Sebanyak 555 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN ANGKA KEJADIAN TUBERKULOSIS RESISTENSI OBAT DI RS PARU Dr. M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO CISARUA BOGOR PADA TAHUN 2014-2018

No. 557 Resistensi Tuberkulosis adalah resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis dimana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang sudah digunakan saat ini. Setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah kasus Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO) yang ditemukan dan diobati di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien terhadap resistensi obat TB di RS. Paru Dr. M. Gunawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui rekam medik pasien terhadap data sekunder pasien TB RO. Sampel penelitian adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yaitu 78 sampel. Analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji statistik chi-square, p value (signifikasnsi) ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara karakteristik pasien (Pendidikan, jenis kelamin, usia, pekerjaan, wilayah, tipe pasien, evaluasi pengobatan, dan asal pengobatan ) dengan resistensi obat TB dengan nilai p value > 0,05. Presentase tertinggi berdasarkan karakteristik pasien resistensi obat yaitu pada laki-laki 54 %, usia 17-35 tahun 24 %, tidak bekerja 46,25 %, pendidikan terakhir SLTA/ sederajat 50 %, wilayah Kabupaten Bogor 50 %, pasien datang sendiri tanpa rujukan 67,9 %, tipe pasien kambuh 32,1 %, Multidrug Resistant 73,1 %, dan pasien masih pengobatan 37,2%.

AKTIVITAS ANTIINFLAMASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus costaricensis) TERHADAP UDEM KAKI TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

556 Buah Naga Merah (Hylocereus costaricensis) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antiinflamasi, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi sel yang rusak akibat efek radikal bebas pada kulit. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan gel menggunakan ekstrak etanol kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ektrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus costaricensis) memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap udem pada kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan membuat ekstrak kulit buah naga merah dalam pelarut etanol 96%, dengan metode maserasi, dilakukan uji fitokimia. Ekstrak dibuat sediaan gel meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas. Dilakukan uji antiinflamasi pada kaki tikus yang telah di induksi karagenan 3%. Hasil penelitian menunjukan kadar total flavonoid pada ekstrak etanol 96% kulit buah naga merah sebesar 62,476 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan gel ektrak etanol kulit buah naga merah FI dan FII memiliki aktivitas antiinflamasi dibandingkan dengan kontrol negatif, aktivitas antiinflamasi berbeda nyata dengan kontrol positif aloe vera shooting gel. Berdasarkan hasil analisis statistik, sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang berbeda dengan kontrol positif dan kontrol negatif. sedangkan untuk sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang sama terhadap udem kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus).

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAYA HIDUP DAN KEPATUHAN PASIEN DALAM MENJALANI PENGOBATAN DI POLIKLINIK DHUAFA IBNU SINA BAZNAS KOTA BOGOR

No. 555 Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh senyap, karena termasuk penyakit mematikan tanpa disertai gejala. Pengetahuan yang kurang baik, kepatuhan minum obat kurang baik, dan gaya hidup kurang baik dapat menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol. Gaya hidup hipertensi yang tidak sehat, dapat menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi, misalnya: makanan, aktifitas fisik, stres, dan merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien dengan gaya hidup dan kepatuhan dalam meminum obat. Desain penelitian ini adalah prospektif dengan cara pendekatan Cross sectional. Sampel penelitian diambil berdasarkan total sampling dari populasi penyakit hipertensi sesuai kriteria inklusi dan eksklusi sampel yang didapat sebanyak 50 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran pengetahuan pasien hipertensi yang cukup sebanyak 32 pasien (64%), gambaran gaya hidup penderita hipertensi baik sebanyak 39 orang (78%) dan gambaran kepatuhan pasien hipertensi yang patuh dalam meminum obat sebanyak 1 orang (2%). Hubungan antara pengetahuan pasien hipertensi dengan gaya hidup dan hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kepatuhan di uji dengan menggunakan Korelasi Spearman Rho yang diperoleh nilai p-value > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan gaya hidup (p-value=0,198) dan tidak ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan (p-value=0,331) pasien hipertensi.

ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELLITUS SEBELUM DAN SETELAH DI EDUKASI DI PUSKESMAS PASAR MUKA CIANJUR

No. 554 Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif pada system metabolisme ditandai kenaikan kadar gula darah. Keberhasila terapi untuk pasien diabetes dipengaruhi oleh pengetahuan pasien tentang penyakit DM dan kepatuhan pasien dalam minum obat. Pengetahuan pasien dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara pemberian edukasi melalui leaflet tentang penyakit diabetes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pasien diabetes mellitus di puskesmas pasar muka cianjur sebelum dan sesudah edukasi. Metode penelitian ini adalah secara prospektif, dengan menggunakan pendekatan Case-Control pada pasien penyakit diabetes mellitus di Puskesmas Pasar Muka – Cianjur. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 54 orang, pengumpulan data menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ada perbedaan tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus di Puskesmas Pasar Muka Cianjur sebelum dan setelah edukasi dapat dilihat dari nilai P-value = 0,000 (p < 0,05).

