Sebanyak 10 item atau buku ditemukan

Uji aktivitas ekstrak daun pohpohan (pilea melastomoides (poir.) Wedd) dalam sediaan obat kumur untuk enghambat dan membersihkan biofilm Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis

No. 470 Biofilm Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis dapat menyebabkan infeksi plak dan karies pada gigi. Daun pohpohan memiliki metabolit sekunder yang berpotensi menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun pohpohan dan formulasi obat kumur untuk menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Ekstrak daun pohpohan dengan metode maserasi dengan etanol 70%. Proses penghambatan dan pembersihan biofilm S. mutans dan P. gingivalis dilakukan dengan menggunakan metode Microtitter Plate Biofilm Assay. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun pohpohan dan formulasi obat kumur memiliki aktivitas menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Pada penghambatan konsentrasi ekstrak 3% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturutturut 41,107% dan 22,067%. Pada penghambatan sediaan obat kumur dengan konsentrasi ekstrak 3% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturut-turut 70,614%, dan 19,596%. Hasil pembersihan ekstrak dengan konsentrasi 1% terhadap P. gingivalis dan S.mutans memiliki hasil terbaik berturutturut 69,99% dan 69,30%. Sedangkan hasil pembersihan sediaan dengan konsentrasi ekstrak 1% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturut-turut 59,23% dan 56,34% dengan waktu kontak masing-masing 1 menit.

Formulasi krim antijerawat ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri Propionibacterium acnes

No. 450 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm sehingga menimbulkan jerawat. Terbentuknya biofilm menyebabkan bakteri semakin sulit diberantas. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) berpotensi sebagai antibakteri P. acnes namun belum banyak data mengenai kegunaannya sebagai antibiofilm. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menguji ekstrak dan sediaan krim ekstrak etanol daun jambu biji untuk menghambat dan membersihkan biofilm P. acnes secara in vitro. Ekstrak etanol daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Uji antibiofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 69,439%, untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1 % sebesar 80,436% dengan waktu kontak 5 menit. Dan pada sediaan krim dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 58,328% dan untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1% sebesar 91,782% dengan waktu kontak 5 menit.

OPTIMASI PROSES PEMBERSIHAN EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) DALAM SEDIAAN SHAMPO SEBAGAI PEMBERSIH BIOFILM Staphylococcus aureus

No: 346 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. S. aureus merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm. Daun Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman yang berpotensi dan dapat dimanfaatkan sebagai pembersih biofilm. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji aktivitas antibiofilm ekstrak etanol daun singkong, serta mengetahui senyawa aktif yang terkandung didalamnya, dan memperoleh kondisi yang optimum, sehingga dapat diformulasikan dalam sediaan dalam bentuk shampo untuk membersihkan biofilm S. aureus. Ekstrak etanol daun singkong diperoleh dengan metode maserasi. Optimasi proses pembersihan biofilm S. aureus menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay dan menggunakan metode Response Surface analysis. Kondisi pembersihan optimum yaitu 94% oleh shampo ekstrak etanol daun singkong berada pada konsentrasi 2% waktu kontak 10 menit dan suhu pembersihan 30℃. Penelitiaan ini memberikan informasi yang berguna tentang shampo yang mengandung ekstrak etanol daun singkong yang dapat digunakan dalam pembersih biofilm S. aureus.

OPTIMASI PROSES PEMBERSIHAN BIOFILM Bacillus cereus OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot esculenta Cranzt) DALAM SEDIAAN GEL HAND SANITIZER

No: 314 Bacillus cereus merupakan mikroorganisme yang berperan dalam pembentukan biofilm. Daun Singkong ( Manihot esculenta Cranzt ) telah lama dikenal dan digunakan sebagai obat tradisional. Hal terebut disebabkan adanya bahan aktif yang bersifat antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum aktivitas ekstrak etanol daun singkong dan gel hand sanitizer yang mengadung esktrak etanol daun singkong dalam mengdegradasi biofilm Bacillus cereus. Ekstrak etanol daun singkung diperoleh dengan metode maserasi. Rancangan penelitian dan analisis data menggunakan metode Response Surface. Hasil uji fitokimia ekstrak etanol daun singkong mengandung flavonoid, tanin dan saponin. Kondisi pembersihan biofilm Bacillus cereus yang optimium dicapai dengan mengaplikasikan gel hand santizer yang mengandung ektrak etanol daun singkong pada konsentrasi ekstrak 2 %, waktu kontak 10 menit dan suhu pembersihan 37ºC.

