Sebanyak 80 item atau buku ditemukan

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN ANGKA KEJADIAN TUBERKULOSIS RESISTENSI OBAT DI RS PARU Dr. M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO CISARUA BOGOR PADA TAHUN 2014-2018

No. 557 Resistensi Tuberkulosis adalah resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis dimana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang sudah digunakan saat ini. Setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah kasus Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO) yang ditemukan dan diobati di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien terhadap resistensi obat TB di RS. Paru Dr. M. Gunawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui rekam medik pasien terhadap data sekunder pasien TB RO. Sampel penelitian adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yaitu 78 sampel. Analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji statistik chi-square, p value (signifikasnsi) ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara karakteristik pasien (Pendidikan, jenis kelamin, usia, pekerjaan, wilayah, tipe pasien, evaluasi pengobatan, dan asal pengobatan ) dengan resistensi obat TB dengan nilai p value > 0,05. Presentase tertinggi berdasarkan karakteristik pasien resistensi obat yaitu pada laki-laki 54 %, usia 17-35 tahun 24 %, tidak bekerja 46,25 %, pendidikan terakhir SLTA/ sederajat 50 %, wilayah Kabupaten Bogor 50 %, pasien datang sendiri tanpa rujukan 67,9 %, tipe pasien kambuh 32,1 %, Multidrug Resistant 73,1 %, dan pasien masih pengobatan 37,2%.

AKTIVITAS ANTIINFLAMASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus costaricensis) TERHADAP UDEM KAKI TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

556 Buah Naga Merah (Hylocereus costaricensis) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai antiinflamasi, senyawa ini diperlukan oleh kulit untuk mencegah dan mengurangi sel yang rusak akibat efek radikal bebas pada kulit. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan gel menggunakan ekstrak etanol kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ektrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus costaricensis) memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap udem pada kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan membuat ekstrak kulit buah naga merah dalam pelarut etanol 96%, dengan metode maserasi, dilakukan uji fitokimia. Ekstrak dibuat sediaan gel meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas. Dilakukan uji antiinflamasi pada kaki tikus yang telah di induksi karagenan 3%. Hasil penelitian menunjukan kadar total flavonoid pada ekstrak etanol 96% kulit buah naga merah sebesar 62,476 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan gel ektrak etanol kulit buah naga merah FI dan FII memiliki aktivitas antiinflamasi dibandingkan dengan kontrol negatif, aktivitas antiinflamasi berbeda nyata dengan kontrol positif aloe vera shooting gel. Berdasarkan hasil analisis statistik, sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang berbeda dengan kontrol positif dan kontrol negatif. sedangkan untuk sediaan gel FI dan FII memiliki pengaruh yang sama terhadap udem kaki tikus putih jantan (Rattus norvegicus).

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NANGKA (Artocapus heterophyllus Lamk.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No.550 Kulit buah nangka mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa aktif dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli. Kulit buah nangka diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chloramphenicol base) dan kontrol negatif (DMSO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit buah nangka didapatkan pada konsentrasi 30% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 10,76 mm pada bakteri Staphylococcus aureus dan 7,13 mm pada bakteri Escherichia coli. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah nangka memiliki perbedaan yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus ekstrak kulit buah nangka memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan pada bakteri Escherichia coli.