Sebanyak 10 item atau buku ditemukan

FORMULASI SEDIAAN GEL ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BINTARO (Cerbera odollam Gaertn.) TERHADAP Staphylococcus aureus

No: 366 Ekstrak etanol 70% daun bintaro dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn) memiliki kandungan senyawa kimia berupa flavonoid, alkaloid, dan tanin. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak etanol 70% dari daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) dan menentukan formulasi sediaan gel yang memiliki mutu fisik yang baik dan memiliki efektifitas antibakteri. Mutu fisik yang diuji meliputi homogenitas, organoleptik, viskositas, pH, daya sebar, stabilitas dan uji efektifitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Hasil menunjukan sediaan gel ekstrak etanol 70% daun bintaro memiliki mutu fisik yang baik dan efektivitas antibakteri yang terbaik terdapat pada formulasi III dengan konsentrasi 5%. Berdasarkan analisis One way Anova dengan uji lanjut Duncan setiap formulasi dengan konsentrasi yang berbeda memiliki perbedaan yang nyata dengan α = 0.05.

PENGGUNAAN α-AMILASE Lactobacillus fermentum EN 38-44 DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG PASTA UMBI LOKAL

No: 307 α-Amilase adalah enzim penghidrolisis molekul pati yang memutuskan ikatan α-(1,4)-D-glikosida, dan menghasilkan maltosa dan glukosa yang tergolong gula pereduksi. Lactobacillus fermentum EN 38-44 secara kualitatif menghasilkan α-amilase. Namun demikian, karakteristik dan potensinya dalam menguraikan tepung pasta belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan α-amilase Lactobacillus fermentum EN 38-44 yang terkarakterisasi dan menguji aktivitasnya dalam menguraikan karbohidrat tepung pasta umbi lokal (ubi ungu, putih, kuning), dan tepung pasta tapioka. Karakteristik Lactobacillus fermentum EN 38-44, meliputi optimasi pH dan suhu serta stabilitasnya. Aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode Bernfeld (1955) dalam Kanpiegjai et al, (2015) dan kadar gula reduksi menggunakan metode Miller (1959) dalam Whitney and Abdul (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas α-amilase Lactobacillus fermentum EN 38-44 mencapai optimum pada suhu 40˚C dan pH 5,5 dengan nilai sebesar 1,620 U/ml. Aktivitas relatif L.fermentum EN 38-44 ≥ 50% terjadi pada suhu 30˚C-50˚C dan pH 4,5-6,0 dengan waktu inkubasi selama 60 menit. Kadar gula reduksi pada tepung pasta ubi jalar dengan penambahan α-amilase L.fermentum EN 38-44 (ubi : ungu 0,043%, putih 0,039%, kuning 0,034%) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar gula reduksi pada tepung pasta tapioka sebesar 0.028%. Sebaliknya, kadar gula reduksi pada tepung pasta ubi jalar dengan penambahan α-amilase L.fermentum EN 38-44 lebih rendah dibandingkan pada kadar gula reduksi pada tepung terigu sebagai pembanding dengan nilai sebesar 0,050%.

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT TMS-03 DARI TUMBUHAN Curcuma mangga Val. Van. Zip

No: 300 infeksi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh yang memerlukan penanganan dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional mengakibatkan resistensi bakteri, maka diperlukan pencarian obat antibakteri baru menjadi penting dan berkelanjutan. Salah satunya adalah jamur endorfit yang merupakan sumber baru sebagai anti bakteri. Penelitian ini bertujuan mengisolasi metabolit bioaktif ekstrak elit asetat jamir endorfit TMS-03 dari tumbuhan Curcuma mangga Val. van. Zip. dan menguji potensi antibakterinya terhadap staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Pada penelitian ini, dilakukan isolasi metabolit bioaktif ekstrak etil asetat jamur endofit TMS-03 sebanyak 750,7 mg dengan metode skrining antibakteri KLT-bioautografi dan kromatografi kolom. Fraksi aktif kemudian diuji aktivitas antibakterinya emnggunakan metode mikro dilusi dengan menentukan nilai KHM. Berdasarkan pada hasil penelitian, target senyawa aktif antibakteri terdapat pada freaksi F17.12 dan F17.8.1 dengan nikai KHM masing-masing sebesar 256 ug/mL terhadap S. Aureus dan E.coli sedangakan nilai KHM untuk E. coli fraksi F17.8.1 sebesar >256 ug/mL. Aktifitas antibakteri kedua fraksi tersebut lebih lemah dibandingkan dengan kloramfenikol yang memiloki nilai KHM sebesar 4 ug/mL terhadap S. aureus dan 8 ug/mL terhadap E. coli.

FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL HAND SANITIZER DARI EKSTRAK ETANOL BIJI MANGGA HARUM MANIS (Mangifera indica L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 287 Mangifera indica L. atau mangga merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri. Salah satu bagian tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri pada mangga adalah biji. Kandungan antibakteri alami berupa tanin yang terdapat pada ekstrak etanol biji mangga harum manis diketahui efektif terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, yakni bakteri penyebab utama pada diare dan infeksi kulit lainnya. Tujuan dari Penelitian ini adalah memperoleh formulasi yang baik dan efektif untuk membunuh bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus agar dapat menghasilkan sediaan gel antiseptik tangan berbahan dasar alami. Diameter zona bening yang dihasilkan oleh sediaan gel hand sanitizer ekstrak etanol biji mangga pada bakteri Escherichia coli dengan konsentrasi gel 2; 2.5 dan 5% masing – masing sebesar 10.86, 1.74dan 13.15 mm sedangkan pada kontrol positif sebesar 7.47 mm. Diameter zona bening pada Staphylococcus aureus dengan konsentrasi gel 2; 2.5 dan 5% masing – masing sebesar 10.14, 10.58 dan 12.83mm sedangkan pada kontrol positif 7.43 mm.Berdasarkan uji Anova one way yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (berpengaruh nyata) antar konsentrasi. Dapat disimpulkan bahwa sediaan gel ekstrak etanol 70% yang memilki efektifitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dan hasil evaluasi sediaan gel dengan kekentalan sediaan yang paling baik terdapat pada konsentrasi 2,5 %.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK AIR DAUN AMNGGA BACANG (Mangifera foetida L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

No: 265 Antibakteri merupakan senyawa yang dapat menghambat bahkan membunuh bakteri. Staphylococcus aureus adalah bakteri patogen bagi manusia. Daun mangga bacang (Mangifera foetida) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mengandung mangiferin yang berpotensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak air daun mangga bacang, dan menguji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus serta menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram dan penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi padat. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% dan untuk kontrol positif digunakan amoxicillin 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun mangga bacang (Mangifera foetida) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi efektif yaitu pada konsentrasi 25% yaitu dengan diameter zona hambat sebesar 2,37 mm. Untuk nilai Konsentrasi Hambat Minimun (KHM) dalam penelitian ini belum dapat ditemukan karena pada masing-masing ekstrak air daun mangga bacang (Mangifera foetida) masih mengalami kekeruhan.

STUDI PENDAHULUAN IDENTIFIKASI SENYAWA (+)-2,2'-EPISITOSKIRIN A PADA URIN DAN FESES MENCIT JANTAN SEBAGAI HASIL METABOLISME DARI GALUR Deutch Democratic Yokohama

