Sebanyak 37 item atau buku ditemukan

UJI SITOTOKSIK EKSTRAK AIR DAN ETANOL 96% BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)

No. 546 Buncis merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat dan dimanfaatkan sebagai obat hipolipidemia, hipoglikemia dan diuretik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol dan air buah buncis dan menentukan efek sitotoksik terhadap larva udang menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Buah buncis dimaserasi menggunakan etanol 96% dan diinfudasi sampai diperoleh ekstrak. Kemudian, diuji fitokimia dan dibuat deretan konsentrasi 50,100,200,400,800 dan 1000 ppm untuk diuji sitotoksik menggunakan metode BSLT. Hasil dari fitokimia menyatakan bahwa ekstrak etanol 96% mengandung alkaloid, tanin dan steroid, ekstrak air mengandung alkaloid, saponin dan tannin. Aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol 96% diperoleh nilai LC50 sebesar 81,28 ppm dan ektrak air dengan nilai LC50 139,31 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% dan air memiliki efek sitotoksik dengan kategori kuat.

aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (piper crocatum Ruiz & Pav.)

No. 540 Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan daun salam dan daun sirih merah serta kombinasinya menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan DPPH. Ekstrak etanol 96% daun salam, sirih merah serta kombinasi ekstrak daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 dibuat deret konsentrasi 5, 10, 15, 18 dan 20 ppm dilarutkan dengan etanol 96% dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak tunggal daun salam dan daun sirih merah mempunyai nilai IC50 berturut – turut sebesar 12,20 ppm dan 18,63 ppm sedangkan kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam dan daun sirih merah 1:1, 1:3, 3:1 mempunyai nilai IC50 sebesar 10,00 ppm, 12,88 ppm dan 8,90 ppm. Kesimpulan penelitian ini bahwa aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun salam dan sirih merah perbandingan 1:1 dan 3:1 memiliki nilai IC50 lebih baik dari masing – masing ekstrak tunggal.

Uji aktivitas penghamabatan enzim tirosinase serta uji iritasi sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis F)

No. 518 Daun sukun (Artocarpus altilis F) diketahui memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas penghambatan enzim tirosinase sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dan mengetahui efek iritasi pada 10 panelis. Formula sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dengan konsentrasi 40% dilakukan pengujian penghambatan dengan substrat L-Tirosin dan L-Dopa dan uji iritasi selama 24 jam. Hasil uji aktivitas penghambatan enzim tirosinase menunjukkan bahwa ekstrak dan sediaan tidak memiliki kemampuan penghambatan terhadap melanin yang dilihat dari nilai 〖IC〗_50. Ekstrak etanol 96% daun sukun memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 4889,467 ppm dan substrat L-Dopa sebesar 6916,626 ppm. Sediaan masker peel-off memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 12680,48 dan untuk substrat L-Dopa sebesar 33402,96 ppm. Hasil uji iritasi primer tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit seperti edema, maupun eritema.

Uji aktivitas dan stabilitas formula gel hand sanitizer dari ekstrak etanol 96% buah pare (Momordica charantia L) sebagai antibakteri

No. 487 Buah pare (Momorica charantia L) merupakan bagian dari tanaman yang mengandung zat aktif antibakteri dan berpontensi dibuat formulasi hand sanitizer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri hand sanitizer ekstrak buah pare terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escheria coli, daya antiseptiknya serta uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstraknya pada konsentrasi 30%. Ekstraksi buah pare dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kandungan senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri formulasi hand sanitizer ekstrak dengan konsentrasi 30% dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji mutu fisik formulasi hand sanitizer antara lain organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan viskositas. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 96% buah pare mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat pada ekstrak etanol 96% dan hand sanitizer ekstrak etanol 96% kosentrasi 30% terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu 11,7 mm dan 10,6. Sedangkan terhadap bakteri Escherichia coli yaitu 10,9 mm dan 10,2 mm. Selain itu, hand sanitizer ini memiliki aktivitas antibakteri. Hasil uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstrak etanol 96% buah pare memiliki warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3200-3300 cps), daya sebar (5,10-5,14 cm). Setelah uji cyling test didapat hasil, warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3100-3500 cps), daya sebar (5,10-5,18 cm).

