Sebanyak 52 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP Staphylococcus epidermidis

No. 543 Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif minyak atsiri, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diameter daya hambat ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi serta kombinasi keduanya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 20% dan 40%. Kemudian hasil terbaiknya dibuat kombinasi dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1 yang selanjutnya di uji aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilnya menunjukan bahwa pada daun sirih hijau dan tanaman serai wangi menunjukan aktivitas terbaiknya pada konsentrasi 40% dengan diameter daya hambat sebesar 18,99 mm dan 15,65 mm yang termasuk kedalam kategori kuat. Selanjutnya dari konsentrasi 40% tersebut dibuat perbandingan, hasil perbandingan terbaik yaitu pada perbandingan 3:1 (daun sirih hijau : tanaman serai wangi) yang memberikan efek sinergis dengan diameter daya hambat sebesar 21,20 mm yang termasuk kategori antibakteri sangat kuat.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% TANAMAN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 542 Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling umun di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri Streptococcus mutans.tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan sirih hijau (Piper betle L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak tunggal etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang akan digunakan untuk membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 7,5 mm, 8,83 mm dan 11,4 mm. dan untuk ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 9,23 mm, 10,4 mm dan 11,8 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,4 mm untuk tanaman sereh wangi dan 11,8 mm untuk ekstrak daun sirih hijau yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri kuat. Dan untuk kombinasi yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3 dengan nilai diameter zona hambat rata-rata 16,38 mm yang berarti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.

AKTIVITAS TABIR SURYA DARI KOMBINASI EKSTRAK TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) SECARA IN VITRO

No. 541 Senyawa Tabir surya merupakan zat yang megandung bahan pelindung kulit terhadap sinar matahari sehingga sinar UV tidak dapat memasuki kulit, tabir surya alami yaitu tanaman yang banyak mengandung senyawa fenolik diantaranya Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung senyawa antioksidan golongan flavonoid yang memiliki aktivitas fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) secara tunggal maupun kombinasi, masing-masing ekstrak dilarutkan dengan etanol 70% dalam 5 konsentrasi dengan metode spektrofotometri. Hasil nilai SPF menunjukkan bahwa ekstrak tanaman serai wangi dengan konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm, Berdasarkan European Comission harga SPF pada ke-5 konsentrasi ekstrak tanaman serai wangi tersebut termasuk ke dalam kategori pelindungan minimal, dan untuk ekstrak daun sirih hijau berdasarkan nilai SPFnya konsentrasi 50 ppm,100 ppm, dan 150 ppm termasuk kedalam kategori perlindungan minimal sedangkan untuk konsentrasi 200 dan 250 ppm dikategorikan mempunyai pelindungan sedang, Dan untuk kombinasi ekstrak dengan perbandingan 1:3 mempunyai aktivitas tabir surya yang paling tinggi dengan nilai SPF sebesar 38,547.

Aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol 70% tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 539 Karies gigi adalah suatu proses patologis berupa interaksi yang terjadi di dalam mulut karena ada faktor yang terlibat yaitu bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis merupakan tanaman obat yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tunggal serta kombinasi ekstrak etanol 70% serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, sedangkan buah jeruk nipis diperas secara manual. Sampel ekstrak kental serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis dilakukan penapisan fitokimia dan sampel tunggal serta kombinasinya diuji aktivitas antibakteri secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar sampel uji. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis masing-masing mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Konsentrasi 60% merupakan konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis tunggal dengan diameter zona hambat sebesar 14,71 mm dan 11,22 mm. Kombinasi ekstrak serai wangi dan air perasan jeruk nipis dengan perbandingan (3:1) adalah kombinasi terbaik dengan diameter zona hambat sebesar 15,77 mm. Maka kombinasi dengan konsentrasi 60% pada perbandingan (3:1) lebih baik dari masing-masing tunggal konsentrasi 60%. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Aktivitas antipiretik kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L) dan daun salam (Syzygium polyanthum [Wight] Walp)terhadap tikus putih jantan

