Sebanyak 12 item atau buku ditemukan

Stabilitas a-Amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 472 Bakteri asam laktat dapat menghasilkan amilase yang digunakan pada industri kimia dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan menentukan produksi dan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan. Produksi α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 menggunakan sentrifus. Penentuan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 dilakukan pada suhu penyimpanan : 27°C, 4°C dan -20°C dengan waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari. Metode Asam Dinitrosalicylic (DNS) digunakan untuk uji aktivitas αamilase. Aktivitas relatif α-amilase ≥ 50% dinyatakan sebagai aktivitas α-amilase dalam kondisi stabil. Aktivitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai antara 1,0011-1,4028 U/mL, sedangkan α-amilase Fructobacillus satsumensis EN 17-20 bernilai antara 1,05531,8615 U/mL. Aktivitas relatif α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 pada berbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai sebesar 74,54-100%, sedangkan α-amilase Fructobacillus fructosus EN 17-20 bernilai sebesar 56,69100%. Aktivitas tertinggi α-amilase L.satsumensis EN 38-32 yang bernillai sebesar 1,4028 U/mL dengan aktivitas relatif sebesar 100% dan aktivitas tertinggi α-amilase F. fructosus EN 17-20 yang bernilai sebesar 1,8615 U/mL dengan aktivitas relatif 100% pada suhu dingin (< 0,01).

Kandungan gula reduksi dan keasaman yogurt berbasis sari tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik Lactobacillus satsumensis EN 38-32

No. 459 Yogurt nabati merupakan yogurt berbahan dasar protein nabati sebagai alternatif protein susu sapi. Penelitian ini difokuskan pada kandungan gula reduksi dan keasaman yogurt berbasis sari tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik L. satsumensis EN 38-32. Sumber protein nabati yang digunakan: kacang kedelai, kacang hijau, jamur tiram, jamur kancing dan susu bubuk (pembanding). Uji aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode: Bernfeld (1995) dalam Kanpiegjai et al (2015), gula reduksi: Miller (1959), aktivitas protease: Horikoshi (1971), protein terdegradasi: titrasi formol, dan total asam: titrasi asam basa (AOAC, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kadar protein terdegradasi tertinggi pada tepung pasta jamur tiram (2,6900%) diikuti susu bubuk (0,5200%), kacang kedelai (0,2500%), jamur kancing (0,0700%), sedangkan terendah pada tepung pasta kacang hijau (0,0400%). Kandungan gula reduksi tertinggi pada tepung pasta: susu bubuk (0,1442%) diikuti kacang hijau (0,1076%), kacang kedelai (0,0908%), jamur tiram (0,0278%), sedangkan terendah pada tepung pasta jamur kancing (0,0208%). Kenaikan kandungan gula reduksi tertinggi pada yogurt: kacang hijau (0,0169%) diikuti susu bubuk (0,0117%), jamur tiram (0,0050%), kacang kedelai (0,0021%), sedangkan terendah pada yogurt jamur kancing (0,0016%). Kenaikan kadar total asam tertinggi pada yogurt: kacang hijau (0,0770%) diikuti kacang kedelai (0,0630%), jamur tiram (0,0310%), susu bubuk (0,0220%), sedangkan terendah pada yogurt jamur kancing (0,0200%). Kadar total asam yogurt nabati masih termasuk kriteria standar SNI.

