Sebanyak 23 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAYA HIDUP DAN KEPATUHAN PASIEN DALAM MENJALANI PENGOBATAN DI POLIKLINIK DHUAFA IBNU SINA BAZNAS KOTA BOGOR

No. 555 Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh senyap, karena termasuk penyakit mematikan tanpa disertai gejala. Pengetahuan yang kurang baik, kepatuhan minum obat kurang baik, dan gaya hidup kurang baik dapat menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol. Gaya hidup hipertensi yang tidak sehat, dapat menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi, misalnya: makanan, aktifitas fisik, stres, dan merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien dengan gaya hidup dan kepatuhan dalam meminum obat. Desain penelitian ini adalah prospektif dengan cara pendekatan Cross sectional. Sampel penelitian diambil berdasarkan total sampling dari populasi penyakit hipertensi sesuai kriteria inklusi dan eksklusi sampel yang didapat sebanyak 50 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran pengetahuan pasien hipertensi yang cukup sebanyak 32 pasien (64%), gambaran gaya hidup penderita hipertensi baik sebanyak 39 orang (78%) dan gambaran kepatuhan pasien hipertensi yang patuh dalam meminum obat sebanyak 1 orang (2%). Hubungan antara pengetahuan pasien hipertensi dengan gaya hidup dan hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kepatuhan di uji dengan menggunakan Korelasi Spearman Rho yang diperoleh nilai p-value > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan gaya hidup (p-value=0,198) dan tidak ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan (p-value=0,331) pasien hipertensi.

ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELLITUS SEBELUM DAN SETELAH DI EDUKASI DI PUSKESMAS PASAR MUKA CIANJUR

No. 554 Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif pada system metabolisme ditandai kenaikan kadar gula darah. Keberhasila terapi untuk pasien diabetes dipengaruhi oleh pengetahuan pasien tentang penyakit DM dan kepatuhan pasien dalam minum obat. Pengetahuan pasien dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara pemberian edukasi melalui leaflet tentang penyakit diabetes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pasien diabetes mellitus di puskesmas pasar muka cianjur sebelum dan sesudah edukasi. Metode penelitian ini adalah secara prospektif, dengan menggunakan pendekatan Case-Control pada pasien penyakit diabetes mellitus di Puskesmas Pasar Muka – Cianjur. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 54 orang, pengumpulan data menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ada perbedaan tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus di Puskesmas Pasar Muka Cianjur sebelum dan setelah edukasi dapat dilihat dari nilai P-value = 0,000 (p < 0,05).

HUBUNGAN FREKUENSI PENGAMBILAN EXJADE® TERHADAP KADAR FERITIN SERUM PADA PASIEN TALASEMIA ANAK DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SETUKPA POLRI SUKABUMI

No. 553 Pengobatan talasemia pada anak salah satunya dengan transfusi darah akan tetapi transfusi darah secara terus menerus akan meningkatnya zat besi dalam tubuh untuk mengatasi penumpukan zat besi didalam tubuh diberikan kelasi besi seperti Exjade®. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Exjade® terhadap penurunan kadar feritin serum pada pasien talasemia anak. Data diambil secara retrospektif observasional dilakukan dengan mengambil data sekunder dari rekam medik pasien talasemia anak pada bulan Januari sampai Desember 2018 di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Sampel penelitian sebanyak 49 pasien talasemia anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak menderita talasemia pada usia 5-11 tahun sebanyak 75,5%, dan jenis kelamin terbanyak menderita talasemia adalah perempuan sebanyak 53,1%, frekuensi pengambilan Exjade® dalam satu periode paling banyak adalah 3 kali pengambilan sebanyak 24,5%, dan gambaran kadar feritin serum paling banyak dikisaran 2000-3000 sebanyak 34,7%. Tidak ada hubungan bermakna antara pengambilan Exjade® dengan penurunan kadar feritin serum P-value < 0,05 (p-value = 0,000).

Hubungan Pengetahuan dengan`kepatuhan minum obat pada pasien Hiperkolesterolemia lanjut usia di puskesmas Cipaku Bogor

No. 525 Hiperkolesterolemia dapat meningkatkan risiko terkena aterosklerosis sehingga dapat menimbulkan penyakit jantung koroner dan struk. Berdasarkan data riskesdas 2013 prevalensi hiperkolesterolemia meningkat 15% sesuai pertambahan usia pada kelompok lansia usia 55 – 64 tahun. Bertambahnya usia, kurangnya pengetahuan, tingkat kepatuhan rendah, gaya hidup yang tidak sehat, serta kurang aktivitas fisik menyebabkan tingginya penderita hiperkolesterolemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hiperkolesterolemia lanjut usia di Puskesmas Cipaku Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif dengan cara pendekatan Cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hiperkolesterolemia lanjut usia yang terdaftar di Puskesmas Cipaku dengan jumlah 40 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 39 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil Penelitian ini menunjukkan gambaran pengetahuan pasien hiperkolesterolemia lansia yang cukup baik sebanyak 18 pasien (46,15%), gambaran kepatuhan pasien hiperkolesterolemia lansia dengan kepatuhan sedang sebanyak 15 pasien (38,46%). Hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hiperkolesterolemia lanjut usia diuji dengan menggunakan Chi square diperoleh nilai P- value > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hiperkolesterolemia lansia di Puskesmas Cipaku Bogor (P- value = 0,274).

Perbandingan Efektifitas penggunaan sefotaksim dan seftriakson pada terapi demam tifoid anak di instalasi rawat inap RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi

No. 520 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi dan endemis yang disebabkan oleh Salmonella Typhi yang erat hubungannya dengan kualitas dari higiene pribadi dan sanitasi. Di Indonesia penyakit ini bersifat Endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat, Berdasarkan Riset Kementerian RI tahun 2013 prevelansi nasional adalah 1, 60 %,Untuk jawa barat prevelansi nasional 2,1 %. Pengobatan demam tifoid salah satunya dengan pemberian antibiotik.Seperti Seftriakson sefotaksim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan penggunaan efektivitas seftriakson dan sefotaksim terhadap lamanya perawatan pasien demam tifoid anak di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif observasional. Sampel penelitian dilakukan dengan Purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 142. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji Mann Whitney. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama rawat inap pasien yang menggunakan Seftriakson adalah 3,65 hari ( 3 hari 16 jam) dan Sefotaksim 3,92 hari (3 hari 22 jam ). Efektivitas seftriakson dan seftaksim menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dapat dilihat dari P>0.05 ( P=0,129).

Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terhadap kepatuhan pasien rawat rawat jalan penderita tuberkulosis paru di rumah sakit paru dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor

No. 517 Tuberkolusis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium Tuberculosis. Menurut laporan WHO, pada tahun 2017. Indonesia menempati peringkat ke-2 di dunia pengidap tuberkulosis (TB) terbanyak setelah India. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan dengan kepatuhan pasien rawat jalan pengidap tuberkulosis (TB) paru di RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Jenis penelitian ini adalah prospektif non eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional, dengan sampel penelitian yaitu reponden yang menjalani pengobatan Tuberkulosis selama fase lanjutan sebanyak 83 orang. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji correlation Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien TB paru di tunjukan (p-value <0,05) adalah tingkat pengetahuan (p-value 0,000), sikap responden (p-value 0,015), dan motivasi dari keluarga (p-value 0,001). Variabel yang tidak berhubungan dengan kepatuhan adalah jenis kelamin (p-value 0,299), umur (p-value 0,654), tingkat pendidikan (p-value 0,721), status pekerjaan (p-value 0,279), jarak (p-value 0,730), dan peran Pengawas Menelan Obat (p-value 0,728).