Sebanyak 11 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SABUN TRANSPARAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluhcea indica Less) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No: 144 Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun transparan yang berisi ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan menguji penampilan fisik serta pH sediaan tersebut. Daun beluntas (Pluchea indica Less) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 30%, dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Pengujian aktivitas antibakteri sabun transparan ekstrak daun beluntas menggunakan konsentrasi 5%, 7% dan 9% terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran. Pengujian pH serta uji penampilan fisik yang meliputi warna, tekstur, dan bentuk diamati selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa diantara konsentrasi sabun transparan ekstrak daun beluntas yang paling efektif adalah sabun transparan ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi 7%. Sabun transparan ekstrak daun beluntas konsentrasi 7% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis yang menunjukkan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji. Zona hambat pada pengenceran 10000 ppm, 5000 ppm, 3000 ppm dan 1000 ppm berturut-turut yaitu 8,87 mm, 7,74 mm, 6,25 mm dan 0 mm. Pengukuran pH menunjukkan bahwa semua sampel sabun bersifat basa yaitu dari pH 10,52 hingga 11,48. Hasil uji penampilan fisik selama 14 hari menunjukkan tidak ada perubahan baik pada warna, tekstur, dan bentuk sabun transparan.

AKTIVITAS INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE DARI EKSTRAK AIR DAN ETANOL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum) SECARA IN VITRO

No: 133 Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan adanya gangguan metabolism karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai bumbu masak juga dapat digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat berdasarkan empiris sebagai karminatif, batuk, antikolesterol, antiseptik, antiinflamasi dan antibiotic alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas inhibisi enzim a-glukosidase dari ekstrak air dan etanol bawang merah secara in vitro. Selain itu penelitian ini menentukan komponen fitokimia dalam ekstrak tersebut. Simplisia umbi bawang merah diekstraksi dengan menggunakan metodemaserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Penghambatan aktivitas a- glukosidase diukur menggunakan microplate absorbance reader pada panjang gelombang 410nm. Daya inhibisi a-glukosidase oleh ekstrak air, ekstrak 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah dan akarbosa 1% berturut -turut adalah 11,75%, 20,92%, 4,48% dan 99,37%. Hasil daya inhibisi ketiga ekstrak ini berbeda nyata (p<0,05) dengan daya inhibisi akarbosa 1%. Ekstrak air bawang merah mengandung flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak etanol 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah mengandung flavonoid, tanin, dan saponin.

AKTIVITAS INHIBISI α-GLUKOSIDASE EKSTRAK ETIL ASETAT, HEKSAN DAN ETIL ASETAT : HEKSAN (1:1) DARI KULIT BATANG Cinnamomum burmannii DAN Cinnamomum verum

No: 131 Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Penggunaan obat-obatan sintesis sebagai antidiabetes masih tergolong sangat mahal maka sebagai alternatif pengobatan digunakan tanaman yang relatif murah dan mudah didapat oleh masyarakat, salah satunya yaitu tanaman kayu manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak etil asetat, heksan, dan etil asetat : heksan (1:1) kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum) dengan konsentrasi 0.375% terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan dibandingkan dengan akarbosa 0.375%. Selain itu penelitian ini menentukan komposisi fitokimia dalam ekstrak tersebut. Kulit batang kayu manis Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Ekstrak dengan daya inhibisi terbaik adalah ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum dengan nilai inhibisi berturut-turut sebesar 88.08% dan 77.53% yang tidak berbeda nyata dengan akarbosa. Berdasarkan hasil uji fitokimia senyawa yangterkandung di dalam ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon dan triterpenoid. Sedangkan senyawa yang terkandung didalam ekstrak etil asetat Cinnamomum verum adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon, steroid dan triterpenoid.

UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI PELARUT DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff) SECARA IN VITRO MELALUI UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 129 Graptophyllum pictum (L.) Griff yang dikenal dengan nama daun wungu adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak kasar etanol 70% daun wungu memiliki daya hambat terhadap enzim a- glukosidase yang paling tinggi dibandingkan dengan pelarut yang lain dan dapat mengekstraksi seluruh senyawa yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji daya inhibisi ekstrak kasar etanol 70% daun wungu dan fraksi-fraksi pelarut dari ekstrak kasar tersebut terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan membandingkan aktivitasnya dengan akarbosa (glukobay) 1% sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari masing-masing fraksi pelarut. Ekstrak kasar etanol 70% difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair dan diperoleh 3 fraksi, yaitu fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar. Uji inhibisi terhadap aktivitas enzim a-glukosidase secara in vitro menunjukkan ekstrak kasar etanol 70%, fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar semuanya menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, berturut-turut sebesar 41.40%, 37.75%, 30.23% dan 12.71%. Namun aktivitas inhibisi. ekstrak kasar maupun fraksi-fraksi pelarut tersebut lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas akarbosa 1% sebagai kontrol positif. Kandungan senyawa kimia pada fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar adalah flavonoid, saponin dan steroid. Senyawa tanin terkandung dalam fraksi polar, namun fraksi tersebut tidak mengandung triterpenoid sedangkan alkaloid terdapat pada fraksi polar dan fraksi basa.

UJI DAYA HAMBAT MADU KLENGKENG (Mel depuratum), DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) EKSTRAK dan FRAKSI BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP Staphylococcus aureus

No: 109 Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan berpotensi tinggi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Tanaman atau obat herbal Indonesia yang berpotensi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat adalah madu klengkeng, daun kemangi dan buah mengkudu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dari tiga macam herbal yaitu Madu Klengkeng (Mel depuratum), Daun Kemangi (Ocimum americanum) dan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Pengujian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan madu klengkeng dan fraksi pelarut buah mengkudu tidak memberikan penghambatan terhadap bakteri S. aureus, tetap1 daun kemangi. dan ekstrak buah mengkudu menunjukkan penghambatan. Efek penghambatan terbesar ditunjukkan oleh ekstrak buah mengkudu sebesar rata-rata 12.18 mm pada konsentrasi 1%. Adanya kandungan fitokimia alkaloid dan antrakuinon pada ekstrak buah mengkudu dimungkinkanmerupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap penghambatan pada S. aureus.