Sebanyak 4 item atau buku ditemukan

PERBANDINGAN OUTCOME PENGGUNAAN OBAT PHENYTOIN, ASAM VALPROAT, DAN CARBAMAZEPIN PADA PASIEN EPILEPSI RAWAT JALAN DIKLINIK NEUROLOGI RS Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2015

No: 331 Epilepsi adalah serangan yang terjadi tiba – tiba dan berulang disebabkan oleh lepas muatan listrik kortikal secara berlebihan, dan merupakan penyakit kronis dibidang neurologi. Epilepsi bisa terjadi pada pria dan wanita dan pada semua umur. Phenytoin termasuk golongan obat antiepilepsi yang digunakan untuk mengobati penyakit epilepsi. Asam Valproat merupakan obat antiepilepsi yang bisa digunakan pada semua tipe epilepsi, terutama pada epilepsi umum yang idiopatik. Carbamazepin efektif terhadap bangkitan tonik-klonik, dan untuk semua jenis epilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan Outcome penggunaan Phenytoin, Asam Valproat, dan Carbamazepin yang dilihat dari frekuensi kejang, dan ketepatan dosis selama 6 bulan, yang dilakukan secara retrospektif pada pasien usia 13 sampai dengan 24 tahun di rawat jalan klinik neurologi RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, yang dianalisi secara deskriptip dan uji Kruskall Wallis H. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 81 pasin. Pasien yang mendapat terapi Phenytoin 16,05% bebas kejang dan 33,33% masih kejang, terapi Asam Valproat 6,17% bebas kejang dan 20,98% masih kejang, dan terapi Carbamazepin 8,65% bebas kejang dan 14,83% masih kejang. Ketepatan dosis yang diterima pasien telah sesuai dengan panduan dosis obat antiepilepsi. Perbandingan outcome pengunaan obat Phenytoin tidak berbeda nyata dengan pengunaan obat Asam Valproat, dan Carbamazepin.

EFEKTIVITAS FLUOXETIN DIBANDINGKAN DENGAN SERTRALIN PADA GANGGUAN JIWA DEPRESI DI RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 261 Gangguan jiwa depresi merupakan penyakit mental yang mempengaruhi mood,fisik, dan perilaku seseorang.Dalam pengobatan depresi secara farmakologi antidepresi golongan SSRI menjadi pilihan lini pertama karena hanya mengambil serotonin secara spesifik.Obat golongan SSRI yang direkomendasikan oleh DepKes RI yaitu Setralin dan Fluoxetin.Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas terapi antidepresi sertralin dibandingkan dengan fluoxetine pada pasien gangguan jiwa depresi di RS.Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor selama periode Januari 2013 sampai dengan Juni 2015.Efektivitas kedua obat tersebut dapat diketahui dari lama terapi pasien gangguan jiwa depresi.kemudian dianalisi secara deskriptif dan uji anova. Data yang diteliti sebanyak 59sampel.Dari analisis data yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut pasien dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 52% dan pasien laki-laki sebanyak 48%.Berdasarkan pekerjaan, sebagai ibu rumah tangga 45%, swasta 27%, PNS 11%, pensiunan5%, dan yang tidak bekerja 5%.Pasien dengan terapi sertraline 14% dan fluoxetine 86%. H0 akan diterima jika H0 ditolak, jika P value ≤ α ; α = 0,05 dan H0 diterima, jika P value > α ; α = 0,05. Pada rawat jalan P value = 0,791 > 0,05. artinya H0 diterima lalu pada rawat inap P value = 0,410 > 0,05. Artinya H0 diterima. Perbandingan lama pengobatan rawat jalan dan rawat inap pasien gangguan jiwa depresi dengan terapi sertraline tidak berbeda nyata dengan lama pengobatan rawat jalan dan rawat inap pasien gangguan jiwa depresi dengan terapi antidepresi fluoxetine.

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA ISPA DI INSTALASI RAWAT JALAN RS DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 108 Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam memerangi infeksi yang ditimbulkan oleh kuman. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit akut yang menyerang salah satu bagian dari atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah). Penggunaan antibiotic pada anak cukup tinggi pada terapi ISPA, baik ISPA atas maupun ISPA bawah. Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antibiotik. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diberikan untuk mengatasi penyakit tersebut. Penelitian ini merupakan studi deskriptif non-analitik. Data diambil secara retrospektif di Instalasi rawat jalan RS. DR. H. Marzoeki mahdi Bogor periode Januari-Desember 2012 terhadap data sekunder berupa rekam medis pasien anak serta resep, diperoleh 54 pasien untuk di analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 81,48% pasien terkena ISPA, 14,81% pasien menderita faringitis akut, dan 3,70% pasien menderita otitis media akut. Penggunaan antibiotik terbanyak menurut golongan adalah golongan sefalosporin 91,30 % dan golongan makrolid yaitu eritromisin sebesar 8,69 %. Bentuk sediaan yang digunakan lebih banyak dalam bentuk sediaan sirup sebesar 52,17% dalam bentuk sediaan tablet sebesar 47,82%. Untuk dosis antibiotik sekitar 56,52% rasional dan 43,47% kurang rasional 30,43% pemberian antibiotik dengan dosis melebihi dosis maksimal untuk sehari, dan 13,04% pemberian antibiotik dengan dosis kurang dari dosis maksimal untuk sehari. Kesesuaian lama penggunaan antibiotik menunjukkan hasil pemakaian minimal selama 5 hari sebesar 21,73%, dan untuk pemakaian hingga 10 hari sebesar 65,21%, sisanya sebesar 13,04% dengan lama penggunaan kurang dari 5 hari.