Sebanyak 116 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL SUNTIK DEPO MEDROXY PROGESTERONE ACETATE (DMPA) DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN DI PUSKESMAS JASINGA KECAMATAN JASINGA KABUPATEN BOGOR TAHUN 2016

No: 288 Kontrasepsi hormonal adalah kontrasepsi yang mengandung estrogen danprogesteron. Depo Medroxy Progesterone Asetat(DMPA) adalah kontrasepsi yang hanya mengandung progesteron dan tidak mengandung estrogen dan disuntikan setiap tiga bulan sekali. Kontrasepsi hormonal adalah kontrasepsi yang paling banyak di minati, data kependudukan dan hasil susenas KB tahun 2015 sebesar 59,57% untuk peserta KB suntik , dikarenakan akses lebih mudah dan biaya lebih murah, namun ada efek samping yang ditimbulkan oleh kontrasepsi tersebut , salahsatu efek samping tersebut adalah peningkatan beratbadan.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal suntik DMPA dengan peningkatan beratbadan.Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan tehnik purposive sampling berdasarkan ciri-ciri yang telah ditentukan dalam kriteria inklusi. Analisis yang dilakukan adalah uji dengan Chi Square.Analisis Chi Square menunjukkan nilai Asymp. Sig. (1-tailed) adalah 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan bahwa HO ditolak , yang bartinya terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan KB DMPA dengan peningkatan berat badan .

PENETAPAN DISTRIBUSI UKURAN PARTIKEL DALAM SEDIAAN SUSPENSI INJEKSI MEDROKSIPROGESTERON ASESTAT 50 mg/mL DENGAN MENGGUNAKAN MASTERSIZER 3000

No: 286 Suspensi injeksi memiliki ukuran partikel yang berdampak signifikan terhadap kecepatan disolusi, bioavailabilitas, dan atau stabilitas. Pengujian distribusi ukuran partikel harus dilakukan dengan menggunakan prosedur yang sesuai. Tujuan penelitian untuk menetapkan distribusi ukuran partikel Dv (10), Dv (50), dan Dv (90) pada sediaan suspensi Injeksi medroksiprogesteron asetat 50 mg/ mL dengan menggunakan mastersizer 3000 yang memiliki metode Laser Diffraction. Penetapan dilakukan menggunakan Purified water sebagai medium, lama pengukuran 7 detik, stabilitas pengukuran sampel 7 menit, kecepatan pompa dan pengaduk 1500 rpm, dan obscuration 15. Metode ini memberikan presisi baik dengan RSD untuk Dv (10) sebesar 2,57, Dv (50) sebesar 1,21, dan Dv (90) sebesar 1,74. Metode ini memberikan presisi antara baik dengan RSD gabungan dari Dv (50) sebesar 0,82. Hasil menunjukkan Dv (10) bahan uji A 4,48 mikron, B 4,15 mikron, dan C 4,12 mikron, Dv (50) bahan uji A 11,7 mikron, B 11,2 mikron, dan C 11,1 mikron, dan Dv (90) bahan uji A 21,6 mikron, B 21 mikron, dan C 20,9 mikron. Hasil penelitian kondisi penyimpanan 40�C � 2�C / RH 75 �5% menunjukkan F hitung (0,13454) < F tabel (3,47805) dan 30�C � 2�C / RH 75 �5 % menunjukkan F hitung (0,29712) < F tabel (3,47805).