No. 538 Demam adalah suatu kondisi dimana suhu tubuh meningkat diatas 35,80C hingga 37,40C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat penurun demam seperti parasetamol. Efek samping penggunaan parasetamol untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan obat dari bahan alam seperti daun kersen dan daun salam yang digunakan untuk mengobati demam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antipiretik dari kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun salam (Syzygium polyanthum [Wight] Walp) terhadap tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Penelitian ini terdiri dari 7 kelompok dan setiap kelompok diberi 4 ekor tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Masing-masing perlakuan diberikan infusa daun kersen dan daun salam serta kombinasinya dengan volume 3ml. Hewan uji diinduksi demam menggunakan vaksin DTP-Hb HIB sebanyak 0,5 ml secara intramuskular. Pengukuran suhu tubuh hewan uji menggunakan termometer digital tiap 30 menit hingga 180 menit. Hasil penelitian menunjukkan infusa daun kersen, infusa daun salam dan kombinasinya dengan perbandingan (1:1) (1:3) dan (3:1) pada menit ke 180 masing-masing menunjukkan ∆t yaitu 1,50C, 1,60C, 2,20C, 1,60C dan 1,70C, yang berarti mempunyai aktivitas antipiretik terhadap tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Serta pada kombinasi infusa (1:1) menunjukkan aktivitas antipiretik yang sama seperti parasetamol yaitu 2,20C.

Aktivitas Analgesik kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill) terhadap mencit putih jantan yang diinduksi asam asetat

No. 537 Nyeri merupakan masalah umum yang sering dirasakan oleh masyarakat sehingga masyarakat berupaya mencari pereda rasa nyeri (analgesik). Penggunaan obat analgesik memang diakui masyarakat dapat menghilangkan rasa nyeri, namun penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga masyarakat mulai beralih menggunakan tanaman obat sebagai alternatif pengobatannya. Daun kersen dan daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill.) terhadap mencit putih jantan (Deutschen Denken Yoken) yang diinduksi asam asetat. Kandungan senyawa kimia daun ditetapkan dengan uji Fitokimia, konsentrasi masing-masing infusa daun kersen dan daun ranti yang digunakan adalah 4 % dan konsentrasi kombinasi infusanya di uji dalam perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1. Mencit putih jantan yang digunakan sebanyak 28 ekor yang dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan. Penurunan nyeri pada mencit ditetapkan dengan metode geliat Writhing. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa daun kersen pada uji fitokimia mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin sedangkan pada daun ranti mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Hasil yang diperoleh menunjukkan efek analgesik dari kontrol positif, Infusa daun kersen [4%], Infusa daun ranti [4%], kombinasi infusa 1:1, kombinasi infusa 1:3 dan kombinasi infusa 3:1 berturut-turut sebesar sebesar 64,97 %, 59,35 %, 56,95 %, 27,67 %, 57,35 % dan 49,59 %. Infusa daun kersen [4%] memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol positif asam mefenamat, sedangkan untuk kombinasinya pada perbandingan 1:3 hasilnya tidak berbeda nyata dengan infusa daun kersen [4%].

Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol 70% daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) terhadap Staphylococcus aureus

No. 536 Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pada umumnya mikroorganisme penyebab infeksi adalah bakteri Staphylococcus aureus. Oleh karena itu dibutuhkan bahan alami yang dapat mengobati infeksi bakteri tersebut. Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) memilki kandungan antibakteri yang baik, kandungan tersebut meliputi senyawa flavonoid, saponin, tanin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan senyawa dari daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan mengetahui aktivitas terbaik dari ekstrak tunggal maupun kombinasinya. Kedua simplisia diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri dilihat dari besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar area kertas cakram setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 1x24 jam. Konsentrasi ekstrak tunggal yang digunakan adalah 10%, 20%, 40% dan Perbandingan kombinasi yang digunakan adalah 1:1, 1:3, 3:1. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) mengandung senyawa flavonoid, saponin,tanin dan steroid. Hasil diameter zona hambat ekstrak tunggal yang diperoleh dari daun sirih hijau berturut-turut sebesar 12,98 mm, 14,17 mm, dan 15,98 mm yang menunjukkan kategori kuat. Sedangkan tamanan serai wangi berturut-turut sebesar 8,35 mm, 10,29 mm , dan 12,1 mm yang menunjukkan kategori sedang-kuat. Hasil diameter zona hambat ekstrak kombinasi yang diperoleh berturut-turut sebesar 17,39 mm, 13,45 mm dan 21,86 mm yang menunjukkan kategori kuat-sangat kuat. Kombinasi terbaik diperoleh pada perbandingan 3:1 dengan diameter zona hambat sebesar 21,86 mm, hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan kontrol positifnya yang sebesar 21,17.

