Sebanyak 11 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIINFLAMASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus costaricensis) TERHADAP UDEM KAKI TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

556 Buah Naga Merah (Hylocereus costaricensis) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antiinflamasi, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi sel yang rusak akibat efek radikal bebas pada kulit. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan gel menggunakan ekstrak etanol kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ektrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus costaricensis) memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap udem pada kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan membuat ekstrak kulit buah naga merah dalam pelarut etanol 96%, dengan metode maserasi, dilakukan uji fitokimia. Ekstrak dibuat sediaan gel meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas. Dilakukan uji antiinflamasi pada kaki tikus yang telah di induksi karagenan 3%. Hasil penelitian menunjukan kadar total flavonoid pada ekstrak etanol 96% kulit buah naga merah sebesar 62,476 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan gel ektrak etanol kulit buah naga merah FI dan FII memiliki aktivitas antiinflamasi dibandingkan dengan kontrol negatif, aktivitas antiinflamasi berbeda nyata dengan kontrol positif aloe vera shooting gel. Berdasarkan hasil analisis statistik, sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang berbeda dengan kontrol positif dan kontrol negatif. sedangkan untuk sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang sama terhadap udem kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus).

Uji aktivitas ekstrak etanol daun kersen (Muntingia Calabura L.) sebagai masker jerawat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

No. 532 Daun kersen (Muntingia calabura L.) memiliki aktivitas antibakteri alami karena terdapat kandungan senyawa fenol, sehingga dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, yakni penyebab jerawat meradang. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas ekstrak etanol daun kersen dalam formula sediaan masker peel-off terhadap penghambatan Staphylococcus aureus. Metode dalam penelitian ini meliputi pengujian aktivitas antibakteri dan penetapan kadar total fenol yang dilakukan sebelum dan sesudah cycling test serta evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, uji waktu sediaan mengering, dan uji viskositas yang dilakukan sebelum cycling test, siklus ke-3 pada suhu dingin dan panas, dan sesudah cycling test. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 12,8-15,6 mm. Aktivitas antibakteri sediaan memberikan respon hambatan yang kuat. Kadar total fenol sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 47,475-108,485 mg GAE/g sediaan. Hasil dari evaluasi sediaan menunjukkan bahwa sediaan masker peel-off homogen, tidak berubah bentuk, warna, dan bau, dengan daya sebar 5,3-6,7 cm, pH 5-6, waktu mengering 15,21-19,42 menit, dan viskositas 4000-7250 cps. Semua evaluasi sediaan memenuhi persyaratan yang baik kecuali viskositas, walaupun viskositasnya cenderung lebih tinggi dari standar tetapi sediaan masih mudah diaplikasikan pada kulit dan di tuang ke dalam wadah.

Formulasi dan uji stabilitas sediaan masker Peel-off ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) sebagai antioksidan

No. 529 Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah fenol. Fenol merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antioksidan, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi efek radikal bebas pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan golongan senyawa kimia, kadar total fenol dan uji antioksidan dari ekstrak etanol 96% daun salam, dan dibuat formulasi sediaan masker peel-off dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII) serta di uji mutu fisik (organoleptis, viskositas, homogenitas, pH, waktu sediaan mengering, daya sebar), uji antioksidan dan stabilitas. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan masker peel-off menggunakan ekstrak etanol daun salam. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun salam mengandung flavonoid, saponin, tanin, polifenol, kadar total fenol pada ekstrak etanol 96% daun salam sebesar 1,487 mg GAE/g dan memiliki aktivitas antioksidan 86,921 ppm. Formulasi dan evaDiameteri terhadap sedian masker peel-off ekstrak etanol daun salam dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII). Masker peel-off FII memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi yaitu (92,395 ppm), dibandingkan FI (123,966 ppm). Stabilitas sediaan masker pada empat minggu yang dilakukan pada FII menunjukan hasil yang stabil secara fisik.

Formulasi daun uji stabilitas sediaan Lipcream menggunakan bahan pewarna alami dari kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.)

No. 508 Lipcream termasuk pewarna bibir seiring perkembangan jaman. Kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.) dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarana alami sediaan lipcream dan memiliki stabilitas yang baik. Ekstraksi dilakukan dengan dimaserasi air mendidih selama 15 menit kemudian dipekatkan dengan alat mikrowave. Sediaan lipcream dibuat dengan formula yang terdiri dari konsentrasi ekstrak kayu secang 0,2%, 0,4% dan 0,6%. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya oles, uji daya lekat, uji viskositas, uji daya sebar, uji kesukaan, uji cycling test dan uji mekanik (sentrifugasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami pada sediaan lipcream. Sediaan berupa lipcream mempunyai pH sekitaran 4-5, viskositas pada kisaran 16900- 17400 cps, pada uji kesukaan formula dengan 0,6% mempunyai nilai tertinggi, begitupun pada daya lekat, hasil uji cycling test formula dengan ekstrak 0,4% dan 0,6% stabil, pada uji mekanik semua sediaan tidak ada pemisahan fase menandakan sediaan stabil selama 1 tahun penyimpanan suhu kamar.

