Sebanyak 24 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NANGKA (Artocapus heterophyllus Lamk.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No.550 Kulit buah nangka mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa aktif dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli. Kulit buah nangka diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chloramphenicol base) dan kontrol negatif (DMSO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit buah nangka didapatkan pada konsentrasi 30% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 10,76 mm pada bakteri Staphylococcus aureus dan 7,13 mm pada bakteri Escherichia coli. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki perbedaan yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan pada bakteri Escherichia coli.

UJI SITOTOKSIK EKSTRAK AIR DAN ETANOL 96% BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)

No. 546 Buncis merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat dan dimanfaatkan sebagai obat hipolipidemia, hipoglikemia dan diuretik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol dan air buah buncis dan menentukan efek sitotoksik terhadap larva udang menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Buah buncis dimaserasi menggunakan etanol 96% dan diinfudasi sampai diperoleh ekstrak. Kemudian, diuji fitokimia dan dibuat deretan konsentrasi 50,100,200,400,800 dan 1000 ppm untuk diuji sitotoksik menggunakan metode BSLT. Hasil dari fitokimia menyatakan bahwa ekstrak etanol 96% mengandung alkaloid, tanin dan steroid, ekstrak air mengandung alkaloid, saponin dan tannin. Aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol 96% diperoleh nilai LC50 sebesar 81,28 ppm dan ektrak air dengan nilai LC50 139,31 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% dan air memiliki efek sitotoksik dengan kategori kuat.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP Staphylococcus epidermidis

No. 543 Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif minyak atsiri, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diameter daya hambat ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi serta kombinasi keduanya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak tunggal daun sirih hijau dan tanaman serai wangi dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 20% dan 40%. Kemudian hasil terbaiknya dibuat kombinasi dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1 yang selanjutnya di uji aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilnya menunjukan bahwa pada daun sirih hijau dan tanaman serai wangi menunjukan aktivitas terbaiknya pada konsentrasi 40% dengan diameter daya hambat sebesar 18,99 mm dan 15,65 mm yang termasuk kedalam kategori kuat. Selanjutnya dari konsentrasi 40% tersebut dibuat perbandingan, hasil perbandingan terbaik yaitu pada perbandingan 3:1 (daun sirih hijau : tanaman serai wangi) yang memberikan efek sinergis dengan diameter daya hambat sebesar 21,20 mm yang termasuk kategori antibakteri sangat kuat.

AKTIVITAS TABIR SURYA DARI KOMBINASI EKSTRAK TANAMAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) SECARA IN VITRO

No. 541 Senyawa Tabir surya merupakan zat yang megandung bahan pelindung kulit terhadap sinar matahari sehingga sinar UV tidak dapat memasuki kulit, tabir surya alami yaitu tanaman yang banyak mengandung senyawa fenolik diantaranya Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung senyawa antioksidan golongan flavonoid yang memiliki aktivitas fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) secara tunggal maupun kombinasi, masing-masing ekstrak dilarutkan dengan etanol 70% dalam 5 konsentrasi dengan metode spektrofotometri. Hasil nilai SPF menunjukkan bahwa ekstrak tanaman serai wangi dengan konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm, Berdasarkan European Comission harga SPF pada ke-5 konsentrasi ekstrak tanaman serai wangi tersebut termasuk ke dalam kategori pelindungan minimal, dan untuk ekstrak daun sirih hijau berdasarkan nilai SPFnya konsentrasi 50 ppm,100 ppm, dan 150 ppm termasuk kedalam kategori perlindungan minimal sedangkan untuk konsentrasi 200 dan 250 ppm dikategorikan mempunyai pelindungan sedang, Dan untuk kombinasi ekstrak dengan perbandingan 1:3 mempunyai aktivitas tabir surya yang paling tinggi dengan nilai SPF sebesar 38,547.

aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (piper crocatum Ruiz & Pav.)

No. 540 Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan daun salam dan daun sirih merah serta kombinasinya menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan DPPH. Ekstrak etanol 96% daun salam, sirih merah serta kombinasi ekstrak daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 dibuat deret konsentrasi 5, 10, 15, 18 dan 20 ppm dilarutkan dengan etanol 96% dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak tunggal daun salam dan daun sirih merah mempunyai nilai IC50 berturut – turut sebesar 12,20 ppm dan 18,63 ppm sedangkan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 mempunyai nilai IC50 sebesar 10,00 ppm, 12,88 ppm dan 8,90 ppm. Kesimpulan penelitian ini bahwa aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun salam dan sirih merah perbandingan 1:1 dan 3:1 memiliki nilai IC50 lebih baik dari masing – masing ekstrak tunggal.

