Sebanyak 71 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NANGKA (Artocapus heterophyllus Lamk.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No.550 Kulit buah nangka mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa aktif dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli. Kulit buah nangka diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chloramphenicol base) dan kontrol negatif (DMSO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit buah nangka didapatkan pada konsentrasi 30% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 10,76 mm pada bakteri Staphylococcus aureus dan 7,13 mm pada bakteri Escherichia coli. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki perbedaan yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan pada bakteri Escherichia coli.

Aktivitas antipiretik rebusan simplisia daun matoa (Pametia pinnata) terhadap perubahan suhu tubuh tikus putih jantan (Rattus novergicus)

No. 534 Daun matoa (Pometia pinnata) biasa digunakan oleh masyarakat Papua secara tradisional sebagai penurun demam. Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal yaitu 36-37,2◦C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat parasetamol. Namun, efek samping yang sering terjadi adalah kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antipiretik dari daun matoa (Pometia pinnata) secara in vivo, menggunakan metode rebusan. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,5 g/kg BB, 0,7 g/kg BB dan 1g/kg BB. Hasil rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan metabolit sekunder dengan metode uji fitokimia. Dari hasil uji diketahui bahwa rebusan simplisia daun matoa mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Hewan uji diinduksi demam dengan menggunakan vaksin DPT-Hb sebanyak 0,4 ml secara intramuskular. Pengukuran efek antipiretik pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) dilakukan selama 2 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efek antipiretik dari kontrol positif parasetamol kembali normal pada menit ke-30 dengan rerata suhu yaitu 37◦C dan kelompok yang perubahan suhunya mendekati kontrol positif yaitu kelompok yang diberi rebusan simplisia daun matoa dengan konsentrasi 1g/kg BB dengan rerata suhu 36,97◦C pada menit ke-30.

Pola Peresepan pengobatan pasien bipolar di instalasi rawat jalan rumah sakit ketergantungan obat Jakarta

No. 504 Gangguan bipolar merupakan salah satu perilaku abnormal yang kurang dipahami dan dikenal masyarakat. Gangguan bipolar adalah gangguan jiwa bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi dan campuran, serta dapat berlangsung seumur hidup. Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien, pola peresepan, serta kesesuaian pengobatan gangguan bipolar pasien rawat jalan RS Ketergantungan Obat Jakarta 2017 dengan KepMesKes RI Nomor HK.02.02/MenKes/73/2015 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengambilan data retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan melihat data penggunaan obat pada resep pasien bipolar di Instalasi Farmasi RS Ketergantungan Obat Jakarta tahun 2017. Subyek penelitian berjumlah 65 pasien. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif yang mendiskripsikan obyek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52% pasien gangguan bipolar di RS Ketergantungan Obat Jakarta adalah laki-laki berusia 26-35 tahun (dewasa awal), sebanyak 40 pasien mengalami gangguan bipolar jenis F31.9 atau gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan. Terapi pengobatan yang banyak diresepkan adalah golongan Mood Stabilizer jenis divalproat, golongan antidepresan SSRI jenis fluoxetine dan golongan antipsikotik atipik jenis risperidon. Selain itu, evaluasi kesesuaian pengobatan menurut KepMesKes RI Nomor HK.02.02/MenKes/73/2015 pada pasien gangguan bipolar jenis F31 hanya 33%, pada jenis F31.0 dan F31.5 100%, jenis F31.2 hanya 67%, pada jenis F31.3 tidak ada kesesuaian, sedangkan pada jenis F31.9 75%.

Evaluasi beban kerja sumber daya manusia kesehatan terhadap insiden keselamatan pasien di instalasi farmasi rawat jalan RS PMI Bogor

No. 484 Potensi kejadian insiden keselamatan pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS PMI Bogor dapat timbul akibat meningkatnya beban kerja tenaga kefarmasian. Beban kerja berlebih memicu kelelahan dan kurangnya konsentrasi petugas dalam pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui beban kerja tenaga kefarmasian yang menimbulkan insiden keselamatan pasien di IFRS PMI Bogor. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan mutu pelayanan di IFRS PMI Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel seluruh sumber daya manusia tenaga kefarmasian. Teknik pengumpulan data dengan observasi menggunakan work sampling dan wawancara. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes). Hasil penelitian menunjukkan ratio beban kerja 0,67 untuk tenaga Apoteker sehingga dibutuhkan 1 orang tenaga Apoteker. Ratio beban kerja 0,92 untuk Tenaga Teknis Kefarmasian sehingga dibutuhkan 1 orang Tenaga Teknis Kefarmasian . Hasil penelitian untuk insiden keselamatan pasien Kejadian Nyaris Cidera (KNC) terjadi sebanyak 4 insiden dan Kejadian Potensial Cidera (KPC) sebanyak 70 insiden

Uji aktivitas antidiare ekstrak etanol daun petai cina (leucaena leucocephala) terhadap mencit jantan galur Sparague Dawley

No. 468 Diare secara umum didefinisikan sebagai bentuk tinja abnormal (cair) yang disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar yakni lebih dari tiga kali per hari. Daun Petai Cina adalah salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun petai cina sebagai antidiare. Senyawa aktif yang teridentifikasi dalam daun petai cina, yaitu flavonoid,sponin dan tanin. Simplisia kering daun petai cina diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian efek entidiare dilakukan dengan mempuasakan terlebih dahulu hewan uji, kemudian diberi oleum ricini sebagai penginduksi diare pada mencit jantan sprague dawley. Dosis yang digunakan sebesar 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan 600 mg/kg BB diberikan secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap saat mula terjadinya diare, konsisten feses, frekuensi diare, dan lama terjadinya diare. Sebagai pembanding digunakan Loperamid HCl. Hasil pengamatan dosis 200 mg/kg BB memiliki efek paling kecil, sedangkan dosis 600 mg/kg BB memiliki efek paling kuat dan hampir sama dengan Loperamid HCl. Dosis 400 mg/kg BB memiliki efek antidiare yang tidak terlalu kuat. Ekstrak etanol daun petai cina memiliki efek sebagai antidiare.