Uji toksisitas ekstrak daun sembung rambat (Milkania cordata (Burm. F.) B. L. Rob. ) dengan metode Brine Shrimp Lethality test terhadap larva udang (artemia salina leach)

No. 469 Daun Sembung Rambat (Mikania cordata (Burm,f.) B.L.Rob.) merupakan salah satu tanaman liar yang mengandung senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun sembung rambat diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas yang terkandung dalam ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 96% dan air daun sembung rambat. Proses ekstraksi daun sembung rambat dengan cara maserasi. Metode uji toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)dengan hewan uji Artemia salina L.Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak n-heksan, etil asetat, etanol 96% dan air daun sembung rambat secara berturut-turut sebesar 124,99; 175,63; 94,31 dan 433,11ppm. Hasil ekstrak dengan keempat pelarut menunjukkan adanya alkaloid,flavonoid,tannin,saponin dan steroid (khususnya dengan pelarut etanol 96%).Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol 96% daun sembung rambat termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan ekstrak air termasuk kategori toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol 96% daun sembung rambat memberikan efek toksik tertinggi yang diduga dapat berpotensi sebagai antikanker.

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% daun petai cina ( Leucaena leucocephala (Lam) de wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringan (jack) I. C. Nielsen) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test

No. 436 Daun Petai cina dan kulit jengkol merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol. Kombinasi ekstrak etanol 7% daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9. Uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol 1:1, 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 secara berturut-turut sebesar 85.27, 30.41, 21.76, 14.06 & 1.358 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan semua kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol termasuk dalam kategori sangat toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol memberikan efek sangat toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Aktivitas ekstrak etanol 70% biji buah mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) terhadap hiperurisemia pada tikus putih ( Rattus norvegicus)

No. 435 Biji buah mahoni (Swetenia mahagoni Jacq) adalah tanaman yang memiliki kandungan kimia flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak biji buah mahoni dalam menurunkan kadar hiperurisemia pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Ekstrak biji buah mahoni dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas dilakukan secara in vivo menggunakan 30 ekor tikus putih jantan dibagi 6 kelompok perlakuan, tiap perlakuan terdiri dari 5 ekor. Hewan uji dibuat hiperurisemia menggunakan induksi jus hati ayam dengan dosis 1,2mg/kg BB. Kelompok I sebagai konrol (-) diberika suspensi Na CMC 1%, kelompok II sebagai kontrol (+) diberikan suspensi allopurinol 1,8mg/kg BB, kelompok III, kelompok IV, kelompok V, dan kelompok VI diberikan ekstrak etanol 70% biji buah mahoni masing-masing dengan dosis 200mg/kg BB, 400mg/kg BB, 600mg/kg BB, dan 800mg/kg BB. Data penurunan hiperurisemia dianalisis menggunakan uji statistik ANOVA, hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol 70% biji buah mahoni dengan dosis 800mg/kg BB, dapat menurunkan hiperurisemia sebesar 62,84% yang hampir sama dengan allupurinol sebesar 63,81%.

formulasi dan uji sediaan pelembab ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) dalam basis vanishing cream yang dikombinasi dengan gliserin dan propilen glikol

No. 415 Daun jambu biji putih (Psidium guajava L) mengandung senyawa aktif tanin, minyak atsiri, minyak lemak, damar, zat penyamak, triterpenoid, asam malat dan asam apfel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sediaan krim pelembab daun jambu biji dengan humektan gliserin dan propilen glikol dalam basis vanishing cream yang berbeda dengan konsentrasi 3, 5, dan 10%. Sediaan akan diuji terhadap mutu fisik, keamanan, daya sebar, viskositas dan stabilitas sediaan krim pelembab ekstrak Psidium guajava L dalam basis vanishing cream untuk mengetahui hasil terbaik yang dapat meningkatkan hidrasi pada kulit dalam sediaan krim pelembab Psidium guajava L berbasis vanishing cream. Hasil uji yang didapat pada uji mutu fisik dilihat dari warna coklat, bentuk sediaan setengah padat, dan bau krim khas oleum rosae, uji homogenitas krim dengan konsentrasi 3, 5, dan 10% tidak mengalami penggumpalan atau pemisahan fase, uji daya sebar krim berkisar dari 2,6 – 4,1 cm, uji pH krim berkisar 6 – 7, tidak terjadi perubahan pada uji stabilitas, uji viskositas berkisar 8.000 – 11.600 Cp, uji keamanan kosmetik yang dilakukan terhadap 15 panelis selama 3 x 24 jam dengan konsentrasi cream terbaik yaitu 10 % , terdapat tiga panelis mengalami alergi dan sisanya normal. Krim ekstrak daun jambu biji putih dengan tipe M/A memenuhi uji kualitas krim yaitu uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, stabilitas, viskositas, uji keamanan kosmetik dan penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin Ceocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan krim pelembab ditentukan dengan menggunakan alat spektofotometer, kadar fenol yang terdapat pada ekstrak daun jambu biji sebesar 49,71 mg GAE/gram, dan kadar fenol yang terdapat pada sediaan krim pelembab 10 % sebesar 30,55 mg GAE/gram.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% KULIT SEMANGKA (Citrullus lanatus) PADA LUKA GORES TIKUS JANTAN SECARA IN VIVO

