Sebanyak 25 item atau buku ditemukan

Formulasi gel ekstrak etanol mentimun (cucumis sativus L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri staphylococcus aureus

No. 496 Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang resistent terhadap antibiotik dan desinfektan. Buah mentimun memiliki metabolit sekunder yang berpotensi dalam menghambat dan membersihkan biofilm S.aureus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui potensi ekstrak buah mentimun dan formulasinya dalam sediaan gel untuk menghambat dan membersihkan biofilm yang diukur dengan menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah mentimun dan sediaan gelnya mampu menghambat dan membersihkan biofilm dengan persentase penghambatan dan pembersihan terbesar oleh ekstrak masing-masing 70,73%, dan 142,48% dengan konsentrasi ekstrak sebesar 3% dan untuk sediaan gelnya memiliki persentase penghambatan dan pembersihan masing-masing sebesar 74,58% dan 84,85% dengan konsentrasi ekstrak pada gel sebesar 0,5%.

UJI AKTIVITAS IN VITRO ANTIKANDIDA DARI SEDIAAN GARAM NATRIUM KLORIDA DAN PROBIOTIK Lactobacillus plantarum TERENKAPSULASI

No: 397 Kandidiasis merupakan penyakit infeksi jamur yang penting terutama pada wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas in vitro antikandida dari sediaan garam natrium klorida dan probiotik Lactobacillus plantarum dalam menghambat pertumbuhan Candida utilis. Garam dimurnikan melalui proses kristalisasi, kemudian ditambahkan filtrat probiotik terenkapsulasi. Hasil menunjukkan bahwa sediaan tersebut dapat menghambat pertumbuhan Candida utilis, dimana aktivitas terbaik dicapai oleh sediaan 6% garam mengandung filtrat plantarisin dari 107 sel/mL probiotik dalam waktu kontak aplikasi 1 menit. Diharapkan sediaan tersebut dapat dikembangkan sebagai antiseptik untuk kandidiasis.

UJI STABILITAS DAN PENENTUAN MASA SIMPAN SERBUK INSTAN ANTIHIPERTENSI DARI CAMPURAN BERAS MONASCUS DENGAN SARI BUAH TOMAT

No: 361 Hipertensi merupakan salah satu penyakit penyebab utama kematian. Beras Monascus dan buah tomat dapat dijadikan sebagai bahan alternatif pengobatan hipertensi karena kandungan senyawa Gamma Amino Butiryc Acid (GABA) yang bersifat hipotensif. Penelitian ini bertujuan untuk membuat serbuk instan dari kedua bahan tersebut dan menganalisis kandungan GABA dengan KCKT serta menentukan masa simpannya menggunakan metode Arrhenius. Sediaan serbuk instan yang terbentuk berwarna merah dan sesuai dengan standar obat herbal. Hasil penelitian menggunakan ANOVA menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada parameter kadar air, kadar GABA, waktu seduh dan uji organoleptik warna selama penyimpanan 50 hari. Pada uji parameter analisis proksimat, pigmen merah, pigmen kuning serta uji organoleptik tampilan dan aroma tidak terdapat perubahan yang signifikan selama penyimpanan 50 hari. Senyawa GABA terdeteksi baik pada bahan baku dan produk serbuknya setidaknya selama 0,8 minggu masa penyimpanan.

EVALUASI STABILITAS SEDIAAN GRANUL EFFERVESCENT DARI CAMPURAN INFUSA BERAS MONASCUS DENGAN FILTRAT JUS BELIMBING WULUH UNTUK TERAPI TROMBOSITOPENIA

No: 358 Trombositopenia merupakan akibat klinis dari infeksi virus dengue yang dapat menyebabkan kematian. Beras Monascus dapat dijadikan bahan terapi trombositopenia karena mengandung senyawa Lovastatin dan Isoflavon yang dapat menaikan jumlah trombosit. Penelitian ini bertujuan membuat sediaan Granul effervescent beras Monascus dengan filtrat jus buah Belimbing Wuluh yang kaya vitamin C. Dibuat Granul effervescent dengan metode Granulasi basah dan di evaluasi mutu fisik dan stabilitas selama 30 hari pada suhu 28°C. Kandungan Lovastatin pada Granul effervescent diukur dengan KCKT. Sediaan Granul yang terbentuk berwarna orange dengan karakteristik sesuai dengan standar baku dan dapat stabil setidaknya pada penyimpanan 1 bulan.

