Sebanyak 43 item atau buku ditemukan

FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL BUNGA KUBIS MERAH (Brassica oleracea L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH

No. 548 Kubis merah (Brassica oleracea L.) mengandung senyawa antioksidan dengan potensi aktivitas yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel antioksidan dengan menggunakan HPMC sebagai basis gel yang mengandung ekstrak etanol bunga kubis merah dengan konsentrasi (% b/b) untuk F1, F2 dan F3 adalah 5%, 7,5% dan 10%, yang kemudian dievaluasi dan diuji aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode penentuan IC50 menggunakan pereaksi DPPH (Difenil-2-pikrilhidrazil). Dari penelitian diperoleh nilai IC50 untuk ekstrak etanol bunga kubis merah dan Vitamin C sebagai senyawa pembanding adalah 47,10 ppm dan 6,30 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol bunga kubis merah dalam sediaan gel pada masingmasing formulasi memiliki nilai IC50 sebesar 80,15 ppm (F1), 59,71 ppm (F2), dan 57,48 ppm (F3). Evaluasi sediaan gel meliputi pengamatan homogenitas, organoleptik, viskositas dan pH. Hasil uji sifat fisik sediaan gel menunjukkan bahwa semua sediaan gel homogen, memiliki pH antara 5,30-5,70 yang sesuai dengan pH kulit, dengan nilai viskositas 3000-3700 cps, dan memiliki daya sebar ≤ 7 cm. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga kubis merah dapat diformulasikan dalam sedian gel antioksidan dengan konsentrasi terbaik adalah 10%.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SAGA (Abrus precatorius L.) DAN KERSEN (Mutingia calabura L.) DENGAN METODE DPPH

No. 547 Kekhawatiran masyarakat terhadap efek samping antioksidan sintetik maka antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih. Ada banyak zat yang terkandung dalam tumbuhan berkhasiat sebagai antioksidan yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi bahaya radikal bebas. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan aktivitas antioksidan kombinasi daun saga dan daun kersen dibandingkan dengan bentuk tunggalnya dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penarikan senyawa aktif daun saga dan daun kersen dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kombinasi ekstrak daun saga dan daun kersen dibuat dengan perbandingan (1:1) (1:2) dan (2:1) dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm dengan vitamin C sebagai kontrolpositif. Hasil uji fitokimia kedua tanaman ekstrak etanol masing-masing menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun saga dan daun kersen dengan perbandingan (1:2) mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 12,88 ppm dan vitamin C sebagai control positif mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 2,89 ppm. Kesimpulan penelitian bahwa ekstrak kombinasi 1:2 memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal.

Formulasi gel ekstrak etanol mentimun (cucumis sativus L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri staphylococcus aureus

No. 496 Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang resistent terhadap antibiotik dan desinfektan. Buah mentimun memiliki metabolit sekunder yang berpotensi dalam menghambat dan membersihkan biofilm S.aureus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui potensi ekstrak buah mentimun dan formulasinya dalam sediaan gel untuk menghambat dan membersihkan biofilm yang diukur dengan menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah mentimun dan sediaan gelnya mampu menghambat dan membersihkan biofilm dengan persentase penghambatan dan pembersihan terbesar oleh ekstrak masing-masing 70,73%, dan 142,48% dengan konsentrasi ekstrak sebesar 3% dan untuk sediaan gelnya memiliki persentase penghambatan dan pembersihan masing-masing sebesar 74,58% dan 84,85% dengan konsentrasi ekstrak pada gel sebesar 0,5%.

Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan dalam menjalani terapi pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Renata Medical

