Sebanyak 21 item atau buku ditemukan

Aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol 70% tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 539 Karies gigi adalah suatu proses patologis berupa interaksi yang terjadi di dalam mulut karena ada faktor yang terlibat yaitu bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis merupakan tanaman obat yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tunggal serta kombinasi ekstrak etanol 70% serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, sedangkan buah jeruk nipis diperas secara manual. Sampel ekstrak kental serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis dilakukan penapisan fitokimia dan sampel tunggal serta kombinasinya diuji aktivitas antibakteri secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar sampel uji. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis masing-masing mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Konsentrasi 60% merupakan konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis tunggal dengan diameter zona hambat sebesar 14,71 mm dan 11,22 mm. Kombinasi ekstrak serai wangi dan air perasan jeruk nipis dengan perbandingan (3:1) adalah kombinasi terbaik dengan diameter zona hambat sebesar 15,77 mm. Maka kombinasi dengan konsentrasi 60% pada perbandingan (3:1) lebih baik dari masing-masing tunggal konsentrasi 60%. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Aktivitas Analgesik kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill) terhadap mencit putih jantan yang diinduksi asam asetat

No. 537 Nyeri merupakan masalah umum yang sering dirasakan oleh masyarakat sehingga masyarakat berupaya mencari pereda rasa nyeri (analgesik). Penggunaan obat analgesik memang diakui masyarakat dapat menghilangkan rasa nyeri, namun penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga masyarakat mulai beralih menggunakan tanaman obat sebagai alternatif pengobatannya. Daun kersen dan daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill.) terhadap mencit putih jantan (Deutschen Denken Yoken) yang diinduksi asam asetat. Kandungan senyawa kimia daun ditetapkan dengan uji Fitokimia, konsentrasi masing-masing infusa daun kersen dan daun ranti yang digunakan adalah 4 % dan konsentrasi kombinasi infusanya di uji dalam perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1. Mencit putih jantan yang digunakan sebanyak 28 ekor yang dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan. Penurunan nyeri pada mencit ditetapkan dengan metode geliat Writhing. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa daun kersen pada uji fitokimia mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin sedangkan pada daun ranti mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Hasil yang diperoleh menunjukkan efek analgesik dari kontrol positif, Infusa daun kersen [4%], Infusa daun ranti [4%], kombinasi infusa 1:1, kombinasi infusa 1:3 dan kombinasi infusa 3:1 berturut-turut sebesar sebesar 64,97 %, 59,35 %, 56,95 %, 27,67 %, 57,35 % dan 49,59 %. Infusa daun kersen [4%] memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol positif asam mefenamat, sedangkan untuk kombinasinya pada perbandingan 1:3 hasilnya tidak berbeda nyata dengan infusa daun kersen [4%].

Formulasi sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun pare (Momordica charantia L) dan uji aktivitas terhadap Staphylococcus epidermidis

No. 495 Gel Facial Wash adalah pembersih wajah menggunakan sabun wajah merupakan langkah awal mencegah terjadinya acne. Sabun merupakan sulfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan tegangan antarmuka, serta memiliki sifat penyabunan, dispersibilitas, emulsifikasi dan pembersih. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekstrak etanol 70% daun pare yang optimal dan dapat digunakan sebagai gel facial wash yang dapat memberikan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidemidis dan memiliki stabilitas yang baik. Penelitian ini diawali dengan maserasi simplisia daun pare tua dengan etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh diuji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa dalam daun pare yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid dan streoid. Sediaan Gel Facial Wash dibuat dengan konsentrasi 0,05%, 7,5%, dan 20%. Evaluasi fisik dilakukan antara lain uji organoleptik, uji ketahanan busa, uji daya sebar, pH, uji viskositas, dan uji cycling test. Hasil penelitian menujukan bahwa ekstrak etanol 70% daun pare memiliki aktivitas antibakteri terhdap Staphlococcus epidermidis. Sediaan Gel Facial Wash dengan kosentrasi 20% memiliki nilai ph 5,5-6, viskositas 4490 Cp, daya sebar 6,3 cm, ketahanan busa 9 cm, dan DDH 16,1 mm.

