Sebanyak 18 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS JUS BUAH LABU AIR (Lagenaria siceraria) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIK TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley

No: 297 Diabetes mellitus merupakan kelompok kelainan fungsi metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yangterjadi karenakelainan sekresi insulin, kerjainsulin atau kedua-duanya.Hiperglikemia merupakan keadaan jumlah glukosa dalam darah melebihi batas normal (>200 mg/dL).Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai penurun glukosa darah, yaitu buah labu air (Lagenaria siceraria). Senyawa aktif yang teridentifikasi dalam buah labu air, yaitu flavonoid dan saponin.Tujuan dari penelitian adalahmengetahuiaktivitas jus buah labu air dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus novergicus) jantan denganhiperglikemia. Buah labu air diambil filtratnya dengan metode pengejusan.Jus buah labu air diuji secarain vivo pada tikus hipergikemia yang diinduksi aloksan. Pengukuran kadar glukosa darahmenggunakan glukometer selama 14 hari dengan interval waktu 3hari. Hasil uji secara in vivo jus buah labu air memiliki aktivitas antihiperglikemia dengan parameter penurunan kadar glukosa darah tikus dan terdapat perbedaan penurunan kadar glukosa darah pada setiap pengecekan. Nilai penurunan kadar glukosa darah masing-masing kelompok kontrol negatif, kontrol positif, jus buah labu air dosis 100 mg/mL, dosis 200 mg/mL dan dosis 400 mg/mL secara berurutan sebesar -227,80 mg/dL, 288,40 mg/dL, 125,20 mg/dL, 297,40 mg/dL dan 324, mg/dL.

UJI MUTU FISIK DAN EFEKTIVITAS SEDIAAN SUSPENSI EKSTRAK ETANOL 70% KULIT PISANG RAJA (MUSA x paradisiaca AAB) TERHADAP MENCIT GALUR DDY SEBAGAI ANTIDIARE

No: 268 Diare secara umum didefinisikan sebagai bentuk tinja abnormal (cair) yang disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar yakni lebih dari tiga kali per hari. Kulit pisang raja adalah salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diare, senyawa aktif yang teridentifikasi dalam kulit pisang raja, yaitu tanin, flavonoid, saponin dan triterpenoid. Kadar total tanin pada ekstrak kulit pisang raja sebesar 5502 ppm dan 5617 ppm. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas sediaan suspensi ekstrak kulit pisang raja sebagai antidiare.Simplisia segar kulit pisang raja diekstraksi dengan metode maserasi kemudian dibuat sediaan suspensi.Sediaan suspensi memiliki viskositas sebesar 144 cP, pH 5,3 dan stabil pada suhu kamar (25-30oC) serta 40oC. Pengujian efek antidiare dilakukan dengan cara memberikan oleum ricini sebagai penginduksi diare. Dosis yang digunakan sebesar 50 mg, 100 mg, 150 mg, 200 mg, dan 250 mg/kg BBdiberikan secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap saat mulai terjadinya diare, konsistensi feses, frekuensi diare dan lama terjadinya diare. Sebagai pembanding digunakan Loperamid HCl. Hasil pengamatan dosis 50 mg/kg BB memiliki efek paling kecil sedangkan dosis 250 mg/kg BB memiliki efek paling kuat. Dosis 200 mg/kg BB memiliki efek antidiare yang sama dengan Loperamid HCl. Sediaan suspensi ekstrak kulit pisang raja memiliki efek sebagai antidiare.

UJI EFEKTIVITAS INFUSA EKSTRAK AIR DAUN PEPAYA (Carica papaya Linn) SEBAGAI PENAMBAH NAFSU MAKAN PADA MENCIT (Mus musculus) GALUR DDY