Potensi antihiperglikemia dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei shirota strain dan lactobacillus plantarum pada tikus putih jantan (rattus novegicus)

No. 533 Hasil fermentasi umbi garut dapat digunakan sebagai terapi hiperglikemia. Salah satu bahan potensial untuk pembuatan hasil fermentasi yaitu Umbi garut (Maranta arundinacea L) yang difermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus plantarum dan bakteri Lactobacillus casei Shirota strain dan campuran keduanya. Tujuan dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus casei Shirota strain yang optimal dan menentukan aktivitas penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus). Hasil fermentasi dievaluasi pH, total asam laktat dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut dilakukan uji penurunan kadar glukosa darah secara in vivo. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran, Lactobacillus plantarum 2%, Lactobacillus casei 2% masing-masing sebesar 71,47%, 43,63% dan 69,76%. Penurunan kadar glukosa darah pada hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran dan Lactobacillus casei 2% tidak berbeda nyata (α<0,05). Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,65, total asam laktat 0,89% dan total bakteri asam laktat 7,6 x 109 CFU/mL. Sedangkan untuk hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei 2% mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,29, total asam laktat 0,95% dan total bakteri asam laktat 1,8 x 108 CFU/mL. Oleh karena itu, fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum, Lactobacillus casei Shirota strain dan kultur campuran dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Uji aktivitas ekstrak etanol daun kersen (Muntingia Calabura L.) sebagai masker jerawat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

No. 532 Daun kersen (Muntingia calabura L.) memiliki aktivitas antibakteri alami karena terdapat kandungan senyawa fenol, sehingga dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, yakni penyebab jerawat meradang. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas ekstrak etanol daun kersen dalam formula sediaan masker peel-off terhadap penghambatan Staphylococcus aureus. Metode dalam penelitian ini meliputi pengujian aktivitas antibakteri dan penetapan kadar total fenol yang dilakukan sebelum dan sesudah cycling test serta evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, uji waktu sediaan mengering, dan uji viskositas yang dilakukan sebelum cycling test, siklus ke-3 pada suhu dingin dan panas, dan sesudah cycling test. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 12,8-15,6 mm. Aktivitas antibakteri sediaan memberikan respon hambatan yang kuat. Kadar total fenol sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 47,475-108,485 mg GAE/g sediaan. Hasil dari evaluasi sediaan menunjukkan bahwa sediaan masker peel-off homogen, tidak berubah bentuk, warna, dan bau, dengan daya sebar 5,3-6,7 cm, pH 5-6, waktu mengering 15,21-19,42 menit, dan viskositas 4000-7250 cps. Semua evaluasi sediaan memenuhi persyaratan yang baik kecuali viskositas, walaupun viskositasnya cenderung lebih tinggi dari standar tetapi sediaan masih mudah diaplikasikan pada kulit dan di tuang ke dalam wadah.

Formulasi sediaan lipstik dengan ekstrak kulit buah rambutan (Nephellium lappaceum L) sebagai pewarna

No. 513 Rambutan (Nephallium leppaceum L) merupakan sejenis buah-buahan tropika yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Kulitnya yang berwarna merah masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Adanya warna merah pada kulit buah rambutan disebabkan oleh adanya pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam kulit buah Rambutan. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarut yang mengandung asam sitrat 2%, kemudian pelarut diuapkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kulit buah rambutan. Formulasi lipstik terdiri dari bahan-bahan seperti cera alba, setil alkohol, carnauba wax, adeps lanae, vaselin, minyak jarak, propilenglikol, tween 80, butil hidroksi toluen, nipagin serta penambahan ekstrak kulit buah rambutan dengan konsentrasi 25, 30, dan 35%. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat mudah dioleskan, stabil, berwarna merah, homogen, titik lebur 53-65oC, pH 4,85-5,86 dan intensitas warna dengan perubahan intensitas warna yang cukup stabil.