Sebanyak 69 item atau buku ditemukan

Profil Penggunaan dan potensi interaksi obat anti nyeri pada pasien rawat jalan dengan gangguan lambung ( dispepsia) di KPPRJ Annisa Dua Kota Depok

No. 530 Dispepsia merupakan keluhan klinis yang sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Banyak penderita dispepsia yang juga mengalami keluhan nyeri seperti nyeri kepala, nyeri sendi, bahkan nyeri gigi. Maka penggunaan obat-obat lambung pada penderita dispepsia seringkali dibarengi dengan pengunaan obat antinyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan dan potensi interaksi obat anti nyeri pada pasien rawat jalan dengan gangguan lambung (dispepsia) di KPRJ ANNISA DUA Kota Depok. Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian terhadap 100 pasien. Proporsi tertinggi penderita dispepsia adalah kelompok umur 36-45 tahun (29,0%), jenis kelamin perempuan (67,0%), tingkat pendidikan SMA (66,0%), pekerjaan ibu rumah tangga (54,0%), klasifikasi interaksi potensial (75,0%) dan interaksi aktual (25%), tingkat keparahan interaksi minor pada ranitidin + natrium diklofenak (64.16%).

Gambaran Penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif pada pasien bedah sesar di RS salak Bogor

No. 528 Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah antibotik. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien, gambaran penggunaan antibiotik dan ketepatan penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif pada pasien bedah sesar di Rumah Sakit Salak Bogor. Penelitian dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien bedah sesar periode Juli-Desember 2018. Profil pasien bedah sesar di Rumah Sakit salak periode Juli-Desember 2018 berdasarkan karakteristik umur, data terbanyak kategori remaja akhir (17-25 tahun) dan dewasa awal (26-35 tahun) masing-masing 40%. Indikasi medis terbanyak ketuban pecah dini (KPD) 17,5% dan lamanya perawatan terbanyak 3-4 hari sebesar 91,25%. Penggunaan antibiotik terbanyak adalah seftriakson (93,75%). Hasil evaluasi secara kualitatif dengan metode Gyssens, jumlah peresepan yang masuk kategori 0 (penggunaan antibiotik tepat) sebesar 0%. Hasil evaluasi secara kuantitatif diperoleh data kuantitas antibiotik terbesar adalah seftriakson dengan total 53,07 DDD/100 patient days.

Pengaruh Edukasi Dengan Leaflet Terhadap tingkat pengetahuan dan Kepatuhan pasien TB Paru di puskesmas Cipaku

No. 526 Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Berdasarkan laporan WHO dalam Global Tuberculosis Report 2014, Indonesia menempati urutan kelima terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TB setelah negara India, Cina, Nigeria, dan Pakistasn. Tingkat resiko terkena penyakit TB di Indonesia berkisar antara 1,7% hingga 4,4%. Secara nasional, TB dapat membunuh sekitar 67.000 orang setiap tahun, setiap hari 183 orang meninggal akibat penyakit TB di Indonesia (Kemenkes RI, 2014). Dari beberapa faktor penyebab kegagalan dalam terapi pengobatan faktor yang paling menunjang dalam keberhasilan pengobatan TB yakni kepatuhan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh edukasi dengan leaflet terhadap tingkat pengetahuan dan kepatuhan mengkonsumsi obat TB Paru di Puskesmas Cipaku. Penelitian ini bersifat prospektif, instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan data dari rekam medik dan data isian kuisioner yang telah di checklist oleh pasien TB Paru . Analisis data yang digunakan adalah uji T-Test untuk tingkat pengetahuan dan uji Wilcoxon untuk tingkat kepatuhan. Hasil dari pengaruh edukasi terhadap tingkat pengetahuan dibuktikan dengan uji T-test dimana hasil Sig(2-tailed) 0,000 ini berarti lebih kecil dari 0,05. Sedangkan pengaruh edukasi terhadap tingkat kepatuhan dibuktikan dengan uji Wilcoxon dimana hasil Asymp.Sig(2-tailed) 0,000 ini berarti lebih kecil dari 0,05. Dari kedua uji terlihat kenaikan nilai pada hasil uji sebelum dan sesudah diberi edukasi.