Uji aktivitas antibakteri sediaan obat kumur ekstrak etanol wungu (Graptophyllum pictum L) terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 453 Karies gigi merupakan penyakit infeksi mulut yang paling umum. Di Indonesia, prevalensi penyakit karies gigi menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans. Daun wungu (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun wungu terhadap Streptococcus mutans yang dibuat dalam sediaan obat kumur untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). metodenya adalah daun wungu dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak tersebut dibuat obat kumur dengan 4 konsentrasi formulasi yang berbeda dan diuji daya hambat dengan metode cakram cara gores. Kemudian formula dengan daya hambat terbaik dilakukan uji dilusi menggunakan beberapa konsentrasi yaitu 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78%, 0,39 dan 0,195% dalam media Nutrient Broth. Setelah itu dilakukan penanaman ulang pada media Nutrient Agar untuk memastikan ada tidaknya pertumbuhan. Hasilnya adalah Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditemukan pada tabung 7 (1,56%) sementara Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditemukan pada tabung ke-6 (3,125%) yang ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan Streptococcus mutans pada media. Obat kumur konsentrasi 10% memiliki aktivitas antibakteri dengan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) sebesar 1,56% dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 3,125% terhadap Streptococcus mutans.

Uji Aktivitas Antibakteri hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri ( Calotropis gigantea [Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 437 Bunga biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan bagian tumbuhan yang mengandung zat aktif antibakteri dan berpotensi dibuat formulasi hand sanitizer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, daya antiseptiknya serta uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstraknya pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30%. Ekstraksi bunga biduri dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etil asetat, kandugan senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri formulasi hand sanitizer ekstrak pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji mutu fisik formulasi hand sanitiser antara lain pH, homogenitas, viskositas, organoleptik dan daya sebar. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etil asetat mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan steroid. Diameter zona hambat pada ekstrak etil asetat dan hand sanitizer ekstrak etil asetat konsentrasi 30% terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu 10,20 mm dan 10,15 mm. Sedangkan terhadap bakteri Escherichia coli yaitu 10,50 mm dan 10,30 mm. Selain itu, hand sanitizer ini memiliki aktivitas antiseptik karena nilai koefisien fenol ≥1. Hasil uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri memiliki warna hijau, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH (5-6), viskositas (2200-3800 Cps), daya sebar (5,14-6,40 cm).

UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN JAWER KOTOK (Plectranthus scutellarioides (L) R.Br) SEBAGAI LUKA SAYAT TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague Dawley

No: 394 Daun Jawer Kotok (Plectranthus scutellarioides (L) R.Br) telah dikenal sejak lama sebagai obat herbal yang berkhasiat untuk berbagai penyakit karena mengandung antiinflamasi, antiseptik, antimikroba, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembuatan gel ekstrak daun Jawer Kotok pada luka sayattikus putih jantan. Ekstrak daun Jawer Kotok diperoleh dengan metode maserasi bentuk simplisia daun jawer kotok dalam etanol 96% yang kemudian dikeringkan dengan evaporator. Kelompok senyawa kimia ekstrak ditentukan dengan uji fitokimia. Pembuatan gel ekstrak dibuat pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dan diuji efektivitasnya pada 25 tikus dibagi menjadi 5 kelompok yang kemudian mengalami luka-luka dengan perlakuan selama 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak secara positif mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Kemudian, setelah 8 hari pengobatan, semua konsentrasi memiliki efek positif pada penyembuhan luka (≥ 77%), dan penyembuhan terbaik ditunjukkan dengan preparasi gel dengan konsentrasi ekstrak 30%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa semua konsentrasi sediaanjawer kotok berpengaruh signifikan terhadap penyembuhan luka pada tikus putih jantan sparague dawley.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN ETANOL MIKROALGA Cosmarium sp. DENGAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS ABTS SERTA IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIFNYA DENGAN KG-SM

