Sebanyak 9 item atau buku ditemukan

PRODUKSI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSOPOLISAKARIDA DARI Lactobacillus plantarum PADA MEDIUM KULTUR MRS DAN LIMBAH KEJU (WHEY)

No: 351 Bakteri asam laktat (BAL) yang bersifat probiotik seperti Lactobacillus plantarum, memiliki kemampuan menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berfungsi sebagai antioksidan. Whey merupakan limbah produksi keju yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber karbon oleh mikroba karena Whey mengandung laktosa dalam jumlah yang banyak. Whey berpotensi sebagai media fermentasi bakteri Lactobacillus plantarum untuk memproduksi eksopolisakarida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah keju (Whey) pada media fermentasi untuk memproduksi eksopolisakarida dan menguji potensi antioksidanya dengan menentukan nilai IC50. Penambahan Whey dalam medium deMan Rogosa Sharpe (MRS) diberikan dalam konsentrasi 0, 25, 50, 75 dan 100%, kemudian bakteri Lactobacillus plantarum difermentasi untuk menghasilkan eksopolisakarida. Pengujian potensi antioksidan EPS menggunakan metode DPPH dan karakterisasi EPS menggunakan Fourier Transform Infra Red (FT-IR) untuk mengetahui gugus fungsi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nyata dari pemberian konsentari Whey dalam media fermentasi yang berbeda terhadap eksopolisakarida yang diperoleh, dengan produksi eksopolisakarida dan aktivitasnya yang terbaik menggunakan media 50% Whey (52,667 gram). Aktivitas antioksidan yang didapat dari eksopolisakarida kasar dan fraksinasi memiliki nilai IC50 berturut-turut sebesar 67,08 μg/ml dan 51,57 μg/ml, sehingga semua EPS memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Karakterisasi eksopolisakarida menunjukkan memiliki gugus fungsi mirip dengan pembanding (monomer glukan).

OPTIMASI PRODUKSI EKSOPOLISAKARIDA DARI Lactobacillus fermentum DAN Leuconostoc mesenteroides PADA MEDIA LIMBAH KEJU (WHEY) SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIMIKROBA

No: 278 Eksopolisakarida (EPS) diproduksi oleh bakteri asam laktat. EPS merupakan polimer gula pereduksi dengan berat molekul tinggi yang disekresikan oleh mikroorganisme ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang optimum untuk produksi EPS dari Lactobacillus fermentum dan Leuconostoc mesenteroides pada media MRS yang mengandung whey. EPS diuji potensi sebagai senyawa antimikroba. EPS dianalisis kandungan glukosa dan proteinnya. Optimasi produksi EPS Lf digunakan media 100% whey (5,733 gram). Optimasi produksi EPS Lm digunakan media 75% whey (8,167 gram). Pada konsentrasi 10.000 ppm EPS Lf menunjukkan aktivitas antimikroba tertinggi terhadap Staphylococcus aureus (4,27 mm) sementara terhadap Candida albicans pada konsentrasi 5.000 ppm (3,30 mm). Pada konsentrasi 10.000 ppm EPS Lm terhadap Staphylococcus aureus (4.11 mm). Dengan demikian, EPS dari Lactobacillus fermentum dan Leuconostoc mesenteroides memiliki aktivitas antimikroba dengan kategori lemah.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KARAKTERISTIK EKSOPOLISAKARIDA BAKTERI ASAM LAKTAT DARI PRODUK FERMENTASI

No: 181 Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang mampu menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berfungsi sebagai antioksidan. Secara alami antioksidan sangat besar peranannya bagi manusia untuk mencegah terjadinya penyakit dengan melindungi sel dari kerusakan akibat proses oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi antioksidan EPS. Dari isolate BAL dan mengkarakterisasi monomer senyawa EPS tersebut. Metode untuk menguji antioksidan EPS menggunakan metode DPPH, dan untuk mengkarakterisasi monomer penyusun EPS tersebut menggunakan KLT dan KCKT. Eksopolisakarida diproduksi oleh tiga isolat BAL yang diisolasi dari produk fermentasi adalah EPS S1, EPS S2 dan EPS S7. Hasil penelitian menunjukkan EPS dari tiga isolat BAL tersebut memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 88.95 ppm, dan 84.54 ppm, sehingga semua EPS tersebut mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat, sesuai dengan aktivitas antioksidan vitamin C. hasil KLT dari EPS S1, S2 dan S& hanya terdapat 1 noda dengan nilai Rf sebesar 0.753 yang sesuai dengan nili Rf standar glukosa. Karakterisasi EPS S1, S2 dan S7 adalah tergolong homopolisakarida dengan monomernya adalah glukosa, dan kadar monomer glukosa pada EPS-EPS tersebut berturut-turut adalah 34.82%, 61,91% dan 76.38%

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSOPOLISAKARIDA BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN ANALISIS MONOMER DENGAN KCKT