O[PTIMASI AKTIVITAS PEMBERSIHAN BIOFILM Pseumonas aeruginosa OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM FORMULASI SABUN CAIR

No: 290 Infeksi pneumonia nosokomial, mata, kulit, telinga, saluran urin disebabkan oleh bakteri P. aeruginosa. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibiofilm karena adanya kandungan senyawa aktif misalnya alkaloid, flavonoid, saponin dan juga tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm P. aeruginosa, mengetahui kondisi optimum proses pembersihan biofilm oleh ekstrak etanol daun pepaya yang akan dijadikan sabun cair dan menguji sabun cair ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm P. aeruginosa. Sabun cair dibuat dengan menggunakan basis sabun sodium lauril sulfat, natrium klorida, asam sitrat, propilenglikol dan air. Ekstraksi daun pepaya dengan metode maserasi selama 3 hari menggunakan pelarut etanol 70% dengan pergantian pelarut dilakukan setiap 24 jam.Evaluasi sabun cair ekstrak etanol daun pepaya meliputi organoleptis dan uji pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sabun cair ekstrak etanol daun pepaya 1, 2 dan 3% memiliki aktivitas pembersih terhadap P. aeruginosa. Daya uji aktivitas ekstrak etanol daun pepaya lebih rendah dibandingkan dengan sabun cair ekstrak etanol dengan konsentrasi 3% sebesar 91,273% pada waktu kontak 15 menit dan pada suhu 440C.

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM SABUN TRANSPARAN TERHADAP PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus aureus

No: 273 Biofilm merupakan bentuk struktural dari sekumpulan mikrooganisme yang dilindungi oleh matrik ekstraseluler yang disebut Extracellular Polymeric Substance (EPS). EPS merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh mikrooganisme tersebut dan dapat melindungi dari pengaruh buruk lingkungan. Bakteri Staphylococcus aureus adalah patogen yang dapat membentuk biofilm. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mengandung saponin dan berpotensi untuk membersihkan biofilm karena mempunyai kemampuan sebagai surfaktan atau bahan pembersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak daun pepaya, kemudian dilakukan pengujian pembersihan biofilm S. aureus dengan menggunakan ekstrak etanol daun pepaya untuk mengetahui kondisi optimum pembersihan biofilm S. aureus. Selain itu, menguji aktivitas sabun transparan yang mengandung ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm S.aureus pada kondisi optimum. Optimasi proses pembersihan biofilm S. aureus menggunakan Microtiter Plate Biofilm Assay, berdasarkan Respon Surface Design dan analisis data menggunakan metode Response Surface Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembersihan optimum pembersihan sabun transparan ekstrak etanol daun pepaya berada pada konsentrasi 1,6%, waktu kontak 5 menit dan suhu pembersihan 300C. Untuk membersihkan biofilm, dibutuhkan senyawa atau bahan yang memiliki aktivitas antibiofilm.

UJI DAYA BERSIH ESKTRAK AIR DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L) PADA PERMUKAAN MELAMIN DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 202 Peningkatan penggunaan deterjen di industri farmasi membua5 semakin banyak limbah surfaktan yang di hasilkan dari air pencucian oleh deterjen. Daun mengkudu (Morinda citrifolia L) meruoakan taaman yang memiliki zat aktif alkaloid, flavanoid, dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan antumikroba. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensu daya bersih ekstrak air daun mengkudu sebagai pembersih alami yang lebih ramah lingkungan dalam membersihkan pengotor organik pada permukaan melamin. Metode pembersihan yang di gunakan adalah Clean In Place (CIP) dengan bahan pembersih berupa larutan deterjen dengab konsentrasi 2%, aquades dan ekstrak air daun mengkudu yang telah diekstraksi secara seduhan dengan konsentrasi sebesar 10%, 15%, 20%. Parameter daya bersih berupa peluruhan mikroba dalam air pencucian permukaan melamin pada panjang gelombang 490 nm menggunakan microolate reader. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% mempunyai aktivitas pembersihan terhadap permukaan melamin, dengan nilai presentase berturut-turut sebesar 19.3%, 35.85%, dan 115.4% dibandingkan dengan deterjen dan aquades yaitu berturut-turut sebesar -5.75% dan -8.35%. Aktivitas pembersihan tertinggi dari kelima perlakuan ini adalah ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 29% yang berbeda nyata (p<0.05) dengan perlakuan lain.

