Sebanyak 42 item atau buku ditemukan

UJI DAYA BERSIH ESKTRAK AIR DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L) PADA PERMUKAAN MELAMIN DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 202 Peningkatan penggunaan deterjen di industri farmasi membua5 semakin banyak limbah surfaktan yang di hasilkan dari air pencucian oleh deterjen. Daun mengkudu (Morinda citrifolia L) meruoakan taaman yang memiliki zat aktif alkaloid, flavanoid, dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan antumikroba. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensu daya bersih ekstrak air daun mengkudu sebagai pembersih alami yang lebih ramah lingkungan dalam membersihkan pengotor organik pada permukaan melamin. Metode pembersihan yang di gunakan adalah Clean In Place (CIP) dengan bahan pembersih berupa larutan deterjen dengab konsentrasi 2%, aquades dan ekstrak air daun mengkudu yang telah diekstraksi secara seduhan dengan konsentrasi sebesar 10%, 15%, 20%. Parameter daya bersih berupa peluruhan mikroba dalam air pencucian permukaan melamin pada panjang gelombang 490 nm menggunakan microolate reader. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% mempunyai aktivitas pembersihan terhadap permukaan melamin, dengan nilai presentase berturut-turut sebesar 19.3%, 35.85%, dan 115.4% dibandingkan dengan deterjen dan aquades yaitu berturut-turut sebesar -5.75% dan -8.35%. Aktivitas pembersihan tertinggi dari kelima perlakuan ini adalah ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 29% yang berbeda nyata (p<0.05) dengan perlakuan lain.

OPTIMASI PROSES PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus epidermis DENGAN EKSTRAK AIR DAUN PEPAYA (Carica papaya L.)

No: 199 Biofilm Staphylococcus epidermidis menyebabkan peningkatan kesulitan pengendalian penyakit. Ekstrak air daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung saponin dan enzim papain yang mempunyai kemampuan seperti bahan pembersih sehingga diharapkan dapat membersihkan biofilm.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zat aktif yang terkandung dalam ekstrak air daun pepaya dan menguji aktivitas ekstrak dalam membersihkan biofilm S. epidermidis serta menentukan kondisi optimum proses pembersihan biofilm oleh ekstrak air daun pepaya.Kandungan zat aktif dalam ekstrak air daun pepaya dianalisis dengan metode uji fitokimia dan kondisi optimum proses pembersihan biofilm ditetapkan dengan Microtiter Plate Biofilm Assay dan Respon Surface berdasarkan pada suhu, konsentrasi ekstrak dan waktu kontak ekstrak pada biofilmS. epidermidis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun pepaya mengandung saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin. Kondisi optimum untuk pembersihan biofilmS. epidermidis berada pada konsentrasi ekstrak 1%, suhu 45°C dan waktu kontak ekstrak 60 menit. Persentase degradasi biofilm oleh ekstrak air daun pepaya sebesar 60.78%. Persentase degradasi biofilm oleh bioremTM (pembersih biofilm) dengan konsentrasi 0.3%, suhu 45°C dan waktu kontak 30 menit yaitu sebesar 45.59%.

UJI KEBOCORAN SEL Mycobacterium smegmatis OLEH EKSTRAK n-HEKSANA BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC)

No: 189 Di Indonesia setiap tahunnya kasus tuberkulosis paru bertambah seperempat juta kasus baru dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya, Indonesia termasuk 10 negara tertinggi penderita kasus tuberkulosis paru di dunia. Sebagai rempah, Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) memliki keistimewaan bahwa masakan khas batak yang menggunakan Andaliman umumnya memiliki daya awet yang lebih lama, oleh karena itu Andaliman diduga mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas antimikobakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kerja antimikobakteri dari ekstrak n-Heksana buah Andaliman salah satunya merusak membran sel mikobakteri Mycobacterium smegmatis. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan n-Heksana dan dilakukan evaporasi untuk mendapatkan ekstrak kental, ekstrak tersebut kemudian digunakan untuk pengujian aktivitas antimikobakteri yaitu difusi zona hambat dengan hasil terbentuknya zona bening pada keseluruhan media dan metode dilusi MTT (Methylthiazol Tetrazolium) terhadap sel uji dengan hasil konsentrasi hambat minimum (KHM) 0,125 µl/ml. Kerusakan membran sel Mycobacterium smegmatis dapat diidentifikasi dengan adanya kebocoran ion Na+ dan K+ menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometre), dengan hasil konsentrasi tertinggi terhadap kebocoran ion Na+ dan K+ pada ekstrak uji yaitu 2,213833 dan 43,076700 pada masa inkubasi 3 hari; hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Kemudian mengamati morfologi kerusakan sel Mycobacterium smegmatis dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) SU3500 perbesaran 10.000x. hasil interaksi ekstrak uji dengan sel menunjukan adanya kerusakan sel ditandai adanya sel pecah dan mengkerut, tidak halnya seperti kontrol.

UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI HASIL FRAKSINASI EKSTRAK ETANOL DAUN MURBEI (Morus alba L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 186 Morus alba (L) yang dikenal denga tanaman murbei adalah tanaman obat yang teklah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti antimalaria, gangguan saluran cerna, antiflamasi. tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibakteri dari fraksi heksana, etil asetat dan air dari ekstrak etanol 70 % terhadap bakteri terhadap bakteri Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70 %. Kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi ekstrak etanol 70 % dengan menggunakan pelarut heksana, etil, asetat dan air. Setelah itu dilakukan pengujian KLT dari fraksi tersebut pada pengukuran sinar UV ג 254 nm pada sampel standar didapat nilai Rf 0,85, sedangkan pada sinar UV ג 366 nm untuk sampel fraksi heksan dengan nilai Rf 0,70 dan 0,55, fraksi etil asetat dengan nilai Rf 0,56 dan fraksi air 0,39 dan 0,56. Kemudian dilakukan Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun murbei. Hasil Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun alkaloid, tanin, flavonoid, steroid dan saponin. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya pada berbagai konsentrasi yaitu 1250, 2500, 5000 dan 10000 ppm dengan menggunakan metode difusi agar pada kertas cakram dengan kontrol positif kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fraksi air pada konsentrasi 10000 ppm dengan menghasilkan adanya zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus sebesar 6,76 mm, hal ini menunjukkan bahwa daya hambatnya tergolong sedang. Namun tidak terjadi penghambatan terhadap bakteri Escherichia coli.

PENETAPN KADAR TOTAL FENOL DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIK KERING KAYU MANIS (Cinnamomum sp.)

No: 170 Tanaman kayu manis (Cinnamomum sp.) merupakan tanaman rempah memiliki khasiat dalam mengobati tekanan darah tinggi, batuk, asam urat, dan diare serta digunakan dalam industry makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika dan rokok kretek. Kayu manis memilki kandungan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari penyakit yang disebabkan oleh peristiwa oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total fenol dan aktivitas antioksidan yang dimiliki oleh kayu manis. Kayu manis memiliki antara lain 2 jenis varietas yaitu Kayu Mnais Cina (Cinnamomum cassia) dan Kayu Manis Padang (Cinnamomum burmanii). Penelitian dilakukan dengan penentuan kadar total fenol dan uji aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit kering kayu manis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visible. Penentuan kadar total fenol terhadap Sampel Kayu Manis Cina dan Kayu manis Padang menggunakan metode Folin-Ciocalteu yang dihitung sebagai asam tanat dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penentuan kadar total fenol menunjukkan bahwa pada kandungan total fenol yang dihitung sebagai asam tanat pada ekstrak kulit kering Kayu Manis Cina sebesar 10,16% b/b dan Kayu Manis Padang sebesar 3,70% b/b, sedangkan aktivitas antioksidan dengan nilai 1C50 terhadap DPPH pada konsentrasi ekstrak Kayu Manis Cina sejulmah 20,40 ppm dan Kayu Manis Padang sejumlah 9,47 ppm. Hubungan kadar total fenol dengan aktivitas antioksidan pada suatu sampel kayu manis adalah semakin tinggi total fenol maka semakin kuat aktivitas antioksidannya

UJI UV PROTECTION LOSION SECARA IN VITRO BERBASIS DAUN GAMBIR

No: 169 Daun gambir mengandung banyak senyawa polifenol. Ekstrak daun gambir diformulasikan menjadi losion yang masing-masing dibedakan konsentrasi kandungan ekstrak daun gambir control; 0,25%, dan 1 %. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ketiga losion tersebut. Kemampuan losion yang mengandung ekstrak daun gambir sebagai tabir surya diukur dengan menentukan nilai SPF (Sun Protection Factor) sediaan secara in vitro menggunkan spektrofotometer uv-vis. Hasil uji kestabilan menunjukkan losion control; 0,25%; 0,5%, dan 1% memiliki kestabilan fisik yang cukup baik. Penentuan nilai SPF losion menunjukkan bahwa losion memiliki nilai SPF yang dihasilkan meningkat sesuai dengan jumlah penambahan ektrak daun gambir pada maisng-masing konsentrasi 0,25%; 0,5%, dan 1% secara berturut-turut nilai SPF dan nilai pH yang diperoleh 7,01; 12,45 dan 26,55; nilai pH tabir surya 6,93; 5,62 dan 5,55

UJI ANTI FUNGI PROPOLIS DAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR TERHADAP KAPANG Trichophyton mentagrophyte DAN Trichopyhton verrucosum SECARA IN VITRO

No: 159 Propolis dan ekstrak etanol kencur memegang peranan yang amat penting dalam industry obat tradisional karena mempunyai variasi pengobatan yang dihasilkan, kandungan senyawa propolis dan ekstrak kencur diduga memiliki daya antifungsi terhadap kapang Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum. Tujuan dari peneliotian ini adalah untuk mengetahui kemampuan propolis dan ekstrak etanol kencur untuk menghambat kapang Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Diameter Daerah Hambat (DDH) yang mampu menghambat pertumbuhan kapang. Propolis dan ekstrak etanol kencur yang digunakan dibagi beberapa kadar persentase. Pengujian ini juga dilakukan terhadap ketokonazol yang digunakan sebagai control positif. Hasil menunjukkan bahwa dari propolis dan ekstrak etanol kencur dapat menghambat pertumbuhan kapang Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosu. Dengan demikian propolis dan ekstrak etanol kencur dapat mengobati kapang Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum.

