Sebanyak 11 item atau buku ditemukan

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT DEMAM BERDARAH PADA PASIEN RAWAT INAP ANAK DI RSUD SEKARWANGI SUKABUMI PERIODE MARET 2014 SAMPAI DENGAN FEBRUARI 2015

No: 232 Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga Aedes Albopictus yang terutama menyerang anak – anak. Telah dilakukan penelitian terapi DBD pada pasien anak di Instalasi Rawat Inap RSUD Sekarwangi periode Maret 2014 sampai Februari 2015 secara retrospektif dan datanya dianalisis secara deksriprif. Data yang diteliti sebanyak 58 pasien. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa DBD banyak menyerang pada anak usia 6-11 tahun (47%) dan lebih banyak menyerang laki-laki (53%) dari pada perempuan (47%). Jenis obat yang digunakan meliputi terapi cairan (100%) dan yang paling banyak digunakan adalah Ringer Laktat (71%), analgetik antipiretik (87%), antibiotik (8%), obat saluran cerna (92%), homeostatik (4%), vitamin (41%), tranquilizer (2%), kortikosteroid(4%) dan golongan lain (4%). Penggunaan antibiotik dalam terapi DBD sebetulnya tidak dianjurkan karena DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Evaluasi ketepatan dosis menunjukkan ketepatan dosis terapi cairan (97%), analgetik antipiretik , antibiotik , obat saluran cerna obat, vitamin, transquilizer, dan obat golongan lain (100%) sesuai ketentuan. Frekuensi pemberian obat semuanya adalah sesuai ketentuan.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2013 SAMPAI DESEMBER 2014

No: 206 Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak-anak maupun balita.Salah satu ISPA bawah yaitu bronkopneumonia.Bronkopneumonia merupakan infeksi saluran napas bawah yang menyebabkan paru-paru meradang sehingga alveoli dipenuhi nanah dan menyebabkan kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Nasional tahun 2011, diketahui bahwa pneumonia menjadi penyebab kematian balita tertinggi (22,8%). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia balita.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkopneumonia banyak terjadi pada usia >2 tahun – 3 tahun yaitu 38,77% dengan jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki 52,04% dan berat badan bronkopneumonia balita masuk kategori normal sebesar 100%. Tanda dan gejala pasien bronkopneumonia terbanyak yaitu napas cepat sebesar 100%, diikuti batuk 98,97%, nyeri dada 73,47%, panas 61,22%, pilek 57,14%, sesak 40,82%, wheezing30,61%, dan sariawan 12,42%. Penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah amoksisilin 53,05%. Ketepatan indikasi mencapai 90,82%, ketepatan dosis antibiotik amoksisilin, eritromisin, dan kloramfenikol mencapai 100%, namun kotrimoksazol hanya 70,58%. Ketepatan regimen 100%. Lama penggunaan obat dengan waktu 5-12 hari mencapai 61,33%, sedangkan lama penggunaan obat dengan waktu kurang dari 5 hari sebesar 38,67

EFEK PENINGKATAN KADAR ALBUMIN DARAH DENGAN PEMBERIAN ALBUMIN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 201 Gagal ginjal kronik merupakan suatu proses patofisiologis dengab etiologi yang beragam mengakibatkan fungsi ginjal secara progresif dan ireversibel dalam berbagai periode waktu, dari beberaoa bulan hingga beberaoa dekade. Penderita gagal ginjal kronik mempunyai kadar albumin darah rendah. Dan salah satu terapi yang di berikan yaitu dengab pemberian infus albunim karena dapat meningkatkan kadar albunim dalam tubuh. Telah dilakukan oenelitian untuk mengetahui dosis infus albunim yang di berikan,mengetahui peningkatan kadar albumin yang dapat di capai, dan mengetahui profil pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia di RS PMI Bogor periode januari - desember 2014 berdasarkan penjamin biaya. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian di analis secara deskriptif. Data yang di teliti sebanyak 54 sampel. Dari analisis data yang dilakukan dioeroleh hasil sebagai berikut berdasarkan usia menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia terbanyak berusia 56-65 tahun yakni sebesar 29,63%. Berdasarkan stadium diagnosis gagal ginjal kronik menunjukkan stadium terbanyak yaitu stadium 3 sebanyak 17 pasien (31,48%). Berdasarkan dosis pemberian infus albumin, kenaikan kenaikan kadar albumin tertinggi yang di capai yaitu dengab pemberian3 botol yaitu sebanyak 6 pasien dengan kenaikan kadar albumin yang di calai 0,75 g/dl. Berdasarkan kenaikan kadar albumin yang sudah sesuai mencapai >3,0 sebanyak 32 pasien (59,26%). Berdasarkan penjamin biaya pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia terbanyak yaitu pasien dengan menggunakan biaya JKN sebanyak 48 pasien (88,89%).