POTENSI EKSTRAK AIR DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI PEMBERSIH PADA PERMUKAAN PLASTIK DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 200 Penggunaan deterjen yangberlebihan di industri farmasi membuat perubahan kondisi lingkungan perairan. Terminalia catappa L yang di kenal dengan nama tanaman ketapang telah di laporkan mengandung metabolit sekunder berupa saponin, tanin, alkaloid, flavonoid, resin dan triterpenoid. Diantara senyawa tersebut yaitu saponin telah dilaporkan dapat berfungsi sebagai pembersih. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menguji ekstrak air daun ketapangsebagai pembersih preparat plastik dari pengotor organik dengan metode clean in place (CIP) menggunakan alat microplate reader dengan panjang gelombang 595 nm untuk kekeruhan dan 490 nm untuk kandungan mikroba, serta uji fitokimia dari ekstrak air daun ketapang tersebut. hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun ketapang dapat berfungsi sebagai pembersih preparat plastik dari pengotor organik. hasil pembersihan ekstrak air faun ketapang 20% lebih baikdari pada ekstrak air daun ketapang 15 dan 10%, berturut-turut sebesar 95,05 ; 58,45 dan 23,95%. Selain itu pembersihan ekstrak-ekstrak air daun ketapang tersebut lebih baik di bandingkan dengan deterjen 2% dan akuades. Kandungan metabolit sekunder dari ekstrak air daun ketapang adalah saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, steroi dan triterpenoid.

UJI DAYA BERSIH EKSTRAK AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) PADA PERMUKAAN KACA DENGAN METODE CIP (CLEAN IN PLACE)

No: 195 Penggunaan deterjen yang berlebihan di industri farmasi membuat perubahan kondisi lingkungan diperairan kurang baik. Daunbinahong (Anrederacordiolia (Ten) steenis) mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antibakteri, tanaman daun binahong memiliki zat aktif flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan mikroba. Adanya senyawa senyawa aktif dalam ekstrak air daun binahong dapat dimanfaatkuntuk membuat produk seperti sabun ataudeterjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun binahong sebagai pembersih alami terhadap pengotor organiK dan mikroba. Pengujian ini dilakukan secara pembersihan permukaan dengan metode Clean in place (CIP). Potensi ekstrak air daun binahong berdasarkan peluruhan pengotor organik dan mikroba dipermukaan kaca. Persentase peluruhan pengotor organik oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 25%, 35% dan 42,05%. Persentase peluruhan mikroba oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 37,1%, 58,1% dan 69,25%. Berdasarkan uji statistik ANOVA aktivitas peluruhan pengotor organik pada permukaan kaca memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata antar perlakuan, sedangkan pada peluruhan mikroba dari permukaan kaca oleh ekstrak air daun binahong 15% dan 20% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan akuades, deterjen 2% dan ekstrak air 10%. Oleh karena itu, ekstrak air daun binahong 15% dan 20% paling efektif dalam peluruhan mikroba dipermukaan kaca pada uji pencucian dengan metode CIP.

UJI DAYA BERSIH EKSTRAK AIR DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PADA PERMUKAAN STAINLESS STEEL DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 190 Daun jarak pagar (Jatropha curcas L) mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antibakteri. Adanya senyawa-senyawa aktif dalam ekstrak daun jarak pagar dapat dimanfaatkan untuk membuat produk pembersih seperti sabun atau deterjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun jarak pagar sebagai pembersih alami terhadap pengotor organik dan mikroba. Pengujian ini dilakukan secara pembersihan permukaan dengan penerapan metode Clean In Place (CIP). Potensi daya bersih ekstrak air daun jarak pagar dikaji berdasarkan peluruhan pengotor organik dan mikroba di permukaan stainless steel. Persentase peluruhan bahan organik oleh ekstrak air daun jarak pagar dengan konsentrasi 10%, 15%, 20% berturut-turut sebesar 3,25%; 27,20%; dan 67,70%. Persentase peluruhan mikroba oleh ekstrak air daun jarak pagar dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20% berturut-turut sebesar 22,35%; 38,10%; dan 66,60%. Berdasarkan uji statistik ANOVA, aktivitas peluruhan pengotor organik dan mikroba dari permukaan stainless steel oleh ekstrak air daun jarak pagar 15% dan 20% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan akuades, deterjen 2% dan ekstrak air 10%. Oleh karena itu, ekstrak air daun jarak pagar 15% dan 20% paling efektif dalam peluruhan bahan organik dan mikroba di permukaan stainless steel pada uji pencucian dengan metode CIP.