Penguraian nutrisi tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik Lactobacillus plantarum B110 dan penggunaan sarinya dalam pembuat yogurt

No. 438 Minuman bebas laktosa bagus dikonsumsi penderita intoleransi laktosa dan vegetarian. Yogurt nabati merupakan minuman fermentasi berbasis sari tepung nabati yang bebas laktosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguraian nutrisi tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik L. plantarum B110 dan penggunaan sarinya dalam pembuatan yogurt. Bahan nabati yang digunakan: kacang hijau, kacang kedelai, jamur tiram, jamur kancing dan susu bubuk Dancow (pembanding). Uji aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode (Bernfeld, 1955) dalam Kanpiegjai et al (2015), gula reduksi (Miller, 1959), uji aktivitas protease (Horikoshi, 1971), protein terdegradasi (titrasi formol), dan total asam (AOAC, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar gula reduksi tepung pasta perlakuan (sebelum dan sesudah penambahan enzim amiloproteolitik L. plantarum B110) tertinggi dibandingkan tepung pasta lainnya terjadi pada kacang hijau (0,0161%) (> pembanding). Peningkatan kadar protein terdegradasi perlakuan tertinggi dibandingkan tepung pasta lainnya terjadi pada tepung pasta: jamur tiram (0,915%) (< pembanding). Peningkatan kandungan gula reduksi tertinggi sebelum dan sesudah perlakuan terjadi pada yogurt kacang hijau (yogurt berbasis sari tepung pasta kacang hijau) (0,0040%) (< pembanding), dibandingkan pada yogurt lainnya, sedangkan terendah pada jamur kancing (0,0003%). Peningkatan kadar total asam tertinggi sebelum dan sesudah perlakuan yogurt: kacang hijau (0,228%) (< pembanding), dibandingkan yogurt lainnya, sedangkan terendah pada kacang kedelai (0,033%).

karakrteristik protease leuconostoc mesenterodes EN 17-11 dan stabilitasnya diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 407 Enzim protease diaplikasikan sangat luas dalam bidang industri pangan maupun non-pangan, mikroba penghasil protease diantaranya adalah Bakteri Asam Laktat (BAL). BAL penghasil protease salah satunya, yaitu Leuconostoc mesenteroides. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik protease L.mesenteroides EN 17-11 dan stabilitasnya di berbagai suhu dan waktu penyimpanan. Media pertumbuhan L. mesenteroides EN 17-11 yang digunakan yaitu media MRS broth. L. mesenteroides EN 17-11 yang tumbuh diinokulasikan ke dalam media Nutrient Broth yang ditambahkan 1% kasein, lalu disentrifugasi dan menghasilkan supernatan. Karakterisasi protease meliputi optimasi pH dan suhu beserta stabilitasnya, aktivitas protease dideteksi dengan metode Horikoshi (1971) yang telah dimodifikasi. Stabilitas protease L. mesenteroides EN 17-11 diuji pada waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari dengan variasi suhu: 27oC (suhu ruang), 4oC (suhu dingin) dan -20oC (suhu beku). Aktivitas relatif protease dengan nilai ≥50% menunjukkan bahwa aktivitas protease dalam kondisi stabil. Hasil penelitian menunjukkan protease L. mesenteroides EN 17-11 memiliki pH optimum pada pH 6,0 dengan aktivitas sebesar 0,9970 U/mL dan suhu optimum pada suhu 40oC dengan aktivitas sebesar 1,1166 U/mL (P<0,05). Protease L. mesenteroides EN 17-11 stabil pada kisaran pH 6,0−7,0 dengan nilai aktivitas relatif sebesar 97,37–100% dan suhu 30−40 oC dengan nilai 94,54−100% (P>0,05). Stabilitas tertinggi protease L.mesenteroides EN 17-11 pada variasi suhu dan waktu penyimpanan terjadi pada suhu beku dengan waktu penyimpanan 7 hari (0,6144 U/mL) dengan aktivitas relatif: 77,31% (P<0,05).