HUBUNGAN FREKUENSI PENGAMBILAN EXJADE® TERHADAP KADAR FERITIN SERUM PADA PASIEN TALASEMIA ANAK DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SETUKPA POLRI SUKABUMI

No. 553 Pengobatan talasemia pada anak salah satunya dengan transfusi darah akan tetapi transfusi darah secara terus menerus akan meningkatnya zat besi dalam tubuh untuk mengatasi penumpukan zat besi didalam tubuh diberikan kelasi besi seperti Exjade®. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Exjade® terhadap penurunan kadar feritin serum pada pasien talasemia anak. Data diambil secara retrospektif observasional dilakukan dengan mengambil data sekunder dari rekam medik pasien talasemia anak pada bulan Januari sampai Desember 2018 di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Sampel penelitian sebanyak 49 pasien talasemia anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak menderita talasemia pada usia 5-11 tahun sebanyak 75,5%, dan jenis kelamin terbanyak menderita talasemia adalah perempuan sebanyak 53,1%, frekuensi pengambilan Exjade® dalam satu periode paling banyak adalah 3 kali pengambilan sebanyak 24,5%, dan gambaran kadar feritin serum paling banyak dikisaran 2000-3000 sebanyak 34,7%. Tidak ada hubungan bermakna antara pengambilan Exjade® dengan penurunan kadar feritin serum P-value < 0,05 (p-value = 0,000).

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN ANALISIS BIAYA PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RAWAT INAP KLINIK INSANI PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2018

No. 552 Penyakit Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi yang bersifat endemik dan merupakan salah satu penyakit menular yang tersebar hampir di sebagian besar Negara berkembang termasuk Indonesia dan menjadi masalah yang sangat penting. Antibiotik merupakan suatu kelompok obat yang paling sering digunakan untuk menyembuhkan penyakit infeksi.Biaya pelayanan kesehatan khususnya biaya obat telah meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik serta biaya dan faktor – faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap pada pasien demam tifoid di klinik . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data melalui data rekam medik dan catatan keuangan pasien yang terdiagnosa demam tifoid. Hasil penggunaan antibiotik dihitung sebagai Defined Daily Dose (DDD)/100 patient-day,kemudian biaya yang dikeluarkan dianalisa.hasil penelitian menunjukan bahwa antibiotik yang paling banyak di gunakan adaalah ceftriaxone dengan nilai DDD 87,61. Total biaya rata-rata yang dikeluarkan pasien rawat inap sebesar Rp 1,863,222 dan umur (p value 0,001),kelas perawatan (p value 0,000) serta jenis antibiotik (p value 0,003) termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap,karena p value > 0,005 sedangkan jenis kelamin (p value 0,008) tidak termasuk faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NANGKA (Artocapus heterophyllus Lamk.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No.550 Kulit buah nangka mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa aktif dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli. Kulit buah nangka diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chloramphenicol base) dan kontrol negatif (DMSO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit buah nangka didapatkan pada konsentrasi 30% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 10,76 mm pada bakteri Staphylococcus aureus dan 7,13 mm pada bakteri Escherichia coli. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki perbedaan yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan pada bakteri Escherichia coli.

SITOTOKSISITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH BISBUL (Diospyros discolor Willd.) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) TERHADAP PENGHAMBATAN SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 549 Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Kanker payudara menduduki peringkat pertama kasus kanker pada wanita. Buah bisbul (Diospyros discolor Willd.) merupakan tumbuhan yang memiliki kadar antioksidan yang cukup tinggi dengan kandungan senyawa flavonoid, tanin dan saponin, dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack). I.C. Nielsen) mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Kulit jengkol dimaserasi dalam etanol 70% dan buah bisbul dengan etanol 96%, ekstraknya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator dan waterbath. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antikanker kombinasi ekstrak etanol buah bisbul dan kulit jengkol terhadap sel kanker payudara MCF-7. Pengujian sitotoksik dilakukan dengan menggunakan MTT assay. Parameter yang diukur adalah nilai inhibition concentration (IC50). Perbandingan kombinasi ekstrak buah bisbul:ekstrak kulit jengkol yang digunakan adalah 1:1,1:2 dan 2:1 dengan nilai IC50 secara berturut-turut sebesar 173,8; 32,36 dan 186,2 ppm, sedangkan nilai IC50 dari doxorubicin yaitu 19,5 ppm. Nilai IC50 dari kombinasi 1:2 kurang dari 100 μg/mL menunjukkan kategori sitotoksisitas potensial, maka kombinasi ekstrak buah bisbul dan ekstrak kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SAGA (Abrus precatorius L.) DAN KERSEN (Mutingia calabura L.) DENGAN METODE DPPH

No. 547 Kekhawatiran masyarakat terhadap efek samping antioksidan sintetik maka antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih. Ada banyak zat yang terkandung dalam tumbuhan berkhasiat sebagai antioksidan yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi bahaya radikal bebas. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan aktivitas antioksidan kombinasi daun saga dan daun kersen dibandingkan dengan bentuk tunggalnya dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penarikan senyawa aktif daun saga dan daun kersen dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kombinasi ekstrak daun saga dan daun kersen dibuat dengan perbandingan (1:1) (1:2) dan (2:1) dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm dengan vitamin C sebagai kontrolpositif. Hasil uji fitokimia kedua tanaman ekstrak etanol masing-masing menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun saga dan daun kersen dengan perbandingan (1:2) mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 12,88 ppm dan vitamin C sebagai control positif mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 2,89 ppm. Kesimpulan penelitian bahwa ekstrak kombinasi 1:2 memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal.