Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

perbandingan efek samping obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap (KDT) dan kombipak kategori I pada pasien TB paru di RSUD sekarwangi sukabumi

No. 425 Obat Anti Tuberulosis (OAT) kategori 1 yang digunakan di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu kombinasi dosis tetap dan kombipak. Masalah yang timbul dari penggunaan OAT tersebut diantaranya efek samping baik yang ringan maupun berat, serta keadaan yang memerlukan perhatian khusus seperti pasien yang mengalami Drug Induced Hepatitis (DIH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek samping dan tingkat DIH yang terjadi pada pasien yang menggunakan OAT kombinasi dosis tetap dan kombipak. Penelitian ini bersifat retrospektif observasional dengan teknik sampling menggunakan metode purposive sampling sehingga diperoleh jumlah sampel 130 orang. Instrumen penelitian menggunakan data dari rekam medis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney pada tingkat kemaknaan 95% (P<0,05). Hasil penelitian pada perbandingan efek samping diperoleh hasil nilai P=0,220 dan Tingkat DIH diperoleh nilai P = 0,223. Kesimpulan tidak terdapat perbedaan efek samping dan tingkat DIH yang signifikan pada pengguna OAT Kombinasi Dosis Tetap dan Kombipak Kategori 1.

SELEKSI DAN PENGUJIAN ISOLAT BAKTERI ASAM LAKTAT DARI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr.) ASAL PAPUA SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK

No: 369 Bakteri asam laktat (BAL) banyak digunakan sebagai probiotik karena umumnya tidak patogen, bahkan beberapa strain mendapatkan status GRAS (Generally Recognized As Safe) dari FDA (Food and Drug Administration). Selain itu BAL mempunyai kemampuan hidup di dalam saluran pencernaan serta mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen enterik. Nira memiliki komponen nutrisi seperti gula dan komponen lain yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme salah satunya BAL. Penelitian ini bertujuan mencari BAL kandidat probiotik asal nira Aren (Arenga pinnata Merr.) dari Papua. Untuk menjadi kandidat probiotik, BAL harus melalui beberapa tahap uji. Isolat BAL diuji antimikroba terhadap bakteri E. coli dan B. cereus menggunakan metode sumuran. Selanjutnya BAL diuji kemampuannya bertahan pada garam empedu (0,1%, 0,2%, 0,3%, dan 0,4%). Isolat yang tahan terhadap garam empedu diuji pada pH rendah (pH 2,0 dan 2,5). Pertumbuhan BAL dilihat menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis selama 26 jam. Isolat yang tahan terhadap pH rendah dan oxgall 0,3% digunakan untuk uji antibakteri lebih lanjut dengan metode spot test terhadap 12 bakteri patogen antara lain E. coli, B. cereus, L. monocytogenes, S. enterica, P. aeruginosa, S. aureus, S. agalactiae, A. hydrophilla, E. ictaluri, A. sobria, P. shigelloides, dan K. pneumonia. Isolat terpilih (6 isolat) kemudian diuji toleransi terhadap Simulated gastric juice dan Simulated intestinal juice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 6 isolat hanya 1 isolat yang mampu bertahan pada Simulated gastric juice dan Simulated intestinal juice yaitu isolat NP 46. Kemudian isolat NP 46 ditumbuhkan pada media produksi dan jumlah sel NP 46 yang tumbuh pada media produksi sebanyak 2,06 x 109 CFU/g.