No. 493 Diabetes Melitus (DM) yaitu kadar gula darah yang tidak terkendali dengan baik sehingga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi akut maupun kronik, untuk itu diperlukan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi farmakologis dan non farmakologis agar dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada penderita diabetes melitus. Kepatuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktornya adalah Pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Tingkat Pengetahuan terhadap Kepatuhan pada pasien Diabetes Melitus dalam menjalani terapi di klinik Renata Medical. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dilakukan secara prospektif dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel secara purposive sampling dan jumlah sampel yang sebanyak 89 Responden. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 02 Agustus 2018 sampai dengan 30 September 2018 di klinik Renata Medical. Data diperoleh melalui kuesioner dengan wawancara langsung kepada pasien. Analisis data ini menggunakan uji statistic Chi-Square ( < 0,05; CI = 95%). Hasil penelitian ini yaitu Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan pendidikan (p Value 0,000), Hubungan antara Kepatuhan dengan usia (p Value 0,006), Hubungan antara kepatuhan dengan pendidikan (p Value 0,000), Hubungan kepatuhan dengan Lama Menderita (p Value 0,002), hubungan kepatuhan dengan Pekerjaaan (pValue 0,0047) dan hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan terapi obat (p Value 0,027). Kesimpulan terdapat hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Pendidikan. Terdapat hubungan Kepatuhan dengan Usia, pendidikan, Lama Menderita dan pekerjaan. Dan Terdapat Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pada pasien Diabetes Melitus dalam menjalani terapi.

Analisis tingkat kepuasan pasien hipertensi lanjut usia terhadap pelayanan informasi obat di rumah sakit kepresidenan RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat

No. 488 Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkannya. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien hipertensi lansia terhadap pelayanan informasi obat di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto jakarta pusat ditinjau dari dimensi mutu pelayanan kefarmasian. Responden yang diteliti adalah pasien penderita hipertensi lanjut usia pada usia 60 tahun. Teknik pengambilan sampelnya dengan purposive sampling, melalui survey dengan lembar kuesioner jumlah 46 responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis dengan analisis korelasi, skala Likert, univerat dan analisis bivarate, regresi linier. Hasil penelitian bahwa 63,0% pasien menyatakan sangat puas, berdasarkan hasil uji korelasi terdapat hubungan positif yang signifikan antara pelayanan informasi obat terhadap kepuasan dengan nilai korelasi 0,533, hasil rata-rata korelasi kelima dimensi diperoleh interpretasi 1,063 pada tingkat kepuasan sangat puas. Berdasarkan hasil uji F didapat nilai hitung lebih besar dari F tabel, Artinya H0 ditolak dan Ha diterima, berarti pelayanan informasi obat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien hipertensi lansia. Berdasarkan uji T dimensi keandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan bukti fisik terdapat pengaruh dengan kepuasan pasien.

Analisis kebutuhan tenaga kefarmasian terhadap beban kerja di instalasi farmasi rawat jalan RS PMI Bogor

No. 485 Peningkatan jumlah pelayanan resep di Intalasi Farmasi Rawat Jalan RS PMI Bogor mempunyai dampak terhadap beban kerja tenaga kefarmasian baik apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian yang ada di Instalasi Farmasi. Beban kerja yang berlebih memicu kelelahan dan kurangnya konsentrasi petugas dalam pelayanan kefarmasian. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan mutu pelayanan IFRS PMI Bogor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan tenaga kefarmasian di IFRS PMI Bogor berdasarkan beban kerjanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel seluruh aktifitas tenaga kefarmasian. Teknik pengumpulan data dengan observasi menggunakan work sampling dan wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja (ABK Kes). Hasil penelitian untuk tenaga kefarmasian pada apoteker dari perbandingan ratio beban kerja 0.67 membutuhkan tenaga 3 orang. Tenaga teknis kefarmasian menghasilkan ratio beban kerja 0.92 membutuhkan tenaga 13 orang. Jumlah apoteker saat ini terdapat 2 orang dengan kategori tekanan beban kerja tinggi. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini terdapat 12 orang dengan kategori tekanan beban kerja rendah. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini lebih kecil daripada yang dibutuhkan, untuk mengatasi beban kerja yang ada maka dibutuhkan 1 tenaga apoteker dan 1 tenaga teknis kefarmasian.

Uji aktivitas antidiare ekstrak etanol daun petai cina (leucaena leucocephala) terhadap mencit jantan galur Sparague Dawley

No. 468 Diare secara umum didefinisikan sebagai bentuk tinja abnormal (cair) yang disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar yakni lebih dari tiga kali per hari. Daun Petai Cina adalah salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun petai cina sebagai antidiare. Senyawa aktif yang teridentifikasi dalam daun petai cina, yaitu flavonoid,sponin dan tanin. Simplisia kering daun petai cina diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian efek entidiare dilakukan dengan mempuasakan terlebih dahulu hewan uji, kemudian diberi oleum ricini sebagai penginduksi diare pada mencit jantan sprague dawley. Dosis yang digunakan sebesar 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan 600 mg/kg BB diberikan secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap saat mula terjadinya diare, konsisten feses, frekuensi diare, dan lama terjadinya diare. Sebagai pembanding digunakan Loperamid HCl. Hasil pengamatan dosis 200 mg/kg BB memiliki efek paling kecil, sedangkan dosis 600 mg/kg BB memiliki efek paling kuat dan hampir sama dengan Loperamid HCl. Dosis 400 mg/kg BB memiliki efek antidiare yang tidak terlalu kuat. Ekstrak etanol daun petai cina memiliki efek sebagai antidiare.