Formulasi sediaan Liptint yang mengandung antioksidan dan pewarna alami dari sari buah naga super merah (Hylocereus costaricensis)

No. 498 Sari Buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) mengandung zat warna Antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami, dan mengandung vitamin C yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Pada penelitian kali ini peneliti ingin mengembangkan zat warna dan kandungan yang dimilki buah naga super merah, untuk dijadikan sebagai pewarna alami pada sediaan pewarna bibir dalam bentuk cair, yang dikenal dengan liptint, sediaan liptint yang dihasilkan dilakukan uji antioksidan, uji evaluasi, uji stabilitas dan uji kesukaan, hasil yang didapat pada uji antioksidan yaitu Sari buah naga super merah, sediaan liptint formula 2 dengan kandungan sari sebesar 60% dan formula 3 dengan kandungan sari sebesar 70% berturut turut adalah 47,67% , 17,07% dan 27,68 % dengan nilai AEAC yang diperoleh berturut turut adalah 2,6075 mg, 0,965 mg, dan 1,576 mg vitamin C, hasil uji Antioksidan pada sediaan liptint formula 2 dan 3 mengalami penurunan sesudah dilakukan uji Stabilitas yaitu berturut-turut menjadi 16,75% dan 18,68% dengan nilai AEAC sebesar 0,947 mg dan 1,057 mg vitamin C, sediaan formula 3 merupakan sediaan yang paling banyak disukai oleh panelis, hasil analisis data menunjukan bahwa tidak ada perbedaan nyata Aktivitas Antioksidan antara sediaan formula 2 dan 3 sebelum dan sesudah uji stabilitas.

Formulasi sediaan granul instan ekstrak etanol daun sirsak (annona muricata L.) sebagai antioksidan

No. 477 Berdasarkan penelitian sebelumnya, tanaman sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu jenis tanaman buah yang mengandung senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh formulasi sediaan granul instan ekstrak daun sirsak(Annona muricata L.) yang berkhasiat sebagai antioksidan, memenuhi persyaratan dan stabil dalam penyimpanan. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% (1:5) selama 5x24 jam kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. Sediaan granul instan dibuat dengan memvariasikan konsentrasi ekstrak daun sirsak pada tiga formula yaitu 4,7%, 9,4% dan 14,1 %. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptik, uji sifat alir, uji sudut istirahat, uji distribusi ukuran partikel,uji kadar air dan uji hedonik. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil uji menunjukan nilai IC50 ekstrak etanol 70% daun sirsak sebesar 47,108 ppm (sangat aktif), vitamin C sebesar 4,300 ppm (sangat aktif), formula 1 sebesar 25,526 ppm (sangat aktif), formula 2 sebesar 18,5 ppm (sangat aktif) dan formula 3 sebesar 7,085 ppm (sangat aktif). Nilai AAI ekstrak etanol 70% daun sirsak sebesar 3,312 (sangat kuat), vitamin C sebesar 36,434(sangat kuat), formula 1 sebesar 1,55 (kuat), formula 2 sebesar 2,104 (sangat kuat) dan formula 3 sebesar 75,589 (sangat kuat). Hasil uji antioksidan pada formula terpilih (F3) setelah 28 hari penyimpanan, mengalami penurunan berturut-turut sebesar 7,674 ppm pada suhu penyimpanan rendah(4±2ºC), 8,945 ppm pada suhu penyimpanan ruang (27±2ºC), dan 9,227 ppm pada suhu penyimpanan tinggi (40±2ºC). Setelah uji stabilitas selama 28 hari, formula pada penyimpanan suhu berbeda (4±2ºC, 27±2ºC, 40±2ºC) tidak menunjukan adanya perubahan fisik yang signifikan, hanya terjadi penurunan kadar aktivitas antioksidan pada sediaan granul instan.

Uji efektifitas minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix C.) dalam sediaan gel sabun cair untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus

No. 467 Telah dilakukan uji daya antibakteri gel sabun cair dari minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix D C.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair dapat memberikan efektifitas antibakteri dengan metode cakram. Pengujian minyak atsiri dilakukan dengan uji analisis kualitatif yaitu warna bening kekuningan, nilai pH 4, indeks bias 1,337, viskositas 0,68 cps, bobot jenis 0,85 g/ml dan analisis kuantitatif menggunakan metode GC-MS untuk menganalisis senyawa minyak atsiriyang terkandung didalamnya. Pengambilan minyak atsiri dari daun jeruk purut segar dilakukan dengan proses destilasi uap. Rendemen minyak atsiri yang dihasilkan sebesar 0,91%. Konsentrasi minyak atsiri yang digunakan pada formula gel sabun cair yaitu 1%, 2% dan 3%. Berdasarkan hasil analisis GC-MS kandungan senyawa citronellal yaitu sebesar 55,42% dan hasil penelitian minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair mempunyai mutu fisik yang baik. Hasil efektifitas antibakteri pada konsentrasi 1%, 2%, 3% sebelum uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 9,86 mm, 10,53 mm, 12,23 mm dan sesudah uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 10,03 mm, 10,30 mm, 12,13 mm. Semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut yang digunakan maka semakin tinggi diameter zona hambat.

