Sebanyak 4 item atau buku ditemukan

Aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro (cerbera odollam gaertn) terhadap Propionibacterium acnes

No. 515 Ekstrak daun bintaro diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak daun bintaro dibuat dengan berbagai konsentrasi, selanjutnya di uji mutu fisik serta aktivitas antibakteri. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak daun bintaro yaitu berupa alkaloid, saponin dan tanin. Pada penelitian ini ekstrak kental daun bintaro diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel yang dibuat dengan konsentrasi 5, 10 dan 15%, kemudian dilakukan uji mutu fisik yang meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, homogenitas dan viskositas. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro, memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 6,53 mm (konsentrasi 5%), 7,72 mm (konsentrasi 10%), 8,52 mm (konsentrasi 15%). Pada penelitian ini dapat diketahui semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula diameter zona hambat dan aktivitas terbesar terdapat pada sediaan dengan konsentrasi 15%.

uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol herba anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap tikus putih jantan galur sprague dawley

No. 474 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah herba anting-anting (Acalypha indica L.). Herba anting-anting mengandung flavonoid yang berkhasiat sebagai antiinflamasi (Narayana et al., 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol 70% tanaman anting-anting terhadap penurunan udema kaki tikus putih jantan yang diinduksi dengan karagenan. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur sprague dawley dengan umur 3-4 bulan, berat badan rata-rata 200 g. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I (kontrol negatif) diberi Na-CMC 1%, kelompok II (kontrol positif) diberi natrium diklofenak, kelompok III dosis 200 mg/kg BB, kelompok IV dosis 300 mg/kg BB dan kelompok V dosis 400 mg/kg BB. Pengukuran volume udem diukur dengan menggunakan air raksa dan jangka sorong kemudian diukur pada jam ke-1 sampai jam ke-12. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada dosis 400 mg/kg BB memiliki persentase terbaik dan mendekati dengan kelompok kontrol positif (natrium diklofenak).

Analisa efektivitas penggunaan antibiotik seftriakson dan sefotaksim pada demam tifoid anak rawat inap di rumah sakit kesdam TK IV Cijantung periode agustus-desember 2017

No. 458 Antibiotik memiliki peran penting dalam pengobatan demam tifoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif dalam penggunaan antibiotik Seftriakson dan Sefotaksim pada pasien demam tifoid anak rawat inap di Rumah Sakit Kesdam Tk IV Cijantung periode Agustus – Desember 2017. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen yang bersifat deskriptif dan menggunakan metode Cross Sectional terhadap data sekunder dari rekam medis pasien, pengambilan data secara Retrospektif melalui rekam medis dari April – September 2018. Pencatatan yang dilakukan meliputi karakteristik pasien (Jenis kelamin dan Umur ), data penggunaan obat (Seftriakson dan Sefotaksim), Nilai leukosit awal dan akhir, gejala klinis awal dan akhir. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara statistik Seftriakson lebih efektif dibandingkan dengan Sefotaksim dengan p< 0,05 dengan nilai signifikasi 0,044 dan hasil presentase kesembuhan pada pasien yang menggunakan Seftriakson 96,7% dan yang menggunakan Sefotaksim 80,0%. Dapat disimpulkan bahwa Seftriakson lebih efektif dibandingan dengan Sefotaksim.

Potensi Antibakteri Jamu Pinaraci terhadap Bakteri Stapylococcus dan Escherichia coli

No. 403 Jamu Pinaraci merupakan jamu yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yang mempunyai potensi sebagai antibakteri, karena mengandung beberapa senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam jamu pinaraci diduga berpotensi sebagai antibakteri. Potensi antibakteri jamu pinaraci dilakukan dengan menentukan zona daya hambat. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi aktivitas antibakteri ekstrak jamu pinaraci dengan pelarut akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan metode difusi kertas cakram. Proses ekstraksi jamu pinaraci dilakukan dengan metode maserasi. Penentuan uji zona daya hambat ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% jamu pinaraci dengan metode difusi kertas cakram menggunakan bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus. Hasil uji antibakteri ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5% yang menunjukan daya hambat terbesar dengan konsentrasi 5%. Ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% pada konsentrasi 1% dan 3% memiliki daya hambat sedang, sedangkan pada konsentrasi 5% memiliki daya hambat kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan etanol 96% memiliki potensi aktivitas daya hambat paling tinggi untuk bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus, sedangkan ekstrak akuades memiliki potensi aktivitas daya hambat paling rendah. Berdasarkan pada hasil penelitian disimpulkan bahwa ketiga sampel memiliki potensi sebagai antibakteri.