Sebanyak 57 item atau buku ditemukan

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan lotion ekstrak umbi lobak (Raphatus sativus L.) sebagai tabir surya

No. 510 Penggunaan kosmetika tabir surya menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam upaya melindungi dari radiasi matahari. Kosmetika berbahan tanaman lebih sering diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan senyawa kimia. Umbi lobak (Raphatus Sativus L) salah satu tanaman yang kandungan kimianya dapat dijadikan sebagai tabir surya. Kandungan tersebut adalah flavonoid yang mampu mencegah efek berbahaya dari sinar UV atau paling tidak dapat mengurangi kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lotion tabir surya dari ekstrak umbi lobak yang memiliki mutu fisik dan SPF yang stabil. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 96%, dan air. Masingmasing pelarut dibuat menjadi ekstrak kental, dan di uji SPF dengan spektrofotometri selanjutnya hasil SPF terbesar dari ekstrak dibuat sediaan lotion tabir surya dengan konsentrasi 5%, 15% dan 25%. Lotion yang telah dibuat, kemudian dilakukan uji kontrol kualitas meliputi uji organoleptik, uji pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, dan penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF). Berdasarkan pada hasil penelitian ekstrak umbi lobak dengan pelarut n-heksana diperoleh nilai SPF 5,51, ekstrak pelarut etil asetat diperoleh nilai SPF 13,40, ekstrak pelarut etanol 96% diperoleh nilai SPF sebesar 5,40, dan ekstrak pelarut air diperoleh nilai SPF sebesar 21,63. Semua sediaan lotion tabir surya yang dibuat yang memenuhi persyaratan pengujian dan memiliki kestabilan secara fisik. Nilai SPF pada lotion 5% yaitu 4,07, lotion 15% yaitu 6,96 dan lotion 25% yaitu 7,23. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi 25% memenuhi persyaratan mutu fisik lotion dan memiliki nilai SPF tertinggi sebesar 7,23 dengan proteksi ultra. Pada uji stabilitas lotion yang mempunyai stabilitas yang baik adalah lotion yang penyimpanan pada suhu kamar (28±2oC).

Aktivitas antibakteri dari ekstrak batang biduri (calotropis gigantea[Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 506 Tumbuhan biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan tumbuhan liar. Bagian seperti daun, kulit akar, getah dan bunganya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Akan tetapi, untuk batang kurang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Padahal dalam segi memperoleh bahan baku, batang lebih mudah didapat dari pada kulit akar. Selain itu, bila mengambil kulit akar harus mencabut tumbuhan biduri terlebih dahulu yang artinya tumbuhan biduri akan mati. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak heksana, etil asetat, dan etanol 96% pada batang biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan pengukuran diameter zona hambat. Ekstrak batang biduri diperoleh dengan metode maserasi. Senyawa aktif ekstrak diidentifikasi melalui uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak pada konsentrasi 25 mg/mL, 50 mg/mL, 75 mg/mL, dan 100 mg/mL dilakukan dengan metode difusi cakram. Ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol 96% batang biduri mempunyai aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol 96% batang biduri 100 mg/mL mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi (katagori antibakteri kuat) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai diameter zona hambat masing – masing 17,70 mm dan 12,40 mm. Senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak etanol 96% batang biduri adalah flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan triterpenoid.

Uji Aktivitas pertumbuhan rambut dari sediaan hair tonic ekstrak etanol 96% daun leunca ( Solanum Nigrum L) terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley

No. 505 Daun leunca (Solanum nigrum L) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid dan saponin serta banyak juga mengandung protein, asam amino, mineral, vitamin A dan C. Senyawa-senyawa tersebut memiliki peran penting dalam aktivitas partumbuhan rambut pada tikus putih jantan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas pertumbuhan pada tikus putih jantan galur Sprague dawley yang diberi sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak etanol 96% daun leunca (Solanum nigrum L.). Sediaan hair tonic dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu 10%,15% dan 20% untuk menguji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengukur panjang rambut, bobot rambut dan kelebatan rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan hair tonic pada konsentrasi 20% memiliki aktivitas pertumbuhan panjang, bobot dan kelebatan rambut yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol positif (minoxidil 2%).

