Sebanyak 45 item atau buku ditemukan

evaluasi drug related problems (DRP's) penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada pasien pediatri di puskesmas cipaku bandung periode Juli-Desember 2017

No. 427 Drug Related Problems (DRP’s) merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang menimpa penderita dengan terapi obat. Dalam pemberian terapi obat kepada penderita seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat DRP’s baik yang telah terjadi atau berpotensi terjadi. Identifikasi DRP’s dalam pengobatan penting dalam rangka mengurangi kematian serta biaya terapi. Beberapa jenis masalah yang berhubungan dengan obat yaitu adanya penyakit yang tidak terobati, adanya obat yang tidak memiliki indikasi, adanya obat dengan dosis yang tidak tepat, penggunaan obat yang tidak tepat waktu, dan terjadi Advere Drug Reaction (ADR) seperti efek samping, keracunan, reaksi alergi makanan. Telah dilakukan penelitian pada pasien pediatri penderita infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berobat ke Puskesmas Cipaku Bandung yang bertujuan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya kejadian DRP’s, penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan kejadian DRP’s yang dievaluasi sebanyak 222 pasien yang memenuhi kategori inklusi. Hasil evaluasi menunjukan 39 kasus yang meliputi diantaranya DRP’s terbanyak terjadi pada kasus dosis subteraupetik 28 kejadian (12,6%), indikasi tanpa terapi 4 kejadian (1,8 %), terapi tanpa indikasi 5 kejadian (2,3 %), dan kegagalan menerima obat 2 kejadian (0,9 %).

Analisis Efektivitas obat dan efesiensi biaya dalam penggunaan antibiotik tiamfenikol dan sefiksim pada pasien rawat jalan demam tifoid anak di kilinik Yapida Bogor periode Januari-Desember 2017

No. 413 Antibiotik merupakan pilihan obat utama untuk pengobatan demam tifoid, sehingga perlu dilakukan analisis efektivitas biaya agar dapat membantu mengambil keputusan untuk pemilihan antibiotik yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang lebih efektif dan efisien, yang digunakan dalam terapi demam tifoid anak di Klinik Yapida periode JanuariDesember 2016. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Mei-Juli 2017. melalui data rekam medis pasien demam tifoid anak yang mendapatkan terapi antibiotik tiamfenikol dan sefiksim. Data yang diambil untuk analisis adalah data karakteristik pasien dan data biaya langsung dan menghitung biaya transportasi. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan antara output/kesembuhan dengan pasien yang menerima terapi obat antibiotik tiamfenikol dan sefiksim dengan p < 0,05 dengan nilai signifikasi 0,006. Rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik tiamfenikol sebesar Rp 1,217,828, - dengan waktu bebas demam lebih dari 4 hari sedangkan rata-rata total biaya terapi antibiotik sefiksim sebesar Rp 885,387, - dengan waktu bebas demam pada hari ke4. Dapat disimpulkan bahwa terapi antibiotik sefiksim lebih efektif untuk penurunan suhu pada hari ke-4 dan lebih efisien dalam segi biaya dibandingkan dengan terapi antibiotik tiamfenikol.

ANALISIS EFEKTIVITAS OBAT ANTI TUBERKULOSIS KOMBINASI DOSIS TETAP (KDT) DAN KOMBIPAK/TERPISAH DENGAN BTA POSITIF FASE INTENSIF DI POLI PARU RUMAH SAKIT PARU DR. M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO BOGOR PERIODE TAHUN 2016

No: 372 Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menimbulkan kematian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan di Indonesia adalah OAT KDT/FDC dan OAT kombipak/terpisah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui analisis efektivitas terapi pemakaian OAT KDT/FDC dan OAT kombipak/terpisah fase intensif pada pasien dengan BTA positif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Pengambilan data secara retospektif dari data rekam medik pasien. Subjek penelitian adalah yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yaitu 42 pasien untuk menilai efektivitas terapi OAT KDT dan kombipak. Kriteria inklusi adalah pasien paru dengan BTA positif yang menerima terapi OAT KDT dan kombipak pada periode Januari-Desember 2016 di poli paru RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Bogor. Efektivitas diukur dengan menghitung jumlah pasien yang sembuh setelah pemberian OAT KDT dan kombipak. Hasil penelitian menunjukan bahwa efektivitas terapi yang paling besar terdapat pada pasien yang menggunakan OAT kombipak, dari uji analisis chi-square angka signifikansi 0,045 (p<0,05) didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara kesembuhan dengan obat anti tuberkulosis yang di gunakan sehingga dapat disimpulkan OAT kombipak cenderung memberi kesembuhan (95,2%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan OAT KDT (66,7%). Kesimpulan dari penelitian iniadanya hubungan yang bermakna antara penggunaan OAT KDT dan OAT kombipak pada pasien paru BTA positif.

