Sebanyak 19 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN INFUSA DAN EKSTRAK n-ETIL ASETAT DAUN SENDOK (Plantago major L) DENGAN METODE HIDROGEN PEROKSIDA

No: 333 Hidrogen peroxide in the human body penetrates into the cell and reacts with Ferro metal to form hydroxyl radicals resulting DNA damage and , Alzheimer's, Parkinson's disease. The presence of phenolic substances of hydrogen peroxide is converted to a more neutral compound of water. Spoon leaves are important medicinal plants that have phenolic active substances. Pursuant to that matter further research is aimed to test antioxidant activity of water extract and spoon leaf extract to radical of H2O2 and compare activity of hydrogen peroxide inhibitory power with ascorbic acid as positive control and phytochemical test. The content of the spoon leaf infusa compound and the ethyl acetate extract is phenolic. Spoon leaves are extracted by infusa and maceration with ethyl acetate solvent. Inhibitory to hydrogen peroxide activity showed that infusa and ethyl acetate extract inhibited hydrogen peroxide activity 177,79 ppm and 329,33 ppm, the strongest IC50 from both samples were infusa.

PERBANDINGAN KADAR DAN VALIDASI METODE ANALISIS OBAT HEWAN AMOKSISILIN GRANUL DENGAN METODE HAYATI DAN SPEKTROFOTOMETRI

No: 316 Antibiotik amoksisilin pada hewan digunakan untuk pengobatan infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotik perlu diperhatikan mutunya sehingga efikasi antibiotik tersebut optimal. Penetapan kadar amoksisilin dengan metode hayati memerlukan waktu lebih lama yaitu dua hari. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu metode baru untuk meminimalkan waktu pengujian yaitu metode spektrofotometri. Sampel amoksisilin (10 %) diuji dengan metode hayati (konsentrasi 10; 2,5 ppm) dan spektrofotometri (konsentrasi 10 ppm, λ=247 nm). Kedua metode ditentukan validasinya. Hasil uji metode hayati untuk akurasi adalah 98,92% - 99,33%, nilai CV uji presisi sebesar 0,081%, nilai koefisien korelasi uji linearitas sebesar 0,9980, limit deteksi sebesar 0,228 μg dan limit kuantisasi 0,076 μg. Hasil uji metode spektrofotometri untuk akurasi adalah 98,06% - 100,59%, nilai CV uji presisi sebesar 0,881%, koefisien korelasi uji linearitas sebesar 0,9998, limit deteksi sebesar 0,027 ppm dan limit kuantisasi 0,092 ppm. Hasil kedua metode tersebut kemudian dilakukan uji t student (α=0,05) dan didapatkan hasil t hitung sebesar 1,4384, t tabel 2,100 dan derajat kebebasan sebesar 18. Pengujian amoksisilin dengan metode hayati sama atau tidak berbeda nyata dengan metode spektrofotometri sehingga metode spektrofotometri dapat digunakan untuk analisis obat hewan amoksisilin ganul secara valid.

