR PELINDUNG SURYA DARI PARTISI PELARUT EKSTRAK KULIT BUAH PISANG AMBON PUTIH (Musa acuminata AAA)

No: 392 Polusi udara dan sinar ultraviolet merupakan radikal bebas yang dapat menyebabkan penyakit degeneratif dan dermatoheliosis. Kulit pisang ambon putih memiliki kandungan senyawa flavonoid sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan membandingkan aktivitas antioksidan dan faktor pelindung surya dari partisi pelarut ekstrak kulit pisang ambon putih (Musa acuminata AAA) menggunakan pelarut air dan etil asetat. Ekstrak etanol kulit pisang ambon putih dipartisi dengan pelarut air, dan etil asetat dibuat dalam beberapa konsentrasi. Penentuan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, penentuan nilai faktor pelindung surya dengan metode spektrofotometri. Hasil aktivitas antioksidan menunjukan ekstrak etanol memiliki nilai IC50 yaitu 121,34 μg/mL, diikuti dengan fraksi air 136,40 μg/mL dan fraksi etil asetat 159,88 μg/mL. Hasil penentuan nilai faktor pelindung surya ekstrak etanol, fraksi air, fraksi eti asetat secara berturutturut sebesar 11,579; 3,572; 2,018. Aktivitas antioksidan ketiga ekstrak masuk dalam kategori sedang dan nilai faktor pelindung surya tertinggi terdapat pada ekstrak etanol.