Sebanyak 2 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS TANIN EKSTRAK DAUN TEH (Camelia sinensis), DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DAN DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix DC) TERHADAP KADAR MERKURI (Hg) SECARA IN VITRO

No: 113 Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan makromolekul lainnya. Tanin memiliki sifat antara lain dapat larut dalam air atau alkohol karena tanin banyak mengandung fenol yang memiliki gugus OH, dapat mengkhelat logam berat. Merkuri (Hg) sering diasosiasikan sebagai polutan bagi lingkungan. Merkuri dapat menyebabkan kelainan fungsi saraf. Pada gejala akut bisa terjadi kelumpuhan, gila, koma dan akhirnya mati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun teh, daun jeruk purut, dan daun salam dapat mengikat merkuri yang di ujikan secara in vitro dalam ringer laktat dengan cara mengukur kadar merkuri pada larutan tersebut dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Penelitian ini diawali dengan determinasi dari tiga jenis daun yang akan digunakan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak infusa, peengujian kadar tanin secara kualitatif dan kuantitatif, pengujian in vilro dan pengukuran menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Determinasi tanaman di lakukan di LIPI Bogor. Uji kualitatif pada tiga jenis daun menunjukkan positif tanin. Uji kuantitatif menunjukkan daun teh paling tinggi kadar taninnya dibandingkan dengan daun salam daun daun jeruk purut dengan nilai masing-masing 13,30 mg/g, 13,00 mg/g, dan 5,00 mg/g. Hasil pengukuran uji in vitro dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer menunjukkan daun salam memiliki daya khelat paling tinggi terhadap merkuri dibandingkan daun teh dan daun jeruk purut dengan nilai rata-rata pengikatan merkuri dari masing-masing ekstrak 68,718 %, 72,738 %, dan 76,449 %.

EFEK PEMBERIAN KITOSAN TERHADAP KADAR MERKURI (Hg) DALAM KRIM PEMUTIH MENGGUNAKAN LUMEX MERCURY ANALYZER

No: 106 Saat ini merkuri sangat banyak digunakan di industri kosmetik, meskipun penggunaan merkuri dan senyawanya dalam kosmetik telah dilarang di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no 376/MenKes/PerVIII/1990 tentang bahan-bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetika. Karena banyaknya kasus yang terjadi akibat pencemaran logam merkuri, maka berbagai teknik dan proses telah dikembangkan untuk memisahkan ion-ion logam berat seperti merkun yang sangat berbahaya , diantaranya yaitu dengan adsorbsi (penyerapan). Bahan pengadsorpsi yang aman digunakan yaitu kitosan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah knim pemutih yang beredar di pasaran sekarang ini masih mengandung senyawa merkuri dan mengetahui efek pemberian kitosan yang dianggap sebagai antimerkuri terhadap kandungan merkuri di dalam krim pemutih. Pembuatan kitosan dilakukan melalui proses demineralisasi, deproteinisasi, penghilangan warna dan deasetilasi. Derajat deasetilasi dari pembuatan kitosan yang didapatkan yaitu 74.63%. Pengukuran hasil penyerapan merkuri menggunakan kitosan dilakukan dengan Lumex Mercury Analyzer. Kitosan ditambahkan dengan konsentrasi 0.05:0.25;0.5;0.75;1 % pada merkuri yang sebelumya telah diekstrasi menggunakan campuran asam nitrat, asam klorida, dan asam sulfat. Dari hasil penambahan kitosan pada krim pemutih didapatkan efisiensi penyerapan yang baik pada penambahan kitosan dengan konsentrasi | %, yaitu sebesar 98.71 %.