OPTIMASI WAKTU MASERASI PARASETAOL DALAM JAMU PEGALINU YANG BEREDAR DI KECAMATAN BOGOR BARAT

No: 248 Jamu merupakan obat tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Peraturan pemerintah menyatakan bahwa di dalam jamu tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia obat. Namun, sampai saat ini masih terdapat jamu yang mengandung bahan kimia obat, seperti pada jamu pegal linu yang mengandung parasetamol. Analisis bahan kimia obat dalam jamu belum disertai waktu ekstraksi optimal yang menghasilkan kadar bahan kimia obat yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan menentukan waktu maserasi dan kadar parasetamol yang optimal dalam jamu pegal linu. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Bogor Barat dengan metode purposive sampling. Sampel dimaserasi menggunakan pelarut etanol pada waktu 0, 30, 60, 90 dan 180 menit. Sepuluh sampel jamu pegal linu yang telah ditentukan, dilakukan skrining dengan metode Kromatografi Lapis Tipis menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:etanol (9:1) serta dideteksi pada sinar UV 254 nm. Sampel dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis pada λ 248 nm. Hasil analisis menunjukkan bahwa 7 sampel jamu positif mengandung parasetamol dengan nilai Rf yang mendekati nilai Rf standar parasetamol, yaitu 0,430. Waktu optimal maserasi pada jamu simulasi, sampel D, F dan S adalah 0-30 menit (14,25 %, 22,33 %, 6,22 %, 8,98 %); sampel A, E dan Q pada 60-90 menit (7,12 %, 5,62 %, 4,47 %) dan sampel H pada 120 menit (18,38 %). Waktu optimal maserasi sampel didominasi oleh rentang waktu antara 30-90 menit. Oleh karena itu, diketahui bahwa sampel jamu pegal linu yang tersebar di Kecamatan Bogor Barat memiliki waktu maserasi yang optimal pada rentang waktu antara 30-90 menit.

ANALISIS SILDENAFIL SITRAT DALAM JAMU KUAT DI KECAMATAN BOGOR BARAT DAN TANAH SAREAL DENGAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR SPEKTROMETRI MASSA

No: 243 Jamu merupakan pengobatan pilihan masyarakat karena berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. Salah satu jenis jamu adalah jamu kuat yang dapat berkhasiat sebagai penambah stamina dan vitalitas lelaki, namun dalam perkembanganya kemurnian jamu kuat banyak ditambahkan sildenafil sitrat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif. Analisis senyawa sildenafil sitrat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM) yang disampling pada 2 kecamatan yaitu kecamatan Bogor Barat dan Tanah Sareal sehingga diperoleh 32 sampel, dimana 18 sampel dari Bogor Barat diberi kode A dan 14 sampel dari Tanah Sareal diberi kode B. Hasil KLT yang dielusi pada Silica gel 60 F254 dengan eluen metanol:kloroform (4:1), terdapat 5 sampel menunjukkan nilai Rf yang mendekati standar sildenafil sitrat yaitu 0.83, pada kode sampel A4 nilai Rf 0,84, A13 nilai Rf 0,84, A17 nilai Rf 0,83, B11 nilai Rf 0,83, dan B14 nilai Rf 0,84. Hasil KC-SM dengan menggunakan kolom Phenomenex Synergi Fusion RP-100A, sistem pompa gradien dengan fase gerak 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam air dan 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam asetonitril, diperoleh kadar sampel untuk kode A4, A13, A17, B11, B14 sebesar 198,01; 1119.19; 226,00; 156,77; 443,87 µg/kg.

PENENTUAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH YANG BEREDAR DI KOTA TANGERANG SELATAN

No: 214 Krim pemutih wajah telah banyak digunakan di Indonesia dan merupakan kosmetika yang mengandung bahan aktif pemutih yang penggunaannyabertujuan untuk mencerahkanatau memutihkan kulit.Hidrokuinon dilarang digunakandalamkrim pemutih wajah karena dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar jugadapat menyebabkan kelainan pada ginjal, kanker darah dan kanker sel hati. Tujuan penelitian iniadalah untuk membuktikan masih adanya kandungan hidrokuinon dalam berbagai merek krim pemutih wajah yang beredar di Kota Tangerang Selatan.Sebanyak 8 krim pemutih wajah yang berbeda dikumpulkan dari pusat perbelanjaan lokal di 4 kecamatan daerah Kota Tangerang Selatan yakni : Serpong, Ciputat, PondokArendan Pamulang, uji kualitatif dengan reaksi warna menggunakan pereaksiBenedict dan ferri klorida, hasilnya 5 (lima) sampel mengandung hidrokuinon (A1, A2, B1, C1, D2) dan uji kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vismenggunakan pelarut metanol dengan panjang gelombang maksimum 293 nm, kedelapan sampel mengandung hidrokuinon berkisar antara 0,32% sampai 2,34%, dengan kadar hidrokuinon tertinggi pada sampel B1 sebesar 2,34%, yang merupakan sampel produk impor yang telah memiliki nomor registrasi di BPOM.

