Sebanyak 39 item atau buku ditemukan

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).

Aktivitas dan evaluasi sediaan pastagigi ekstrak bonggol dan kulit nanas (ananas comosus (L.) Merr.) terhadap antibakteri Streptococcus mutans penyebab plak gigi

No. 511 Plak gigi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Limbah bonggol dan kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, yaitu terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan pada hal tersebut, bonggol dan kulit nanas diformulasikan ke dalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptocuccus mutans. Penelitian bertujuan mendapatkan formula pasta gigi kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas dan mengetahui konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan dalam sedian pasta gigi dengan konsentrasi 40% b/b perbandingan formula I (1:1), formula II (1:2) dan formula III (2:1) bonggol dan kulit nanas. Formula pasta gigi diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa) dan aktivitas antibakteri. Mutu fisik pasta gigi dianalisis secara deskriptif sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis dengan statistik dengan metode One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan. Berdasarkan pada uji mutu fisik semua formula memenuhi syarat mutu SNI 12-3254-1995 sediaan pasta gigi. Hasil analisis statistik aktivitas antibakteri formula III menujukkan aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 23,5 mm. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa formula III (2:1) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.

aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun bisbul (Diospyros discolor Willd) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY (Deutch Democratic Yokohama)

No. 500 Inflamasi merupakan suatu respons protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia perusak atau zat-zat mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan dosis efektif dari ekstrak etanol daun bisbul (Diospyros discolor Willd) sebagai antiinflamasi. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antiinflamasi yang dilakukan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit putih jantan (Mus musculus). Kelompok pertama (kontrol negatif) diberikan 0,5% suspensi Na-CMC; kelompok kedua (kontrol positif) diberikan natrium diklofenak 0,13 mg; sedangkan kelompok ketiga, keempat, dan kelima secara berturut-turut diberikan ekstrak etanol daun bisbul sebesar 0,5 gram/kgBB, 1 gram/kgBB dan 1,5 gram/kgBB. Masing-masing mencit kemudian diinduksi menggunakan karagenan secara intraplantar. Volume radang diukur dengan menggunakan alat pletismometer dilakukan selama 6 jam dengan interval waktu 60 menit. Hasil analisis data dengan uji ANOVA menunjukan bahwa kontrol negatif memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelompok perlakuan lainnya. Sebagai kesimpulan, bahwa ketiga variasi dosis ekstrak etanol daun bisbul memiliki aktivitas antiinflamasi. Ekstrak dengan dosis uji 0,5 gram/KgBB memiliki persentase inhibisi tertinggi yaitu sebesar 77,78 % dibandingkan dengan dosis 1 gram/KgBB dan 1,5 gram/KgBB yang mempunyai persentase yang sama yaitu sebesar 66,67 %.

Uji aktivitas sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun kemangi (Ocimum americanum L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes

No. 478 Jerawat merupakan salah satu penyakit yang mengganggu penampilan wajah dan disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Dalam hal pengobatan jerawat, biasanya menggunakan obat anti jerawat atau krim anti jerawat. Sediaan yang beredar dipasaran terkadang kurang cocok atau menimbulkan efek samping. Daun kemangi (Ocimum americanum) mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan sediaan gel facial wash acne daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes dan uji mutu fisik sediaannya. Ekstrak etanol daun kemangi dibuat dengan cara maserasi, senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dibuat konsentrasi dan diukur zona hambat dengan berbagai konsentrasi dengan metode difusi cakram serta sediaan gel dibuat dengan konsentrasi ekstrak yang memiliki diameter zona hambat terbaik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 70% daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes konsentrasi 45%, 50%, dan 55% sebesar 7,00; 12,16; dan 15,47 mm sedangkan gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi konsentrasi 55% sebesar 11,27 mm yang termasuk dalam katagori kuat. gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi memiliki mutu fisik yang baik pada penyimpanan suhu ruang 27 0C. Suhu dingin 4 0C mengalami penurunan pH, daya sebar dan viskositas. Suhu 40 0C mengalami kenaikan pH, daya sebar, dan viskositas.

Uji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong ( Crassocephalum crepidiodes) dan stabilitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia Coli

No. 466 Daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) mengandung senyawa yang bersifat sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong konsentrasi 60 % terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan menguji stabilitasnya pada suhu 40C, 270C dan 400C. Formulasi sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong dengan konsentrasi 60% dilakukan pengujian organoleptik, pH, dan viskositas. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dilakukan dengan cara metode difusi. Hasil pengujian organoleptik, pH dan viskositas memenuhi persyaratan sesuai standar yang ditetapkan. Hasil uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong yang diperoleh dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang disimpan pada suhu 40C selama 1 bulan (9 mm – 10 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang sedang, sedangkan yang disimpan pada suhu 270C dan 400C selama 1 bulan (11 mm – 13 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang kuat.