KARAKTERISASI DAN UJI PENETRASI NIOSOM EKSTRAK AIR DAGING BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) DENGAN METODE SEL DIFUSI FRANZ

No: 391 Telah dilakukan penelitian sediaan nanoteknologi berupa niosom mengandung ekstrak air daging buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) yang merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki banyak kandungan metabolit sekunder diantaranya flavonoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Dibuat dalam bentuk niosom sebagai sistem penghantaran obat yang bertujuan untuk meningkatkan penetrasi zat aktif pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakterisasi antara formula niosom dan tanpa niosom (formula pembanding) pada pengukuran ukuran partikel (PSA), distribusi ukuran partikel (PDI), dan nilai zeta potensial. Formula niosom ekstrak air daging buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) menggunakan metode sonikasi pada amplitudo 40 meter dengan waktu 30 menit, dan suhu <40oC. Kemudian dilakukan uji penetrasi dengan metode sel difusi franz pada kulit mencit. Hasil pengamatan menunjukkan ekstrak tersebut mengandung 5,5537% flavonoid equivalen kuersetin dengan ukuran partikel masing-masing formula yaitu 462,0 nm dan 1.250,3 nm, dari data PDI masing-masing formula berturut-turut yaitu 0,42 dan 0,54, serta data zeta potensial masing-masing formula berturut-turut yaitu -30,2mV dan -21,8mV. Hasil pengamatan difusi franz setelah 8 jam didapatkan persen flavonoid yang terpenetrasi pada niosom dan formula pembanding (tanpa niosom) per luas area difusi secara berturut-turut yaitu 16,327 µg/cm2 dan 11,328 µg/cm2. Serta fluks secara berturut-turut yaitu 2,040 µg/cm2.jam-1 dan 1,416 µg/cm2..jam-1. Dari hasil uji difusi secara in vitro menunjukkan bahwa formula niosom mempunyai daya penetrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan formula pembanding.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) DALAM SEDIAAN SABUN GEL PEMBERSIH WAJAH SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH

No: 387 Daun sukun (Artocarpus altilis F) memiliki memiliki kandungan senyawa flavonoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Senyawa ini diperlukan kulit untuk mencegah dan mengurangi efek radikal bebas. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan sabun gel pembersih wajah menggunakan ekstrak etanol 96% daun sukun. Dilakukan tiga formulasi dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu 10% (formula 1), 20% (Formula 2), dan 40% (Formula 3) dan dilakukan pengukuran aktivitas antioksidan pada ketiga formula tersebut. Penentuan aktivitas antioksidan ditetapkan dengan metode peredaman DPPH. Hasil dengan aktivitas antioksidan tertinggi kemudian dilakukan uji kestabilan fisik. Uji kestabilan fisik dilakukan dengan pengamatan sabun gel yang disimpan pada suhu rendah (4±2◦C), suhu kamar (27±2◦C), suhu tinggi (40±2◦C), dan cycling test. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 sabun gel pembersih wajah yang mengandung ekstrak etanol 96% daun sukun 10, 20, dan 40% berturut-turut adalah 310.7033 µg/mL, 232.24 µg/mL, dan 140.036 µg/mL. Sabun gel pembersih wajah FIII stabil secara fisik pada penyimpanan suhu rendah, suhu kamar, suhu tinggi dan cycling test.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DALAM SEDIAAN GEL TERHADAP PENGHAMBATAN Propionibacterium acne SECARA IN VITRO

No: 383 Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan salah satu buah yang dapat hidup di iklim tropis dan memiliki banyak manfaat pada bagian kulit buah karena mengandung beberapa senyawa fitokimia diantaranya flavonoid, fenol dan steroid yang dapat bermanfaat untuk mengatasi jerawat. Jerawat merupakan manifestasi peradangan yang terjadi pada pori-pori kulit yang tersumbat disebabkan Propionibacterium acne. Oleh karena itu dilakukan penelitian uji efektivitas antibakteri dalam menghambat Propionibacterium acne secara in vitro juga uji stabilitas dan evaluasi fisika kimia terhadap gel yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dalam suasana asam dengan 5 variasi formula dan kandungan fenol sebesar 7,12% setara dengan asam galat. Dari hasil uji aktivitas antibakteri menggunakan metode disk diffuse diperoleh zona hambat 6 mm pada formula plasebo; 7,16 mm pada formula kontrol negatif; 15,04 mm pada formula kontrol positif yang mengandung ekstrak daun sirsak (Annona muricata Linn.); 12,53 mm pada formula 1 35,64% (1xIC50 asam galat), dan formula 2 71,28% (2xIC50 asam galat) yang menghasilkan zona hambat 14,61 mm, yang memiliki zona hambat terbaik. Kemudian dilakukan uji stabilitas pada formula 2 dan disimpulkan bahwa sediaan tersebut stabil secara fisik.