No: 156 Ekspolisakarida (EPS) adalah produk metabolit sekunder berupa polisakarida yang disekresikan keluar sel mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, dan alga. Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang dapat menghasilkan ekspolisakarida yang dapat menempel padac mukosa usus halus sehingga meningkatkan kemampuan untuk menekan pertumbuhan bakteri pathogen. Penelitian ini menguji potensi antimikroba dari EPS. Eksopolisakarida ini diproduksi oleh tiga isolate BAL yang diisolasi dari produk fermentasi komersial yaitu EPS-S1, S2 dan EPS-EPS-S7. Uji aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi agar dengan menggunakan bakteri Gram-negatif Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Shigella sp, bakteri Gram-positif Staphylococcus aureus, dan khamir Candida albicans. Antibiotik Kloramfenikol dan nistatin digunakan sebagai control positif. Hasil penelitian menunjukkan EPS dari tiga isolat bakteri asam laktat menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap semua mikroba pathogen yang diuji. EPS-S2 yang diisolasi dari yoghurt (Jakarta) menunjukkan aktivitas antimikroba tertinggi terhadap Staphylococcus aureus (6,77 mm), EPS-S7 yang diisolasi dari keju mozzarella (Jakarta) terhadap Staphylococcus aureus (5,90 mm). komposisi monomer EPS yang dianalisis menggunakan KCKT menunjukkan bahwa EPS-S2 mengandung glukosa

IDENTIFIKASI SENYAWA LUTEIN DARI KEMBANG KOL (Brassica oleracea L.cv.groups cauliflower) DAN UJI POTENSI ANTOKSIDAN DENGAN METODE ABTS

No: 142 Antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, salah satu tanaman yang memiliki antioksidan adalah kembang kol (Brassica Oleracea L.cv.groups cauliflower). Kembang kol merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki kandungan karotenoid yang bersifat antioksidan, Salah satu jenis karotenoid yang penting adalah lutein. Lutein memiliki aktivitas antioksidan yang dapat melindungi sel-sel terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Akumulasi radikal bebas dapat disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, makanan yang banyak mengandung lemak, radiasi sinar ultraviolet dan obat-obatan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi dan mengidentifikasi senyawa lutein dari kembang kol dan menentukan potensi antioksidan yang diuji aktivitasnya menggunakan metode ABTS (Asam _ 2,2’-Azino-bis-3-etilbenzatiazolin-6- sulfonat), yang diukur dengan spektofotometer UV-Vis. Nilai 1Cso kembang kol yang didapat sebesar 47,798y2/ml dan untuk vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 17,280ug/ml. Hasil analisis kualitatif terhadap ekstrak lutein dengan KLT diperoleh nilai Rf sebesar 0,68. Kemudian dilakukan jidentifikasi lutein menggunakan KCKT yang menunjukan terdapatnya senyawa lutein pada ekstrak kembang kol pada waktu retensi 1,3 menit sesuai dengan baku pembanding lutein. Uji toksisitas metode BSLT menggunakan larva udang artemia salina pengujian terhadap ekstrak kembang kol menunjukkan harga LCso sebesar 1056,208 ug/mL hasil ini bersifat tidak toksik terhadap Artemia salina Leach sehingga tidak memiliki potensi toksisitas menurut metode BSLT.

BIOKONVERSI D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA OLEH ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE dan MUTAN V472L DARI Geobacillus stearothermophilus

No: 134 Diabetes melitus merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan terjadinya penyakit lain (komplikasi). Tagatosa sebagai antidiabetes akan bermanfaat sebagai gula altematif karena memiliki tingkat kemanisan 92% dibandingkan sukrosa dan telah diproduksi secara biologi katalis biologis (enzim). Enzim yang saat ini paling banyak dicari untuk memproduksi tagatosa adalah Enzim Arabinosa Isomerase (AJ), yaitu yang mengkatalisis secara reversible reaksi isomerisasi D-galaktosa menjadi D-tagatosa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan enzim muri serta menguji stabilitas enzim Wild Type dan mutan V472L mumi pada berbagai pH dan suhu dengan elektroforesis SDS-PAGE dan spektrofotometn UV-VIS. Pengubahan galaktosa menjadi tagatosa telah dilakukan dengan menggunakan enzim L-AI yang lebih murni diujikan dengan larutan uji aktivitas 10 mM karbazol 45 pl, 100 mM L-cystein 45 pl, dan 9 M H2SO, 1.350 pl campuran reaksi enzim diuji secara spektrofotometn. Hasil pengukuran dengan spektrofotometer menunjukan enzim Wild Type dan V472L yang memiliki nilai aktivitas tinggi yang dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa dan ditentukan absorbansi tagatosa. Enzim Wild Type dan V472L pada pH 7 memiliki nilai aktivitas tertinggi sebesar 277,778 U/ml dan 458.889 U/ml dan memiliki nilai aktivitas tertinggi pada suhu 50°C. sebesar 236,667 U/ml dan 388,333 U/ml. Diduga kedua enzim tersebut dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa sebagai pemanis rendah kaloni.