Efektivitas edukasi konsumsi tablet tambah darah terhadap pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin pada remaja putri

No. 524 Indikator pembinaan perbaikan gizi masyarakat salah satunya adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, dimana pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, menetapkan tercapainya target pemberian TTD bagi remaja putri sebesar 30% sampai dengan tahun 2019. Konsumsi TTD secara rutin akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri agar dapat menentukan status anemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti gambaran pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin serta meneliti efektivitas konsumsi TTD. Metode penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu populasi sebanyak 80 siswi dan sampel sebanyak 67 siswi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data diolah dengan menggunakan SPSS versi 20. Analisis data yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Dalam penelitian ini menggunakan data pengetahuan anemia, pengetahuan TTD dan pengetahuan gizi menggunakan uji Mann Whitney dikarenakan data berdistribusi tidak normal sedangkan untuk data kadar hemoglobin menggunakan uji T-test dikarenakan data berdistribusi normal. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan anemia (p-value=0,000), pengetahuan TTD (p-value=0,000) dan pengetahuan gizi (p-value=0,000). Kesimpulannya edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan, kepatuhan, dan kadar hemoglobin pada remaja putri.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat INAP di RSKD duren sawit menggunakan metode ATC/ DDD dan DU 90% Periode Januari-Desember 2017

No. 522 Resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah, diantaranya pengobatan menjadi lebih mahal, efek samping, resistensi, timbulnya kejadian superinfeksi yang sulit diobati, ketidakpatuhan pada regimen terapi dan swamedikasi antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi. Upaya untuk mengendalikan resistensi antibiotik dengan menggunakan antibiotik dengan bijak serta melakukan evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit dan data penelitian diperoleh dari laporan pemakaian obat pasien rawat inap di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit selama periode Januari- Desember 2017. Penelitian menggunakan metode ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) yang dikombinasi dengan suatu pengukuran DDD (Defined Daily Dose) atau yang dikenal dengan metode ATC/DDD. Perhitungan DDD diperoleh dari obat yang mempunyai kode ATC pada standar WHO yang telah ditetapkan. Hasil penelitian diperoleh 24 data yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan total penggunaan antibiotik.. DDD/ 100 hari rawat dan antibiotik yamg termasuk dalam segmen DU 90% yaitu seftriaxon (5,99 DD/100 hari rawat), levofloksasin (5,39 DDD/100 hari rawat), sefixim (2,28 DDD/100 hari rawat), sefotaksim (1,74 DDD/100 hari rawat), sefadroksil (1,51 DDD/100 hari rawat), ampisillin 1 gram + sulbaktam 0,5 gram (0,99 DDD/100 hari rawat), streptomisin (0,97 DDD/100 hari rawat), amoksiklav (0,87 DDD/100 hari rawat), asam pipidemik dan siprofloksasin (0,47 DDD/100 hari rawat).

Aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro (cerbera odollam gaertn) terhadap Propionibacterium acnes

No. 515 Ekstrak daun bintaro diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak daun bintaro dibuat dengan berbagai konsentrasi, selanjutnya di uji mutu fisik serta aktivitas antibakteri. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak daun bintaro yaitu berupa alkaloid, saponin dan tanin. Pada penelitian ini ekstrak kental daun bintaro diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel yang dibuat dengan konsentrasi 5, 10 dan 15%, kemudian dilakukan uji mutu fisik yang meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, homogenitas dan viskositas. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro, memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 6,53 mm (konsentrasi 5%), 7,72 mm (konsentrasi 10%), 8,52 mm (konsentrasi 15%). Pada penelitian ini dapat diketahui semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula diameter zona hambat dan aktivitas terbesar terdapat pada sediaan dengan konsentrasi 15%.

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan lotion ekstrak umbi lobak (Raphatus sativus L.) sebagai tabir surya

