Sebanyak 13 item atau buku ditemukan

Formulasi sediaan Liptint yang mengandung antioksidan dan pewarna alami dari sari buah naga super merah (Hylocereus costaricensis)

No. 498 Sari Buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) mengandung zat warna Antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami, dan mengandung vitamin C yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Pada penelitian kali ini peneliti ingin mengembangkan zat warna dan kandungan yang dimilki buah naga super merah, untuk dijadikan sebagai pewarna alami pada sediaan pewarna bibir dalam bentuk cair, yang dikenal dengan liptint, sediaan liptint yang dihasilkan dilakukan uji antioksidan, uji evaluasi, uji stabilitas dan uji kesukaan, hasil yang didapat pada uji antioksidan yaitu Sari buah naga super merah, sediaan liptint formula 2 dengan kandungan sari sebesar 60% dan formula 3 dengan kandungan sari sebesar 70% berturut turut adalah 47,67% , 17,07% dan 27,68 % dengan nilai AEAC yang diperoleh berturut turut adalah 2,6075 mg, 0,965 mg, dan 1,576 mg vitamin C, hasil uji Antioksidan pada sediaan liptint formula 2 dan 3 mengalami penurunan sesudah dilakukan uji Stabilitas yaitu berturut-turut menjadi 16,75% dan 18,68% dengan nilai AEAC sebesar 0,947 mg dan 1,057 mg vitamin C, sediaan formula 3 merupakan sediaan yang paling banyak disukai oleh panelis, hasil analisis data menunjukan bahwa tidak ada perbedaan nyata Aktivitas Antioksidan antara sediaan formula 2 dan 3 sebelum dan sesudah uji stabilitas.

Uji efektifitas minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix C.) dalam sediaan gel sabun cair untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus

No. 467 Telah dilakukan uji daya antibakteri gel sabun cair dari minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix D C.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair dapat memberikan efektifitas antibakteri dengan metode cakram. Pengujian minyak atsiri dilakukan dengan uji analisis kualitatif yaitu warna bening kekuningan, nilai pH 4, indeks bias 1,337, viskositas 0,68 cps, bobot jenis 0,85 g/ml dan analisis kuantitatif menggunakan metode GC-MS untuk menganalisis senyawa minyak atsiriyang terkandung didalamnya. Pengambilan minyak atsiri dari daun jeruk purut segar dilakukan dengan proses destilasi uap. Rendemen minyak atsiri yang dihasilkan sebesar 0,91%. Konsentrasi minyak atsiri yang digunakan pada formula gel sabun cair yaitu 1%, 2% dan 3%. Berdasarkan hasil analisis GC-MS kandungan senyawa citronellal yaitu sebesar 55,42% dan hasil penelitian minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair mempunyai mutu fisik yang baik. Hasil efektifitas antibakteri pada konsentrasi 1%, 2%, 3% sebelum uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 9,86 mm, 10,53 mm, 12,23 mm dan sesudah uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 10,03 mm, 10,30 mm, 12,13 mm. Semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut yang digunakan maka semakin tinggi diameter zona hambat.

Uji aktivitas dan stabilitas sediaan gel antibakteri dari air perasn buah jeruk lemon (Citrus Limon L. Osbeck) terhadap AP Propionibacterium Acnes secara in vito

No. 461 Jerawat adalah suatu keadaan pori-pori kulit tersumbat dan infeksi oleh bakteri Propionibacterium acne sehingga menimbulkan abses (kantong nanah) yang meradang dan terinfeksi pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik sediaan gel air perasan buah jeruk lemon (Citrus limon L. Osbeck) dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acne. Pada penelitian ini air perasan buah jeruk lemon (Citrus limon L. Osbeck) diformulasikan dalam sediaan gel dengan konsentrasi 12,5%, 25%, 50% kemudian diuji mutu fisiknya yang meliputi : organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas dan stabilitas dengan metode Cycling test. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya sebelum dan sesudah uji Cycling test menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian sediaan gel air perasan buah jeruk lemon mempunyai mutu fisik dan stabilitas yang baik dan aktivitas antibakteri yang terbaik terdapat pada formula III (50%) sebelum uji Cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 15,21 mm dan sesudah uji Cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 15,13 mm. Hasil analisis one way anova dengan uji lanjutan Duncan yang didapatkan yaitu homogen karena nilai signifikasinya sebesar 0,77 (≥0,05). Sedangkan untuk perlakuan dan kelompok yaitu nilai signifikannya sebesar 0,00 (≤0,05 terima HI). Artinya pada setiap konsentrasi air perasan buah jeruk lemon yang dipakai dalam sediaan gel sebelum dan sesudah uji Cycling test mempunyai diameter zona hambat yang berbeda dan ada hubungan antara aktivitas antibakteri dengan peningkatan konsentrasi air perasan buah jeruk lemon (Citrus limon L. Osbeck).