Aktivitas antipiretik kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L) dan daun salam (Syzygium polyanthum [Wight] Walp)terhadap tikus putih jantan

No. 538 Demam adalah suatu kondisi dimana suhu tubuh meningkat diatas 35,80C hingga 37,40C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat penurun demam seperti parasetamol. Efek samping penggunaan parasetamol untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan obat dari bahan alam seperti daun kersen dan daun salam yang digunakan untuk mengobati demam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antipiretik dari kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun salam (Syzygium polyanthum [Wight] Walp) terhadap tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Penelitian ini terdiri dari 7 kelompok dan setiap kelompok diberi 4 ekor tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Masing-masing perlakuan diberikan infusa daun kersen dan daun salam serta kombinasinya dengan volume 3ml. Hewan uji diinduksi demam menggunakan vaksin DTP-Hb HIB sebanyak 0,5 ml secara intramuskular. Pengukuran suhu tubuh hewan uji menggunakan termometer digital tiap 30 menit hingga 180 menit. Hasil penelitian menunjukkan infusa daun kersen, infusa daun salam dan kombinasinya dengan perbandingan (1:1) (1:3) dan (3:1) pada menit ke 180 masing-masing menunjukkan ∆t yaitu 1,50C, 1,60C, 2,20C, 1,60C dan 1,70C, yang berarti mempunyai aktivitas antipiretik terhadap tikus putih jantan galur Spraguey Dawley. Serta pada kombinasi infusa (1:1) menunjukkan aktivitas antipiretik yang sama seperti parasetamol yaitu 2,20C.

Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol 70% daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) terhadap Staphylococcus aureus

No. 536 Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pada umumnya mikroorganisme penyebab infeksi adalah bakteri Staphylococcus aureus. Oleh karena itu dibutuhkan bahan alami yang dapat mengobati infeksi bakteri tersebut. Daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) memilki kandungan antibakteri yang baik, kandungan tersebut meliputi senyawa flavonoid, saponin, tanin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan senyawa dari daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan mengetahui aktivitas terbaik dari ekstrak tunggal maupun kombinasinya. Kedua simplisia diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri dilihat dari besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar area kertas cakram setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 1x24 jam. Konsentrasi ekstrak tunggal yang digunakan adalah 10%, 20%, 40% dan Perbandingan kombinasi yang digunakan adalah 1:1, 1:3, 3:1. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa daun sirih hijau (Piper betle L.) dan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) mengandung senyawa flavonoid, saponin,tanin dan steroid. Hasil diameter zona hambat ekstrak tunggal yang diperoleh dari daun sirih hijau berturut-turut sebesar 12,98 mm, 14,17 mm, dan 15,98 mm yang menunjukkan kategori kuat. Sedangkan tamanan serai wangi berturut-turut sebesar 8,35 mm, 10,29 mm , dan 12,1 mm yang menunjukkan kategori sedang-kuat. Hasil diameter zona hambat ekstrak kombinasi yang diperoleh berturut-turut sebesar 17,39 mm, 13,45 mm dan 21,86 mm yang menunjukkan kategori kuat-sangat kuat. Kombinasi terbaik diperoleh pada perbandingan 3:1 dengan diameter zona hambat sebesar 21,86 mm, hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan kontrol positifnya yang sebesar 21,17.