SKRINING BAKTERI ASAM LAKTAT PROTEOLITIK INDIGENOUS PULAU ENGGANO DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN PROTGEIN TEPUNG PASTA SEREALIA DAN UMBI LOKAL

No: 365 Protease merupakan enzim golongan hidrolase yang memecah protein menjadi molekul yang lebih sederhana, yaitu oligopeptida pendek dan asam amino, yang reaksi hidrolisisnya terjadi pada ikatan peptida. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Bakteri Asam Laktat (BAL) proteolitik indigenous Pulau Enggano terseleksi yang memproduksi protease dengan aktivitas tertinggi, karakterisasi pertumbuhannya dan potensinya dalam penguraian protein pada tepung pasta serealia dan umbi lokal. Seleksi BAL proteolitik indigenous Pulau Enggano dari 25 isolat BAL diuji secara kualitatif dan kuantitatif. BAL penghasil protease terseleksi ditentukan karakteristik pertumbuhannya. Analisis kandungan protein terdegradasi tepung pasta serealia dan umbi lokal dengan dan tanpa penambahan BAL proteolitik terseleksi diuji menggunakan metode titrasi formol (U.S.P, 1989 dalam Nilsang et al 2005) sedangkan uji total asamnya menggunakan metode titrasi asam basa (AOAC, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAL proteolitik terseleksi dengan aktivitas tertinggi teridentifikasi sebagai Fructobacillus fructosus EN 17-20 dengan nilai sebesar 1,196 U/ml. Pertumbuhan optimum F. fructosus EN 17-20 terjadi pada pH 6,5, suhu 34oC dan substrat dengan penambahan fruktosa 3%. Kenaikan kadar protein terdegradasi tertinggi pada tepung pasta terigu dengan penambahan 50 µl (2,5 x 107 CFU/ml) F. fructosus EN 17-20 sebesar 0,35% dengan total asam 0,14%. Kadar protein terdegradasi tertinggi pada tepung pasta ubi ungu dengan penambahan 200 µl (10 x 107 CFU/ml) F. fructosus EN 17-20 sebesar 0,17% dengan kadar total asam 0,30%. Kadar protein terdegradasi pada tepung pasta jagung dengan penambahan 200 µl (10 x 107 CFU/ml) F. fructosus EN 17-20 sebanyak 0,61% dengan kadar total asam sebesar 0,12%.

KARAKTERISTIK PROTEASE Lactobacillus satsumenis EN 38-32 DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN PROTEIN TEPUNG UMBI DANN SEREALIA LOKAL

No: 321 Protease merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi penguraian protein menjadi asam amino atau peptida sederhana, melalui hidrolisis ikatan peptida. Salah satu strain bakteri asam laktat yang dapat menghasilkan protease adalah Lactobacillus satsumensis EN 38-32. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik protease L. satsumensis EN 38-32 dan potensinya dalam menguraikan protein tepung umbi dan serealia lokal. Karakterisasi protease L. satsumensis EN 38-32 meliputi penentuan pH dan suhu optimum serta stabilitasnya. Tepung umbi yang digunakan adalah tepung ubi jalar ungu dan tepung ubi kayu, sedangkan tepung serealia yang digunakan adalah tepung beras dan tepung jagung. Sebagai standar digunakan tepung terigu. Uji aktivitas protease dilakukan dengan metode Horikoshi (1971), dan penentuan protein terdegradasi dilakukan dengan metode titrasi formol. Stabilitas protease didasarkan pada aktivitas relatif dengan nilai ≥ 50%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas optimum protease L. satsumensis EN 38-32 dicapai pada pH 7,0 dan suhu 40 oC dengan nilai aktivitas sebesar 0,7214 U/mL. Aktivitas relatif protease L. satsumensis EN 38-32 ≥ 50% dicapai pada kisaran pH 6,0 – 8,0 dan suhu 20 – 45 oC. Kenaikan kadar protein terdegradasi tertinggi setelah penambahan protease L. satsumensis EN 38-32 didapatkan pada tepung pasta beras, dengan kenaikan sebesar 1,17%, diikuti oleh tepung pasta jagung sebesar 0,87%, tepung pasta ubi kayu sebesar 0,32%, dan tepung pasta ubi jalar ungu sebesar 0,20%. Kenaikan kadar protein terdegradasi pada tepung pasta umbi dan serealia lokal lebih rendah dibandingkan tepung pasta terigu sebagai pembanding, yaitu sebesar 1,83%.