UJI TOKSISITAS TERHADAP Artemia salina Leach DAN ANALISIS CITRININ PADA SERBUK ANGKAK

No: 172 Angkak merupakan produk fermentasi beras dengan kapang Monascus purpureus. Senyawa yang terkandung dalam angkak yaitu Monascidin atau Citrinin, merupakan senayawa toksik yang memiliki efek negatif terhadap penerimaan produk angkak. Angkak berkhasiat sebagai antihiperkolesterol, demam berdarah, pengawet dan pewarna makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis citrinin dalam sampel angkak dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC), menggunakan kolom C18 dengan panjang gelombang 254 nm dengan perbandingan fase gerak asetonitril : akuabides : asam trifloroasetat (1000:1000:1) dan larutan standar citrinin dengan berbagai konsentrasi. Dilakukan uji toksisitas pada sampel angkek AS, TST dan JMBA menggunakan Artemia salina Leach dengan metode BSLT untuk melihat nilai LC50. Dari hasil penelitian didapat bahwa tiga sampel AS, TST, JMBA memiliki kandungan citrinin 41,24 µg/g, 59,95 µg/g, 62,64 µg/g. hasil ini menunukkan bahwa dalam tiga sampel angkak tersebut, setiap sampelnya memiliki kandungan citrinin (<200 mg/g), JMBA diperoleh niulai LC50 sebesar 138,48 ppm ; 190,55 ppm ; 295,87 ppm. Dari ketiga sampel angkak yang menunjukkan potensi sangat toksik terdapat pada isolat AS dan TST. Dan untuk isolate JMBA memiliki potensi toksisitas toksik

PENERAPAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI PADA PENETPAN KADAR RESIDU IBUPROFEN DALAM PROSES VALIDASI PEMBERSIHAN

No: 161 Kontaminasi produk farmasi merupakan perhatian utama dalam keamanan suatu produk. Salah satu jenis kontaminan yang dapat mempengaruhi efektifitas suatau obat yaitu residu zat aktif. Cara meminimalisir terjadinya kontaminasi tersebut yaitu dengan melakukan validasi pembersihan, untuk menyakinkan bahwa prosedur pembersihan yang dilakukan telah mampu menghilangkan kontaminan dibawah batas yang telah ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode analisis yang akurat dan selektif untuk penetapan kadar residu ibuprofen dengan konsentrasi rendah pada proses validasi pembersihan. Penelitian ini menggunakan kolom Lichrospher Rp-18,4 mm x 125 mm (5µ i.d) pada panjang gelombang 220 nm dengan fase gerak campuran Asetonitril : Asam Fosfat 0.01 M (40:60) dan kecepatan alir 2,0 mL/menit. Uji liniearitas pada metode ini menunjukkan nilai koefisien korelasi 0,9994 pada rentang konsentrasi 1,0 ppm-15,0 ppm. Perolehan kembali larutan sampel zat aktif pada konsentrasi 2,0 ppm; 5,0 ppm; 8,0 ppm; 10,0 ppm dan 12,0 ppm yaitu sebesar 98,95%; 99,39%; 100,11%; 0,21%; 2,26%, 0,38%; 1,61% dan 0,54%. Perolehan kembali larutan sampel simulasi swab pada konsentrasi 0,8 ppm; 1,0 ppm dan 1,2 ppm yaitu sebesar 83,52%; 72,46% dan 78,60% dengan nilai SBR untuk masing-masing konsentrasi yaitu 2,39%; 1,55% dan 0,95%. Batas deteksi sebesar 0,63 ppm dan batas kuantitasi sebesar 1,91 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode ini memiliki keselektifan, ketepatan dan ketelitian yang baik.

