Sebanyak 5 item atau buku ditemukan

PRODUKSI DAN PURIFIKASI SENYAWA MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) OLEH KHAMIR Pseudozyma antartica Y7954

No: 138 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis senyawa glikolipid manosileritritol lipid (MEL) apa yang terkandung dalam khamir Pseudozyma antartica Y 7954. Produksi senyawa glikolipid MEL diawali dengan peremajaan isolat Pseudozyma antartica Y 7954 dan penyiapan media kultur, kemudian dilakukan produksi ekstrak kasar MEL dengan metode ekstraksi menggunakan etil asetat, metanol, n-heksan dan air. Selanjutnya kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan untuk mendeteksi serlyawa MEL. Deteksi spot awal memberikan informasi bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 merupakan penghasil tiga jenis MEL, yaitu MEL A, MEL B dan MEL C setelah disandingkan dengan khamir standar penghasil MEL A, MEL B dan MEL C. Pemurnian ekstrak dilakukan agar didapatkan senyawa murni yang kemudian struktur molekulnya diidentifikasi dengan instrumen resonansi magnetik inti (RMI). Hasil identifikasi senyawa menggunakan RMI memperlihatkan kemiripan puncak bahkan kesamaan beberapa puncak pada titik tertentu antara khamir Pseudozyma antartica Y7954 dengan khamir standar penghasil MEL B. Dapat dikatakan bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 spesifik menghasilkan MEL B.

PURIFIKASI DAN ANALISIS KANDUNGAN GLIKOLIPID MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) DARI KHAMIR Pseudozyma aphidis YB205

No: 137 Biosurfaktan merupakan alternatif untuk menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh surfaktan sintetik. Salah satu akibat dan. penggunaan surfaktan sintetik adalah terjadinya pencemaran lingkungan. Produksi biosurfaktan asal khamir sangat potensial dan bersifat aman. Isolat khamir Pseudozyma tengah dikembangkan sebagai surfaktan mikrobial (biosurfaktan), salah satunya adalah khamir Pseudozyma aphidis YB205. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan khamir Pseudozyma aphidis YB205 dalam memproduksi biosurfaktan kelas glikolipid, yaitu Manosileritritol Lipid (MEL) dan mengetahui jenis MEL yang dihasilkan oleh khamir ini. Produksi MEL dari khamir Pseudozyma aphidis YB205 dilakukan dengan cara fermentasi selama 10 hari pada suhu 30° C dan kecepatan agitasi 200 rpm. Fermentasi ini menggunakan substrat minyak kedelai sebanyak 5% dan sebagai sumber karbon | digunakan 5% glukosa untuk mendukung pertumbuhan khamir dengan baik. Tipe substrat yang digunakan akan berpengaruh pada pembentukan MEL. Purifikasi senyawa glikolipid dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan beragam pelarut organik dan Kromatografi Kolom (KK). Analisis produk fermentasi dilakukan melalui uji kualitatif yang meliputi analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis dengan spektrometer Resonansi Magnetik Inti (RMI) dengan spektrum satu dimensi proton lly Analisis dengan KLT menunjukkan bahwa ekstrak khamir Pseudozyma aphidis YB205 memiliki pola spot yang sama dengan isolat standar Pseudozyma antartica sebagai produsen MEL A, MEL B dan MEL C. Analisis struktur glikolipid MEL dengan spektrometer RMI menunjukkan pola puncak yang mirip dengan spektrum khamir P. antartica T-34 yang teridentifikasi sebagai produsen MEL C.

PENGARUH BERBAGAI SUMBER NITROGEN DAN KARBON TERHADAP PEMBENTUKAN BETA-KAROTEN DAN ASTAXANTIN MIKROLAGA Porphyridium cruentum

No: 119 Porphyridium cruentum adalah mikroalga merah yang memiliki kandungan nutrisi dan pigmen yang sangat tinggi. Pertumbuhan mikroalga ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan komposisi medium, seperti adalah sumber nitrogen dan sumber karbon. Sumber nitrogen yang digunakan adalah KNO3, NaNO3, (NH4)2CO dan (NH2)4SO4 dengan konsentrasi masing-masing 1 gram/L, sedangkan untuk sumber karbon digunakan glukosa, maltosa, amilum dan molase dengan konsentrasi masing-masing 0,25 gram/L. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode turbidimetri (untuk menentukan kurva pertumbuhan P. cruentum), metode ekstraksi karotenoid Hua Bin Li 2002, metode sprektrofotometri (beta-karoten % 450 nm dan astaxantin A 479 nm). Hasil pengamatan selama 11 hari masa kultivasi dapat terlihat bahwa fase logaritmik terjadi pada hari ke-1 sampai hari ke-8, fase stasioner terjadi pada hari ke-9 sampai hari ke-11. Karotenoid tertinggi terdapat pada fase stasioner. Pada semua media pertumbuhan yang menghasilkan kadar beta-karoten dan astaxantin pada sumber nitrogen terbaik adalah NaN O3, untuk beta-karoten dengan kadar tertinggi sebesar 183,69 ppm (logaritmik) dan sebesar 421,53 ppm (stasioner). Sedangkan astaxantin tertinggi sebesar 39,65 ppm (logaritmik) dan sebesar 105,25 ppm (stasioner). Sumber karbon terbaik adalah amilum, untuk beta-karoten dan astaxantin tertinggi sebesar 190,08 ppm (logaritmik) dan sebesar 513,98 ppm (stasioner). Sedangkan untuk astaxantin sebesar 42,12 ppm (logaritmik) dan sebesar 125,85 ppm (stasioner). Berdasarkan hal tersebut maka, variasi sumber nitrogen (NaNO3) dan sumber karbon (Amilum) mempengaruhi pembentukan beta-karoten dan astaxantin pada mikroalga Porphyridium cruentum.

SELEKSI BERBAGAI BAKTERI ASAM LAKTAT INDIGEN PENGHASIL β-GALAKTOSIDASE YANG BERAKTIVITAS TINGGI

No: 112 Bakteri asam laktat adalah bakteri yang memproduksi asam laktat. Bakteri asam laktat mengkasilkan β-galaktosidase. Enzim β -galaktosidase dapat menghidrolisis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Laktosa adalah disakarida yang terdiri dari glukosa dan galaktosa. Penderita intoleran laktosa tidak mampu mencerna laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi berbagai bakteri asam laktat (BAL) indigen yang berpotensi memproduksi f- galaktosidase yang beraktivitas tinggi. Penelitian ini diawali dengan peremajaan BAL, seleksi BAL, optimasi kondisi produksi BAL, produksi BAL, dan optimasi aktivitas β -galaktosidase. Aktivitas enzim B-galaktosidase ditentukan dengan menggunakan o-nitrofenil- β -D-galaktosida (ONPG) sebagai substrat analog. Seleksi 70 isolat BAL indigen penghasil β -galaktosidase menghasilkan 10 isolat BAL dengan aktivitas tinggi. Aktivitas tertinggi ditunjukkan oleh isolat BAL | B110 dengan aktivitas sebesar 1,930 U/ml. Isolat BAL B110 menghasilkan B- galaktosidase tertinggi pada konsentrasi inokulum 2%, pH medium 7, dan konsentrasi laktosa 2% pada jam ke-30. B-galaktosidase BAL B110 bekerja optimum pada suhu 45°C dan pH 6,5.