Sebanyak 44 item atau buku ditemukan

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS SEDIAAN LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb) SERTA PENENTUAN UMUR SIMPAN

No. 544 Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat, menunda, atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak atau senyawa yang mudah teroksidasi. Herba pegagan mengandung senyawa asiatikosida yang merupakan antioksidan yang kuat. Losion adalah sediaan kosmetik berupa emulsi yang mengandung lebih banyak air dari pada minyak, untuk pemakaian luar pada kulit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas sediaan pada suhu penyimpanan yang baik sesuai uji mutu, serta mengetahui umur simpan sediaan losion herba pegagan. Pada penelitian ini ekstrak herba pegagan diperoleh dengan cara ekstraksi maserasi dan diformulasikan dalam bentuk sediaan losion. Sediaan losion dilakukan pengujian evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, dan uji mekanik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion menggunakan metode peredaman radikal bebas (DPPH) dengan Spektrofotometer Uv-vis. Pengujian stabilitas losion dilakukan selama 4 minggu pada suhu, yaitu suhu kamar (27oC), suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC), kemudian dilakukan penentuan umur simpan dengan metode Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi sediaan losion dengan parameter uji, yaitu warna hijau, aroma green tea, homogen, pH 5-6,5, viskositas 1000-2800 cP, daya sebar 7-10 cm, daya lekat 1,00-1,84 menit, tipe emulsi M/A, dan uji mekanik tidak terdapat pemisahan. Setelah dilakukan uji antioksidan pada ekstrak, vitamin C dan losion maka didapat hasil bahwa aktivitas antioksidan berupa nilai IC50 sebesar berturut-turut 38,364 ppm, 11,886 ppm, dan 65-72 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Pada pengujian stabilitas losion berbagai suhu mengalami peningkatan setiap minggunya. Hasil perhitungan umur simpan dengan metode Arrhenius didapatkan umur simpan / sebesar 77 minggu dan sebesar 11 minggu. Aktivitas antioksidan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05).

Aktivitas dan evaluasi sediaan pastagigi ekstrak bonggol dan kulit nanas (ananas comosus (L.) Merr.) terhadap antibakteri Streptococcus mutans penyebab plak gigi

No. 511 Plak gigi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Limbah bonggol dan kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, yaitu terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan pada hal tersebut, bonggol dan kulit nanas diformulasikan ke dalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptocuccus mutans. Penelitian bertujuan mendapatkan formula pasta gigi kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas dan mengetahui konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan dalam sedian pasta gigi dengan konsentrasi 40% b/b perbandingan formula I (1:1), formula II (1:2) dan formula III (2:1) bonggol dan kulit nanas. Formula pasta gigi diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa) dan aktivitas antibakteri. Mutu fisik pasta gigi dianalisis secara deskriptif sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis dengan statistik dengan metode One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan. Berdasarkan pada uji mutu fisik semua formula memenuhi syarat mutu SNI 12-3254-1995 sediaan pasta gigi. Hasil analisis statistik aktivitas antibakteri formula III menujukkan aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 23,5 mm. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa formula III (2:1) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.

aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun bisbul (Diospyros discolor Willd) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY (Deutch Democratic Yokohama)

No. 500 Inflamasi merupakan suatu respons protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia perusak atau zat-zat mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan dosis efektif dari ekstrak etanol daun bisbul (Diospyros discolor Willd) sebagai antiinflamasi. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antiinflamasi yang dilakukan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit putih jantan (Mus musculus). Kelompok pertama (kontrol negatif) diberikan 0,5% suspensi Na-CMC; kelompok kedua (kontrol positif) diberikan natrium diklofenak 0,13 mg; sedangkan kelompok ketiga, keempat, dan kelima secara berturut-turut diberikan ekstrak etanol daun bisbul sebesar 0,5 gram/kgBB, 1 gram/kgBB dan 1,5 gram/kgBB. Masing-masing mencit kemudian diinduksi menggunakan karagenan secara intraplantar. Volume radang diukur dengan menggunakan alat pletismometer dilakukan selama 6 jam dengan interval waktu 60 menit. Hasil analisis data dengan uji ANOVA menunjukan bahwa kontrol negatif memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelompok perlakuan lainnya. Sebagai kesimpulan, bahwa ketiga variasi dosis ekstrak etanol daun bisbul memiliki aktivitas antiinflamasi. Ekstrak dengan dosis uji 0,5 gram/KgBB memiliki persentase inhibisi tertinggi yaitu sebesar 77,78 % dibandingkan dengan dosis 1 gram/KgBB dan 1,5 gram/KgBB yang mempunyai persentase yang sama yaitu sebesar 66,67 %.

Uji aktivitas sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun kemangi (Ocimum americanum L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes

No. 478 Jerawat merupakan salah satu penyakit yang mengganggu penampilan wajah dan disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Dalam hal pengobatan jerawat, biasanya menggunakan obat anti jerawat atau krim anti jerawat. Sediaan yang beredar dipasaran terkadang kurang cocok atau menimbulkan efek samping. Daun kemangi (Ocimum americanum) mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan sediaan gel facial wash acne daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes dan uji mutu fisik sediaannya. Ekstrak etanol daun kemangi dibuat dengan cara maserasi, senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dibuat konsentrasi dan diukur zona hambat dengan berbagai konsentrasi dengan metode difusi cakram serta sediaan gel dibuat dengan konsentrasi ekstrak yang memiliki diameter zona hambat terbaik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 70% daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes konsentrasi 45%, 50%, dan 55% sebesar 7,00; 12,16; dan 15,47 mm sedangkan gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi konsentrasi 55% sebesar 11,27 mm yang termasuk dalam katagori kuat. gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi memiliki mutu fisik yang baik pada penyimpanan suhu ruang 27 0C. Suhu dingin 4 0C mengalami penurunan pH, daya sebar dan viskositas. Suhu 40 0C mengalami kenaikan pH, daya sebar, dan viskositas.

Uji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong ( Crassocephalum crepidiodes) dan stabilitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia Coli

No. 466 Daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) mengandung senyawa yang bersifat sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong konsentrasi 60 % terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan menguji stabilitasnya pada suhu 40C, 270C dan 400C. Formulasi sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong dengan konsentrasi 60% dilakukan pengujian organoleptik, pH, dan viskositas. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dilakukan dengan cara metode difusi. Hasil pengujian organoleptik, pH dan viskositas memenuhi persyaratan sesuai standar yang ditetapkan. Hasil uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong yang diperoleh dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang disimpan pada suhu 40C selama 1 bulan (9 mm – 10 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang sedang, sedangkan yang disimpan pada suhu 270C dan 400C selama 1 bulan (11 mm – 13 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang kuat.