Sebanyak 2 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN FREKUENSI PENGAMBILAN EXJADE® TERHADAP KADAR FERITIN SERUM PADA PASIEN TALASEMIA ANAK DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SETUKPA POLRI SUKABUMI

No. 553 Pengobatan talasemia pada anak salah satunya dengan transfusi darah akan tetapi transfusi darah secara terus menerus akan meningkatnya zat besi dalam tubuh untuk mengatasi penumpukan zat besi didalam tubuh diberikan kelasi besi seperti Exjade®. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Exjade® terhadap penurunan kadar feritin serum pada pasien talasemia anak. Data diambil secara retrospektif observasional dilakukan dengan mengambil data sekunder dari rekam medik pasien talasemia anak pada bulan Januari sampai Desember 2018 di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Sampel penelitian sebanyak 49 pasien talasemia anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak menderita talasemia pada usia 5-11 tahun sebanyak 75,5%, dan jenis kelamin terbanyak menderita talasemia adalah perempuan sebanyak 53,1%, frekuensi pengambilan Exjade® dalam satu periode paling banyak adalah 3 kali pengambilan sebanyak 24,5%, dan gambaran kadar feritin serum paling banyak dikisaran 2000-3000 sebanyak 34,7%. Tidak ada hubungan bermakna antara pengambilan Exjade® dengan penurunan kadar feritin serum P-value < 0,05 (p-value = 0,000).

Perbandingan Efektifitas penggunaan sefotaksim dan seftriakson pada terapi demam tifoid anak di instalasi rawat inap RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi

No. 520 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi dan endemis yang disebabkan oleh Salmonella Typhi yang erat hubungannya dengan kualitas dari higiene pribadi dan sanitasi. Di Indonesia penyakit ini bersifat Endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat, Berdasarkan Riset Kementerian RI tahun 2013 prevelansi nasional adalah 1, 60 %,Untuk jawa barat prevelansi nasional 2,1 %. Pengobatan demam tifoid salah satunya dengan pemberian antibiotik.Seperti Seftriakson sefotaksim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan penggunaan efektivitas seftriakson dan sefotaksim terhadap lamanya perawatan pasien demam tifoid anak di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif observasional. Sampel penelitian dilakukan dengan Purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 142. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji Mann Whitney. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama rawat inap pasien yang menggunakan Seftriakson adalah 3,65 hari ( 3 hari 16 jam) dan Sefotaksim 3,92 hari (3 hari 22 jam ). Efektivitas seftriakson dan seftaksim menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dapat dilihat dari P>0.05 ( P=0,129).