Sebanyak 5 item atau buku ditemukan

evaluasi peresepan antibiotika dengan metode Gyssens pasien tifoid anak di instalasi rawat inap rumah sakit umum daerah Sekarwangi kabupaten Sukabumi

No. 480 Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi sehingga tatalaksana utamanya adalah terapi antibiotika. Pemberian antibiotika harus rasional dengan memperhatikan efikasi, kesesuaian, keamanan, serta biaya terapi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat rasionalitas pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid anak yang menjalani rawat inap di RSUD Sekarwangi dengan menggunakan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional. Sampel yang diambil menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang. Data yang didapatkan kemudian dinilai tingkat rasionalitasnya menggunakan metode Gyssens. Hasil menunjukkan antibiotika yang paling banyak digunakan dokter untuk terapi demam tifoid adalah seftriakson sebanyak (55,4%). Setelah melewati proses evaluasi dengan mengunakan metode gyssens didapatkan hasil sebanyak 28 peresepan (50%) yang merupakan jumlah tertinggi termasuk kedalam kategori IVC. Jumlah terbanyak kedua 11 peresepan (19,6%) termasuk kedalam kategori IVA. Kategori V sebanyak 8 peresepan (14,3%), 8 peresepan yang termasuk kategori VI (14,3%). Kategori IIIB sebanyak peresepan 1 (1,8%).

efikasi amlodipin, kaptopril dan kombinasi amlodipin dengan kaptopril pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi Sukabumi

No. 479 Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pemburuh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode, menurut Word Health Organizations (WHO) batasan normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg, sedangkan seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya >140/90 mmHg. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dan perbedaan efektivitas penggunaan amlodipin, kaptopril dan kombinasi (amlodipin dengan kaptopril) pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi. Desain penelitian yang di pilih observasi dan pengambilan data yang dilakukan secara retrospektif. Metode analisis data pada pengujian ini menggunakan uji normalitas Saphiro – Wilk, Kruskall-Wallis dan uji post hock Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas diantara tiga pengobatan hipertensi serta penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan pengobatan amlodipin sebesar 28,64/7,73 mmHg, kaptopril sebesar 27,33/6,67 mmHg dan kombinasi sebesar 37,33/68,67 mmHg, maka dapat disimpulkan bahwa pengobatan kombinasi menurunkan tekanan darah lebih cepat.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT DEMAM BERDARAH PADA PASIEN RAWAT INAP ANAK DI RSUD SEKARWANGI SUKABUMI PERIODE MARET 2014 SAMPAI DENGAN FEBRUARI 2015

No: 232 Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga Aedes Albopictus yang terutama menyerang anak – anak. Telah dilakukan penelitian terapi DBD pada pasien anak di Instalasi Rawat Inap RSUD Sekarwangi periode Maret 2014 sampai Februari 2015 secara retrospektif dan datanya dianalisis secara deksriprif. Data yang diteliti sebanyak 58 pasien. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa DBD banyak menyerang pada anak usia 6-11 tahun (47%) dan lebih banyak menyerang laki-laki (53%) dari pada perempuan (47%). Jenis obat yang digunakan meliputi terapi cairan (100%) dan yang paling banyak digunakan adalah Ringer Laktat (71%), analgetik antipiretik (87%), antibiotik (8%), obat saluran cerna (92%), homeostatik (4%), vitamin (41%), tranquilizer (2%), kortikosteroid(4%) dan golongan lain (4%). Penggunaan antibiotik dalam terapi DBD sebetulnya tidak dianjurkan karena DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Evaluasi ketepatan dosis menunjukkan ketepatan dosis terapi cairan (97%), analgetik antipiretik , antibiotik , obat saluran cerna obat, vitamin, transquilizer, dan obat golongan lain (100%) sesuai ketentuan. Frekuensi pemberian obat semuanya adalah sesuai ketentuan.

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT PENYERTA HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN

No: 208 Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis akibat tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Hipertensi adalah salah satu komplikasi makrovaskular yang biasa terjadi pada pasien DM. Terapi yang diberikan bisa berjumlah banyak sehingga memerlukan terapi yang lebih teliti. Ketidaktelitian akan menyebabkan timbulnya masalah-masalah terkait penggunaan obat (Drug Related Problems). Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif yang bersifat retrospektif pada data rekam medik. Penderita DM Tipe 2 dengan penyakit penyerta Hipertensi yang menjalani rawat jalan di RS BLUD Sekarwangi Sukabumi selama 1 Desember 2013 sampai dengan 30 Desember 2014 sebanyak 65 sampel. Data obat yang didapat kemudian dikaji secara teoritis untuk mengetahui terjadinya DRPs. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukkan bahwa penderita DM Tipe 2 lebih banyak wanita (57%) daripada pria (43%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat (57,34%), terapi tanpa indikasi (13,76%), indikasi tanpa terapi (16,06%), overdosis (2,75%), dosis subterapetik (0%), pemilihan obat yang kurang tepat (1,84%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (5,96%), kegagalan menerima obat (2,29%). Obat antidiabetes yang paling banyak diterima pasien yaitu metformin (84,62%), obat antihipertensi yang paling banyak diterima pasien yaitu captopril (66,15%).