No: 245 ABSTRAK Nafsu makan adalah salah satu hal yang penting dalam perkembangan kesehatan, seseorang yang sehat memiliki nafsu makan yang normal. Kurangnya nafsu makan mempengaruhi kebutuhan atas gizi dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Daun pepaya secara turun temurun dipercaya sebagai penambah nafsu makan rasa pahit dari daun pepaya di duga dapat meningkatkan nafsu makan seseorang, Selain itu daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin, serta memiliki enzim khas yaitu papain. Papain diduga memiliki efek somatik atau merangsang nafsu makan karena bersifat sebagai enzim proteinase. Penelitian ini dilakukan secara experimental merujuk dengan cara pembuatan secara tradisional atau empiris atau turun temurun secara tradisional dengan merebus simplisia daun pepaya, dan di uji efektifitasnya terhadap mencit selama tujuh hari, sebelumnya mencit diadaptasikan agar dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Infus pepaya sendiri dibagi dalam beberapa konsentrasi agar dapat diamati konsentrasi yang terbaik, yang memiliki kemampuan dalam meningkatkan nafsu makan pada mencit ditandai dengan bertambahnya berat badan mencit, dalam percobaan ini diketahui konsentrasi 12 % memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berat badan mencit yang di uji selama tujuh hari dan memiliki efek setara dengan control positif yang digunakan

POTENSI ENZIM TRANSGLUTAMINASE SEBAGAI GEL PENYEMBUH LUKA STADIUM II PADA AYAM RAS JANTAN

No: 191 Transglutaminase (E.C. 2.3.2.13) merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi perpindahan gugus asil antara kelompok γ-karboksiamida residu glutamin pada protein, peptida dan berbagai amina primer. Enzim transglutaminase dapat membantu stabilisasi monomer fibrin yang terjadi selama proses pembekuan darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas proses penyembuhan luka stadium II pada ayam ras jantan yang diberikan sediaan gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5% dan 7% yang akan dibandingkan dengan Bioplacenton® gel sebagai kontrol positif. Pada penelitian ini dibuat formulasi sediaan gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5%, dan 7%. Sediaan gel enzim transglutaminase dilakukan uji organoleptis dan uji homogenitas. Selanjutnya sediaan gel tersebut dioleskan pada ayam ras jantan yang sudah memiliki luka stadium II. Formulasi sediaan gel enzim transglutaminase memiliki tekstur yang homogen, berwarna putih, berbau khas enzim transglutaminase, dan memiliki kisaran pH 6,2-6,7. Persentase pengurangan panjang luka stadium II pada ayam ras jantan oleh sedian gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5%, dan 7% masing-masing sebesar 80,54%, 99,00%, 99,67% dan 87,25%. Sedangkan persentase pengurangan panjang luka stadium II pada ayam ras jantan oleh Bioplacenton® gel (kontrol positif) sebesar 99,33%. Berdasarkan analisis statistik ANOVA, nilai persentase pengurangan panjang luka stadium II dengan perlakuan sediaan gel transglutaminase 5% lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan dengan gel Bioplacenton® (kontrol positif). Oleh karena itu, sediaan gel enzim transglutaminase 5% dapat berperan sebagai penyembuh luka stadium II pada ayam ras jantan.

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI BAKTERI Enterococcus durans, Enterococcus sulfureus DAN Lactococcus garvieae PADA PROSES FERMENTASI BIJI KOPI TERHADAP KADAR KAFEIN

No: 166 Jenis kopi yang berkembang di Indonesia ada dua, yaitu kopi robusta dan arabika. Kopi robusta berasal dari tanaman Coffea Arabica. Selain kedua jenis kopi tersebut, di Indonesia juga terdapat jenis kpoi lain yaitu kopi luwak. Kopi luwak tidak berasal dari spesies khusus, namun berasal dari biji kopi yang telah mengalami fermentasi pada pencernaan hewan luwak (Paradoxurus hermaphrodites). Pengusahaan kopi luwak dalam jumlah besar juga mampu meningkatkan taraf hidup produsen, karena tingginya harga jual. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk mensintesis kopi luwak dalam jumlah yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kafein dari kopi luwak sintesis dan hasilnya akan dibandingkan dengan kopi luwak alami dan kopi biasa yang beredar di pasaran. Bakteri yang terdapat di dalam sistem pencernaan binatang luwak diisolasi dan dilakukan peremajaan kultur bakteri, kemudian suspensi dari isolat bakteri ditambahkan pada saat proses fermentasi biji kopi. Setelah proses fermentasi selesai dilakukan pengukuran kadar kafaein dengan menggunakan KCKT. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar kafein pada kopi luwak sintesis yang diferementasikan menggunakan suspense bakteri Enterococcus durans, Enterococcus sulfureus dan Lactococcus garvieae belum dapat menyamai kadar kafein pada kopi luwak yang difermentasi secara alami pada sistem pencernaan hewan luwak, namun kadar kafaein pada kopi luwak yang difermentasi secara alami pada sistem pencernaan hewan luwak, namun kadar kafein pada kopi luwak sintesis dapat lebih rendah dari kadar kafein pada kopi biasa yang beredar di pasaran, dengan persentase kadar 1,20% pada kopi luwak sintesis, 0,59% pada kopi luwak alami