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKHITIS AKUT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2014 SAMPAI DENGAN DESEMBER 2014

No: 194 Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah.Infeksi saluran napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menjadi infeksi saluran napas bawah.Bronkhitis adalah penyakit pernapasan dimana selaput lendir pada saluran bronkial paru-paru menjadi meradang. Sebagian bronkhitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan antibiotik.Dalam kenyataan antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini.Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai terhadap penyakit bronkhitis dapat mengakibatkan resistensi antibiotik, meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkhitis akut rawat jalan di Rumah Sakit Salak Bogor. Tujuan penelitian untuk memberikan informasi mengenai penyakit bronkhitis, cara pengobatannya dan penggunaan antibiotik yang aman dan tepat kepada pihak rumah sakit serta masyarakat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis serta resep obat. Pengambilan data secara retrospekstif dan diperoleh 98 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkhitis akut banyak terjadi pada usia dewasa akhir (35 – 45 tahun) yaitu 61,22%, dengan jenis kelamin laki-laki terbanyak yaitu 64,28%, tanda dan gejala yang dialami pasien yaitu pilek, batuk berdahak, demam, sesak pada dada, dan sakit pada bagian sendi serta mudah lemas dengan data sebesar 57,14%, didapatkan pasien bronkhitis akut yang disebabkan oleh bakteri sebesar 34,69% dan disebabkan oleh virus sebesar 65,29%, pada bronkhitis akut yang disebabkan oleh virus 19,38% pasien diberikan antibiotik dan 45,91% tidak diberikan antibiotik. Adapun penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah golongan penisilin yaitu amoksisilin sebesar 57,40%, bentuk sediaan yang digunakan adalah sediaan padat dan yang terbanyak yaitu bentuk tablet yakni sebesar 54,08%.

PROFIL PENGOBATAN HIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 187 Pasien penyakit ginjal kronik dengan faktor risiko hipertensi, penurunan fungsi ginjal pada pasien diperparah dengan peningkatan tekanan darah yang justru akan memperberat kerja ginjal. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui kesesuaian jenis obat-obatan, dosis obat dan frekuensi pemberian obat yang digunakan pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik rawat inap di RS PMI bogor periode Januari – Desember 2014. Data diambil secara retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 71 pasien, dengan usia 26 – 65 tahun. Dari analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: berdasarkan jenis kelamin sebanyak 47 pasien berjenis kelamin laki–laki (66,20%), dan 24 pasien berjenis kelamin perempuan (33,80%). Berdasarkan usia lansia 45-65 tahun sebanyak 45 pasien (63,38%). Berdasarkan stadium yang terbanyak adalah stadium 5 sebesar 92,96%. Berdasarkan kesesuaian jenis obat-obatan dengan standar The Renal Drug Handbook adalah penggunaan obat hipertensi tunggal (monoterapi) yang yang paling banyak digunakan golongan CCB (Calcium Channel Blocker) sebanyak 37 pasien(52,11%). Penggunaan kombinasi 2 obat yang banyak digunakan yaitu CCB+diuretik sebanyak 9 pasien (12,67%). Penggunaan kombinasi 3 obat yang banyak digunakan yaitu CCB+ARB+Diuretik sebanyak 4 pasien (5,63%). Berdasarkan ketepatan dosis dan frekuensi pengobatan yang tidak sesuai standar The Renal Drug Handbook terdapat 1 pasien dengan pemberian dosis kaptopril yang berlebih dan terdapat 7 pasien yang tidak tepat frekuensi pemberian furosemid.

