Sebanyak 22 item atau buku ditemukan

Uji aktivitas penghamabatan enzim tirosinase serta uji iritasi sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis F)

No. 518 Daun sukun (Artocarpus altilis F) diketahui memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas penghambatan enzim tirosinase sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dan mengetahui efek iritasi pada 10 panelis. Formula sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dengan konsentrasi 40% dilakukan pengujian penghambatan dengan substrat L-Tirosin dan L-Dopa dan uji iritasi selama 24 jam. Hasil uji aktivitas penghambatan enzim tirosinase menunjukkan bahwa ekstrak dan sediaan tidak memiliki kemampuan penghambatan terhadap melanin yang dilihat dari nilai 〖IC〗_50. Ekstrak etanol 96% daun sukun memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 4889,467 ppm dan substrat L-Dopa sebesar 6916,626 ppm. Sediaan masker peel-off memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 12680,48 dan untuk substrat L-Dopa sebesar 33402,96 ppm. Hasil uji iritasi primer tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit seperti edema, maupun eritema.

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I. C. Nielsen) dan daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) menggunakan metode BSLT

No. 514 Kombinasi obat herbal adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mengatasi munculnya penyakit. Kulit jengkol atau yang dikenal dengan nama Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen dan daun petai cina atau yang dikenal dengan nama Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina dengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9 (kulit jengkol:Daun Petai Cina) menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. proses ekstraksi kulit jengkol dan daun petai cina meliputi maserasi dan rotary evaporator. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol secara berturut-turut sebesar 80, 95, 135, 171 & 277 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan kombinasi ekstrak kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina pada perbandingan 1:1 dan 1:3 termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan pada perbandingan 1:5, 1:7 & 1:9 termasuk dalam kategori toksik sedang. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi kulit jengkol dan daun petai cina memberikan efek toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Toksisitas fermentasi umbi garut (Maranta arundinaceae L) oleh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

No. 512 Pangan fungsional yang berbasis probiotik memiliki potensi sebagai antikanker, karena mengandung asam laktat yang diduga dapat mencegah kanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek toksik dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test. Penentuan uji toksisitas dari hasil fermentasi umbi garut tersebut dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test yang menggunakan larva udang Arthemia salina Leach. Parameter yang diukur adalah LC50. Selain itu, hasil fermentasi umbi garut ditentukan nilai pH, total asam laktat, dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran berpotensi toksik terhadap Arthemia salina dengan kategori sangat toksik. Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran memiliki efek toksik tertinggi dengan nilai LC50 sebesar 28 ppm. Sampel tersebut memiliki karakteristik pH sebesar 4,27, total asam laktat sebesar 0,50% dan total BAL sebesar 1,0 x 1012 CFU/mL.

uji efek analgesik fraksi air, etil asetata dan n- heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY

No. 509 Tumbuhan ranti (Solanum nigrum L.) biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara tradisional sebagai pereda nyeri. Daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efek analgesik fraksi air, etil asetat dan n-heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (Solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur Deutche Denken Yoken yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode Sigmund (metode geliat) yang diinduksi dengan asam asetat 0,5%. Dosis yang digunakan untuk ketiga fraksi adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan serbuk antalgin 65 mg/kg BB sebagai kontrol positif. Penurunan jumlah geliat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji fitokimia ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, sedangkan pada fraksi n-heksana menunjukkan tidak adanya senyawa flavonoid. Pada efek analgesik daya proteksi yang paling besar terdapat pada fraksi air dosis 200 mg/kg BB (52,55%) yang diikuti oleh fraksi etil asetat dosis 200 mg/kg BB (36,86%), fraksi air dosis 100 mg/kg BB (36,13%), fraksi etil asetat dosis 100 mg/kg BB (29,75%), fraksi n-heksana dosis 200 mg/kg BB (22,99%) dan fraksi n-heksana dosis 100 mg/kg BB (8,21%). Semakin besar dosis yang diberikan maka semakin baik efek analgesiknya.

Aktivitas antibakteri dari ekstrak batang biduri (calotropis gigantea[Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 506 Tumbuhan biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan tumbuhan liar. Bagian seperti daun, kulit akar, getah dan bunganya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Akan tetapi, untuk batang kurang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Padahal dalam segi memperoleh bahan baku, batang lebih mudah didapat dari pada kulit akar. Selain itu, bila mengambil kulit akar harus mencabut tumbuhan biduri terlebih dahulu yang artinya tumbuhan biduri akan mati. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak heksana, etil asetat, dan etanol 96% pada batang biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan pengukuran diameter zona hambat. Ekstrak batang biduri diperoleh dengan metode maserasi. Senyawa aktif ekstrak diidentifikasi melalui uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak pada konsentrasi 25 mg/mL, 50 mg/mL, 75 mg/mL, dan 100 mg/mL dilakukan dengan metode difusi cakram. Ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol 96% batang biduri mempunyai aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol 96% batang biduri 100 mg/mL mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi (katagori antibakteri kuat) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai diameter zona hambat masing – masing 17,70 mm dan 12,40 mm. Senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak etanol 96% batang biduri adalah flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan triterpenoid.