Perbandingan efek terapi suplemen probiotik dan kombinasi Zinc-probiotik pada pasien diare akut balita di RSUD Ciawi

No. 464 Secara umum penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah, mengurangi dehidrasi menjaga keseimbangan elektrolit, menurunkan durasi diare dan memperkecil frekuensi defekasi dan lama hari rawat. Terapi probiotik dan terapi kombinasi zinc-probiotik telah terbukti mampu menurunkan frekuensi, defekasi dan lama hari rawat. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan efektivitas probiotik dan kombinasi zinc-probiotik berdasarkan durasi diare dan frekuensi defekasi pada pasien balita penderita diare yang di rawat inap. Data efek terapi probiotik dan kombinasi zinc-probiotik masing-masing dikumpulkan secara retrospektif dari data rekam medik pada 96 pasien pada periode Maret sampai Juli 2018. Hasil penelitian menunjukan pasien terbanyak jenis kelamin adalah laki-laki sebanyak 52 orang (54,17%), Pasien diare balita berdasarkan rentan usia terbanyak 1-2 tahun 75 orang (77,42%), Pasien diare yang disertai dengan penyakit penyerta adalah yang disertai dengan demam 66 orang (68,75%), dan pasien diare dengan lama hari rawat yaitu selama 3 hari ada 36 orang (37,50%). Persentase yang menggunakan terapi lebih banyak yaitu Pasien yang diberi kombinasi zinc-probiotik (47,91%). Lama hari rawat yang paling pendek adalah pasien yang diberikan antibiotik dengan kombinasi zinc-probiotik (3,45). Metode statistik yang digunakan adalah uji mean-whitney lama hari rawat tidak berdistribusi normal. Dari hasil uji mean-whitney pada α=0% diperoleh bahwa tidak ada perbedaan lama hari rawat inap pasien yang diberikan L-bio dengan antibiotik L-bio dan kombinasi zinc-probiotik dengan antibiotik kombinasi. Terdapat perbedaan lama hari rawat pasien yang diberikan L-bio dengan kombinasi zinc-probiotik.

Penggunaan antibiotik pada pasien balita dengan diagnosa ISPA bukan PNEUMONIA di puskesmas semplak Bogor periode Juli- September 2017

No. 444 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2007). Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkan membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien balita ISPA bukan pneumonia dan mengetahui kesesuaian persentase penggunaan antibiotik berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik ISPA bukan pneumonia di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif, populasi dalam penelitian ini sebanyak 297 pasien di Puskesmas Semplak Bogor. Pengambilan sampel ini menggunakan rumus Slovin, maka sampel yang diambil berjumlah 170 pasien. Hasil penelitian menunjukkan persentase penggunaan antibiotik pada balita dengan diagnosa ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Semplak Bogor periode Juli 2017- September 2017 sebanyak 29 pasien atau 17% dari 170 pasien. Berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kemenkes RI 2015 penggunaan antibiotik pada ISPA bukan pneumonia ≤ 20%. Penggunaan antibiotik di Puskesmas Semplak Bogor sudah sesuai dengan standar yaitu 17%.

Aktivitas antiinflamasi akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.) terhadap tikus putih jantan ( Rattus norvegicus)

No. 442 Inflamasi adalah respon terhadap kerusakan jaringan akibat berbagai rangsangan yang merugikan, baik rangsangan kimia maupun mekanis serta infeksi. Inflamasi dapat disembuhkan dengan menggunakan obat Non Steroidal Anti Inflammatory Drug (NSAID). Salah satu obat alami yang mempunyai aktivitas antiinflamasi adalah akar tumbuhan paku spesies Dynaria quercifolia. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antiinflamasi dari akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.) secara in vivo, menggunakan metode maserasi bertingkat dengan menggunakan 4 pelarut yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 70 % dan air dengan masing-masing konsentrasi 0,5 g/Kg BB dan 1 g/Kg BB. Hasil ekstraksi yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan senyawa kimianya dengan metode uji fitokimia. Hasil uji didapatkan ekstrak n-heksana dan etil asetat mengandung alkaloid , sedangkan ekstrak etanol 70% dan air mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Induksi inflamasi pada hewan uji menggunakan karagenan 1 % secara intraplantar pada telapak kaki tikus jantan. Pengukuran efek antiinflamasi pada tikus putih (Rattus norvergicus) dilakukan selama 6 jam dengan interval waktu 1 jam. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian ekstrak etanol 70 % akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/Kg BB menunjukkan persen inhibisi lebih besar yaitu 75,66 % dibanding dengan perlakuan lainnya. Analisis data dengan uji anova two-way menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu ada pengaruh yang nyata pada pemberian ekstrak etanol 70% akar tumbuhan paku terhadap penurunan persen udem tikus putih Rattus novergicus. Ekstrak etanol 70 % akar tumbuhan paku konsentrasi 1 g/Kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi lebih tinggi dibanding kontrol positif natrium diklofenak.