ISOLASI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT TCBPc-6 DARI TUMBUHAN BROTOWALI (Tinospora crispa (L.) Miers) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 160 Jamur endofit merupakan kelompok mikroba endofit yang kaya akan sumber metabolit bioaktifnya, salah satunya adalah sebagai senyawa antibakteri. Pada penelitian ini dilakukan isolasi dan uji aktivitas antibakteri dari jamur endofit TCBPc-6 dari tumbuhan brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers). Pengujian antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi. Ekstrak etil asetat jamur endofit TCBPc-6 sebanyak 2,9 g dipartisi dengan pelarut heksan-metanol menghasilkan fraksi terlarut heksan 0,260 g dan fraksi terlarut methanol 2,6507 g. Isolasi senyawa aktif dari ekstra heksan dilakukan menggunakan kromatografi kolom silika gel dan dilanjutkan kromatografi lapis tipis preparatif diperoleh dua senyawa murni yaitu senyawa murni 1 (F.5.1 dan F.5.2.1) dan senyawa murni 2 (F.5.2.2). penentuan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) senyawa murni menggunakan metode mikrodilusi dengan kontrol positif kloramfenikol. Nilai KHM senyawa murni 1 terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah lebih besar dari 128 µg/mL, sedangkan terhadap senyawa murni 2 sebesar 256 µg/mL. nilai KHM senyawa murni 1 dan 2 ini lebih besar dibanding antibiotik kloramfenikol (8 µg/mL)

ANALISIS KUANTITATIF RUBIADIN DARI EKSTRAK AKAR GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth) DENGAN METODE HPLC (High Performance Liquid Crhomatography)

No: 132 Ginseng kuning (Rennellia elliptica Korth) merupakan semak tropis dari keluarga Rubiaceae yang digunakan untuk pengobatan. Ekstrak akar tanaman ini mempunyai khasiat antioksidan. Terdapat beberapa turunan senyawa antrakuinon pada akar tanaman ini salah satunya adalah rubiadin yang merupakan senyawa aktif. Analisis rubiadin dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Analisis dilakukan dengan menggunakan kolom C18 (250 mm x 4.6 mm) fase terbalik, detektor UV-Vis pada panjang gelombang 254nm. Kondisi kromatografi dioptimasi dengan perbandingan fase gerak aquabidest - asam asetat 99,9:0,1 v/v (pompa A) dan asetonitril (pompa B) secara gradient dengan laju alir 0.8 ml/menit. Untuk meyakinkan bahwa metode analisis HPLC dapat digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan maka metode tersebut divalidasi. Parameter-parameter validasi yang diuji meliputi linieritas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), presisi dan akurasi. Dari hasil penelitian didapat waktu retensi untuk standar rubiadin, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol sekitar menit ke 13. Untuk ekstrak etil asetat diperoleh kadar sebesar 16.85'% sedangkan untuk ekstrak etanol 967% diperoleh kadar sebesar 0.32%. Linieritas dengan rentang konsentrasi 0.05ug/ml sampai 1.00p2/ml memiliki nila rata-rata koefisien korelasi (r) 0.9994. Batas deteksi metode ini adalah 0.03 p1g/ml dan batas kuantitasi sebesar 0.10pg/ml. Presisi dilakukan pada hari yang sama sebanyak tiga kali ulangan selama tiga hari menunjukkan ketelitian yang sangat baik dengan simpangan baku relatif untuk konsentrasi 250 pg/ml, 500 pg/ml, dan 1000 ug/ml berturut-turut adalah 0.0097%,0.0016% dan 0.0102%. akurasi dilakukan dengan penambahan standar kedalam sampel dengan tiga konsentrasi yaitu 300 pg/ml, 500 pg/ml dan 700 pg/ml dengan nilai rata-rata perolehan kembali sebesar 110.68%.