Uji Aktivitas pertumbuhan rambut dari sediaan hair tonic ekstrak etanol 96% daun leunca ( Solanum Nigrum L) terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley

No. 505 Daun leunca (Solanum nigrum L) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid dan saponin serta banyak juga mengandung protein, asam amino, mineral, vitamin A dan C. Senyawa-senyawa tersebut memiliki peran penting dalam aktivitas partumbuhan rambut pada tikus putih jantan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas pertumbuhan pada tikus putih jantan galur Sprague dawley yang diberi sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak etanol 96% daun leunca (Solanum nigrum L.). Sediaan hair tonic dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu 10%,15% dan 20% untuk menguji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengukur panjang rambut, bobot rambut dan kelebatan rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan hair tonic pada konsentrasi 20% memiliki aktivitas pertumbuhan panjang, bobot dan kelebatan rambut yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol positif (minoxidil 2%).

uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol herba anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap tikus putih jantan galur sprague dawley

No. 474 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah herba anting-anting (Acalypha indica L.). Herba anting-anting mengandung flavonoid yang berkhasiat sebagai antiinflamasi (Narayana et al., 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol 70% tanaman anting-anting terhadap penurunan udema kaki tikus putih jantan yang diinduksi dengan karagenan. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur sprague dawley dengan umur 3-4 bulan, berat badan rata-rata 200 g. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I (kontrol negatif) diberi Na-CMC 1%, kelompok II (kontrol positif) diberi natrium diklofenak, kelompok III dosis 200 mg/kg BB, kelompok IV dosis 300 mg/kg BB dan kelompok V dosis 400 mg/kg BB. Pengukuran volume udem diukur dengan menggunakan air raksa dan jangka sorong kemudian diukur pada jam ke-1 sampai jam ke-12. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada dosis 400 mg/kg BB memiliki persentase terbaik dan mendekati dengan kelompok kontrol positif (natrium diklofenak).

potensi penurunan kadar koleterol total dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum pada tikus putih (Rattus norvegicus)

No. 421 Hasil fermentasi dapat digunakan sebagai terapi hiperkolesterolemia. Salah satu bahan potensial untuk pembuatan hasil fermentasi yaitu Umbi garut (Maranta arundinacea L.) yang difermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan campuran keduanya. Tujuan dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum yang optimal dan menentukan aktivitas penurunan kadar kolesterol total pada tikus putih (Rattus norvegicus). Formulasi pada fermentasi umbi garut menggunakan kultur Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum, dan campuran. Hasil fermentasi dievaluasi pH, total asam laktat, total bakteri asam laktat, dan organoleptik. Hasil fermentasi umbi garut diuji penurunan kadar kolesterol total secara in vivo. Fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum dapat menurunkan kadar kolesterol total. Penurunan kadar kolesterol total tertinggi yaitu pada hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus fermentum 2% dengan nilai persentase penurunan 30,36%. Penurunan kadar kolesterol total pada hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus fermentum 2% lebih tinggi dan berbeda nyata (α<0,05) dengan aktivitas penurunan kadar kolesterol total oleh Lactobacillus plantarum dan campuran kedunya. Hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus fermentum 2% mempunyai nilai pH 3,88, total asam laktat 1,13% dan total bakteri asam laktat 1,6 x 1010 CFU/mL. Oleh sebab itu, hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus fermentum 2% berpotensi sebagai agen antihiperkolesterolemia.

SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DAN UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

No: 378 Nanopartikel perak (NPAg) merupakan partikel logam perak yang memiliki ukuran 1-100 nm. NPAg memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki kemampuan yang baik sebagai antibakteri. Sintesis NPAg dari ekstrak tumbuhan (green synthesis) bersifat ramah lingkungan karena mampu mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis NPAg dengan memanfaatkan ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa L.) sebagai agen pereduksi larutan AgNO3. Sintesis NPAg dilakukan dengan mencampur ekstrak kulit bawang merah dan larutan AgNO3 dengan variasi AgNO3 0,1mM(F1); 0,5mM(F2) dan 1,0mM(F3). Karakterisasi NPAg dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, Particle Size Analyzer (PSA) dan zeta potensial. Terbentuknya NPAg diamati dengan adanya perubahan warna larutan, dimana pada F2 dan F3 semula yang berwarna kekuningan menjadi warna cokelat kemerahan hal tersebut menandakan nanopartikel telah terbentuk. NPAg yang terbentuk diamati serapan maksimum menggunakan spektrofotometer UV-vis pada F2 dan F3 kisaran panjang gelombang berada pada 400-500nm yang menandakan nanopartikel telah terbentuk. Penentuan ukuran partikel menggunakan PSA pada F1, F2 dan F3 berturut-turut 390,7nm, 62,34nm dan 50,63nm. Nilai zeta potensial yang diperoleh pada F1, F2 dan F3 berturut-turut sebesar -29,3mV, -14,6mV dan -19,7mV. Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri S.aureus dari F3, hasil menunjukkan bahwa aktivitasnya lebih baik dibandingkan larutan AgNo3 1,0 mM yang tidak berukuran nanometer.