Sebanyak 37 item atau buku ditemukan

SITOTOKSISITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH BISBUL (Diospyros discolor Willd.) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) TERHADAP PENGHAMBATAN SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 549 Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Kanker payudara menduduki peringkat pertama kasus kanker pada wanita. Buah bisbul (Diospyros discolor Willd.) merupakan tumbuhan yang memiliki kadar antioksidan yang cukup tinggi dengan kandungan senyawa flavonoid, tanin dan saponin, dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack). I.C. Nielsen) mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Kulit jengkol dimaserasi dalam etanol 70% dan buah bisbul dengan etanol 96%, ekstraknya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator dan waterbath. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antikanker kombinasi ekstrak etanol buah bisbul dan kulit jengkol terhadap sel kanker payudara MCF-7. Pengujian sitotoksik dilakukan dengan menggunakan MTT assay. Parameter yang diukur adalah nilai inhibition concentration (IC50). Perbandingan kombinasi ekstrak buah bisbul:ekstrak kulit jengkol yang digunakan adalah 1:1,1:2 dan 2:1 dengan nilai IC50 secara berturut-turut sebesar 173,8; 32,36 dan 186,2 ppm, sedangkan nilai IC50 dari doxorubicin yaitu 19,5 ppm. Nilai IC50 dari kombinasi 1:2 kurang dari 100 μg/mL menunjukkan kategori sitotoksisitas potensial, maka kombinasi ekstrak buah bisbul dan ekstrak kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

POTENSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C Nielsen) TERHADAP APOPTOSIS SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No. 545 Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Uji Double staining digunakan untuk mendeteksi pola kematian sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pola kematian sel dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Perbandingan kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9. Metode penentuan pola kematian sel yang digunakan adalah double staining dengan kultur sel kanker payudara MCF-7. Parameter yang diukur adalah warna yang terbentuk dan bentuk sel . Kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dengan perbandingan 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 menunjukan aktivitas apoptosis terhadap sel MCF-7 dengan warna yg terbentuk jingga hingga hijau terang. Oleh sebab itu, kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

Penapisan virtual potensi senyawa inhibbitor terhadap reseptor tyrosine kinase A sebagai anti tuberkulosis

No. 535 Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang umumnya disebabkan oleh kuman yang disebut Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dennis et al., 2017 menunjukan bahwa penghapusan protein tyrosine kinase A pada mutan Mycobacterium tuberculosis menyebabkan gangguan kelangsungan hidup mutan tersebut. Protein tyrosine kinase merupakan enzim yang mengkatalisis proses fosforilasi dari residu tyrosine yaitu proses transfer ion fosfat dari ATP ke gugus hidroksil (OH) tyrosine pada protein targetnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis dengan menggunakan senyawa uji dari pangkalan data Zinc15. Metode penelitian ini dilakukan secara insilico dengan melakukan penambatan molekuler untuk mengetahui nilai binding affinity serta perhitungan konstanta inhibisi, yang kemudian divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer 2016 dan Pymol. Potensi senyawa uji dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakokinetik senyawa tersebut. Setelah itu, dilakukan uji toksisitas menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis, yaitu asam salazinic, heliomisin , 3-3’ bijuglone, diaserin dan garsinon c, dengan nilai binding affinity berturu-turut -11,5 kkal/mol, -11,5 kkal/mol, -11,4 kkal/mol, -11,3 kkal/mol dan -11,3 kkal/mol. Semua senyawa tersebut memiliki afinitas ikatan yang lebih kecil daripada gefitinib (-10,6 kkal/mol) sebagai ligan pembanding. Dan dinyatakan tidak toksik secara analisis menggunakan admetSAR dan toxtree dengan uji Kroes TTC Decision Tree, juga tidak berpotensi karsinogenik non-genotoksik berdasarkan uji Benigni and Bossa Rulebase.

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I. C. Nielsen) dan daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) menggunakan metode BSLT

No. 514 Kombinasi obat herbal adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mengatasi munculnya penyakit. Kulit jengkol atau yang dikenal dengan nama Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen dan daun petai cina atau yang dikenal dengan nama Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina dengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9 (kulit jengkol:Daun Petai Cina) menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. proses ekstraksi kulit jengkol dan daun petai cina meliputi maserasi dan rotary evaporator. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol secara berturut-turut sebesar 80, 95, 135, 171 & 277 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan kombinasi ekstrak kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina pada perbandingan 1:1 dan 1:3 termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan pada perbandingan 1:5, 1:7 & 1:9 termasuk dalam kategori toksik sedang. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi kulit jengkol dan daun petai cina memberikan efek toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Aktivitas dan evaluasi sediaan pastagigi ekstrak bonggol dan kulit nanas (ananas comosus (L.) Merr.) terhadap antibakteri Streptococcus mutans penyebab plak gigi

No. 511 Plak gigi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Limbah bonggol dan kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, yaitu terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan pada hal tersebut, bonggol dan kulit nanas diformulasikan ke dalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptocuccus mutans. Penelitian bertujuan mendapatkan formula pasta gigi kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas dan mengetahui konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan dalam sedian pasta gigi dengan konsentrasi 40% b/b perbandingan formula I (1:1), formula II (1:2) dan formula III (2:1) bonggol dan kulit nanas. Formula pasta gigi diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa) dan aktivitas antibakteri. Mutu fisik pasta gigi dianalisis secara deskriptif sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis dengan statistik dengan metode One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan. Berdasarkan pada uji mutu fisik semua formula memenuhi syarat mutu SNI 12-3254-1995 sediaan pasta gigi. Hasil analisis statistik aktivitas antibakteri formula III menujukkan aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 23,5 mm. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa formula III (2:1) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.