EVALUASI PEMAKAIAN OBAT BERDASARKAN ANALISIS ABC DAN KESESUAIAN FORMULARIUM DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT PERTAMEDIKA SENYUL CITY PERIODE JANUARI-JUNI 2015

No: 281 Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien. Salah satu komponen pokok yang ada di dalam rumah sakit adalah pengelolaan obat. Obat merupakan salah satu komponen yang menyerap biaya terbesar dari anggaran kesehatan, maka dari itu perlu adanya proses pengelolaan obat yang baik. Sistem pengelolaan obat menyangkut proses perencanaan, pengadaan, distribusi, penyimpanan, dan penggunaan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelompokan obat dan alat kesehatan berdasarkan harga obat dan jenis obat yang ada di dalam formularium menggunakan metode ABC di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City periode JanuariJuni 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan jumlah item kelompok A 21,58% dan investasi 79, 92 %, kelompok B 25,40% dan investasi 15,08%, sedangkan kelompok C 53,02 % dan investasi 5%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai investasi yang dialokasikan untuk kelompok A cukup tinggi sehingga dalam pembuatan formularium di tahun berikutnya perlu dikurangi. Pengelompokan obat dan alat kesehatan yang masuk ke dalam formularium terdapat 756 item atau sekitar 80% dari total obat dan alat kesehatan yang ada di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City. Obat dan alat kesehatan yang tidak masuk ke dalam formularium terdapat 189 item atau sekitar 20% dari total obat dan alat kesehatan yang ada di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City.

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM SABUN TRANSPARAN TERHADAP PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus aureus

No: 273 Biofilm merupakan bentuk struktural dari sekumpulan mikrooganisme yang dilindungi oleh matrik ekstraseluler yang disebut Extracellular Polymeric Substance (EPS). EPS merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh mikrooganisme tersebut dan dapat melindungi dari pengaruh buruk lingkungan. Bakteri Staphylococcus aureus adalah patogen yang dapat membentuk biofilm. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mengandung saponin dan berpotensi untuk membersihkan biofilm karena mempunyai kemampuan sebagai surfaktan atau bahan pembersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak daun pepaya, kemudian dilakukan pengujian pembersihan biofilm S. aureus dengan menggunakan ekstrak etanol daun pepaya untuk mengetahui kondisi optimum pembersihan biofilm S. aureus. Selain itu, menguji aktivitas sabun transparan yang mengandung ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm S.aureus pada kondisi optimum. Optimasi proses pembersihan biofilm S. aureus menggunakan Microtiter Plate Biofilm Assay, berdasarkan Respon Surface Design dan analisis data menggunakan metode Response Surface Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembersihan optimum pembersihan sabun transparan ekstrak etanol daun pepaya berada pada konsentrasi 1,6%, waktu kontak 5 menit dan suhu pembersihan 300C. Untuk membersihkan biofilm, dibutuhkan senyawa atau bahan yang memiliki aktivitas antibiofilm.

ANALISIS PERBEDAAN KEPUASAN ORANG TUA PASIEN ANAK RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN OBAT RACIKAN DAN NON RACIKAN DI BLUD RS SEKARWANGI SUKABUMI

No: 272 Salah satu kualitas pelayanan farmasi di rumah sakit yaitu kepuasan pasien. Kepuasan pasien terhadap pelayanan farmasi dapat diukur dengan membandingkan antara harapan pasien dengan kenyataan yang diterima. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kepuasan orang tua pasien anak rawat jalan terhadap pelayanan obat racikan dan non racikan Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Data primer diperoleh dari survey kepada orang tua pasien dengan menggunakanalat ukur kuesioner. Metode analisis yang digunakan yaitu uji independents sample t-test. Hasil penelitian diperoleh persentase rata-rata kepuasan orang tua pasien pada pelayanan obat racikan sebesar 81,24 % dan pada pelayanan obat non racikan sebesar 83,72 %. Hasil uji independents sample t-test diperoleh nilai t hitung -2,050 dan t tabel dengan df 88 dan alpha 10 % adalah -1,291 dan nilai signifikansi 0,043. Karena nilai t hitung > t tabel dan nilai signifikansi < 0,1, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan orang tua pasien anak rawat jalan terhadap pelayanan obat racikan dan non racikan.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SEFTRIAKSON DAN LEVOFLOKSASIN TERHADAP GEJALA DEMAM DAN LAMA PERAWATAN PENYAKIT DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR

No: 258 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi (S.typhi). Hingga saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Antibakteri merupakan obat utama yang digunakan untuk mengobati penyakit ini, penggunaan antibakteri yang tidak tepat menyebabkan pengobatan tidak efektif dan menimbulkan resistensi yang lebih dikenal dengan istilah strain Multi Drug Resistance (MDR). Berdasarkan hal tersebut, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alternatif antibakteri yang lebih efektif terhadap bakteri S.typhi. Seftriakson dan levofloksasin merupakan beberapa antibakteri yang digunakan dalam terapi demam tifoid di rumah sakit Salak Bogor. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari hilangnya gejala demam dan lama perawatan di rumah sakit. Telah dilakukan penelitian pada 50 pasien demam tifoid usia 12-59 tahun di Rumah Sakit Salak pada bulan Februari hingga Mei 2015 dengan teknik pengumpulan data prospektif dan dianalisa secara statistik. Penderita paling banyak terjadi pada pasien laki-laki yaitu 33 pasien dengan usia produktif yaitu 17-25 tahun. Hilangnya gejala demam terjadi pada hari kedua hingga hari keempat dengan rata-rata lama rawat dua hingga lima hari. Data yang di analisa menggunakan Anova menunjukan adanya perbedaan terhadap lama penurunan suhu dan lama rawat yang menggunakan seftriakson dan levofloksasin. Dimana hilangnya gejala demam dan lama rawat yang paling cepat terjadi pada pasien yang menggunakan levofloksasin.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL DAN AIR DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff)

No: 251 Daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) adalah tanaman yang memiliki manfaat kesehatan yang baik. Metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman tersebut antara lain adalah flavonoid. Fungsi flavonoid dalam tubuh manusia antara lain sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan air daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) serta kandungan fitokimianya. Penelitian ini dilakukan dengan ekstraksi daun wungu muda secara maserasi menggunakan pelarut etanol dan air. Penapisan fitokimia yang dilakukan meliputi uji saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil). Hasil pengujian penapisan fitokimia daun wungu menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun wungu menghasilkan aktivitas antioksidan berskala lemah dengan nilai IC50 sebesar 1780,52 ppm, sedangkan ekstrak air daun wungu tidak menunjukkan aktivitas antioksidan. Namun aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol 70% daun wungu muda tersebut jauh lebih rendah dari aktivitas antioksidan vitamin C yang memiliki IC50 sebesar 4,52 ppm.

UJI AKTIVITAS EKSTRAKn-HEKSANA BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) DAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) TERHADAP VIABILITAS DAN KEBOCORAN DINDING SEL Mycobacterium smegmatis

No: 249 Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diperkaya dengan campuran herbal yang memiliki aktivitas untuk mendapatkan suatu formula yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan. Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) merupakan tanaman herbal khas batak yang memiliki aktivitas antimikobakteri. Penelitian bertujuan mengungkap potensi VCO untuk dijadikan formula hasil campuran dengan buah Andaliman terhadap Mycobacterium smegmatis. Bahan uji ekstrak n-Heksana buah Andaliman dan VCO, dilakukan pengujian aktivitas antimikobakteri, yaitu difusi zona hambat dengan terbentuknya zona bening pada ekstrak n-Heksana buah Andaliman sebesar 31,1 mm dan pada VCO tidak terbentuk zona bening. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditentukan dengan metode dilusi MTT Assay. Nilai KHM untuk ekstrak n-Heksana buah Andaliman 64 �g/mL dan untuk VCO sampai konsentrasi 512 �g/mL tidak ditemukan nilai KHM, sedangkan untuk perlakuan campuran ekstrak n-Heksana buah andaliman dan VCO menunjukkan viabilitas rendah sama dengan viabilitas biak yang diperlakukan dengan rifampisin (8 �g/mL). Kerusakan membran sel M. smegmatis diamati adanya kebocoran ion K+ dan Na+ menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometre). Ekstrak n-Heksana buah andaliman mengakibatkan kebocoran ion K+ dan Na+; VCO mengakibatkan turunnya kadar K+ dan Na+ pada ekstrakseluler, baik pada biakan kontrol dan campuran ekstrak n-Heksana buah andaliman. Penelitian ini disimpulkan bahwa campuran VCO dan ekstrak n-Heksana buah andaliman memiliki aktivitas melawan M. smegmatis walau VCO melindungi sel dari kebocoran ion.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN HASIL FERMENTASI Lactobacillus plantarum TERHADAP HIDROLISAT Eucheuma cottonii SECARA ASAM DAN ENZIM

