Sebanyak 116 item atau buku ditemukan

FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL BUNGA KUBIS MERAH (Brassica oleracea L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH

No. 548 Kubis merah (Brassica oleracea L.) mengandung senyawa antioksidan dengan potensi aktivitas yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel antioksidan dengan menggunakan HPMC sebagai basis gel yang mengandung ekstrak etanol bunga kubis merah dengan konsentrasi (% b/b) untuk F1, F2 dan F3 adalah 5%, 7,5% dan 10%, yang kemudian dievaluasi dan diuji aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode penentuan IC50 menggunakan pereaksi DPPH (Difenil-2-pikrilhidrazil). Dari penelitian diperoleh nilai IC50 untuk ekstrak etanol bunga kubis merah dan Vitamin C sebagai senyawa pembanding adalah 47,10 ppm dan 6,30 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol bunga kubis merah dalam sediaan gel pada masingmasing formulasi memiliki nilai IC50 sebesar 80,15 ppm (F1), 59,71 ppm (F2), dan 57,48 ppm (F3). Evaluasi sediaan gel meliputi pengamatan homogenitas, organoleptik, viskositas dan pH. Hasil uji sifat fisik sediaan gel menunjukkan bahwa semua sediaan gel homogen, memiliki pH antara 5,30-5,70 yang sesuai dengan pH kulit, dengan nilai viskositas 3000-3700 cps, dan memiliki daya sebar ≤ 7 cm. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga kubis merah dapat diformulasikan dalam sedian gel antioksidan dengan konsentrasi terbaik adalah 10%.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% TANAMAN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 542 Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling umun di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri Streptococcus mutans.tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan sirih hijau (Piper betle L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak tunggal etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang akan digunakan untuk membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 7,5 mm, 8,83 mm dan 11,4 mm. dan untuk ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 9,23 mm, 10,4 mm dan 11,8 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,4 mm untuk tanaman sereh wangi dan 11,8 mm untuk ekstrak daun sirih hijau yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri kuat. Dan untuk kombinasi yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3 dengan nilai diameter zona hambat rata-rata 16,38 mm yang berarti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.

Penapisan virtual potensi senyawa inhibbitor terhadap reseptor tyrosine kinase A sebagai anti tuberkulosis

No. 535 Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang umumnya disebabkan oleh kuman yang disebut Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dennis et al., 2017 menunjukan bahwa penghapusan protein tyrosine kinase A pada mutan Mycobacterium tuberculosis menyebabkan gangguan kelangsungan hidup mutan tersebut. Protein tyrosine kinase merupakan enzim yang mengkatalisis proses fosforilasi dari residu tyrosine yaitu proses transfer ion fosfat dari ATP ke gugus hidroksil (OH) tyrosine pada protein targetnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis dengan menggunakan senyawa uji dari pangkalan data Zinc15. Metode penelitian ini dilakukan secara insilico dengan melakukan penambatan molekuler untuk mengetahui nilai binding affinity serta perhitungan konstanta inhibisi, yang kemudian divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer 2016 dan Pymol. Potensi senyawa uji dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakokinetik senyawa tersebut. Setelah itu, dilakukan uji toksisitas menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antituberkulosis, yaitu asam salazinic, heliomisin , 3-3’ bijuglone, diaserin dan garsinon c, dengan nilai binding affinity berturu-turut -11,5 kkal/mol, -11,5 kkal/mol, -11,4 kkal/mol, -11,3 kkal/mol dan -11,3 kkal/mol. Semua senyawa tersebut memiliki afinitas ikatan yang lebih kecil daripada gefitinib (-10,6 kkal/mol) sebagai ligan pembanding. Dan dinyatakan tidak toksik secara analisis menggunakan admetSAR dan toxtree dengan uji Kroes TTC Decision Tree, juga tidak berpotensi karsinogenik non-genotoksik berdasarkan uji Benigni and Bossa Rulebase.

Analisis Interaksi Obat Antidiabetik pada pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor

No. 523 Interaksi obat merupakan interaksi antara suatu obat dengan bahan lainnnya yang mencegah obat tersebut memberikan efek seperti yang diharapkan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik jika berakibat meningkatkan toksisitas atau mengurangi efektifitas obat yang berinteraksi, jadi terutama jika menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit. Demikian juga interaksi yang menyangkut obat-obat yang biasa digunakan atau yang sering diberikan bersama tentu lebih penting dari pada obat yang jarang dipakai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran jenis obat antidiabetik yang digunakan, jumlah interaksi obat dan tingkat potensial interaksi obat dalam penggunaan obat antidiabetik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi dengan metode analisis deskriptif dengan mengambil data resep obat antidiabetik secara retrospektif pada bulan Maret 2019. Hasil penelitian menunjukan dari 117 resep, obat antidiabetik yang banyak digunakan yaitu metformin sebesar 56 resep (25,93%), jumlah interaksi obat dalam satu resep paling banyak yaitu 2 kejadian (23,93%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi obat secara potensial sebanyak 203 kejadian interaksi, potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian minor sebanyak 17 (8,37%), moderate 184 (90,64%) dan major 2 (0,99%).