No. 510 Penggunaan kosmetika tabir surya menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam upaya melindungi dari radiasi matahari. Kosmetika berbahan tanaman lebih sering diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan senyawa kimia. Umbi lobak (Raphatus Sativus L) salah satu tanaman yang kandungan kimianya dapat dijadikan sebagai tabir surya. Kandungan tersebut adalah flavonoid yang mampu mencegah efek berbahaya dari sinar UV atau paling tidak dapat mengurangi kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lotion tabir surya dari ekstrak umbi lobak yang memiliki mutu fisik dan SPF yang stabil. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 96%, dan air. Masingmasing pelarut dibuat menjadi ekstrak kental, dan di uji SPF dengan spektrofotometri selanjutnya hasil SPF terbesar dari ekstrak dibuat sediaan lotion tabir surya dengan konsentrasi 5%, 15% dan 25%. Lotion yang telah dibuat, kemudian dilakukan uji kontrol kualitas meliputi uji organoleptik, uji pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, dan penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF). Berdasarkan pada hasil penelitian ekstrak umbi lobak dengan pelarut n-heksana diperoleh nilai SPF 5,51, ekstrak pelarut etil asetat diperoleh nilai SPF 13,40, ekstrak pelarut etanol 96% diperoleh nilai SPF sebesar 5,40, dan ekstrak pelarut air diperoleh nilai SPF sebesar 21,63. Semua sediaan lotion tabir surya yang dibuat yang memenuhi persyaratan pengujian dan memiliki kestabilan secara fisik. Nilai SPF pada lotion 5% yaitu 4,07, lotion 15% yaitu 6,96 dan lotion 25% yaitu 7,23. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi 25% memenuhi persyaratan mutu fisik lotion dan memiliki nilai SPF tertinggi sebesar 7,23 dengan proteksi ultra. Pada uji stabilitas lotion yang mempunyai stabilitas yang baik adalah lotion yang penyimpanan pada suhu kamar (28±2oC).

Aktivitas antibakteri dari ekstrak batang biduri (calotropis gigantea[Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 506 Tumbuhan biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan tumbuhan liar. Bagian seperti daun, kulit akar, getah dan bunganya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Akan tetapi, untuk batang kurang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Padahal dalam segi memperoleh bahan baku, batang lebih mudah didapat dari pada kulit akar. Selain itu, bila mengambil kulit akar harus mencabut tumbuhan biduri terlebih dahulu yang artinya tumbuhan biduri akan mati. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak heksana, etil asetat, dan etanol 96% pada batang biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan pengukuran diameter zona hambat. Ekstrak batang biduri diperoleh dengan metode maserasi. Senyawa aktif ekstrak diidentifikasi melalui uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak pada konsentrasi 25 mg/mL, 50 mg/mL, 75 mg/mL, dan 100 mg/mL dilakukan dengan metode difusi cakram. Ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol 96% batang biduri mempunyai aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol 96% batang biduri 100 mg/mL mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi (katagori antibakteri kuat) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai diameter zona hambat masing – masing 17,70 mm dan 12,40 mm. Senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak etanol 96% batang biduri adalah flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan triterpenoid.

Uji Aktivitas pertumbuhan rambut dari sediaan hair tonic ekstrak etanol 96% daun leunca ( Solanum Nigrum L) terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley

No. 505 Daun leunca (Solanum nigrum L) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid dan saponin serta banyak juga mengandung protein, asam amino, mineral, vitamin A dan C. Senyawa-senyawa tersebut memiliki peran penting dalam aktivitas partumbuhan rambut pada tikus putih jantan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas pertumbuhan pada tikus putih jantan galur Sprague dawley yang diberi sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak etanol 96% daun leunca (Solanum nigrum L.). Sediaan hair tonic dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu 10%,15% dan 20% untuk menguji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengukur panjang rambut, bobot rambut dan kelebatan rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan hair tonic pada konsentrasi 20% memiliki aktivitas pertumbuhan panjang, bobot dan kelebatan rambut yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol positif (minoxidil 2%).

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan heksana bawang hitam terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa

No. 502 Penyakit infeksimerupakan penyakit pada manusia yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan parasit.Bawang hitam merupakan produk fermentasi dari bawang putih yang dipanaskan pada suhu 70ºC selama 40 hari. Zat aktif allicin yang terkandung dalam bawang hitam memiliki efek bakteriostatik dan bakterisidal yang berkhasiat terhadap pengobatan penyakit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimentalyang bertujuan untuk menentukan potensi antibakteri dari ekstrak etanol 70% dan heksana bawang hitam terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan 3 konsentrasi ekstrak 10%, 20%, 30%, kontrol positif amoksisilin 0,1% b/v, dan kontrol negatif akuades.Hasil penelitiandianalisis statistik dengan uji Anovayang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan perbedaan nyata antara perlakuan dan kontrol. Bawang hitam pada ekstrak etanol 70% memiliki kandungan kimia alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin dan ekstrak heksana bawang hitam mengandung senyawa tanin dan saponin. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% bawang hitam lebih tinggi dibandingkan ekstrak heksana bawang hitam namun masih lebih rendah dari kontrol positif (amoksisilin 0,1%).Ekstrak etanol 70% dan ekstrak heksana bawang hitam memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori sedang terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.