Analisa efektivitas penggunaan antibiotik seftriakson dan sefotaksim pada demam tifoid anak rawat inap di rumah sakit kesdam TK IV Cijantung periode agustus-desember 2017

No. 458 Antibiotik memiliki peran penting dalam pengobatan demam tifoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif dalam penggunaan antibiotik Seftriakson dan Sefotaksim pada pasien demam tifoid anak rawat inap di Rumah Sakit Kesdam Tk IV Cijantung periode Agustus – Desember 2017. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen yang bersifat deskriptif dan menggunakan metode Cross Sectional terhadap data sekunder dari rekam medis pasien, pengambilan data secara Retrospektif melalui rekam medis dari April – September 2018. Pencatatan yang dilakukan meliputi karakteristik pasien (Jenis kelamin dan Umur ), data penggunaan obat (Seftriakson dan Sefotaksim), Nilai leukosit awal dan akhir, gejala klinis awal dan akhir. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara statistik Seftriakson lebih efektif dibandingkan dengan Sefotaksim dengan p< 0,05 dengan nilai signifikasi 0,044 dan hasil presentase kesembuhan pada pasien yang menggunakan Seftriakson 96,7% dan yang menggunakan Sefotaksim 80,0%. Dapat disimpulkan bahwa Seftriakson lebih efektif dibandingan dengan Sefotaksim.

hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (prolanis) klinik qita

No. 430 Hipertensi secara luas dikenal dengan penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas tekanan darah normal, tepatnya dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 90 mmHg yang diukur dalam keadaan tenang pada dua kali pengukuran. Kepatuhan minum obat hipertensi memberikan kontribusi besar terhadap kestabilan tekanan darah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat hipertensi yaitu dengan mengikuti program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) Klinik Qita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional, dalam penelitian ini sampel ditentukan dengan metode purposive. Instrumen penelitian ini adalah kuisioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) dan 1 set alat tensimeter. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan kepatuhan tinggi sebanyak 14 responden (46.7%), kepatuhan sedang sebanyak 5 responden (15.7%) dan kepatuhan rendah sebanyak 11 responden (36.7%). Hasil pengujian korelasi pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah sistolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,038 dan terdapat hubungan dengan tekanan darah diastolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,024.

evaluasi drug related problems (DRP's) penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada pasien pediatri di puskesmas cipaku bandung periode Juli-Desember 2017

No. 427 Drug Related Problems (DRP’s) merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang menimpa penderita dengan terapi obat. Dalam pemberian terapi obat kepada penderita seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat DRP’s baik yang telah terjadi atau berpotensi terjadi. Identifikasi DRP’s dalam pengobatan penting dalam rangka mengurangi kematian serta biaya terapi. Beberapa jenis masalah yang berhubungan dengan obat yaitu adanya penyakit yang tidak terobati, adanya obat yang tidak memiliki indikasi, adanya obat dengan dosis yang tidak tepat, penggunaan obat yang tidak tepat waktu, dan terjadi Advere Drug Reaction (ADR) seperti efek samping, keracunan, reaksi alergi makanan. Telah dilakukan penelitian pada pasien pediatri penderita infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berobat ke Puskesmas Cipaku Bandung yang bertujuan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya kejadian DRP’s, penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan kejadian DRP’s yang dievaluasi sebanyak 222 pasien yang memenuhi kategori inklusi. Hasil evaluasi menunjukan 39 kasus yang meliputi diantaranya DRP’s terbanyak terjadi pada kasus dosis subteraupetik 28 kejadian (12,6%), indikasi tanpa terapi 4 kejadian (1,8 %), terapi tanpa indikasi 5 kejadian (2,3 %), dan kegagalan menerima obat 2 kejadian (0,9 %).