Sebanyak 5 item atau buku ditemukan

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BALITA DENGAN DIAGNOSA DIARE NONSPESIFIK DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR PERIODE FEBRUARI - MARET TAHUN 2014

No: 176 Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada anak. Menurut data World Health Organization (WHO) pada rtahun 2009, diare adalah penyebab kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun. Berdasarkan Standar Pengobatan Dasar di Puskesmas untuk penyakit diare nonspesifik adalah rehidrasi dan memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit, serta tidak dianjurkan adanya penggunaan antibiotic tetapi lebih dianjurkan pasien istirahat dan banyak minum (Depkes, 2007). Menurut pedoman instrument Aktreditasi Puskesmas yang disusun oleh Tim Akreditasi Puskesmas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2011, melakukan monitoring untuk penggunaan antibiotik, dimana puskesmas selalu membuat Pemantauan Wlayah Setempat (PWS) indicator peresepan yang berisi persentasi penggunaan antibiotic untuk kasus diare nonspesifik di Puskesmas <̲ 20%. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotic pada pasien balita dengan diagnosa diare nonspesifik di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis dan resep obat dengan diagnosis diare nonspesifik terjadi pada usia 1 – 3 tahun yaitu 58,14% dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki yaitu 55,81% serta penggunaan antibiotic untuk diare nonspesifik di Puskesmas bogor Timur sebesar 4,65%. Hasil evaluasi penggunaan antibiotic cukup bagus karena masuk dalam standar yang telah ditetapkan oleh badan Instrumen Akreditasi Puskesmas yaitu <̲ 20%. Hal ini dapat disebabkan karena adanya buku pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang dapat membuat penulisan resep sesuai dengan pedoman

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT-OBATAN FARINGITIS PADA PASIEN ANAK DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR

No: 154 Faringitis adalah inflamasi atau infeksi dari membrane mukosa faring ditandai dengan gejala nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Faringitis dapatdisebabkan oleh virus, bakteri , dan fungi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik dan kesesuaian obat yang digunakan meliputi jenis obat, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat yang digunakan pada pasien faringitis anak di Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor dibandingkan dengan buku pedoman pengobatan dasar Puskesmas. Penelitian ini dilakukan dengan metode potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel adalah faringitis anak pada bulan Januari-Maret 2013. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk gambaran yang disertai dengan tabel distribusi dan grafik. Dari hasil penelitian ini, data demografi pasien menunjukkan bahwa pasien faringitis anak di Puskesmas tanah Sareal terbanyak adalah usia 1-4 tahun yaitu 50,6%, jenis kelamin perempuan 50,6%, berat badan 10,1-15 kg 34% dengan tanda-tanda terbanyak panas, batuk, pilek 57,3%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan berdasarkan tanda dan gejala yaitu amoksisillin 12,8 %, kotrimoksazol 11,8 %, ambroksol 0,6%, gliseril guaikolat 1,3% dan efedrin 0,6%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan buku pedoman pengobatan yaitu sefadroksil 100%. Ketidaksesuaian dosis meliputi amoksisillin 21%, ambroksol 62,5%, gliseril guaikolat 73% dan CTM (Klorfeniramin Maleat) 93,75%. Ketidaksesuaian frekuensi obat 0%. Ketidaksesuaian lama penggunaan amoksisillin 31,4% dan kotrimoksazol 88%. Untuk ketidaksesuaian itu maka perlu adanya kebijakan dari Kepala Puskesmas dengan adanya SOP (Standar Operasional Prosedur) diagnose agar dapat meminimalkan penggunaan antibiotic pada pasien faringitis anak untuk mencegah terjadinya resistensi dan megetahui adanya infeksi, serta pengkajian terhadap standar peresepan obat-obatan faringitis megenai jenis, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINDAKAN PENGOBATAN ANGGOTA KELUARGA PASIEN BALITA DIARE NON SPESIFIK DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR

No: 153 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan moralitasnya yang masih tinggi. Survei pada kelompok bayi (usia 29 hari-11 bulan) penyakit diare sebesar 31,4 % sedangkan untuk balita sebesar 25,2 % (Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes, 2011). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian Pelayanan Informasi Obat (PIO) terhadap pengetahuan anggota keluarga dalam pemberian tindakan pengobatan diare non spesifik pada balita sebagai upaya menerapkan Pharmaceutical Care. Jumlah responden penelitian sebanyak 60 anggota keluarga balita yang mengalami diare non spesifik. Data dianalisis dengan koefisien korelasi Spearman (p). Pengaruh Pelayanan Informasi Obat terhadap tindakan penanganan diare non spesifik pada balita tidak berpengaruh (p = 0,589); (p = 0,460)

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BALITA DENGAN DIAGNOSA ISPA BUKAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR PERIODE FEBRUARI - MARET 2014

No: 152 Penyakit ISPA (Infeksi Pernafasan Saluran Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak-anak dan balita. Salah satu penyakit ISPA adalah ISPA bukan pneumonia. Berdasarkan rekomendasi WHO (World Health Organization) penanganan ISPA bukan pneumonia pada balita cukup dengan pengobatan supportif dan tidak perlu pemberian antibiotic. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengawasan terhadap penggunaan antibiotic di tiap Puskesmas, dimana penggunaan antibiotic di tiap puskesmas mempunyai indikator kesalahan dari peresepan antibiotic tersebut yaitu <̱ 20%. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotic pasien balita dengan penyakit ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis dan resep obat. Pengambilan data secara prospektif dan diperoleh 223 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISPA bukan pneumonia banyak terjadi pada umur > 1 tahun -<̱ 3 tahun yaitu 42,22 %, dengan jenis kelamin laki-laki terbanyak yaitu 54,26%, tanda dan gejala yang dialami oleh pasien yaitu batuk dan pilek dengan data sebesar 49,33%. Diagnosa dan jenis penyakit yang dialami pasien ISPA yaitu bukan pneumonia 81,33 %, faringitis 15,11% dan common cold 8,56%. Persentase penggunaan antibiotik yaitu 18,83% dengan penggunaan antibiotik terbanyak golongan penicillin yaitu amoksisillin sebesar 78,57% dengan bentuk sediaan cair yaitu 76,19%. Masih banyaknya penggunaan antibiotik pada ISPA bukan pneumonia terjadi dikarenakan pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas Bogor Timur belum terfokus untuk memonitoring tatalaksana pengobatan penyakit ISPA bukan pneumonia dan belum adanya pedoman tatalaksana pengobatan tentang ISPA bukan pneumonia.