Sebanyak 8 item atau buku ditemukan

evaluasi program dots terhadap penderita tuberkulosis di rawat jalan RS Salak Bogor tahun 2017

No. 401 Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Salah satu terget program pemberantasan tuberkulosis paru ialah pencapaian angka kesembuhan minimal 85%, angka ini didapat setelah pengobatan minimal 6 bulan. Di RS Salak Bogor pencapaian angka kesembuhan sebesar 85%, angka ini didapat dari total pasien sembuh sebesar 65 pasien dari total 76 pasien yang mengikuti program DOTS (directly observed treatment, shortcourse chemotherapy). Telah dilakukan penelitian dengan metode deskriptif penggunaan obat antituberkulosis (OAT) kombipak dosis tetap (KDT) pada seluruh pasien baik kategori 1 maupun kategori anak yaitu seluruh pasien dengan persentase 100% menggunakan OAT KDT. Angka Drop Out sebesar 14,4% tidak memehuhi target nasional yaitu >5%.

Ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien sepsis neonatal rawat inap di Rumah Sakit Salak Bogor Periode Maret-Juni 2018

No. 490 Sepsis neonatal merupakan disfungsi organ yang mengancam kehidupan yang disebabkan oleh disregulasi imun terhadap infeksi. Jumlah sepsis neonatal di RSAD Salak meningkat, dibuktikan pada semester pertama tahun 2017 jumlah sepsis neonatal mencapai angka 102 bayi dari 625 bayi yang lahir. Tujuan penelitian: untuk mengetahui gambaran profil pasien, gambaran peresepan dan ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien neonatal rawat inap RS Salak. Penelitian dilakukan secara prospektif dengan mengumpulkan data pasien berdasarkan rekam medis pasien sepsis neonatal yang menggunakan antibiotika periode Maret sampai Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki 22 orang atau 65% dan perempuan 12 orang atau 35%. Jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan kelompok usia tertinggi adalah pada usia 1-7 hari (SAD) dengan jumlah 19 (55.88%), usia > 7 hari (SAL) berjumlah 15 (44.12%). Pasien sepsis neonatal dengan riwayat persalinan normal 20 (58.82%) dan SC 14 (41.18%). Ketepatan antibiotika pada kategori IVa (pemberian antibiotika lain yang lebih efektif) 21 pasien atau 48.84%, kategori IIIb (pemberian terlalu singkat) 1 pasien atau 2.33%, kategori IIa( pemberian antibiotika tidak tepat dosis) 13 pasien 30.23% dan kategori 0 atau tepat sebanyak 8 pasien 18.6%.

ANALISA DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA ASIEN DISPEPSIA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2014-DESEMBER 2014

No: 246 Dispepsia merupakan salah satu penyakit yang tidak diketahui secara jelas penyebabnya. Berdasarkan survey Departemen Kesehatan tahun 2006, prevalensi dispepsia menempati urutan 15 dari 50 penyakit dengan pasien rawat inap terbanyak. Sedangkan berdasarkan rekapan Rumah Sakit Salak 2014, dispepsia menempati urutan 8 dari 10 penyakit terbesar. Dalam penatalaksanaan dispepsia dengan terapi obat, dapat menimbulkan masalah-masalah terkait obat yang disebut Drug Related Problems (DRPs). Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan analisa DRPs pada pasien dispepsia di RS.Salak periode Januari 2014 sampai Desember 2014 dengan metode cross-sectional rancangan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RS. Salak pasien dispepsia terbanyak adalah perempuan (58%). Penggunaan obat terbanyak yaitu golongan penghambat pompa proton (47.1 %). Obat yang paling banyak digunakan pada golongan ini yaitu omeprazol. Penyakit yang paling banyak menyertai pasien dispepsia yaitu observasi febris. Hasil analisa menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu indikasi tanpa terapi (1.78 %), terapi tanpa indikasi (1.42 %), dosis subterapeutik (28.47 %), over dosis (1.07 %), pemilihan obat yang kurang tepat (0.71 %), kegagalan menerima obat (2.14 %), reaksi obat yang tidak dikehendaki (0 %), interaksi obat (64.41 %)

PENGARUH PENGGUNAAN PROBIOTIK TERHADAP DURASI RAWAT INAP PADA PASIEN DIARE BALITA DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE MEI SAMPAI OKTOBER 2014

No: 239 Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar dan konsistensi feses menjadi cair. Dikatakan diare bila frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair. Berdasarkan hasil laporan tahunan periode 2014 diare termasuk sepuluh macam penyakit terbesar di Rumah Sakit Salak Bogor. Pada pengobatan diare selain pemberian seng juga diberikan probiotik. Probiotik banyak disebut sebagai suatu bakteri yang tidak patogen, penghuni normal usus manusia dan binatang. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang penggunaan probiotik terhadap durasi rawat inap pada pasien diare balita untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik pada terapi diare akut.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif yang menggunakan analisis Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan pasien diare dengan jenis kelamin laki–laki terbanyak 54% dan pengobatan diare yang menggunakan probiotik sebanyak 68% cukup tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan probiotik. Perbedaan duarasi rawat inap rata–rata yang menggunakan probiotik hanya 0,68 hari lebih rendah. Hasil besar pengaruh probiotik rata-rata 73.73 lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak menggunakan probiotik rata–ratanya 89.95. Hasil dari tes statistika di dapat nilai yang signifikan 0.028.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2013 SAMPAI DESEMBER 2014

