Sebanyak 25 item atau buku ditemukan

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).

uji efek analgesik fraksi air, etil asetata dan n- heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY

No. 509 Tumbuhan ranti (Solanum nigrum L.) biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara tradisional sebagai pereda nyeri. Daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efek analgesik fraksi air, etil asetat dan n-heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (Solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur Deutche Denken Yoken yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode Sigmund (metode geliat) yang diinduksi dengan asam asetat 0,5%. Dosis yang digunakan untuk ketiga fraksi adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan serbuk antalgin 65 mg/kg BB sebagai kontrol positif. Penurunan jumlah geliat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji fitokimia ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, sedangkan pada fraksi n-heksana menunjukkan tidak adanya senyawa flavonoid. Pada efek analgesik daya proteksi yang paling besar terdapat pada fraksi air dosis 200 mg/kg BB (52,55%) yang diikuti oleh fraksi etil asetat dosis 200 mg/kg BB (36,86%), fraksi air dosis 100 mg/kg BB (36,13%), fraksi etil asetat dosis 100 mg/kg BB (29,75%), fraksi n-heksana dosis 200 mg/kg BB (22,99%) dan fraksi n-heksana dosis 100 mg/kg BB (8,21%). Semakin besar dosis yang diberikan maka semakin baik efek analgesiknya.

Pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet pada sediaan dan larutan preparasi krim anti jerawat

No. 491 Pengawet merupakan senyawa alam atau sintesis yang ditambahkan ke dalam produk berfungsi untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben (metil paraben, propil paraben dan butil paraben) pada sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya dan larutan preparasi krim anti jerawat. Sampel yang digunakan yaitu sampel krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu panas (40°C ± 2°C, RH 75% ± 5%) dan larutan preparasi krim anti jerawat disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu dingin (2°C-8°C). Pengujian dilakukan pada hari ke-0 sampai hari ke-6. Metode yang digunakan yaitu KCKT dengan fase diam kolom LiChrospher RP-18 4.0 mm x 125 mm (ukuran partikel 5 μm), fase gerak terdiri dari methanol for HPLC dan larutan KH2PO4 6.8 g/L dengan perbandingan (65:35) dan detektor UV-Vis pada panjang gelombang 272 nm. Pompa yang digunakan adalah mode aliran tetap dengan laju alir 1,0 mL/menit dan volume injeksi 20 μL. Dari hasil analisis uji f, sampel sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben. Sampel yang memiliki pengaruh signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet adalah sampel larutan preparasi standar butil paraben suhu ruang, larutan preparasi standar butil paraben suhu dingin, larutan preparasi sampel propil paraben suhu ruang, larutan preparasi sampel butil paraben suhu ruang, dan larutan preparasi sampel butil paraben suhu dingin. Sampel larutan preparasi lainnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben.

Stabilitas a-Amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 472 Bakteri asam laktat dapat menghasilkan amilase yang digunakan pada industri kimia dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan menentukan produksi dan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan. Produksi α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 menggunakan sentrifus. Penentuan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 dilakukan pada suhu penyimpanan : 27°C, 4°C dan -20°C dengan waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari. Metode Asam Dinitrosalicylic (DNS) digunakan untuk uji aktivitas αamilase. Aktivitas relatif α-amilase ≥ 50% dinyatakan sebagai aktivitas α-amilase dalam kondisi stabil. Aktivitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai antara 1,0011-1,4028 U/mL, sedangkan α-amilase Fructobacillus satsumensis EN 17-20 bernilai antara 1,05531,8615 U/mL. Aktivitas relatif α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 pada berbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai sebesar 74,54-100%, sedangkan α-amilase Fructobacillus fructosus EN 17-20 bernilai sebesar 56,69100%. Aktivitas tertinggi α-amilase L.satsumensis EN 38-32 yang bernillai sebesar 1,4028 U/mL dengan aktivitas relatif sebesar 100% dan aktivitas tertinggi α-amilase F. fructosus EN 17-20 yang bernilai sebesar 1,8615 U/mL dengan aktivitas relatif 100% pada suhu dingin (< 0,01).

perbandingan profil kecepatan pelepasan levonorgestrel dalam sediaan subdermal implan 150 mg per batang dengan subdermal implam 2 batang @75 mg per batang secara in vitro

No. 429 Implan merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi lepas lambat yang dapat memberikan efek sampai dengan 3 tahun melalui mekanisme kerja mengentalkan lendir serviks sehingga menyulitkan penetrasi sperma. Rata-rata kecepatan pelepasan Levonorgestrel yang diperoleh pada subdermal Implan 150 mg sebesar 39,98 μg/hari/set dan pada subdermal Implan 2 batang Implan @75 mg sebesar 39,94 μg/hari/set. Hasil tersebut berada pada rentang kriteria penerimaan yaitu 30,00 – 60,00 μg/hari/set. Korelasi antara sampel uji subdermal Implan 150 mg/batang dan sampel pembanding subdermal Implan 2 batang @75 mg ditentukan dengan perhitungan faktor perbedaan (f1) dan kemiripan (f2) serta penilaian efisiensi pelepasan/ disolusi (%DE). Diperoleh hasil f1 sebesar 4,98 dan f2 sebesar 79,60 serta disolusi efesiensi (DE) pada sampel uji sebesar 87,78% sedangkan pada sampel pembanding sebesar 87,02%. Dari hasil analisis data tersebut terbukti bahwa kecepatan pelepasan Levonorgestrel dalam sediaan Implan 150 mg/batang dengan 2 batang @75 mg secara in-intro ekivalen.