KARAKTERISTIK α-AMILASE Lactobacillus plantarum B110 DAN POTENSINYA DALAM KETERURAIAN KARBOHIDRAT PADA TEPUNG UMBI LOKAL

No: 312 α-Amilase adalah endoenzim yang bekerja memutus ikatan α-1,4-D-glukosa secara spesifik berfungsi menghidrolisis polisakarida menjadi gula sederhana dan dimanfaatkan sebagai biokatalis pangan terutama pangan fungsional. Salah satu mikroba penghasil α-amilase adalah Lactobacillus plantarum. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik α-amilase Lactobacillus plantarum B110 dan potensinya dalam penguraian karbohidrat menjadi gula sederhana pada tepung umbi lokal. Penelitian ini diawali dengan menentukam optimasi suhu dan pH Lactobacillus plantarum B110 penghasil α-amilase, serta stabilitas keduanya. Dilanjuti analisis kadar gula reduksi pada tepung umbi lokal dan tepung terigu dengan penambahan α-amilase menggunakan metode 3,5-dinitrosalysylic acid. Dari hasil penelitian α-Amilase yang dihasilkan oleh Lactobacillus plantarum B110 memiliki aktivitas optimum sebesar 0,533 U/mL pada suhu 50oC dan 0,641 U/mL pada pH 7,0 serta relatif stabil pada rentang suhu 35-55oC dan pada pH 5,0-8,0 dengan waktu inkubasi selama 60 menit. Aktifitas α-Amilase yang dihasilkan memiliki kemampuan untuk menguraikan karbohidrat dengan peningkatan kadar gula reduksi sebesar 0,008% pada masing-masing tepung umbi lokal, yaitu tepung talas, tepung ubi jalar, dan tepung gadung.

PRODUKSI α-AMILASE Leuconostoc mesenteroides EN 17-11 DAN Lactobacillus plantarum B110 BESERTA STABILITASNYA PADA BERBAGAI SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN

No: 308 Enzim amilase merupakan salah satu produk industri yang bernilai ekonomis cukup tinggi, diantaranya amilase dari BAL. Beberapa jenis BAL seperti Lactobacillus plantarum dan Leuconostoc sp. telah dilaporkan menghasilkan amilase. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan produksi dan stabilitas α-amilase Lactobacillus plantarum B110 dan Leuconostoc mesenteroides EN 17-11 diberbagai waktu dan suhu penyimpanan. Media produksi BAL penghasil α-amilase menggunakan MRS broth. Produksi α-amilase L.plantarum B110 dan Lc.mesenteroides EN 17-11 dilakukan dengan sentrifugasi. Penentuan stabilitas α-amilase L.plantarum B110 dan Lc.mesenteroides EN 17-11 dilakukan pada waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari, diberbagai suhu penyimpanan : 27oC (suhu ruang), 4oC (suhu dingin) dan -20oC (suhu beku). Uji aktivitas α-amilase menggunakan metode Bernfield (1955 dalam Kanpiengjai et al, 2015). Aktivitas relatif α-amilase ≥ 50% dinyatakan sebagai aktivitas α-amilase dalam kondisi stabil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil produksi α-amilase L.plantarum B110 sebesar 0,4138 U/ml sedangkan hasil produksi α-amilase Lc.mesenteroides EN 17-11 sebesar 3,1545 U/ml. Aktivitas α-amilase L.plantarum B110 diberbagai suhu bernilai antara 0,4138-1,0143 U/ml. Aktivitas α-amilase Lc.mesenteroides EN 17-11 diberbagai suhu bernilai antara 2,8-5,0646 U/ml. Aktivitas relatif α-amilase L.plantarum B110 pada penyimpanan diberbagai suhu bernilai sebesar 52,41%-100%. Aktivitas relatif α-amilase Lc.mesenteroides EN 17-11 pada penyimpanan diberbagai suhu bernilai sebesar 58,46%-100%. Berdasarkan stabilitas waktu dan suhu penyimpanan aktivitas tertinggi α-amilase L.plantarum B110 terjadi pada waktu penyimpanan 14 hari (1,0143 U/ml) dengan aktivitas relatif 100% pada suhu beku, sedangkan stabilitas waktu dan suhu penyimpanan aktivitas tertinggi α-amilase Lc.mesenteroides EN 17-11 terjadi pada waktu penyimpanan 7 hari (5,0646 U/ml) dengan aktivitas relatif 100% pada suhu beku (P < 0,05).