Formulasi krim antijerawat ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri Propionibacterium acnes

No. 450 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm sehingga menimbulkan jerawat. Terbentuknya biofilm menyebabkan bakteri semakin sulit diberantas. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) berpotensi sebagai antibakteri P. acnes namun belum banyak data mengenai kegunaannya sebagai antibiofilm. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menguji ekstrak dan sediaan krim ekstrak etanol daun jambu biji untuk menghambat dan membersihkan biofilm P. acnes secara in vitro. Ekstrak etanol daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Uji antibiofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 69,439%, untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1 % sebesar 80,436% dengan waktu kontak 5 menit. Dan pada sediaan krim dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 58,328% dan untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1% sebesar 91,782% dengan waktu kontak 5 menit.

aktivitas antidiabetes kombinasi ekstrak daun simpur (Dillenia indica) dan daun sirih merah (piper crocatum) secara in vivo

No. 432 Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Kanker payudara memiliki kaitan erat dengan estrogen alfa. Senyawa genistein memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses perkembangan sel kanker dan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai inhibitor estrogen alfa. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh senyawa baru hasil modifikasi genistein sebagai kandidat senyawa potensial sebagai antikanker. Senyawa modifikasi genistein dilakukan analisis penambatan molekuler serta perhitungan konstanta inhibisi dan divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer dan Pymol. Potensi senyawa modifikasi dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakologi atau biologi senyawa tersebut. Kemudian senyawa modifikasi diuji toksisitasnya menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antikanker, yaitu Mod164, Mod88, Mod150, Mod148 dan Mod163. Nilai binding affinity dari senyawa modifikasi tersebut berturut-turut -9,3 kkal/mol, -9,2 kkal/mol, -9,1 kkal/mol, -8,9 kkal/mol dan -8,9 kkal/mol. Hasil analisis Lipinski menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi memenuhi kriteria Lipinski. Sedangkan hasil uji toksisitas menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi tidak berpotensi bersifat karsinogenik dan mutagenik.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 396 Buah nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) merupakan salah satu buah yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Sejauh ini pemanfaatan buah nanas umumnya lebih kepada daging buahnya, sedangkan kulitnya hanya menjadi limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus sanguinis. Kulit nanas diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 30%, 40%, dan 50% dan 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur didapatkan pada konsentrasi 50% dengan nilai rata-rata diameter zona bening berturut-turut sebesar 15,03 mm dan 12,51 mm. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur ekstrak kulit nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap bakteri Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak kulit nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BONGGOL NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 395 Bonggol nanas bersifat buangan dari buah nanas yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Bonggol nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak bonggol nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya. Ekstrak bonggol nanas didapatkan dari hasil ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi yaitu 20%, 30%, dan 40%, serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk dalam kategori kuat diperoleh pada konsentrasi 40% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 12,07 mm pada ekstrak bonggol nanas dan 10,96 mm pada sediaan obat kumur. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur ekstrak bonggol nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak bonggol nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DAN UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

No: 378 Nanopartikel perak (NPAg) merupakan partikel logam perak yang memiliki ukuran 1-100 nm. NPAg memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki kemampuan yang baik sebagai antibakteri. Sintesis NPAg dari ekstrak tumbuhan (green synthesis) bersifat ramah lingkungan karena mampu mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis NPAg dengan memanfaatkan ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa L.) sebagai agen pereduksi larutan AgNO3. Sintesis NPAg dilakukan dengan mencampur ekstrak kulit bawang merah dan larutan AgNO3 dengan variasi AgNO3 0,1mM(F1); 0,5mM(F2) dan 1,0mM(F3). Karakterisasi NPAg dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, Particle Size Analyzer (PSA) dan zeta potensial. Terbentuknya NPAg diamati dengan adanya perubahan warna larutan, dimana pada F2 dan F3 semula yang berwarna kekuningan menjadi warna cokelat kemerahan hal tersebut menandakan nanopartikel telah terbentuk. NPAg yang terbentuk diamati serapan maksimum menggunakan spektrofotometer UV-vis pada F2 dan F3 kisaran panjang gelombang berada pada 400-500nm yang menandakan nanopartikel telah terbentuk. Penentuan ukuran partikel menggunakan PSA pada F1, F2 dan F3 berturut-turut 390,7nm, 62,34nm dan 50,63nm. Nilai zeta potensial yang diperoleh pada F1, F2 dan F3 berturut-turut sebesar -29,3mV, -14,6mV dan -19,7mV. Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri S.aureus dari F3, hasil menunjukkan bahwa aktivitasnya lebih baik dibandingkan larutan AgNo3 1,0 mM yang tidak berukuran nanometer.