Sebanyak 559 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN FREKUENSI PENGAMBILAN EXJADE® TERHADAP KADAR FERITIN SERUM PADA PASIEN TALASEMIA ANAK DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SETUKPA POLRI SUKABUMI

No. 553 Pengobatan talasemia pada anak salah satunya dengan transfusi darah akan tetapi transfusi darah secara terus menerus akan meningkatnya zat besi dalam tubuh untuk mengatasi penumpukan zat besi didalam tubuh diberikan kelasi besi seperti Exjade®. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Exjade® terhadap penurunan kadar feritin serum pada pasien talasemia anak. Data diambil secara retrospektif observasional dilakukan dengan mengambil data sekunder dari rekam medik pasien talasemia anak pada bulan Januari sampai Desember 2018 di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Sampel penelitian sebanyak 49 pasien talasemia anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak menderita talasemia pada usia 5-11 tahun sebanyak 75,5%, dan jenis kelamin terbanyak menderita talasemia adalah perempuan sebanyak 53,1%, frekuensi pengambilan Exjade® dalam satu periode paling banyak adalah 3 kali pengambilan sebanyak 24,5%, dan gambaran kadar feritin serum paling banyak dikisaran 2000-3000 sebanyak 34,7%. Tidak ada hubungan bermakna antara pengambilan Exjade® dengan penurunan kadar feritin serum P-value < 0,05 (p-value = 0,000).

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN ANALISIS BIAYA PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RAWAT INAP KLINIK INSANI PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2018

No. 552 Penyakit Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi yang bersifat endemik dan merupakan salah satu penyakit menular yang tersebar hampir di sebagian besar Negara berkembang termasuk Indonesia dan menjadi masalah yang sangat penting. Antibiotik merupakan suatu kelompok obat yang paling sering digunakan untuk menyembuhkan penyakit infeksi.Biaya pelayanan kesehatan khususnya biaya obat telah meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik serta biaya dan faktor – faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap pada pasien demam tifoid di klinik . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data melalui data rekam medik dan catatan keuangan pasien yang terdiagnosa demam tifoid. Hasil penggunaan antibiotik dihitung sebagai Defined Daily Dose (DDD)/100 patient-day,kemudian biaya yang dikeluarkan dianalisa.hasil penelitian menunjukan bahwa antibiotik yang paling banyak di gunakan adaalah ceftriaxone dengan nilai DDD 87,61. Total biaya rata-rata yang dikeluarkan pasien rawat inap sebesar Rp 1,863,222 dan umur (p value 0,001),kelas perawatan (p value 0,000) serta jenis antibiotik (p value 0,003) termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap,karena p value > 0,005 sedangkan jenis kelamin (p value 0,008) tidak termasuk faktor yang mempengaruhi total biaya rawat inap.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NANGKA (Artocapus heterophyllus Lamk.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No.550 Kulit buah nangka mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa aktif dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli. Kulit buah nangka diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chloramphenicol base) dan kontrol negatif (DMSO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit buah nangka didapatkan pada konsentrasi 30% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 10,76 mm pada bakteri Staphylococcus aureus dan 7,13 mm pada bakteri Escherichia coli. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki perbedaan yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan pada bakteri Escherichia coli.

SITOTOKSISITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH BISBUL (Diospyros discolor Willd.) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) TERHADAP PENGHAMBATAN SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 549 Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Kanker payudara menduduki peringkat pertama kasus kanker pada wanita. Buah bisbul (Diospyros discolor Willd.) merupakan tumbuhan yang memiliki kadar antioksidan yang cukup tinggi dengan kandungan senyawa flavonoid, tanin dan saponin, dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack). I.C. Nielsen) mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Kulit jengkol dimaserasi dalam etanol 70% dan buah bisbul dengan etanol 96%, ekstraknya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator dan waterbath. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antikanker kombinasi ekstrak etanol buah bisbul dan kulit jengkol terhadap sel kanker payudara MCF-7. Pengujian sitotoksik dilakukan dengan menggunakan MTT assay. Parameter yang diukur adalah nilai inhibition concentration (IC50). Perbandingan kombinasi ekstrak buah bisbul:ekstrak kulit jengkol yang digunakan adalah 1:1,1:2 dan 2:1 dengan nilai IC50 secara berturut-turut sebesar 173,8; 32,36 dan 186,2 ppm, sedangkan nilai IC50 dari doxorubicin yaitu 19,5 ppm. Nilai IC50 dari kombinasi 1:2 kurang dari 100 μg/mL menunjukkan kategori sitotoksisitas potensial, maka kombinasi ekstrak buah bisbul dan ekstrak kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL BUNGA KUBIS MERAH (Brassica oleracea L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH

No. 548 Kubis merah (Brassica oleracea L.) mengandung senyawa antioksidan dengan potensi aktivitas yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel antioksidan dengan menggunakan HPMC sebagai basis gel yang mengandung ekstrak etanol bunga kubis merah dengan konsentrasi (% b/b) untuk F1, F2 dan F3 adalah 5%, 7,5% dan 10%, yang kemudian dievaluasi dan diuji aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode penentuan IC50 menggunakan pereaksi DPPH (Difenil-2-pikrilhidrazil). Dari penelitian diperoleh nilai IC50 untuk ekstrak etanol bunga kubis merah dan Vitamin C sebagai senyawa pembanding adalah 47,10 ppm dan 6,30 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol bunga kubis merah dalam sediaan gel pada masingmasing formulasi memiliki nilai IC50 sebesar 80,15 ppm (F1), 59,71 ppm (F2), dan 57,48 ppm (F3). Evaluasi sediaan gel meliputi pengamatan homogenitas, organoleptik, viskositas dan pH. Hasil uji sifat fisik sediaan gel menunjukkan bahwa semua sediaan gel homogen, memiliki pH antara 5,30-5,70 yang sesuai dengan pH kulit, dengan nilai viskositas 3000-3700 cps, dan memiliki daya sebar ≤ 7 cm. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga kubis merah dapat diformulasikan dalam sedian gel antioksidan dengan konsentrasi terbaik adalah 10%.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SAGA (Abrus precatorius L.) DAN KERSEN (Mutingia calabura L.) DENGAN METODE DPPH

No. 547 Kekhawatiran masyarakat terhadap efek samping antioksidan sintetik maka antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih. Ada banyak zat yang terkandung dalam tumbuhan berkhasiat sebagai antioksidan yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi bahaya radikal bebas. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan aktivitas antioksidan kombinasi daun saga dan daun kersen dibandingkan dengan bentuk tunggalnya dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penarikan senyawa aktif daun saga dan daun kersen dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kombinasi ekstrak daun saga dan daun kersen dibuat dengan perbandingan (1:1) (1:2) dan (2:1) dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm dengan vitamin C sebagai kontrolpositif. Hasil uji fitokimia kedua tanaman ekstrak etanol masing-masing menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun saga dan daun kersen dengan perbandingan (1:2) mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 12,88 ppm dan vitamin C sebagai control positif mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 2,89 ppm. Kesimpulan penelitian bahwa ekstrak kombinasi 1:2 memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal.

UJI SITOTOKSIK EKSTRAK AIR DAN ETANOL 96% BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)

No. 546 Buncis merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat dan dimanfaatkan sebagai obat hipolipidemia, hipoglikemia dan diuretik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol dan air buah buncis dan menentukan efek sitotoksik terhadap larva udang menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Buah buncis dimaserasi menggunakan etanol 96% dan diinfudasi sampai diperoleh ekstrak. Kemudian, diuji fitokimia dan dibuat deretan konsentrasi 50,100,200,400,800 dan 1000 ppm untuk diuji sitotoksik menggunakan metode BSLT. Hasil dari fitokimia menyatakan bahwa ekstrak etanol 96% mengandung alkaloid, tanin dan steroid, ekstrak air mengandung alkaloid, saponin dan tannin. Aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol 96% diperoleh nilai LC50 sebesar 81,28 ppm dan ektrak air dengan nilai LC50 139,31 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% dan air memiliki efek sitotoksik dengan kategori kuat.

POTENSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C Nielsen) TERHADAP APOPTOSIS SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 545 Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Uji Double staining digunakan untuk mendeteksi pola kematian sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pola kematian sel dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Perbandingan kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9. Metode penentuan pola kematian sel yang digunakan adalah double staining dengan kultur sel kanker payudara MCF-7. Parameter yang diukur adalah warna yang terbentuk dan bentuk sel . Kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dengan perbandingan 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 menunjukan aktivitas apoptosis terhadap sel MCF-7 dengan warna yg terbentuk jingga hingga hijau terang. Oleh sebab itu, kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).