PENGGUNAAN α-AMILASE Lactobacillus fermentum EN 38-44 DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG PASTA UMBI LOKAL

No: 307 α-Amilase adalah enzim penghidrolisis molekul pati yang memutuskan ikatan α-(1,4)-D-glikosida, dan menghasilkan maltosa dan glukosa yang tergolong gula pereduksi. Lactobacillus fermentum EN 38-44 secara kualitatif menghasilkan α-amilase. Namun demikian, karakteristik dan potensinya dalam menguraikan tepung pasta belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan α-amilase Lactobacillus fermentum EN 38-44 yang terkarakterisasi dan menguji aktivitasnya dalam menguraikan karbohidrat tepung pasta umbi lokal (ubi ungu, putih, kuning), dan tepung pasta tapioka. Karakteristik Lactobacillus fermentum EN 38-44, meliputi optimasi pH dan suhu serta stabilitasnya. Aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode Bernfeld (1955) dalam Kanpiegjai et al, (2015) dan kadar gula reduksi menggunakan metode Miller (1959) dalam Whitney and Abdul (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas α-amilase Lactobacillus fermentum EN 38-44 mencapai optimum pada suhu 40˚C dan pH 5,5 dengan nilai sebesar 1,620 U/ml. Aktivitas relatif L.fermentum EN 38-44 ≥ 50% terjadi pada suhu 30˚C-50˚C dan pH 4,5-6,0 dengan waktu inkubasi selama 60 menit. Kadar gula reduksi pada tepung pasta ubi jalar dengan penambahan α-amilase L.fermentum EN 38-44 (ubi : ungu 0,043%, putih 0,039%, kuning 0,034%) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar gula reduksi pada tepung pasta tapioka sebesar 0.028%. Sebaliknya, kadar gula reduksi pada tepung pasta ubi jalar dengan penambahan α-amilase L.fermentum EN 38-44 lebih rendah dibandingkan pada kadar gula reduksi pada tepung terigu sebagai pembanding dengan nilai sebesar 0,050%.

KARAKTERISTIK α-AMILASE Lactobacillus sustensis EN 38-32 DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG PASTA UMBI DAN SEREAL LOKAL

No: 282 Bakteri asam laktat (BAL) secara umum bersifat aman karena termasuk bakteri GRAS (Generally Recognized as Safe). Karakteristik α-amilase L. sustensis EN 38-32 meliputi optimasi suhu dan pH beserta stabilitas suhu dan pH. Kadar gula reduksi di deteksi dengan menggunakan metoda Bernfeld (Bernfeld, 1955 dalam Kanpiengjai et al., 2015) dan aktivitas α-amilase Lactobacillus sustensis EN 38-32 diuji dengan metoda Miller (Miller, 1959 dalam Moradi et al., 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu 45oC dengan aktivitas α-amilase sebesar 0,1889 U/mL, sedangkan nilai pH optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH 5,5 dengan aktivitas sebesar 0,345 U/mL. Stabilitas suhu α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu antara 30oC sampai 65oC dengan aktivitas relatif berkisar antara 50,19% sampai 100%, sedangkan nilai stabilitas pH α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH antara pH 3,5 sampai 7,0 dengan aktivitas relatif antara 52,70% sampai 100%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta umbi talas sebesar 0,29% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta ubi jalar sebesar 27,05%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta terigu sebesar 0,36% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta jagung sebesar 56,22%.