IDENTIFIKASI MIKROBA PADA FESES MUSANG (Paradoxorus hermaproditus) YANG DIBERI RANSUM BERBEDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KADAR KAFEIN KOPI LUWAK

No: 123 Kopi ( Coffea sp ) adalah salah satu sumber kafein, dalam satu sajian kopi mengandung sekitar 100-150 mg kafein untuk satu cangkir ( 200 MI ). Kafein mempunyai daya kerja sebagai stimulant system syaraf pusat, stimulant otot jantung, relaksasi otot polos dan diuretic ringan. Efek kafein dapat menigkat dan dapat menyebabkan kofeinisme apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat atau dikonsumsi secara berlebihan. Kopi luwak ( Civet coffee ) memang berasal dari kotoran hewan luwak ( Paradoxorus hermaproditus ), walaupun berasal dari kotoran hewan, kopi luwak ini adalah kopi termahal di Indonesia. Menurut sejarahnya, kopi luwak berasal dari Indonesia, yaitu pada zaman penjajahan Belanda. Dalam penelitian di Universitas Indonesia, tebukti bahwa kadar kafein yang terkandung pada kop! luwak asli hanya sekitar 0,5 % sampai dengan 1 %, itu dikarenakan proses fermentasipada pencernaan tuwak ini meningkatkan kualitas kopi karena selain berada pada suhu fermentasi optimal yaitu 24 -26° C juga dibantu dengan enzim dan bakteri yang ada pada pencernaan luwak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri atau ragam mikroba yang terdapat dalam pencernaan atau feses luwak dan mengetahui ransum mana yang menghasilkan kadar kafein paling rendah pada kopi luwak. Metode yang digunakan untuk ‘dentifikasi mikroba adalah metode colony PCR dan untuk analisa kafein menggunakan KCKT ( kromatografi cair kinerja tinggi ). Kafein disari dari bubuk kopi menggunakan aquadest dan dipanaskan, kemudian larutan disuntikan ke alat KCKT merek Shimadzu LC-ting, menggunakan kolom Hypersil ODS C 18,5 UM, 100 x 4,6 mm dan detector VWD dengan UV pada panjang gelombang 272 nm. Fase gerak mengunakan campuran aquadesfilter : methanol ( 70 % : 30 % ) dengan kecepatan alir 0,75 Mi/menit dan pada temperature 35°C. Hasil untuk identifikasi mikroba pada feses terdapat bakteri Enterococcus durans, Lactococcus garvieae, dan Enterococcus sulfurous. Hasil uji organoleptik pada masing-masing sampel kopi yaitu: sampel A memiliki tektur yang khas dan bau wangi serta memiliki rasa pahit sedikit manis, sampel B memiliki tekstur khas, bau sedikit wangi dan rasa yang pahit, dan untuk sampel kopi C memiliki tekstur yang khas dan rasa yang pahit. Sedangkan untuk analisa kafein dalam kopi luwak bubuk untuk sampel A sebesar 0,5999%, B sebesar 0,6014%, dan untuk sampel C sebesar 0,6014%.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK AIR ALBUMIN IKAN GABUS (Chana striata) TERHADAP KESEMBUHAN LUKA DAN KADAR ALBUMIN DARAH PADA TIKUS PUTIH