PRODUKSI ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE DAN MUTAN Q269K DARI Geobacillus stearotermophilus UNTUK MENGUBAH D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA

No: 128 Tagatosa merupakan salah satu pemanis alternatif untuk menggantikanpemanis yang biasa dikonsumsi dengan kemanisan yang mirip dengan sukrosa, namun rendah kalori, dan memiliki efek glikemia yang sangat kecil dalam darah. Tagatosa di buat dengan cara mengkonversi dari galaktosa oleh enzim L- Arabinosa Isomerase (L-Al) yang diperoleh dari bakteri Geobacillus stearotermophilus. Pengembangan lain adalah modifikasi dari enzim L-AI dengan harapan diperoleh tagatosa lebih banyak dibandingkan dengan enzim L-Al murni. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan enzim L-AI Wild Type (murni) dengan L-AI modifikasi (Q269K) dari E.coli yang berasal dari Tanjung Api, Poso. Perbandingan ini didasarkan pada aktivitas enzim pada suhu dan pH optimum dari masing-masing enzim. Aktivitas enzim = diukur dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 560 nm. Hasil dari L-AI Wild Type menunjukkan pH optimum 7 dan suhu optimum 50°C, sedangkan L-AI Q269K menunjukkan pH optimum 9 dan suhu optimum 90°C. Aktivitas enzim yang berdasarkan pada pH optimum dari L-Al Wild Type dan L-AI Q269K berturut-turut sebesar 277.778 U/ml dan 714.444 U/ml. Sedangkan aktivitas enzim yang berdasarkan pada suhu optimum dari L-Al Wild Type dan L-Al Q269K berturut-turut sebesar 236.667 U/ml dan 1312.222 U/ml. Hasil menunjukkan pada pH dan suhu optimum aktivitas enzim tertinggi yaitu enzim L- AI Q269K. Berdasarkan perhitungan aktivitas ketebalan pita dengan metode Bradford Wild Type dan mutan Q269K didapatkan konsentrasi protein sebesar 0.606 mg/ml.

EFEK tert-BUTIL HIDROPEROKSIDA DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LUTEIN DARI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) YANG DIUJI SECARA IN VITRO

No: 127 Tanaman seledri memiliki banyak khasiat, diantaranya untuk pengobatan tekanan darah tinggi dan rematik (gout). Sebagian masyarakat belum mengetahui ada senyawa dari tanaman seledri yang berpotensi sebagai antioksidan, khususnya senyawa lutein. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara in vitro aktivitas antioksidan senyawa lutein dari tanaman seledri yang ditanam di desa Tarigu, Cipanas-Jawa Barat. Ekstraksi dilakukan dengan mengekstraksi bagian batang dan daun tanaman seledri dengan cara maserasi dan digestasi menggunakan pelarut heksana dan isopropanol. Ekstraksi dengan heksana dilakukan pada suhu ruang selama 48 jam, dan digestasi dengan isopropanol dilakukan pada suhu 50°C selama 1 jam. Selanjutnya dilakukan saponifikasi dengan natrium hidroksida dan dilakukan pencucian dengan air sebanyak dua kali pengulangan serta diuapkan hingga didapat ekstrak lutein dalam bentuk kristal berwarna kuning. Pengujian antioksidan dilakukan secara in vitro pada sel darah domba yang diinduksi dengan berbagai konsentrasi tersier-Butil Hidroperoksida (t-BHP), kemudian dilakukan pengukuran kadar malondialdehida (MDA), aktivitas enzim katalase dan superoksida dismutase (SOD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman seledri yang ditanam di desa Tarigu, Cipanas-Jawa Barat mengandung senyawa lutein dan berfungsi sebagai antioksidan. Konsentrasi oksidan tert-Butil Hidroperoksida (t-BHP) 5-10 mM memberikan efek terhadap aktivitas antioksidan lutein (20 g/mL) dengan penurunan kadar malondialdehida (MDA) dan peningkatan aktivitas enzim katalase. Tetap1 peningkatan aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) terjadi setelah sel darah diinduksi oksidan t-BHP konsentrasi 5 mM.

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN PADA BUNGA BROKOLI (Brassica poleracea L.cv. Groups Brocolli) DENGAN METODE ABTS

No: 117 Aktivitas antioksidan sangat penting untuk melindungi tubuh kita dan radikal bebas. Jenis sayuran hijau seperti brokoli mempunyai kandungan senyawa galoxolide yang tinggi berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi senyawa aktif dari bunga brokoli, dan mengevaluasi lebih lanjut potensi antioksidan dengan menggunakan asam 2,2’-azino-bis-3-etilbenztiazolin-6-sulfonat (ABTS). Ekstraksi serbuk bunga _ brokoli menggunakan n-heksan sebagai pelarutnya. Ekstrak heksan selanjutnya diidentifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Gas Chromatography Mass Spectrophotometry (GC-MS). Hasil KLT ekstrak heksan bunga brokoli teridentifikasi dengan nilai Rf sebesar 0,68 cm, dan pada hasil GC-MS menunjukkan bahwa senyawa yang terdeteksi memiliki aktivitas antioksidan adalah senyawa galoxolide. Hasil uji potensi antioksidan ekstrak heksan dan bunga brokoli menunjukkan kemampuan daya antioksidan yang sangat tinggi dengan nilai ICs59 57,17 ppm.