KARAKTERISASI DAN UJI PENETRASI NIOSOM EKSTRAK AIR DAGING BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) DENGAN METODE SEL DIFUSI FRANZ

No: 391 Telah dilakukan penelitian sediaan nanoteknologi berupa niosom mengandung ekstrak air daging buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) yang merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki banyak kandungan metabolit sekunder diantaranya flavonoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Dibuat dalam bentuk niosom sebagai sistem penghantaran obat yang bertujuan untuk meningkatkan penetrasi zat aktif pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakterisasi antara formula niosom dan tanpa niosom (formula pembanding) pada pengukuran ukuran partikel (PSA), distribusi ukuran partikel (PDI), dan nilai zeta potensial. Formula niosom ekstrak air daging buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) menggunakan metode sonikasi pada amplitudo 40 meter dengan waktu 30 menit, dan suhu <40oC. Kemudian dilakukan uji penetrasi dengan metode sel difusi franz pada kulit mencit. Hasil pengamatan menunjukkan ekstrak tersebut mengandung 5,5537% flavonoid equivalen kuersetin dengan ukuran partikel masing-masing formula yaitu 462,0 nm dan 1.250,3 nm, dari data PDI masing-masing formula berturut-turut yaitu 0,42 dan 0,54, serta data zeta potensial masing-masing formula berturut-turut yaitu -30,2mV dan -21,8mV. Hasil pengamatan difusi franz setelah 8 jam didapatkan persen flavonoid yang terpenetrasi pada niosom dan formula pembanding (tanpa niosom) per luas area difusi secara berturut-turut yaitu 16,327 µg/cm2 dan 11,328 µg/cm2. Serta fluks secara berturut-turut yaitu 2,040 µg/cm2.jam-1 dan 1,416 µg/cm2..jam-1. Dari hasil uji difusi secara in vitro menunjukkan bahwa formula niosom mempunyai daya penetrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan formula pembanding.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) DALAM SEDIAAN SABUN GEL PEMBERSIH WAJAH SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH

No: 387 Daun sukun (Artocarpus altilis F) memiliki memiliki kandungan senyawa flavonoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Senyawa ini diperlukan kulit untuk mencegah dan mengurangi efek radikal bebas. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan sabun gel pembersih wajah menggunakan ekstrak etanol 96% daun sukun. Dilakukan tiga formulasi dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu 10% (formula 1), 20% (Formula 2), dan 40% (Formula 3) dan dilakukan pengukuran aktivitas antioksidan pada ketiga formula tersebut. Penentuan aktivitas antioksidan ditetapkan dengan metode peredaman DPPH. Hasil dengan aktivitas antioksidan tertinggi kemudian dilakukan uji kestabilan fisik. Uji kestabilan fisik dilakukan dengan pengamatan sabun gel yang disimpan pada suhu rendah (4±2◦C), suhu kamar (27±2◦C), suhu tinggi (40±2◦C), dan cycling test. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 sabun gel pembersih wajah yang mengandung ekstrak etanol 96% daun sukun 10, 20, dan 40% berturut-turut adalah 310.7033 µg/mL, 232.24 µg/mL, dan 140.036 µg/mL. Sabun gel pembersih wajah FIII stabil secara fisik pada penyimpanan suhu rendah, suhu kamar, suhu tinggi dan cycling test.

UJI MUTU FISIK DAN EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN TURI (Sesbania grandiflora Pers.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUS SPRAGUE DAWLEY

No: 376 Luka menyebabkan rasa tidak nyaman pada kulit sehingga saat terjadi luka orang akan segera mengobati lukanya baik menggunakan obat sintetik maupun obat tradisional. Daun turi (Sesbania grandiflora Pers.) mengandung senyawa saponin dan tanin yang dapat berkhasiat sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji mutu fisik sediaan gel yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, uji viskositas, uji pH dan uji stabilitas sediaan serta menguji efektivitas sediaan gel ekstrak etanol daun turi terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan. Sampel uji dalam penelitian ini adalah ekstrak kental etanol daun turi yang diperoleh dengan cara maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan gel. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel ekstrak etanol daun turi berwarna hijau kecoklatan, berbentuk gel yang homogen, memiliki pH 6 - 6,5, dan memiliki daya sebar gel yang baik. Efektivitas penyembuhan luka sayat dari sediaan gel ekstrak etanol daun turi dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15% tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol positif.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) GALUR Sprague Dawley DALAM SEDIAAN GEL