FORMULASI SEDIAAN GEL ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BINTARO (Cerbera odollam Gaertn.) TERHADAP Staphylococcus aureus

No: 366 Ekstrak etanol 70% daun bintaro dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn) memiliki kandungan senyawa kimia berupa flavonoid, alkaloid, dan tanin. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak etanol 70% dari daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) dan menentukan formulasi sediaan gel yang memiliki mutu fisik yang baik dan memiliki efektifitas antibakteri. Mutu fisik yang diuji meliputi homogenitas, organoleptik, viskositas, pH, daya sebar, stabilitas dan uji efektifitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Hasil menunjukan sediaan gel ekstrak etanol 70% daun bintaro memiliki mutu fisik yang baik dan efektivitas antibakteri yang terbaik terdapat pada formulasi III dengan konsentrasi 5%. Berdasarkan analisis One way Anova dengan uji lanjut Duncan setiap formulasi dengan konsentrasi yang berbeda memiliki perbedaan yang nyata dengan α = 0.05.

FORMULASI DAN UJI STABILITAS SHAMPO ZINC PHYRITHIONE DENGAN PERBANDINGAN VARIASI PENGENTAL Na CMC (Carboxyl Methyl Cellulosum Natricum) DAN GLISERIN

No: 356 Ketombe adalah salah satu penyakit kulit yang banyak dialami oleh masyarakat, ketombe disebabkan oleh penumpukan sel kulit mati dikepala. Shampo anti ketombe yang mengandung bahan aktif ZnPt (Zinc Pirythione) yang bersifat sebagai fungistatik untuk mengobati infeksi kulit kepala. Viskositas dan sifat alir merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membuat formulasi sediaan shampo. Pada penelitian ini menggunakan 8 formula shampo, dengan variasi konsentrasi pengental Na CMC dan glicerin. Metode yang digunakan dalam uji stabilitas shampo adalah pengamatan viskositas, sifat alir, kadar ZnPt, dan Tinggi Busa shampo pada temperatur penyimpanan yang berbeda suhu 4oC, 28oC, dan 40oC. Hasil pengamatan menunjukkan pengental Na CMC memiliki viskositas yang stabil pada suhu 28⁰C dengan sifat alir pseudoplastis, berdasarkan statistik diperoleh hasil pada pengaruh formula viskositas bahwa antar formula yang sama tidak saling berpengaruh terhadap viskositas. Pada waktu penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap viskositas. Pada pengukuran kadar ZnPt hasil yang diperoleh pada Formula 6 dengan pengental gliserin dengan 1,2% yang memenuhi syarat sebagai shampo anti ketombe. Penetapan kadar menggunakan metode spektrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 335 nm. Pada tinggi busa dari data statistik diperoleh suhu dengan konsentrasi formula memberikan pengaruh yang sama. Ini menunjukkan bahwa meningkatnya tinggi busa disebabkan jumlah konsentrasi yang meningkat.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT BALITA RAWAT JALAN DI KLINIK KELUARGA SUKABUMI PERIODE JANUARI-JUNI 2015

No: 313 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)merupakan salah satu penyebab utama rawat jalan atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2003). Berdasarkan data DEPKES RI 2013 prevalensi ISPA di Indonesia adalah 25%. Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkan membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien ISPA dan Mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA balita rawat jalan di Klinik Keluarga Sukabumi periode Januari–Juni 2015 yang di sesuaikan dengan standar dari DEPKES RI. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif, populasi dalam penelitian ini sebanyak 104 pasien rawat jalan di Klinik Keluarga Sukabumi. Pengambilan sampel ini menggunakan metode purposive sampling, maka sampel yang diambil berjumlah 84 pasien. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel yang menggunakan obat antibiotik pada pasien balita diKlinik Keluarga Sukabumi periode Januari-Juni 2015. Hasil penelitian mengenai gambaran penggunaan antibiotik, golongan antibiotik yang digunakan yaitu amoxcillin 68%, cotrimoxazole 20% dan cefixime 12% bentuk sedian yang digunakan sirup 83%, tablet 5% dan drop 12%. Berdasarkan kesesuaian dengan standar dari DEPKES RI 2008, penggunaan antibiotik cefixime tidak sesuai dengan pedoman, penggunaan antibiotik berdasarkan bentuk sediaansudah sesuai, dosis antibiotik amoxicillin sudah sesuai, sedangkan dosis pada antibiotik cotrimoxazole terdapat 6 pasien yang tidak sesuai sehingga persentase yang sesuai mencapai 70%.

AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR PUTIH (Ipomoea batatas (L.) Lam) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) JANTAN

No: 310 Kolesterol adalah suatu jenis sterol (Zoosterol)yang banyak dijumpai pada jaringan hewan, kuning telur, dan air susu serta merupakan zat yang berguna untuk menjalankan fungsi tubuh. Kolesterol bila terdapat dalam jumlah terlalu banyak di dalam darah >200 mg/dL)dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan aterosklerosis. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai penurun kadar kolesterol, yaitu daun ubi jalar putih (Ipomoea batatas (L.) Lam).Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan aktivitas ekstrak etanol daun ubi jalar putih (Ipomoea batatas (L.) Lam)terhadap penurunan kadar kolesterol pada tikus putih (Rattus novergicus). Simplisia daun ubi jalar putih diekstraksi dengan etanol menggunakan metode maserasi. Ekstrak kental diidentifikasi senyawa kimianya dan diuji secara in vivo pada tikus putih yang telah diinduksi kuning telur puyuh.Ekstrak etanol daun ubi jalar putih mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin.Tikus sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok,kelompok I (kontrol negatif) pemberian akuades, kelompok II (kontrol positif) pemberian simvastatin dengan dosis 0,9mg/kgBB, kelompok III pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar putih dengan dosis 200 mg/kgBB, kelompok IV pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar putih dosis 400 mg/kgBB dan kelompok V pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar putih dosis 600 mg/kgBB. Persentase penurunan kolesterol total masing-masing perlakuan berturut-turut dari kelompok I hingga kelompok V,yaitu 4,40, 25,37, 8,74, 16,54 dan 18,16 %. Oleh sebab itu, ekstrak etanol daun ubi jalar putih dapat menurunkan kadar kolesterol darah.

FORMULASI SEDIAAN GEL ANTISEPTIK EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Escherichia coli

No: 309 Daun kemangi memiliki aktivitas antibakteri terhadap mikroba patogen pada manusia, karena memiliki kandungan kimia seperti minyak atsiri, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Tujuannya untuk menentukan daya hambat antibakteri dalam formulasi sediaan gel antiseptik ekstrak daun kemangi terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini meliputi pengamatan organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat, pH dan uji aktivitas antibakteri. Hydroxy Propil Methyl Cellulosa (HPMC) merupakan suatu selulosa dengan penambahan air akan mengembang menjadi lebih kental dapat dijadikan sebagai gelling agent. HPMC dikembangkan dalam aquades panas, kalium sorbat dilarutkan kemudian dimasukkan ke dalam basis gel. Propilen glikol dimasukkan sedikit demi sedikit. Ekstrak daun kemangi, Dinatrium EDTA, parfum dilarutkan kedalam PEG-40 hydrognetedcastrol oil, aduk hingga membentuk gel. Pemeriksaan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram yang dapat dilihat daya hambat melalui daerah bening yang tidak ditumbuhi bakteri disekitar cakram. Ekstrak etanol 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% memberikan efek antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli sehingga diformulasikan dalam bentuk gel dengan konsentrasi tersebut. Data yang diperoleh diameter zona bening F I, F II, F III, F IV yaitu 6,96 mm, 8,27 mm, 8,06 mm, 8,82 mm. F IV memberikan efek antibakteri yang paling baik, sehingga gel ekstrak daun kemangi berpotensi sebagai antiseptik. F I (0,5%) dan F II (1%) mengalami penurunan yang kecil pada uji daya lekat, pH dan daya sebar mengalami kenaikan pada F III (1,5%) dan F IV (2%).

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPATUHAN PASIEN RAWAT JALAN PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS CIBUNGBULANG KABUPATEN BOGOR

No: 303 Hipertensi merupakan penyakit yang memerlukan terapi jangka panjang, sehingga diperlukan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan untuk mengontrol tekanan darah sehingga menurunkan resiko komplikasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil kesehatan Puskesmas Cibungbulang tahun 2015, penderita hipertensi menempati urutan yang pertama, yaitu sebanyak 7841 orang dari 32460 pasien. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelayanan informasi obat (PIO) terhadap kepatuhan pasien penderita hipertensi. Responden yang diteliti adalah pasien penderita hipertensi tanpa komplikasi pada golongan usia 26 tahun – 55 tahun. Pada penelitian ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok yang diberi PIO dan tanpa PIO. Dengan menggunakan metode survey data diperoleh dari catatan medis atau resep dan kuesioner MMAS-8. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan esklusi pada bulan September dan Oktober 2016 dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Pearson Correlation. Dari 88 responden dibagi menjadi 44 orang yang diberi PIO dan 44 orang tanpa PIO. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan tanpa PIO sebesar 43,2% patuh dan 56,8% tidak patuh. Kepatuhan responden yang diberi PIO sebesar 72,3% patuh dan 22,7% yang tidak patuh. Berdasarkan analisis Chi-Square nilai Asymp.sig = 0,001< α = 0,005 sehingga PIO berpengaruh terhadap kepatuhan. Demikan pula menurut hasil uji korelasi dengan nilai 0,348 yang berarti terdapat hubungan antara pemberian PIO dengan kepatuhan pasien . Pemberian PIO berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pasien penderita Hipertensi di Puskesmas Cibungbulang Kabupaten Bogor.