UJI AKTIVITAS SALEP EKSTRAK DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA GORES PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague dawley

No: 386 Daun sintrong merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang bekerja dalam proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk membuat formulasi salep dari ekstrak daun sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. moore) dan uji daya penyembuhan luka gores pada kulit tikus putih jantan (Sprague dawley). Ekstrak daun sintrong diperoleh dengan metode maserasi bentuk simplisia daun sintrong dalam etanol 96% yang kemudian dikeringkan dengan evaporator. Kelompok senyawa kimia ekstrak ditentukan dengan uji fitokimia. Pembuatan formulasi salep menggunakan ekstrak daun sintrong dengan menggunakan hewan uji sebanyak 25 ekor dengan 5 kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, salep daun sintrong 5%, salep daun sintrong 10% dan salep daun sintrong 15%. Semua tikus dilukai sepanjang 1.5 cm. Luka diolesi tiga kali sehari dengan salep yang diuji. Pengamatan luka dilakukan setiap hari (hari ke-0 sampai ke-7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak secara positif mengandung flavonoid, saponin dan tannin. Kemudian setelah 7 hari pengobatan, semua konsentrasi memiliki memiliki efek positif pada penyembuhan luka dan penyembuhan yang terbaik ditunjukkan dengan perparasi salep dengan konsesntrasi 10 % dan 15%.Semua data kuantitatif diuji secara statistic menggunakan ANOVA (Analysis Of Variant) dan dilanjutkan dengan uji Tukey, penelitian menunjukkan formulasi salep daun sintrong memenuhi persyaratan uji salep mengalami penyempitan luka, membentuk keropeng dan menutup luka.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI Staphylococcus YANG MENGHASILKAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK DALAM KULIT DAGU PRIA BERJANGGUT

No: 384 Berjanggut merupakan sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang bermanfaat bagi kesehatan kulit muka karena terlindung dari sinar matahari, debu, infeksi dan melembabkan kulit. Banyak spesies bakteri ditemukan pada kulit dagu berjanggut yang hidup berkompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus penghasil zat antibiotik yang tumbuh pada kulit dagu berjanggut. Sampel bakteri diambil dengan cotton bud dari kulit dagu berjanggut 20 orang pria di daerah Bogor. Bakteri Staphylococcus kemudian diisolasi dan diidentifikasi, diinokulasikan dan diuji daya hambatnya pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian menyimpulkan adanya bakteri Staphylococcus epidermidis pada kulit dagu janggut pria yang dilihat secara mikroskopik berbentuk kokus, berkelompok tidak teratur, dan dinding sel bakteri berwarna ungu. Dilihat secara makroskopik pigmen bakteri berwarna putih pada media Nutrient Agar, tidak memberikan perubahan warna pada media Mannitol Salt Agar (MSA) dan mampu menghasilkan aktivitas antibiotik, dari 20 sampel yang diambil pada minggu pertama hanya kode sampel J1 dan J9 yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik dengan diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,261 cm dan 0,210 cm, pada pengambilan sampel minggu kedua yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel JI dan J9 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,268 cm dan 0,206 cm, pada pengambilan sampel minggu ketiga yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel J3, J5 dan J7 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,240 cm, 0,211 cm dan 0,199 cm.

UJI AKTIVITAS DAYA INHIBISI EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR DARI BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 364 Enzim α-glukosidase di dalam sistem pencernaan berperan sebagai pengurai karbohidrat menjadi glukosa. Inhibisi aktivitas enzim ini dapat mengurangi kadar glukosa dalam darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak n-Heksan, etil asetat dan air dari biji alpukat (Persea americana Mill) terhadap enzim α-glukosidase. Ekstrak kental biji alpukat dengan pelarut n-Heksan, etil asetat dan air diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia biji alpukat yang dikeringkan dengan rotary evaporator. Uji inhibisi ekstrak biji alpukat terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2%. Hasil uji fitokimia pada ketiga ekstrak biji alpukat menunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak n-Heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% mempunyai daya inhibisi 100%, 94%, 97% yang lebih tinggi dari pada daya inhibisi ekstrak etil asetat 95%, 94%, 96% dan ekstrak air 90%, 92%, 94%. Hasil uji two way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing ekstrak terhadap daya inhibisi enzim αglukosidase dan pada uji Pos Hoct Test Tukey konsentrasi ekstrak 1,5% dan 2% memberikan pengaruh inhibisi yang sama terhadap enzim α-glukosidase tetapi berbeda pengaruh pada konsentrasi 1%.