No: 374 Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas baik kontak secara langsung maupun tidak langsung. Luka bakar mengakibatkan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kulit, oleh karena itu diperlukan pengobatan untuk meringankan efek yang ditimbulkan tersebut. Tanin merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat dalam daun bayam merah. Tanin memiliki khasiat sebagai penyamak kulit sehingga efektif digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik dan efektivitas ekstrak etanol daun bayam merah yang diformulasikan dalam sediaan gel dalam mempercepat penyembuhan luka bakar. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi selama 3x24 jam dengan 3x penyaringan lalu dipekatkan dengan Rotary Evaporator. Ekstrak pekat dibuat dalam bentuk sediaan gel dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15% . Selanjutnya diaplikasikan pada hewan uji yang menderita luka bakar tipe II. Data pengamatan selama 14 hari kemudian dianalisis dengan metode One Way Anova dan menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bayam merah yang dibuat dalam sediaan gel memiliki aktivitas mempercepat penyembuhan luka bakar ditandai dengan perbedaan nyata antara kontrol negatif dengan kelompok perlakuan dan efektif pada konsentrasi 15%.

UJI FARMAKOLOGIS EKSTRAK KENTAL DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L) UNTUK MEMBANTU PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novegicus strain Sprague-Dawley)

No: 294 Luka merupakan lepasnya integritas epitel kulit diikuti oleh gangguan struktur dari anatomi dan fungsinya.Masyarakat banyak menggunakan daun kemangi sebagai obat-obatan salah satunya untuk obat luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak kental daun kemangi, melihat kecepatan proses penyembuhan luka sayat dengan pembanding, dan konsentrasi ekstrak kental daun kemangi manakah yang paling efektif pengaruhnya terhadap penyembuhan luka koreng pada tikus putih jantan. 500 gram simplisia daun kemangi direbus selama 15 menit dengan suhu 600Cdengan menggunakan pelarut air sebanyak 500 ml, kemudian disaring menggunakan kertas saring, didapatkan hasil 194,15 g berwarna hijau kehitaman. Setelah direbus ekstrak dikentalkan menggunakan hotplate selama 15 menit, ekstrak kental yang diperoleh sebanyak 121,17g. Selanjutnya ekstrak kental tersebut dibuat 4 konsentrasi yaitu 25%,50%,75%,100% dengan menggunakan kontrol positif Povidone Iodine dan kontrol negatif yang dibiarkan sembuh alami. Masing-masing perlakuan diuji menggunakan tikus putih jantan (Rattus novergicus strain Sparague-Dawley)yang telah diberi luka sayat sepanjang 2 cm. Hasil uji menunjukkan ekstrak kental daun kemangi dengan kontrol negatif mampu menyembuhkan luka selama 13 hari, konsentrasi 25% selama 11 hari, konsentrasi 50% selama 10 hari, konsentrasi 75% selama 9 hari, dan konsentrasi 100% dan kontrol positif mampu menyembuhkan luka yang paling cepat yaitu selama 8 hari.

FORMULASI FAST DISSOLVING TABLET SALBUTAMOL SULFAT MENGGUNAKAN VARIASI JUMLAH CROSPOVIDONE SEBAGAI SUPERDISINTEGRAN

No: 291 Salbutamol sulfat membutuhkan onset yang cepat karena digunakan untuk pengobatan asma yang memerlukan reaksi kerja obat yang cepat. Fast dissolving tablet (FDT) merupakan tablet yang dapat hancur dalam waktu singkat sehingga dapat menjadi alternatif untuk mempercepat kerja obat sehingga meningkatkan efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi crospovidone sebagai bahan superdisintegran terhadap kecepatan waktu hancur dari FDT salbutamol sulfat. Dibuat tiga formula FDT yang masing-masing mengandung 5% (F1), 15% (F2), dan 25% (F3) crospovidone. Pembuatan FDT dilakukan dengan metode kempa langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa tablet FDT yang dibuat memenuhi persyaratan fisik sediaan FDT meliputi keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu pembasahan, waktu disintegrasi termodifikasi, keseragaman kandungan dan stabilitas. Formula F1 (crospovidone 5%) memiliki waktu disintegrasi termodifikasi 135,115 � 0,806 detik, formula 2 (crospovidone 15%) memiliki waktu disintegrasi termodifikasi 101,405 � 1,069 detik, dan formula 3 (crospovidone 25%) memiliki waktu disintegrasi termodifikasi 93,950 � 0,628 detik. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi crospovidone maka akan menghasilkan tablet dengan waktu disintegrasi yang semakin cepat.