No: 255 Secara in vivo senyawa (+)-2,2’-Episitoskirin A dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di jaringan dan dapat mengurangi terbentuknya abses pada mencit putih jantan Deutch Democratic Yokohama dengan dosis 12,5 mg/Kg BB,sehingga berpotensi sebagai bahan obat baru serta mengalami beberapa proses didalam tubuh seperti metabolisme. Tujuan penelitian ini adalah sebagai studi pendahuluan untukmengidentifikasi senyawa (+)-2,2’-Episitoskirin A pada urin dan feses sebagai hasil metabolisme mencit putih jantanDeutch Democratic Yokohama. Mencit diberi suspensi (+)-2,2’-Episitoskirin A dalam CMC 1% dengan dosis 200 mg/Kg BB. Urin dan feses ditampung selama 7 hari dimaserasi dengan metanol.Analisis yang digunakan adalah analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel feses memberikan dua bercak yang berbedadengan kontrol feses pada analisis KLT. Bercak pertama mempunyai nilai Rf yang sama dengan standar (+)-2,2’-Episitoskirin A sementara bercak yang lain memiliki nilai rf yang berbeda, sehingga diduga merupakan hasil metabolisme (+)-2,2’-Episitoskirin A. Spot pertama dianalisis lebih lanjut dengan KCKT, menunjukkan adanya waktu retensi dan spektrum UV/Vis yang sama dengan standar (+)-2,2’-Episitoskirin A. Sebaliknya, sampel urin menunjukkan adanya senyawa yang memiliki waktu retensi dan spektrum UV/Vis yang sama dengan standar (+)-2,2’-Episitoskirin A, baik pada kontrol maupun sampel urin perlakuan. Sampel urin diduga mengandung senyawa (+)-2,2’-Episitoskirin A atau senyawa lain yang mirip dengan senyawa (+)-2,2’-Episitoskirin A yang juga terdapat pada kontrol urin.

UJI DAYA BERSIH EKSTRAK AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) PADA PERMUKAAN KACA DENGAN METODE CIP (CLEAN IN PLACE)

No: 195 Penggunaan deterjen yang berlebihan di industri farmasi membuat perubahan kondisi lingkungan diperairan kurang baik. Daunbinahong (Anrederacordiolia (Ten) steenis) mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antibakteri, tanaman daun binahong memiliki zat aktif flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan mikroba. Adanya senyawa senyawa aktif dalam ekstrak air daun binahong dapat dimanfaatkuntuk membuat produk seperti sabun ataudeterjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun binahong sebagai pembersih alami terhadap pengotor organiK dan mikroba. Pengujian ini dilakukan secara pembersihan permukaan dengan metode Clean in place (CIP). Potensi ekstrak air daun binahong berdasarkan peluruhan pengotor organik dan mikroba dipermukaan kaca. Persentase peluruhan pengotor organik oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 25%, 35% dan 42,05%. Persentase peluruhan mikroba oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 37,1%, 58,1% dan 69,25%. Berdasarkan uji statistik ANOVA aktivitas peluruhan pengotor organik pada permukaan kaca memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata antar perlakuan, sedangkan pada peluruhan mikroba dari permukaan kaca oleh ekstrak air daun binahong 15% dan 20% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan akuades, deterjen 2% dan ekstrak air 10%. Oleh karena itu, ekstrak air daun binahong 15% dan 20% paling efektif dalam peluruhan mikroba dipermukaan kaca pada uji pencucian dengan metode CIP.

ISOLASI DAN UJI ANTIBAKTERI METABOLIT BIOAKTIF KULTUR JAMUR ENDOFIT CIBP-13 DARI TUMBUHAN Cinnamomum burmannii TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 180 Jamur endofit kini banyak dieksplorasi sebagai alternative senyawa bioaktif karena kemampuannya menghasilkan metabolit yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Berdasarkan hasil skrining sebelumnya drai ekstrak kultur jamur endofit yang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang paling kuat adalah CIBP-13. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metabolit bioaktif sebagai antibakteri dari jamur endofit terpilih CIBP-13 yang berasosiasi dengan tumbuhan Cinnamomum burmanni serta mengetahui seberapa besar aktivitas antibakteri dari senyawa murni dengan menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Isolasi senyawa aktif dilakukan dengan metode mikrodilusi cair terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri senyawa murni F.2.44 memiliki nilai KHM terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sebesar 256 µg/mL, aktivitas senyawa ini lebih lemah dibandingkan dengan kontrol positif yang digunakan yaitu kloramfenikol yang memiliki nilai KHM terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sebesar 8 µg/mL