No: 236 Eucheuma cottonii adalah salah satu jenis rumput laut yang diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan. E. cottonii mengandung pigmen fotosintesis, klorofil a, α-karoten, β-karoten, fikobilin, neoxantin, zeaxantin, serta vitamin C dan senyawa polifenol. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan hasil fermentasi hidrolisat E. cottonii dengan Lactobacillus plantarum. E. cottonii kering dihidrolisis menggunakan HCl dan α-amilase. Hasil hidrolisis ditetapkan pHnya lalu dilakukan pengenceran menjadi konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% v/v. Supernatant hasil fermentasi kemudian dilakukan pengujian antioksidan. Kontrol positif yang digunakan adalah vitamin C 1000 ppm. Hasil fermentasi hidrolisat E. cottonii secara asam dengan HCl oleh L. plantarum pada konsentrasi 0, 25, 50, 75, dan 100% v/v mempunyai aktivitas antioksidan masing-masing 2,40, 5,21, 27,63, 50,25 dan 80,48%. Hasil fermentasi hidrolisat E. cottonii secara enzimatis dengan α-amilase oleh L. plantarum pada konsentrasi 0, 25, 50, 75, dan 100% v/v mempunyai aktivitas antioksidan masing-masing 4,50, 9,21, 15,21, 23,12, dan 31,03%. Berdasarkan hasil tersebut aktivitas antioksidan tertinggi pada hidrolisat E. cottonii secara asam dengan konsentrasi 100% dibandingkan hidrolisat E. cottonii secara enzim.

PENGARUH KELEMBABAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU FENITOIN NATRIUM DALAM KAPSUL

No: 234 Fenitoin Natrium adalah obat antiepilepsi turunan hidantoin. Karakteristik fisik obat ini akan sangat cepat berubah jika disimpan dengan kelembaban dan suhu udara yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelembanan dan suhu terhadap mutu fenitoin natrium dalam kapsul selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan sampel kapsul fenitoin natrium sebanyak 6 kapsul untuk setiap perlakuan yang dan disimpan selama delapan minggu. Perlakuan penyimpanan dilakukan dalam lemari es dengan suhu 2-8 derajat celcius dan kelembaban 40%, dalam desikator dengan suhu 25-30 derajat celcius dan kelembaban 60%, dan dalam Climatic Chamber dengan suhu 40 derajat celcius dan kelembaban 70%. Pengamatan terhadap perubahan fisik sampel (pengerasan, bau, dan waktu hancur) dilakukan setiap dua minggu. Fenitoin natrium dalam setiap kapsul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi kapsul pada semua perlakuan penyimpanan mengalami perubahan sifat fisik (mengeras, berbau menyengat, dan waktu hancur ). Pada setiap kondisi dimana kelembaban dan suhu udara yang tinggi (Climatic Chamber) menyebabkan waktu hancur isi kapsul akan semakin lama seiring dengan lamanya waktu penyimpanan. Kadar fenitoin natrium dalam kapsul pada semua perlakuan menurun (95% - 98%) setelah delapan minggu, dan semakin besar penurunan kadarnya (95%) pada suhu dan kelembanan yang tinggi. Stabilitas juga menurun dengan semakin tingginya suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Mutu kapsul fenitoin natrium akan lebih terjaga jika disimpan pada suhu dan kelembaban rendah.