Aktivitas antipiretik rebusan simplisia daun matoa (Pametia pinnata) terhadap perubahan suhu tubuh tikus putih jantan (Rattus novergicus)

No. 534 Daun matoa (Pometia pinnata) biasa digunakan oleh masyarakat Papua secara tradisional sebagai penurun demam. Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal yaitu 36-37,2◦C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat parasetamol. Namun, efek samping yang sering terjadi adalah kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antipiretik dari daun matoa (Pometia pinnata) secara in vivo, menggunakan metode rebusan. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,5 g/kg BB, 0,7 g/kg BB dan 1g/kg BB. Hasil rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan metabolit sekunder dengan metode uji fitokimia. Dari hasil uji diketahui bahwa rebusan simplisia daun matoa mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Hewan uji diinduksi demam dengan menggunakan vaksin DPT-Hb sebanyak 0,4 ml secara intramuskular. Pengukuran efek antipiretik pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) dilakukan selama 2 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efek antipiretik dari kontrol positif parasetamol kembali normal pada menit ke-30 dengan rerata suhu yaitu 37◦C dan kelompok yang perubahan suhunya mendekati kontrol positif yaitu kelompok yang diberi rebusan simplisia daun matoa dengan konsentrasi 1g/kg BB dengan rerata suhu 36,97◦C pada menit ke-30.

Formulasi dan uji stabilitas sediaan masker Peel-off ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) sebagai antioksidan

No. 529 Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah fenol. Fenol merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antioksidan, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi efek radikal bebas pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan golongan senyawa kimia, kadar total fenol dan uji antioksidan dari ekstrak etanol 96% daun salam, dan dibuat formulasi sediaan masker peel-off dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII) serta di uji mutu fisik (organoleptis, viskositas, homogenitas, pH, waktu sediaan mengering, daya sebar), uji antioksidan dan stabilitas. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan masker peel-off menggunakan ekstrak etanol daun salam. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun salam mengandung flavonoid, saponin, tanin, polifenol, kadar total fenol pada ekstrak etanol 96% daun salam sebesar 1,487 mg GAE/g dan memiliki aktivitas antioksidan 86,921 ppm. Formulasi dan evaDiameteri terhadap sedian masker peel-off ekstrak etanol daun salam dengan konsentrasi 5% (FI) dan 10% (FII). Masker peel-off FII memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi yaitu (92,395 ppm), dibandingkan FI (123,966 ppm). Stabilitas sediaan masker pada empat minggu yang dilakukan pada FII menunjukan hasil yang stabil secara fisik.

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan air daun mangrove (Rhizophora stylosa), daun kejibeling (Strobillanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) serta kombinasinya terhadap bakteri Escheria coli dan Staphylococcus aureus

No. 516 Bakteri merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit. Bakteri yang paling banyak menyebabkan infeksi antara lain bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Daun mangrove (Rhizopora stylosa), daun kejibeling (Strobilanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) memgandumg senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, saponin serta senyawa polifenol yang dipercaya memiliki kemampuansebagai aktivitas antibakteri. Ketiga simplisia diekstraksi dengan metode maserasi dan infusa. Uji fitokimia dan uji antibakteri dilakukan terhadap ekstrak tunggal dan kombinasinya. Kombinasi yang dibuat yaitu (Daun mangrove : daun kejibeling : batang katuk) dengan variasi kombinasi 1:1:1, 1:1:2, 1:2:1 dan 2:1:1 dengan konsentrasi 10%, 25%, 50% dan menggunakan kontrol positif amoksisilin 10%. Uji fitokimia dari ketiga tanaman ekstrak etanol dan air menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin, sedangkan ekstrak air tidak mengandung alkaloid. Pada penelitian ini hasil ekstrak daun mangrove yang optimumterdapat pada bakteri S.aureus. Hal ini dibuktikan pada konsentrasi 25% ekstrak etanol daun mangrove memberikan nilai zona hambat 11,2 mm dan kontrol positif 10,4 mm. Pada ekstraksi infusa hasil zona hambat dengan konsentrasi 25% pada bakteri E.coli 13,2 mm dengan kontrol positif 12,9 mm dan bakteri S.aureus 13,4 mm dengan kontrol positif 12,8 mm. Kombinasi ekstrak tiga tanaman yang terbaik terdapat pada kombinasi 2:1:1 yang terdapat pada kombinasi multi ekstrak etanol karena pada konsentrasi 10% ekstrak bisa memiliki zona hambat lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif dengan nilai 12,4 mm dan kontrol positif amoksisilin 12,3 mm.Konsentrasi terbaik ekstrak tunggal yaitu daun mangrove konsentrasi 25% dan ekstrak kombinasi 2:1:1 konsentrasi 10%. Ekstraksi maserasi memberikan nilai zona hambat yang lebih baik dibandingkan dengan ekstraksi infusa.