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN RAWAT JALAN DENGAN HIPERTENSI PRIMER DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN PERIODE OKTOBER - DESEMBER TAHUN 2013

No: 162 Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya meliputi faktor genetik dan lingkungan. Dalam penatalaksanaan hipertensi dengan terapi obat dapat timbul masalah-masalah terkait obat (Drug Related Problems/ DRPs). Telah dilakukan penelitian pada penderita hipertensi primer yang berobat jalan di Puskesmas Bogor Selatan selama 1 Oktober 2013 sampai dengan 31 Desember 2013 dengan teknik pengumpulan data retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Pengoalhan data menunjukkan bahwa di Puskesmas Bogor Selatan penderita hipertensi lebih banyak perempuan (70,81%) dari laki-laki (29,19%). Golongan obat hipertensi yang paling banyak diterima adalah ACE inhibitor (56,07%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien hipertensi primer adalah Gastritis (20,81%) sedangkan golongan obat lain yang paling banyak digunakan untuk penyakit penyerta adalah golongan NSAIDs (#7,57%), hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (20,87%), interaksi obat tidak bermakna klinis (70,39%), terapi tanpa indikasi (0,49%), indikasi tanpa terapi (0,24%), overdosis (0%), dosis subterapetik (5,83%), pemilihan obat yang kurang tepat (0%), reaksi obat yang tidak diinginkan (0%), kegagalan menerima obat (2,18%)

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT-OBATAN FARINGITIS PADA PASIEN ANAK DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR

No: 154 Faringitis adalah inflamasi atau infeksi dari membrane mukosa faring ditandai dengan gejala nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Faringitis dapatdisebabkan oleh virus, bakteri , dan fungi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik dan kesesuaian obat yang digunakan meliputi jenis obat, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat yang digunakan pada pasien faringitis anak di Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor dibandingkan dengan buku pedoman pengobatan dasar Puskesmas. Penelitian ini dilakukan dengan metode potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel adalah faringitis anak pada bulan Januari-Maret 2013. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk gambaran yang disertai dengan tabel distribusi dan grafik. Dari hasil penelitian ini, data demografi pasien menunjukkan bahwa pasien faringitis anak di Puskesmas tanah Sareal terbanyak adalah usia 1-4 tahun yaitu 50,6%, jenis kelamin perempuan 50,6%, berat badan 10,1-15 kg 34% dengan tanda-tanda terbanyak panas, batuk, pilek 57,3%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan berdasarkan tanda dan gejala yaitu amoksisillin 12,8 %, kotrimoksazol 11,8 %, ambroksol 0,6%, gliseril guaikolat 1,3% dan efedrin 0,6%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan buku pedoman pengobatan yaitu sefadroksil 100%. Ketidaksesuaian dosis meliputi amoksisillin 21%, ambroksol 62,5%, gliseril guaikolat 73% dan CTM (Klorfeniramin Maleat) 93,75%. Ketidaksesuaian frekuensi obat 0%. Ketidaksesuaian lama penggunaan amoksisillin 31,4% dan kotrimoksazol 88%. Untuk ketidaksesuaian itu maka perlu adanya kebijakan dari Kepala Puskesmas dengan adanya SOP (Standar Operasional Prosedur) diagnose agar dapat meminimalkan penggunaan antibiotic pada pasien faringitis anak untuk mencegah terjadinya resistensi dan megetahui adanya infeksi, serta pengkajian terhadap standar peresepan obat-obatan faringitis megenai jenis, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 OKTOBER 2011 s/d 30 SEPTEMBER 2012

No: 110 Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis yang rentan menimbulkan komplikasi akut maupun kronis. Dalam penatalaksanaan DM dengan terapi obat dapat timbul masalah-masalah terkait obat (Drug Related Problems/DRPs). Telah dilakukan penelitian pada penderita DM Tipe 2 yang dirawat inap di Rumah Sakit Salak selama | Oktober 2011 sampai dengan 30 September 2012 dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 46 sampel. Data obat yang diterima penderita dikaji secara teoritis untuk mengetahui terjadinya DRPs. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukkan bahwa di Rumah Sakit Salak, penderita DM tipe 2 lebih banyak wanita (58,70%) daripada pria (41,30%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (5,38%), interaksi obat tidak bermakna klinis (66,82%), terapi tanpa indikasi (6,28%), indikasi tanpa terapi (7,62%), overdosis (2,24%), dosis subterapetik (1,79%), pemilihan obat yang kurang tepat (8,07%), reaksi obat yang | tidak dikehendaki (0%) dan kegagalan menenma obat (1,79%). Golongan antidiabetes oral yang paling banyak ditenma penderita adalah penghambat glukoneogenesis (86,96%) sedangkan obat oral lain yang paling banyak digunakan adalah golongan antasida-antiulserasi (78,26%).