Aktivitas antibakteri ekstrak eraksi n-heksana dan etanol 70% daun handeleum (Graptophyllum pictum) terhadap Staphylococcus aureus

No. 451 Daun handeleum (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Ekstrak daun handeleum (Graptophyllum pictum) memiliki kandungan senyawa kimia berupa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Keberadaan senyawa-senyawa tersebut khususnya senyawa tanin dan flavonoid telah diketahui memiliki potensi sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksana dan etanol 70% ekstrak daun handeleum terhadap Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi 12,5, 25, 50, 100 dan 200 mg/mL dan menggunakan metode dilusi dengan konsentrasi 100, 50, 25, 12,5 6,25, 3,125, 1,56, 0,78, 0,39 dan 0,195 mg/mL. Berdasarkan analisis Kruskal Wallis dengan uji lanjut Nemenyi menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada ekstrak fraksi n-heksana dan fraksi etanol 70% dengan taraf α 0,01 dan tingkat kepercayaan 99%. Hasil uji aktivitas antibakteri yang terbaik yaitu pada konsentrasi 200 mg/mL. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak daun handeleum terhadap Staphylococcus aureus sebesar 1,56 mg/mL dan nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) terhadap Staphylococcus aureus sebesar 3,125 mg/mL.

formulasi dan uji sediaan pelembab ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) dalam basis vanishing cream yang dikombinasi dengan gliserin dan propilen glikol

No. 415 Daun jambu biji putih (Psidium guajava L) mengandung senyawa aktif tanin, minyak atsiri, minyak lemak, damar, zat penyamak, triterpenoid, asam malat dan asam apfel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sediaan krim pelembab daun jambu biji dengan humektan gliserin dan propilen glikol dalam basis vanishing cream yang berbeda dengan konsentrasi 3, 5, dan 10%. Sediaan akan diuji terhadap mutu fisik, keamanan, daya sebar, viskositas dan stabilitas sediaan krim pelembab ekstrak Psidium guajava L dalam basis vanishing cream untuk mengetahui hasil terbaik yang dapat meningkatkan hidrasi pada kulit dalam sediaan krim pelembab Psidium guajava L berbasis vanishing cream. Hasil uji yang didapat pada uji mutu fisik dilihat dari warna coklat, bentuk sediaan setengah padat, dan bau krim khas oleum rosae, uji homogenitas krim dengan konsentrasi 3, 5, dan 10% tidak mengalami penggumpalan atau pemisahan fase, uji daya sebar krim berkisar dari 2,6 – 4,1 cm, uji pH krim berkisar 6 – 7, tidak terjadi perubahan pada uji stabilitas, uji viskositas berkisar 8.000 – 11.600 Cp, uji keamanan kosmetik yang dilakukan terhadap 15 panelis selama 3 x 24 jam dengan konsentrasi cream terbaik yaitu 10 % , terdapat tiga panelis mengalami alergi dan sisanya normal. Krim ekstrak daun jambu biji putih dengan tipe M/A memenuhi uji kualitas krim yaitu uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, stabilitas, viskositas, uji keamanan kosmetik dan penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin Ceocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan krim pelembab ditentukan dengan menggunakan alat spektofotometer, kadar fenol yang terdapat pada ekstrak daun jambu biji sebesar 49,71 mg GAE/gram, dan kadar fenol yang terdapat pada sediaan krim pelembab 10 % sebesar 30,55 mg GAE/gram.

Evaluasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS terhadap pasien hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 di klinik medistira 2

No.412 Hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang tidak menyebabkan kematian secara langsung. Tetapi apabila pengelolaannya tidak tepat maka akan menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian dan menurunnya kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, pemerintah mengadakan kegiatan melalui BPJS Kesehatan yaitu PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan pasien, fasilitas kesehatan dan BPJS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien PROLANIS, mengetahui gambaran tekanan darah dan kadar gula darah pasien PROLANIS serta mengetahui perbedaan tekanan darah dan kadar gula darah pasien PROLANIS. Penelitian ini menggunakan metode observasi yang dilakukan secara prospektif dan longitudinal. Sampel yang digunakan sebanyak 120 orang yang menjadi 4 kelompok. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada pasien hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 dari uji regresi diperoleh nilai p < 0,05 yaitu 0,000. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan PROLANIS berpengaruh terhadap tekanan darah dan kadar gula darah.

UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL 96%, FRAKSI AIR, ETIL ASETAT DAN n-HEKSAN DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape Merr.) TERHADAP Trichopyton rubrum

No: 398 Trichophyton rubrum merupakan jamur penyebab penyakit kulit seperti Tinea cruris, Tinea pedis, Tinea corporis, dan Tinea unguium. Daun kecapi dapat digunakan sebagai bahan alami untuk pengobatan secara tradisional untuk penyakit kulit. Pada penelitian ini, ekstrak daun kecapi diekstraksi dengan etanol 96% lalu difraksinasi dengan pelarut air, etil asetat, dan n-heksan kemudian diuji aktivitasnya terhadap jamur Trychopyton rubrum dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 20%, 40%, dan 60%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun kecapi memiliki diameter hambat pada konsentrasi 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 9,85 mm, 10,37 mm dan 11,49 mm. Fraksi n-heksan pada konsentrasi 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 7,03 mm, 7,82 mm dan 8,03 mm. Fraksi etil asetat 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 7,01 mm, 7,53 mm dan 8,38 mm. Fraksi air 20%, 40% dan 60% adalah sebesar 8,57 mm, 9,79 mm dan 10,07 mm

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL, ETIL ASETAT DAN n-HEKSAN DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No: 381 Penggunaan antiseptik yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah kekebalan dari antimikrobial dan peningkatan resistansi. Oleh karena itu masyarakat mulai menggunakan obat tradisional untuk mengobati infeksi. Salah satu tanaman yang dapat mengobati infeksi yaitu daun kelor (Moringa oleifera Lam.). Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan senyawa pada ekstrak etanol, ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksan dari daun kelor (Moringa oleifera Lam.) serta mengetahui dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan daun kelor mengandung senyawa tanin, steroid, triterpenoid, flavonoid, saponin dan alkaloid. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa pada ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, dan ekstrak n-heksan dari daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dan mengetahui aktivitas ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, dan ekstrak nheksan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi bertingkat dengan pelarut nheksan, etil asetat, dan etanol 96%. Di uji fitokimia dan uji aktivitas dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram dengan mengamati diamater zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari ekstrak etanol 96% dan ekstrak etil asetat daun kelor terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dibandingkan dengan ekstrak n-heksan. Uji statistik menunjukkan pengaruh nyata pada ekstrak daun kelor dengan nilai sig < 0,05.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SINGAWALANG (Petiveria alliaceae) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN Galur Sprague Dawley

No: 341 Diuretikadalahobat yang dapatmenambahkecepatanpembentukanurin, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstraketanoldaunsingawalang (Petiveria alliaceae) dan mengetahui aktivitas diuretik pada tikus putih jantan. Ektraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil uji fitokimia menggunakan bahan ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid.Uji diuretik pada tikus dilakukan dengan memberikan ekstrak etanol daun singawalang dengan dosis tiap kelompok 300 mg, 500 mg, 700 mg dan 900 mg dan sebagai kontrol positif diberikan hidroklorotiazid uji dilakukan selama 14 kali dalam 28 hari serta kontrol negatif diberikan akuades 0,5 ml dengan pemberian secara peroral. Aktivitas diuretik ditentukan berdasarkan volume urine tikus yang ditampung selama 24 jam.Hasil uji aktivitas estrak etanol daun singawalang pada tikus menunjukkan aktivitas yang meningkat dengan peningkatan dengan dosis pemberian aktivitas tertinggi pada tikus kelompok keenam dengan dosis pemberian 900 mg tiap tikus, tetapi aktivitasnya lebih rendah dibandingkan kontrol positif. Hasil uji statistik yang didapat hasil R Square sebesar 96, 5 %dan R sebesar 93,1 %.