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) YANG MENGANDUNG SENYAWA POLISAKARIDA

No: 155 Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu bahan pangan fungsional yang mempunyai kandungan gizi tinggi dan senyawa polisakarida yang bersifat antimikroba dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antimikroba dan aktivitas antioksidan ekstrak jamur tiram putih yang mengandung senyawa polisakarida. Jamur tiram putih diekstraksi dengan metode meserasi 3 kali 24 jam. Maserat dipekatkan dengan penguap putar (Rotary evaporator). Ekstrak tersebut setelah dilakukan uji kuantitatif dengan metode asam fenol sulfat diperoleh konsentrasi polisakarida sebanyak 31,70%. Larutan polisakarida tersebut kemudian digunakan untuk melakukan uji aktivitas antimikroba dan antioksidan. Pada uji aktivitas antimikroba digunakan kloramfenikol 30 µg dan nistatin 100 µg sebagai kontrol positif untuk bakteri dan yeast. Zona hambat hasil uji aktivitas antimikroba terhadap mikroba Basillus subtilis dan Escherichia coli berturut-turut sebesar 13.5 mm dan 12 mm sedangkan untuk Candida tropicalis tidak terbentuk zona hambat. Hasil uji aktivitas antioksidan ditandai dngan persentase sisa pemucatan warna ß-karoten. Hasil persentase sisa pemucatan senyawa polisakarida adalah 96,43%. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan nilai yang diperoleh dari senyawa polisakarida adalah 96,43%. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan nilai yang diperoleh dari senyawa Butil Hidroksi Toluena (BHT) sebagai kontrol positif sebesar 92,73%

UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME OLEH EKSTRAK BERAS FERMENTASI Monascus purpureus TST

No: 126 Angkak merupakan hasil fermentasi beras oleh kapang Monascus purpureus. Angkak mengandung senyawa aktif yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari kapang Monascus purpureus, salah satu senyawa tersebut adalah senyawa GABA (Gamma-aminobutyric acid), yaitu senyawa aktif yang bersifat hipotensif yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Oleh karena itu digunakan sebagai penghambat ACE (Angiotensin converting enzyme). Pengahmbatan ACE merupakan salah satu mekanisme antihipertensi yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak beras fermentasi Monascus purpureus TST sebagai penghasil senyawa antihipertensi melalui aktivitas penghambatan ACE. Pengukuran aktivitas penghambatan ACE dilakukan dengan menggunakan substrat enzim ACE yaitu substrat N-Hippuril-L-histidyl-L-leucine hydrate yang terhidrolisis menjadi N-hippuric acid dan L-histidyl-L-leucine yang diukur secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometri. Sampel penghambat ACE yang diuji aktivitas penghambatannya terdiri atas GABA murni (gamma aminobutyric acid) sebagai kontrol positif, ekstrak TST yang diperoleh dari fermentasi beras dan kapang M. purpureus, dan campuran antara ekstrak TST dan GABA murni. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak TST dari hasil fermentasi beras dengan kapang Monascus purpureus dapat menghasilkan senyawa aktif GABA yang berpotensi sebagai penghambat ACE yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi sehingga dapat digunakan untuk terapi hipertensi. Dengan mempunyai_nilai aktivitas penghambat ACE sebesar 209.14%.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 118 Telah dilakukan uji aktivitas ekstrak bawang putih (A//ium sativum) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak serbuk bawang putih, serbuk bawang putih komersial dan bawang putih segar yang dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan air. Kontrol positif yang digunakan yaitu amoksisilin. Semua ekstrak dianalisis menggunakan GC-MS dan hasil analisis dengan kadar allicin dan senyawa turunannya yang dominan dilanjutkan pada pengujian penentuan kadar hambat minimum dan diameter daerah hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih segar dengan pelarut etanol 70% memiliki kadar allicin dan senyawa turunannya paling banyak. Ekstrak tersebut memiliki kadar hambat minimum pada konsentrasi 35% untuk bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sedangkan untuk amoksisilin pada konsentrasi 0,05%. Ekstrak bawang putih segar pelarut etanol 70% memiliki aktivitas hambatan pada bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus berturut-turut sebesar 4085,3 mm?/ml dan 3938,08 mm’/ml yang berbeda nyata dengan amoksisilin.