No: 206 Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak-anak maupun balita.Salah satu ISPA bawah yaitu bronkopneumonia.Bronkopneumonia merupakan infeksi saluran napas bawah yang menyebabkan paru-paru meradang sehingga alveoli dipenuhi nanah dan menyebabkan kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Nasional tahun 2011, diketahui bahwa pneumonia menjadi penyebab kematian balita tertinggi (22,8%). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia balita.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkopneumonia banyak terjadi pada usia >2 tahun – 3 tahun yaitu 38,77% dengan jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki 52,04% dan berat badan bronkopneumonia balita masuk kategori normal sebesar 100%. Tanda dan gejala pasien bronkopneumonia terbanyak yaitu napas cepat sebesar 100%, diikuti batuk 98,97%, nyeri dada 73,47%, panas 61,22%, pilek 57,14%, sesak 40,82%, wheezing30,61%, dan sariawan 12,42%. Penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah amoksisilin 53,05%. Ketepatan indikasi mencapai 90,82%, ketepatan dosis antibiotik amoksisilin, eritromisin, dan kloramfenikol mencapai 100%, namun kotrimoksazol hanya 70,58%. Ketepatan regimen 100%. Lama penggunaan obat dengan waktu 5-12 hari mencapai 61,33%, sedangkan lama penggunaan obat dengan waktu kurang dari 5 hari sebesar 38,67

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKHITIS AKUT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2014 SAMPAI DENGAN DESEMBER 2014

No: 194 Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah.Infeksi saluran napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menjadi infeksi saluran napas bawah.Bronkhitis adalah penyakit pernapasan dimana selaput lendir pada saluran bronkial paru-paru menjadi meradang. Sebagian bronkhitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan antibiotik.Dalam kenyataan antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini.Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai terhadap penyakit bronkhitis dapat mengakibatkan resistensi antibiotik, meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkhitis akut rawat jalan di Rumah Sakit Salak Bogor. Tujuan penelitian untuk memberikan informasi mengenai penyakit bronkhitis, cara pengobatannya dan penggunaan antibiotik yang aman dan tepat kepada pihak rumah sakit serta masyarakat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis serta resep obat. Pengambilan data secara retrospekstif dan diperoleh 98 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkhitis akut banyak terjadi pada usia dewasa akhir (35 – 45 tahun) yaitu 61,22%, dengan jenis kelamin laki-laki terbanyak yaitu 64,28%, tanda dan gejala yang dialami pasien yaitu pilek, batuk berdahak, demam, sesak pada dada, dan sakit pada bagian sendi serta mudah lemas dengan data sebesar 57,14%, didapatkan pasien bronkhitis akut yang disebabkan oleh bakteri sebesar 34,69% dan disebabkan oleh virus sebesar 65,29%, pada bronkhitis akut yang disebabkan oleh virus 19,38% pasien diberikan antibiotik dan 45,91% tidak diberikan antibiotik. Adapun penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah golongan penisilin yaitu amoksisilin sebesar 57,40%, bentuk sediaan yang digunakan adalah sediaan padat dan yang terbanyak yaitu bentuk tablet yakni sebesar 54,08%.

PERBANDINGAN DURASI RAWAT PADA PENDERITA DIARE ANAK YANG MENGGUNAKAN TERAPI Zn DENGAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN TERAPI Zn YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 JANUARI 2012 SAMPAI DENGAN 31 DDESEMBER 2012

No: 171 Diare akut yang tidak ditangani denganh tepat dapat berakibat penderita jatuh pada keadaan diare kronik, kondisi ini menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa usus. Seng merupakan mikronutrien yang mempunyai fungsi antara lain berperan penting dalam proses pertumbuhan dan diferensiasi sel, sintesis DNA serta menjaga stabilitas dinding sel. Tujuan penelitian membandingkan durasi perawatan pasien anak diare yang diberi sediaan seng dengan yang tidak diberi sediaan seng. Metodologi yang dipilih rancangan studi potong lintang (cross sectional). Penelitian dengan cara retrospektif dengan rancangan analisis deskriptif dan analisis Anova. Total pasien 927, pasien yang memenuhi kriteria inklusi 47 pasien, jeniskelmin laki-laki 36 orang (77%), jenis kelamin perempuan 1 orang (23%). Antibiotik yang digunakan meliputi golongan sefalosporin 61%, penisilin 3,60%, kotrimoksazol 35,40%. Yang menggunakan terapi Zn 12 orang (26%), dan yang tidak menggunakan terapi Zn 35 orang (74%). Rata-rata lama rawat 3,08 hari pada kelompok dengan menggunakan terapi Zn, rata-rata lama rawat yang terendah 2,86 hari pada kelompok tanpa menggunakan terapi Zn. Hasil uji Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan lama rawat untuk pasien diare anak yang menggunakan terapi Zn dengan yang tidak menggunakan terapi Zn