No: 385 Cosmarium sp. merupakan mikroalga yang banyak hidup di air tawar dan masih belum banyak diketahui pemanfaatannya. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa senyawa eksopolisakarida dari Cosmarium sp. dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas 2,2Azinobis-(3-ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid (ABTS) dari ekstrak biomassa Cosmarium sp. menggunakan pelarut yang berbeda kepolarannya. Biomassa Cosmarium sp. diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut nheksan, etil asetat dan etanol sehingga diperoleh ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol. Selanjutnya dilakukan pengujian antioksidan dari ketiga ekstrak tersebut dan diperoleh nilai IC50 berturut-turut 104,339 ppm, 180,070 ppm dan 55,950 ppm. Selanjutnya ekstrak etanol yang memiliki aktivitas antioksidan paling baik dilakukan fraksinasi dan diperoleh fraksi A, fraksi B, fraksi C dan fraksi F dengan nilai IC50 berturut-turut 99,60 ppm, 53,562 ppm, 193,950 ppm dan 385,60 ppm. Fraksi A dan B yang memiliki aktivitas antioksidan kuat dilakukan analisis dengan KG-SM. Hasil analisis KG-SM pada fraksi A menunjukkan sebanyak 7 senyawa aktif dari golongan asam lemak (19,47 %), alkohol (2,00 %), alkohol lemak (1, 08 %) dan ftalat (5,35 %). Hasil analisis KG-SM pada fraksi B menunjukkan sebanyak 4 senyawa aktif dari golongan asam lemak (24,12 %) dan ftalat (3,60 %). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa fraksi B memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat karena jumlah asam lemak tak jenuh pada fraksi B lebih banyak dari fraksi A. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa mikroalga Cosmarium sp. dapat dijadikan obat herbal sebagai antioksidan yang bersifat alami.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI Staphylococcus YANG MENGHASILKAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK DALAM KULIT DAGU PRIA BERJANGGUT

No: 384 Berjanggut merupakan sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang bermanfaat bagi kesehatan kulit muka karena terlindung dari sinar matahari, debu, infeksi dan melembabkan kulit. Banyak spesies bakteri ditemukan pada kulit dagu berjanggut yang hidup berkompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus penghasil zat antibiotik yang tumbuh pada kulit dagu berjanggut. Sampel bakteri diambil dengan cotton bud dari kulit dagu berjanggut 20 orang pria di daerah Bogor. Bakteri Staphylococcus kemudian diisolasi dan diidentifikasi, diinokulasikan dan diuji daya hambatnya pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian menyimpulkan adanya bakteri Staphylococcus epidermidis pada kulit dagu janggut pria yang dilihat secara mikroskopik berbentuk kokus, berkelompok tidak teratur, dan dinding sel bakteri berwarna ungu. Dilihat secara makroskopik pigmen bakteri berwarna putih pada media Nutrient Agar, tidak memberikan perubahan warna pada media Mannitol Salt Agar (MSA) dan mampu menghasilkan aktivitas antibiotik, dari 20 sampel yang diambil pada minggu pertama hanya kode sampel J1 dan J9 yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik dengan diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,261 cm dan 0,210 cm, pada pengambilan sampel minggu kedua yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel JI dan J9 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,268 cm dan 0,206 cm, pada pengambilan sampel minggu ketiga yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel J3, J5 dan J7 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,240 cm, 0,211 cm dan 0,199 cm.

UJI AKTIVITAS DAYA INHIBISI EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR DARI BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 364 Enzim α-glukosidase di dalam sistem pencernaan berperan sebagai pengurai karbohidrat menjadi glukosa. Inhibisi aktivitas enzim ini dapat mengurangi kadar glukosa dalam darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak n-Heksan, etil asetat dan air dari biji alpukat (Persea americana Mill) terhadap enzim α-glukosidase. Ekstrak kental biji alpukat dengan pelarut n-Heksan, etil asetat dan air diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia biji alpukat yang dikeringkan dengan rotary evaporator. Uji inhibisi ekstrak biji alpukat terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2%. Hasil uji fitokimia pada ketiga ekstrak biji alpukat menunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak n-Heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% mempunyai daya inhibisi 100%, 94%, 97% yang lebih tinggi dari pada daya inhibisi ekstrak etil asetat 95%, 94%, 96% dan ekstrak air 90%, 92%, 94%. Hasil uji two way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing ekstrak terhadap daya inhibisi enzim αglukosidase dan pada uji Pos Hoct Test Tukey konsentrasi ekstrak 1,5% dan 2% memberikan pengaruh inhibisi yang sama terhadap enzim α-glukosidase tetapi berbeda pengaruh pada konsentrasi 1%.