Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

EFEKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA TERBUKA PADA KELINCI DARI FORMULASI SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN BABADOTAN (Agretum conyzoides L.)

No: 196 Ageratum conyzoides L. yang dikenal dengan nama daun babadotan adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk obat luka terbuka. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak etil asetat daun babadotan memberikan efek penyembuhan yang nyata (bermakna) pada luka terbuka yaitu pada konsentrasi 40% dan 80%. Berdasarkan hal itu, dilakukan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan salep ekstrak etanol daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap penyembuhan luka terbuka pada kelinci. Jenis penelitian ini ialah eksperimen laboratorium. Simplisia serbuk daun babadotan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Salep ekstrak etanol daun babadotan dibuat dalam 5 konsentrasi yaitu 30%, 35%, 40%, 45% dan 50%. Pada pengujian salep dilakukan uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji pH. Uji efektivitas penyembuhan luka terbuka menggunakan 7 kelompok, yaitu kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (povidone iodine), salep ekstrak etanol daun babadotan (SEDB) 30%, SEDB 35%, SEDB 40%, SEDB 45%, SEDB 50% terhadap 3 kelinci putih dengan berat 3-3.5 kg dan panjang luka 1.5 cm, dilakukan sampai hari ke-8. Data diolah secara statistik menggunakan One Way ANOVA (Analisis Of Variant). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa SEDB 40%, 45% dan 50% memberikan efek penyembuhan terhadap luka terbuka pada kelinci, efek yang hampir mirip dengan kontrol positif yaitu SEDB dengan konsentrasi 45%, SEDB yang memberikan efek paling baik yaitu salep pada konsentrasi 50%.

UJI ANTI ABSES SENYAWA (+)-2,2'-EPISITOSKIRIN A PADA MENCIT PUTIH JANTAN

No: 148 Secara in vitro senyawa (+)-2,2’-episitoskirin A telah terbukti memiliki aktivitas yang potensial sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan (+)-2,2’-episitoskirin A sebagai anti abses pada mencit yang diinduksi dengan Staphylococcus aureus. Mencit dibuat abses dengan diinduksi bakteri Staphylococcus aureus yang diberikan dua jam setelah suspense (+)-2,2’-epsitoskirin A dalam CMC 1% per oral dengan dosis 12,5 mg/kg BB, 8 mg/kg BB, 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Sebagai control positif digunakan mencit yang diberi Vankomisin dengan dosis 4 mg/kg BB, 8 mg/kg BB dan 16 mg/kg BB secara intraperitonial dan control negative CMC 1 % secara oral dan diperlakukan sama seperti kelompok uji. Diameter abses yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dan metode yang digunakan untuk menghitung populasi bakteri ialah metode spread plate. Dari lima level dosis yang diuji, menunjukkan bahwa dosis 12,5 mg/kg BB adalah yang efektif.