No: 115 Luka paskaoperasi dan kekurangan albumin hanya dapat disembuhkan dengan TSA hemes serum albumin secara intravena (i.v). Diketahui harga serum albumin sangatlah mahal sehingga menjadi masalah bagi masyarakat menengan kebawah. Ikan gabus merupakan salah satu pengganti serum albumin karna diketahut memiliki kandungan albumin yang tinggi. Namun secara experimental belom memberikan bukti. Penelitian ‘ni bertujuan untuk mengetahui efektivitas . pemberian secara peroral ekstrak air ikan gabus terhadap penyembuhan luka dan | meningkatkan kadar albumin darah pada tikus yang dilukai. Penelitian ini didahului dengan pembuatan simplisia ikan gabus (Channa striata), kemudian diekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut akuades dan kemudian dilakukan penyimpanan ekstraksi albumin pada suhu 4°C, selanjutnya diberikan pada 25 tikus jantan, dengan umur 2-3 bulan, berat badan 180-200 gram. semua tikus dilukai sehingga tampak sakit dan kekurangan albumin. 25 ekor tikus dibagi dalam 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. kemudian dilakukan pemberian ekstrak air ikan gabus dengan frekuensi yang berbeda secara peroral. Pengamatan dan pengukuran kadar albumin darah dilakukan pada pra dan pasca perlakuan, hasil penelitian kadar albumin darah dianalisis dengan alat pengukur albumin darah Auto analyzer mindray 400. Data dianalisis dengan metode anova untuk membandingkan kelompok I, IL, I, IV, V- Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak air ikan gabus pada proses kesembuhan luka dan peningkatan kadar albumin dengan dosis 5mi 1 x sehari sudah cukup efektif.

EFEKTIFITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH MANGGIS (Gracinia mangostana L) TERHADAP KUALITAS SPERMA KAMBING JAWA RANDU

No: 107 Salah satu menurunnya kualitas sperma adalah radikal bebas berlebih. Radikal bebas membentuk oksigen reaktif yang menyebabkan kelainan pada membrane dan motilitas spermatozoa. Upaya untuk mencegah radikal bebas dapat dilakukan dengan cara penambahan antioksidan yaitu suatu zat yang dapat mengikat senyawa radikal bebas. Secara alami beberapa jenis tumbuhan merupakan sumber antioksidan salah satunya adalah tanaman manggis(GarciniaMangostana L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan antioksidan ekstrak kulit buah manggis terhadap kualitas sperma kambing jawa randu setelah pembekuan. Penelitian ‘ni dilakukan di laboratorium Fisiologi Reproduksi Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor Jawa Barat selama satu bulan dari bulan September sampai bulan desember 2012. Materi yang digunakan adalah semen kambing dari seekor Pejantan kambing Jawa Randu berumur 2-3 tahun. Parameter yang diamati adalah persentase motilitas, spermatozoa hidup dan membrane plasma utuh. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dimana dosis antioksi dan sebagai perlakuan dan jumlah penampungan (ejakulat) sebagai ulangan. Hasil penelitian ini menunjukan tidak terjadi interaksi antara semen yang ditambahkan antioksidan dari ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi kontrol, 0.1 m/100 ml (L1) dan 0.2 0.0 um/100 ml dalam pengencer terhadap kualitas semen yang dibekukan (sesudah, ekuilibras dan thawing). Namun pada tahap sebelum dibekukan (sesudah pengenceran) memberikan pengaruh yang nyata secara statistik (P< 0,05) pada persentase motilitas dan persentase hidup spermatozoa. Penambahan antioksidan dari ekstrak kulit manggis (L1) dan (L2) pada penelitian ini belum dapat memperbaiki kualitas spermatozoa sebelum pembekuan.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETIL ASETAT BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini) DAN SAWO (Manilkara zapota (L). Van Royen) DENGAN METODE DPPH

No: 104 Jamblang (Syzigium cumini) dan sawo (Manilkara zapota (L) Van Royen)adalah tanaman yang memiliki manfaat kesehatan yang baik. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui kandungan antioksidan yang terdapat pada bagian buah jamblang dan sawo serta kandungan fitokimia yang dikandungnya. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi buah jamblang dan sawo secara maserasi menggunakan pelarut yaitu etil asetat. Skrining fitokimia yang meliputi uji saponin, alkaloid, flavonoid, steroid, dan triterpenoid dilakukan terhadap ekstrak kental hasil evaporasi. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metoda DPPH (1,1-difenil-2pikrihidrazil). Hasil pengujian skrining fitokimia buah jamblang dan sawo secara keseluruhan menunjukan kandungan senyawa saponin dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat jamblang menghasilkan aktivitas antioksidan berskala lemah dengan nilai ICs sebesar 187,74 ppm. Aktivitas antioksidan tersebut lebih besar dari vitamin C yang memiliki ICs9 sebesar 5.65ppm. Sedangkan ekstrak etil asetat sawo memiliki aktivitas antioksidan lebih kecil dari jamblang yang memiliki ICsq 125.17 ppm.