No: 325 manis. Kandungan airnya yang banyak, dan kulitnya yang keras berwarna hijau. Buah kulit semangka mengandung lycopene yang merupakan senyawa antioksidan yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan penyakit kanker. Ekstrak kulit semangka berpotensi untuk menyembuhkan luka hal ini kemungkinan dapat disebabkan adanya kandungan sitrullin. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol kulit semangka berdasarkan skrining fitokimia yang dilakukan adalah saponin dan sitrullin, sedangkan uji alkaloid, flavonoid,terpenoid dan steroid, tanin, saponin dan kuinon menunjukan hasil negatif. Selanjutnya dilakukan uji pada hewan coba yaitu tikus putih jantan (Sprague Dawley) Tikus diadaptasi selama 2 minggu. Kemudiaan tikus tersebut dilukai 2 cm setelah itu tikus yang sudah dilukai dioles dengan 0,27 g ekstrak, 0,54 g ekstrak, sediaan gel konsentrasi 10 dan 25%, kontrol negatif dan sediaan gel kontrol positif. Setelah itu luka diamati selama 1 minggu. Hasil pengujian menunjukkan pemberian ekstrak etanol 10 % menunjukkan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberian ekstrak 25% (5 hari). Pemberian sediaan gel 10% menunjukkan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan gel 25 % (5 hari). Pemberian ekstrak etanol 0,27 g dan 0,54 g memberikan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberian gel dan kontrol gel positif.Pada analisis statistik pemberian ekstrak 0,27 g; 0,54 g berbeda nyata dengan pemberian gel ekstrak etanol 10 % dan 25% dan berbeda nyata dengan kontrol positif dan negatif.

EFEKTIVITAS PEMBERIAN GEL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR Swiss Webster

No: 323 Luka merupakan lepasnya integritas epitel kulit diikuti oleh gangguan struktur dari anatomi dan fungsinya.Masyarakat banyak menggunakan daun kelor sebagai obat-obatan salah satunya untuk obat luka.Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel dari daun kelor, mengetahui efektivitas fraksi etil asetat daun kelor dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit putih dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. 500 gram daun kelor diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan 125,81 gram ekstrak etanol kental. Selanjutnya, ekstrak difraksinasi menggunakan air dan etil asetat, kemudian fraksi etil asetat dipekatkan dan menghasilkan 5,57 gram fraksi pekat. Selanjutnya, fraksi diuji fitokimia dengan hasil fraksi etil asetat mengandung senyawa, flavonoid, tanin, dan saponin. Fraksi etil asetat diuji dengan dibuat sediaan gel dengan konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15% dengan menggunakan kontrol positif gel merk A, kontrol negatif yang dibiarkan sembuh alami, serta blanko basis gel CMC-Na. Masing-masing perlakuan diuji menggunakan mencit putih jantan Swiss Webster yang telah diberi luka sayat sepanjang 1 cm. Hasil uji menunjukan sediaan gel fraksi etil asetat daun kelor dengan konsentrasi 5% mampu menyembuhkan luka selama 7 hari, gel dengan konsentrasi 10% menyembuhkan luka selama 6 hari, dan gel konsentrasi 15% mampu menyembuhkan luka yang paling cepat yaitu selama 5 hari.