VIABILITAS DAN AKTIVITAS Lactobacillus plantarum TERENKAPSULASI DALAM GARAM REHIDRASI YANG DIBUAT DARI GARAM KASAR

No: 352 Penyakit diare masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang penting terutama di negara berkembang. Pengobatan diare masih menggunakan cairan rehidrasi dan antibiotik yang dapat menyebabkan resistensi patogen. Probiotik dapat ditambahkan pada garam rehidrasi dan digunakan sebagai alternatif pengobatan. Pada penelitian ini dibuat campuran garam rehidrasi dan probiotik terenkapsulasi untuk diuji daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri E. coli sebagai model patogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik dapat bertahan hidup pada campuran garam rehidrasi sampai 109 CFU/g. Pertumbuhan patogen uji dapat dihambat sampai 98,17%, sediaan ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif pencegahan dan terapi diare.

OPTIMASI PEMBERIAN Bacillus amyloliquefaciens TERHADAP HASIL PRODUKSI GABA (ASAM GAMMA AMINO BUTIRAT) PADA PROSES FERMENTASI BERAS Monascus purpureus

No: 343 Angkak merupakan hasil fermentasi dari beras putih dengan Monascus purpureus. Monascus purpureus menghasilkan senyawa yaitu asam gamma amino butirat (GABA). GABA merupakan senyawa yang bersifat hipotensif. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan proses optimasi dengan menambahkan Bacillus amyloliquefaciens pada proses fermentasi. Bacillus amyloliquefaciens dapat menghasilkan enzim yang mampu merombak zat makanan seperti karbohidrat dan protein menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sampel difermentasi selama 12 hari, ditambahkan bakteri Bacillus amyloliquefaciens pada hari ke 0, 5 dan 10. Dengan konsentrasi bakteri Bacillus amyloliquefaciens yang diberikan sebanyak 0, 5 dan 10%, setelah itu diekstraksi dengan metode digesti. Ekstrak GABA yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi bakteri Bacillus amyloliquefaciens sebanyak 0-1,5% pada hari ke 10 dan diinkubasi pada suhu 31oC menghasilkan kadar GABA yang optimal.

OPTIMASI PENGARUH PENAMBAHAN Lactobacillus plantarum TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LOVASTATIN DARI HASIL FERMENTASI BERAS Monascus purpurcus

No: 244 Angkak merupakan hasil fermentasi menggunakan kapang Monascus purpureus yang menghasilkan lovastatin sebagai antihiperkolesterolmia. Produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dapat ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dengan melakukan penambahan bakteri Lactobacillus plantarum selama proses fermentasi, bakteri Lactobacillus plantarum menghasilkan asam laktat. Berdasarkan hal diatas tujuan penelitian ini adalah melakukan proses optimasi penambahan bakteri Lactobacillus plantarum pada proses fermentasi beras Monascus purpureus untuk menghasilkan lovastatin. Sampel diekstraksi menggunakan shaker selama 15 menit, dianalisi menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan rancangan penelitian dan analisis menggunakan metode Response Surface (minitab 17). Pada penelitian dapat di simpulkan bahwa dalam proses produksi dari hasil fermentasi beras Monascsus purpureus terdapat kondisi optimum yaitu penambahan bakteri Lactobacillus plantarum 1%, pada waktu hari ke-5 dan suhu inkubasi 25C dan kondisi maksimum yaitu tanpa penambahan bakteri Lactobacillus plantarum, pada waktu hari ke-10 dan suhu inkubasi 25C.

OPTIMASI PROSES PEMBERSIHAN BIOFILM Streptococcus mutans DENGAN EKSTRAK AIR DAUN SALAM (Syzygium polyanthum)

No: 231 Streptococcus mutans merupakan mikroorganisme yang berperan dalam pembentukan biofilm berupa plak gigi.Daun Salam (Syzygium polyanthum) telah dikenal sejak lama sebagai spesies yang dapat dijadikan obat, bahkan sekarang telah digunakan sebagai bahan dasar pengobatan kedokteran gigi.Kandungan saponin pada daun salam memiliki potensi membersihkan biofilm. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji aktivitas ekstrak air daun salam serta mengetahui senyawa yang berperan dalam proses pembersihan dan memperoleh kondisi yang optimum untuk membersihkan biofilm S. mutans.Ekstrak air daun salam diperoleh dengan metode digesti. Optimasi proses pembersihan biofilm S. mutans menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay, dengan rancangan penelitian dan analisis data menggunakan metode Response Surface (minitab 16). Hasil uji fitokimia ekstrak air daun salam mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Kondisi pembersihan optimum ekstrak air daun salam berada pada konsentrasi 1%, waktu kontak 45 menit dan suhu pembersihan 37℃.